Laki-Laki Culun Psychopath

Laki-Laki Culun Psychopath
BAB 70 | S2


Mendengar suara indah milik kekasihnya, membuat Jonathan yang duduk di kursi penonton tersenyum. Dan ia juga mengeluarkan air matanya.


Meski bukan lagu milik kekasihnya, tapi ketika dinyanyikan olehnya, sungguh mendalami. Seakan lagu yang dinyanyikan Tasya adalah untuknya.



Ditambah penampilan Tasya semakin cantik dengan gaun yang dipakainya. Jonathan tersenyum melihatnya. Kedua air matanya keluar. Tapi ia merasa janggal dalam dirinya.


Lalu lampu ruangan gedung studio itu kembali terang. Bersamaan suara tepuk tangan dan sorakan para penonton kepada Selebgram cantik itu.


Terdengar suara MC dan berjalan menghampiri Tasya. "Tasya Arabelle !! Selebgram bersuara indah, seusai beritanya."


"Jujur, suaramu sungguh indah sekali Tasya." Lalu MC itu memandang para penonton. "Benarkan para penonton !!"


Para penonton hanya bersorak senang, sekaan mereka setuju dengan pendapat MC itu. Tasya tersenyum. "Terimakasih."


"Saat dibelakang panggung, aku mendengarnya saja, aku sudah bisa menebak, kalau lagu yang kamu bawakan pasti untuk seseorang yang spesial ya ?" sang MC menggodanya.


Tasya hanya diam, ia tersenyum malu. Melihat itu sang MC berkata lagi. "Dari respon seperti itu, aku sudah bisa menebaknya."


"Apa seseorang spesial itu datang untuk menontonmu ?" tanya MC menggodanya lagi.


Tasya tersenyum dan memandang seluruh para penonton. "Aku tak tau, tapi aku merasa yakin kalau dia sedang menontonku."


"Baiklah-baiklah, terima kasih Tasya sudah mau datang dan mengisi acara konser ini." ucap si MC dengan ramah.


Tasya mengangguk kepalanya, lalu ia segera undur diri dari atas panggung. Lalu terdengar suara MC melanjutkan ke acara berikutnya.


.....


Disisi Lain


"Tuan Jo, suara pacarmu sungguh indah, aku sampai merinding mendengarnya." kata Tony yang duduk di samping kiri Jonathan.


Namun tak ada sahutan. Tony menoleh kepalanya ke kanan, ia langsung terbelalak. Jonathan sudah tak ada di kursinya.


"Kemana dia ?"


Laura yang duduk di samping kiri Tony pun juga berkata. "Kemana Jonathan ?"


Tony menoleh dan menatap Laura dengan wajah bingungnya. "Aku tidak tau."


Tak hanya Tonya dan Laura yang bingung, Rino dan lainnya juga bingung. Namun suara ponsel mereka bersuara, mereka segera membukanya.


Ternyata pesan chat dari Jonathan. Mereka menghela nafasnya. Isi pesan itu. "Aku sedang ingin keluar, kalian lanjutkan saja menontonnya."


.....


Di luar, parkiran kendaraan.


Terlihat seorang laki-laki muda berkacamata, ia mengenakan jaket parkanya. Jonathan yang tengah bersenderan di mobil Honda Accord Hitam miliknya.


Ia merenung dirinya sendiri. Apa dia pantas untuk Tasya ? Menonton dan mendengar Tasya tampil seperti itu. Dan menyanyikan lagu untuknya dengan suara indah miliknya.


Mengingat jiwanya dari masa lalu. Jonathan semakin tak yakin kalau dirinya tidak pantas untuk Tasya. Ia bisa merasakan kalau Tasya amat mencintainya begitu dalam.


Jujur ia juga sangat mencintainya. Tapi mengingat kalau dirinya memiliki sisi lain di dalam dirinya, ia kembali berfikir, apa dirinya pantas untuk Tasya ?


Jonathan menghela nafasnya. Lalu ia segera masuk ke dalam mobilnya. Ia memilih pulang saja.


.....


Beberapa lama kemudian, Jonathan telah sampai di depan rumah besar miliknya, ia juga telah memarkirkan mobilnya di garasi di samping mobilnya satunya lagi.


Setelah sampai di kamar, Jonathan pun mengirim pesan chat pada Rino dan yang lainnya lagi, kalau dirinya telah pulang ke rumah. Setelah mengirim pesan chatnya, Jonathan memilh berdiam berdiri di balkon kamarnya.


Sementara di sisi Rino dan yang lainnya. Mereka mendapat pesan chat lagi dari Jonathan. Mereka pun segera keluar dari sana untuk pulang juga dengan kendaraan mereka masing-masing.


.....


Disisi lain.


Tasya memilih untuk pulang saja. Karena ia hanya tampil satu kali saja. Salsa sebagai managernya pun mengiyakan, karena ini pertama kalinya Tasya tampil di konser besar. Namun sialnya, di saat tempat yang sepi, mobil Salsa bannya bocor.


Tasya hanya bisa mendengus kesal, padahal ia ingin segera pulang untuk istirahat, ia masih mengenakan gaunnya dan ia juga mengenakan jaket. Lalu ia melihat layar ponselnya yang menunjukan sudah jam 10 malam lebih.


Dan sekarang Salsa tengah berusaha dan buru-buru menelpon seseorang untuk menjemput mereka berdua. Mengingat baterai ponselnya tinggal beberapa persen lagi.


Tasya pun teringat Jonathan. "Dia sebenarnya datang gak ya ?"


Tasya merasa tidak enak kepada Jonathan. Jika kekasihnya memang datang menonton, ia bisa meminta bantuan kepadanya untuk mengantarnya pulang.


Tapi kalau tidak datang, dan hanya menontonnya dari rumah, mana mungkin menyuruh kekasihnya untuk datang, apalagi hari sudah malam.


Mereka mengetok-ngetok kaca pintu mobil. Salsa dan Tasya panik. Salah satu dar mereka mengancamnya. "Buka pintunya !! Atau kupecahkan kacanya !!"


Salsa pun mengalah, ia segera membuka pintu mobilnya. Ia segera turun. Namun tak di duganya mereka malah mendorongnya hingga jatuh ke aspal.


Salsa meringis kesakitan. Lalu melihat, salah satu dari mereka, memaksa membawa Tasya keluar dari mobilnya. Hingga Tasya pingsan kehilangan kesadarannya setelah di bekap paksa dengan kain bius.


Salsa ingin bangun dan menyelamatkannya. Namun ia kembali terjatuh setelah ia didorong lagi oleh orang yang mendorong tadi.


Tasya pun akhirnya dibawa oleh mereka. Salsa bangkit dari jatuhnya, ia masuk ke dalam mobilnya. Ia segera meraih ponselnya.


Sialnya ponselnya mati, baterainya habis. Salsa frustasi, lalu pandangan menangkap ponsel milik Tasya yang geletak di atas dashboard. Cepat-cepat tanganya meraihnya.


Ia membuka layar kuncinya. Dan langsung membuka riwayat nomer terakhir yang ditelpon oleh Tasya. Salsa langsung menghubungi nomer itu.


Tuttt.


"Halo."


"Jonathan, ini aku Salsa !!"


Ya, nomer terakhir ditelpon Tasya sebelum naik ke panggung, dan memintanya untuk menontonnya. Tidak harus datang langsung tapi nonton secara live di TV.


"Kenapa ?"


"Tasya..."


"Ada apa dengan Tasya ?"


"Tasya diculik."


Suasana pun hening. Salsa merasa kalau Jonathan pasti tengah panik. Tapi kenapa diam saja setelah ia mengatakan kalau Tasya diculik.


Tutt.


Sambungan telefonnya diputus oleh Jonathan. Salsa terheran-heran, reaksi Jonathan seakan aneh. Lalu ia mencari nomer lainnya untuk membantunya.


.....


Disisi Jonathan.


Dengan tenang, ia berjalan untuk keluar rumahnya. Ia sudah memakai jaketnya, dan sarung tangannya. Setelah mendengar Tasya diculik, ia tetap berusaha agar tetap tenang.


Ia berjalan ke arah garasi mobilnya.


Kali ini ia akan memakai mobil satunya yang selama ini tak pernah ia pakai, karena baru selesai dimodif mesinnya oleh orang suruhannya, Dodge Charger 1969 hitam.



Jonathan segera naik mobilnya, dan menyalakan mesinnya. Semua peralatan senjata-senjata selalu siap ada di bagasi mobil yang satu ini.


Lalu ia meraih ponselnya, ia pun segera melacak keberadaan Tasya. Karena sebelumnya ia telah memberikan kalung kepada Tasya.


Kalung yang ia berikan, telah ia pasangi In-Body GPS System, dan dihubungkan ke ponselnya. Ia lakukan itu karena agar berjaga-jaga jika mengalami kejadian seperti saat ini.


Jaraknya 10 km lebih darinya. Dan titik merah bergerak, berarti Tasya masih dibawa dalam perjalanan. Jonathan segera menghubungi Tony.


Tuttt. Tuttt.


"Halo Tuan, Jo."


"Dimana ?"


Tony terkejut mendengarnya suara Jonathan yanh dingin. Lalu ia menjawab. "Kita sedang dalam perjalanan pulang."


"Aku minta kamu rentas semua CCTV di kota."


Tutt.


Setelah mematikan sambungan telefonnya, Jonathan langsung melajukan mobilnya. Setelah keluar dari halaman rumah besarnya, Jonathan langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.


.....


Disisi Lain.


Tonya yang satu mobil dengan Laura, ia segera meminggirkan mobilnya di pinggir jalan. Lalu ia segera meminta Laura untuk mengemudikan mobilnya.


Laura yang bingung, ia hanya menurut saja ketika disuruh bertukar posisi. Karena ia sudah paham dari wajah Tony yang serius setelah menerima telefon barusan.


Setelah bertukar posisi, Tony segera mengambil laptopnya. Ia memang selalu membawa laptopnya. Karena ia memang sangat menggilani dunianya.