
Hari telah pagi, Jonathan membuka kedua matanya. Ia menatap Tasya yang masih tertidur dan memeluknya. Ia tersenyum, karena mengingat status mereka telah sah suami istri. Perlahan Jonathan membangunkan istrinya. Tasya pun terbangun. Ia menatap suaminya yang manatapnya dengan senyuman.
Cup. Jonathan mencium bibir istrinya. "Selamat pagi."
Tasya tersenyum malu. Karena ia mengingat kalau dirinya menjadi seorang istri. "Pagi.."
Jonathan mendudukkan tubuhnya, begitu juga dengan Tasya. Tubuh mereka sama-sama tak mengenakan pakaian, hanya selimut yang menutupi tubuh mereka. Ya, semalam mereka melakukan olah raga panas di ranjang. Memang mereka sebelumnya sudah melakukannya, namun sekarang mereka sudah sah.
"Yuk mandi." Jonathan mengajak istrinya.
Tasya mengangguk kepalanya. Jonathan segera menggendong tubuh istrinya, lalu berjalan menuju ke kamar mandi. Mereka pun mandi bersama, dan mereka melakukannya lagi.
.....
Hari telah siang. Disisi Lain, di kota J.
Jimmy tengah duduk santai di ruang kerjanya. Jimmy tak berangkat ke kantor, ia memilih untuk di rumah. Kini Ia tengah memikirkan sesuatu.
Lalu pintu ruangannya terbuka. Terlihat seorang wanita, yang rupanya istrinya masuk ke dalam ruangannya. Ia membawa secangkir kopi untuk suaminya.
"Ini kopi mas." kata istrinya.
"Makasih sayang." jawab Jimmy.
Setelah meletakan cangkir kopinya di meja suaminya, istrinya segera melangkahkan kakinya untuk keluar dari ruangan suaminya.
"Seminggu yang lalu bertemu dengan Jonathan."
Seketika langkah kaki istrinya terhenti saat mendengar ucapan Jimmy. Ia membalikan tubuhnya dan menatap suaminya. "Apa katamu tadi ?"
Jimmy menatap istrinya, dan ia menjawab. "Aku bertemu dengan Jonathan...."
Jimmy pun menceritakan semuanya, dari awal pertemuan dan pertemuan terakhir dengan Jonathan. Ia juga menceritakan kalau Jonathan telah sukses menjadi salah satu pemimpin perusahaan di Kota S.
Nadia, ya itulah nama istri Jimmy. Nadia terdiam, lalu ia teringat Putranya dari pernikahan pertamanya. Nadia pun segera mesampingkan pikirannya itu, lalu ia menatap Jimmy dan berkata. "Cukuplah, jangan mengganggu dia."
"Cukup aku saja yang menderita hingga sekarang." lanjutnya dalam hati.
"Apa kamu tidak ingin bertemu dengan Putramu atau mantan suamimu ?" tanya Jimmy dengan senyuman sinisnya.
Nadia menghela nafasnya. Lalu ia menjawab. "Jika aku ingin bertemu dengan mereka berdua, belum tentu mereka mau bertemu denganku."
Note : Jimmy dan Nadia belum mengetahui jika Mantan Suami Nadia telah meninggal.
Nadia segera berjalan keluar dari ruangan itu, dan meninggalkan Jimmy. Jimmy hanya sibuk akan pikirannya. Pikirannya tertuju Jonathan. Laki-laki berkacamata itu sekarang lebih sukses darinya.
"Mungkin bukan sekarang, aku hanya butuh waktu yang tepat untuk membuat rencana baru."
Sementara Disisi Lain.
Di ruangan sebelah, di dalam kamar, Nadia duduk berjongkok di dalam kamar mandi. Dengan suara keran yang ia nyalakan, karena ia tak ingin ada yang tau kalau dirinya menangis. Nadia menangis mengingat masa lalu yang sangat pahit.
***
Flashback.
Nadia dulu hidup bahagia dengan suami pertamanya (Joelian), meski hidup sederhana, bisa dibilang bercukupan. Dan mereka berdua memiliki dua anak dari pernikahan mereka, laki-laki dan perempuan, yang bernama Jonathan dan Nadine. Namun kebahagian tak bisa bertahan. Karena atasan Joelian di kantor, yang tak lain adalah Jimmy, laki-laki itu menyukai dirinya.
Saat itu, Jonathan baru berusia 10 tahun dan Nadine juga baru berusia 5 tahun.
Joelian yang dulunya adalah bekerja di perusahaan Jimmy sebagai karyawan biasa. Saat itu Joelian bertemu dengan Jimmy di tengah jalan karena mobilnya mogok setelah perjalanan dinas dari luar kota. Joelian yang baru pulang lembur pun membantunya, dan menawarkan pulang bersamanya, karena pada saat itu sudah malam.
Joelian membawa Jimmy ke rumah sederhananya. Disanalah pertemuan pertama kali Jimmy dengan Nadia, yang tak lain istri Joelian. Jimmy pun terpesona kecantikan Nadia, ia jatuh cinta pandangan pertama. Setelah pertemuan itu, Jimmy mencari tau tentang Nadia. Ia diam-diam selalu memberi perhatian dan mengirim sms kepada Nadia. Nadia yang sebagai istri Joelian, ia merasa tidak nyaman dan tidak suka.
Berhari-hari, Jimmy selalu mengirim pesan sms. Dan ia juga pernah hampir setiap hari datang ke rumah saat Joelian masih di kantor. Namun Nadia tidak pernah membuka pintunya, ia benar-benar tidak suka dengan laki-laki seperti itu, padahal dirinya adalah istri dari karyawannya.
Pernah sesuatu hari dirinya mendapat pesan dari Jimmy, kalau laki-laki itu menyukainya. Sungguh gila, dirinya berstatus istri disukai oleh laki-laki lain. Sangat tidak nyaman, lalu ia bercerita kepada Joelian. Mendengar itu, Joelian memutuskan mengundurkan diri dari perusahaan. Lalu mereka segera pindah jauh dari kota.
Berminggu-minggu setelah pindah, mereka hidup sederhana di desa. Mereka membuka usaha kecil-kecilan. Namun beberapa minggu kemudiannya, tnak perempuan mereka yang masih berusia 5 tahun, tiba-tiba hilang. Nadia dan Joelian sangat gelisah, begitu juga dengan Jonathan yang masih berusia 10 tahun.
Beberapa Hari Kemudian, Nadia mendapat pesan sms. Rupanya esan itu dari Jimmy, laki-laki memberitahu kalau Putrinya lagi bersamanya, dan meminta Nadia untuk menceraikan suaminya, jika tidak maka nyawa Putrinya akan menjadi taruhannya. Karena panik, Nadia mengiyakan permintaan Jimmy.
Lalu Jimmy meminta Nadia untuk bersandirawa, seakan dirinya tak sanggup hidup sederhana dengan Joelian dan sekarang harus kehilangan Putrinya, lalu ia meminta bercerai. Dan mengatakan bahwa dirinya menyukai pria lain. Joelian yang dasarnya orang baik. Hanya bisa menerima itu, meski dalam hatinya sedih bercampur marah.
Setelah resmi berpisah, Joelian harus hidup berdua dengan anak pertamanya, Jonathan. Jujur dalam hati Nadia sungguh sangat sedih akan nasibnya, karena ia harus meninggalkan dua laki-laki yang ia cintai, suaminya dan putra pertamanya.
Ia rela harus berpisah, karena nyawa Putrinya menjadi ancaman. Setelah bertemu dengan Jimmy. Laki-laki itu rupanya tidak berbuat macam-macam , melainkan sedang mangasuh putrinya. Ia juga melihat Putrinya baik-baik saja tanpa luka. Jimmy pun membawa Nadia dan Nadine pergi jauh dari Joelian dan Jonathan.
Hingga akhirnya Jimmy menikahi Nadia. Jimmy berbahagia karena telah menikahi Nadia, meski Nadia tidak mencintainya. Bertahun-tahun mereka membahtera rumah tangga, Nadia belum memberinya anak. Rupanya fakta mengejutkan, hal pahit yang membuat Jimmy kecewa, bahwa dirinya mandul.
Meski sudah bertahun-tahun bersama dengan Jimmy, hingga sekarang Nadia tidak bisa mencintai laki-laki itu, hatinya tetap mencintai Joelian. Nadia hanya bisa menghargai Jimmy sebagai suaminya yang sekarang. Dan ia bersyukur karena ia tak mengandung anak dari laki-laki ini.
Setidaknya Jimmy menyayangi Putrinya meski bukan darah dagingnya. Dalam hatinya ia ingin pergi dan membawa Nadine pergi, tapi mengingat Jimmy mengancam dirinya akan membunuh Joelian. Mau tak mau, Nadia hanya bisa patuh.
Flashback end.
***
Nadia menyudahi tangisannya, ia membasuh mukanya dengan air keran. Lalu ia keluar dari kamar mandi. Mengingat waktu sudah siang. Ia harus pergi menjemput Putrinya pulang sekolah.