Laki-Laki Culun Psychopath

Laki-Laki Culun Psychopath
BAB 71 | S2


Entah nasibnya sedang tidak beruntung, Salsa kini tengah sendirian. Ponselnya dan ponsel milik Tasya sama-sama kehabisan baterainya. Tadi setelah menghubungi Jonathan, ia berencana menghubungi nomer polisi.


Tapi sungguh sial, tinggal menekan gambar hijau dilayar untuk menghubungi polisi, seketika ponselnya langsung mati. Kini Salsa hanya bisa berdiam di dalam mobilnya.


Tiba-tiba terdengar suara kendaraan mobil mendekatinya, Salsa menoleh dan melihat. Ia mengerut dahinya dan waspada saat melihat ada tiga mobil berhenti di dekat mobilnya.


Lalu keluarlah seorang perempuan dari salah satu ketiga mobil itu. Perempuan cantik itu mendekatinya dan mengetok-ngetok kaca pintu mobil.


Salsa membuka kaca pintu mobilnya, dengan wajah ketakutannya. "Kamu mau apa ?"


"Tenanglah, kita teman-temannya Jonathan." kata perempuan itu, yang tak lain Laura.


"Kakak, managernya Tasya, kan ?" lanjutnya.


"Dari mana kamu tau ? Dan kamu, dan mereka teman-temannya Jonathan ?" tanya Salsa.


Tentu saja Laura dan lainnya tau. Secara mereka tau dari info yang Tony dapat. Karena ia adalah adalah IT kelas profesional.


"Simpan saja pertanyaanmu itu. Kamu ikut kita sekarang." kata Laura.


"Apa kalian bisa dipercaya ?" tanya Salsa ragu.


"Kamu ingin ikut menyelamatkan Tasya tidak. Kalau tidak mau ikut, terserah kalau kamu mai sendirian disini." kata Laura dan berjalan kembali mendekati mobilnya.


Salsa menjadi panik. Ia tak mau sendirian. Ia akhirnya turun dari mobilnya. Dan segera menyusut ke dalam mobil yang ditumpangi olah Laura dan Tony.


Salsa duduk dibelakang. Ia melihat laki-laki yang cukup tampan tengah serius mengotak-atik laptopnya. Laura segera menjalankan mobilnya. Kedua mobil lainnya pun mengekorinya.


.....


Disisi Jonathan.


Ia tengah melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Ia tidak peduli dengan lampu merah lalu lintas. Ia menerobos seenak jidatnya.


Bahkan ada tabrakan akibat ulahnya yang menyalip begitu saja. Sungguh tidak merasa punya dosa sama sekali laki-laki berkacamata ini.


Sudah hampir satu jam ia mengendarai mobilnya. Jaraknya tinggal 5 km dari jaraknya. Titik merah yang ia ikuti masih bergerak. Dan mengarah bukit selatan kota.


Jonathan tetap terlihat tenang, ia tak panik sedikit pun. Pandangan tetap ke arah depan. Perlahan ia tersenyum menyeringai. Ia terlihat seperti menikmati suasana.


"Hahahaha, aku rindu suasana ini."


Jonathan semakin meningkatkan kecepatannya diatas normal. Bahkan ada pengendara motor yang menghindar dan jatuh ke selokan.


.....


Disisi Lain.


Terlihat mobil sedan hitam memasuki halaman Vila besar. Terlihat seorang laki-laki tengah menunggu di depan Vilanya. Letak Vila itu cukup jauh dari perumahan, hanya pohon-pohon didekatnya.


Mobil sedan hitam itu berhenti di depan laki-laki itu. Keluarlah dua orang laki-laki berpakaian hitam. Salah satu dari mereka pun bersuara.


"Sudah kami bawa perempuan itu, tuan."


Laki-laki yang merupakan tuan mereka berdua tersenyum puas. "Bagus."


Laki-laki itu berjalan mendekati mobil, terlihat di kursi penumpang ada gadis pujaannya yang masih tak sadarkan diri, kedua tangan dan kedua kakinya terikat. Mulutnya juga di tutupi lakban.


Laki-laki itu terdengar, ya siapa lagi kalau bukan Sam. Seorang laki-laki terkenal, karena mengingat ia adalah model dan Juga aktor film.


Kali ini, Sam menyewa orang lagi, namun kali ini ia menyewa orang itu agar menculik Tasya. Ia benar-benar dibutakan Cinta. Menyewa orang adalah caranya, karena jika tidak bisa-bisa namanya jelek. (Sudah pasti)


Sam jadi nekat melakukan ini. Dari sekian banyak perempuan yang dekat dengannya, hanya Tasya yang menolak cintanya. Maka kali ini ia akan menjadikan Tasya miliknya dengan cara kotor


Lalu ia menggedong tubuh Tasya masuk ke dalam Vilanya. Setelah masuk, Sam meletakannya di sofa panjang yang ada di ruang tengah. Tasya masih dengan keadaan tak sadarkan diri.


Kedua tangan dan kedua kakinya masih terikat. Mulutnya juga masih ditutupi oleh lakban. Sam kembali melangkah meninggalkan Tasya.


Tanpa disadari Sam, Tasya membuka kedua matanya. Ia sebenarnya sudah bangun saat di mobil. Ia hanya bisa pura-pura tidur. Dan ia tak menyangka kalau Sam melakukan ini padanya.


.....


Disisi Sam, ia menemui kedua orang sewaannya yang menunggu di ruang tamu. Lalu ia menyerahkan dua amplop yang sudah berisi uang. "Ini bayaran kalian."


"Terimakasih." ucap mereka berdua, lalu mereka berjalan keluar.


Mereka naik mobil dan pergi dari tempat itu.


Sam tersenyum puas apa yang ia dapat. Lalu ia menutup pintu vilanya. Vilanya memang terawat, karena sudah ada petugas yang mengurusnya. Namun saat malam mereka pulang ke rumahnya.


Kini di Vila itu hanya Sam dan Tasya. Jadi apa yang akan Sam lakukan saat ini, tidak ada yang melihatnya. Sam berjalan pelan dan sambil sedikit berjoget. Lalu ia menutup pintu Vilanya.


Ketika mendengar langkah kaki mendekat Tasya menutup kembali kedua matanya, dan pura-pura lagi tak sadarkan diri.


Disisi Sam, ia berjalan mendekatinya dan berjongkok dan menatap wajah cantik Tasya. Ia mengusap pipi gadis itu dengan lembut. Sam tersenyum. "Aku akan melakukan apapun, supaya kamu menjadi milikku."


Namun senyuman Sam pun memudar, karena tiba-tiba mendengar suara ketukan pintu. Sam mendengus kesal.


"Siapa sih ? Mengganggu saja. Apa bayarannya tidak cukup. Sungguh keterlaluan mereka berdua !!"


Sam bangkit dari jongkoknya, dan melangkah meninggalkan Tasya kembali di ruang tengah. Tasya kembali membuka matanya dan bernafas lega.


Sam dengan malas ia berjalan mendekati pintu Vilanya. Dengan kasar ia membuka kunci pintu vilanya.


BUGH !!


Baru saja Sam membukanya, wajahnya sudah terkena hantaman benda keras. Sam pun terdorong kebelakang dan jatuh ke lantai.


Sam memegang hidungnya yang mengeluarkan darah dari lubangnya. Seketika ia membeku melihat siapa yang datang dan berani menghantam wajah tampannya.


Laki-laki berkacamata yang paling ia benci, kini berdiri di hadapannya. Salah satu tangannya memegang batu sebesar kepalan tangannya.


Jonathan menatapnya dengan tatapan aneh. Sam tak menyangka kalau laki-laki ini datang padanya. Sam ingin menghajar wajahnya, ia pun bangun untuk berdiri.


Dor !! Dor !!


"Aggrrhhh !!"


Belum sempat berdiri, Jonathan lebih dulu menembak kadua pergelangan kakinya. Sam berteriak kesakitan.


Jonathan membuang batunya sembarang, lalu berjongkok dihadapannya. "Vilamu bagus juga. Sepertinya kalau kamu berteriak, tidak akan yang mendengar. Kamu sungguh pintar mencari tempat."


"Kau tau ? Aku sudah lama ingin bermain denganmu." lanjutnya sambil sedikit memiringkan kepalanya.


Sam membeku, ia benar-benar tak percaya dengan sosok Jonathan yang kini dihadapannya. Sungguh berbeda dengan sosok Jonathan yang ia kenal.


"Kamu tau ini ?" tanya Jonathan sambil menunjukkan pistolnya di tangan kanannya dan pisau di tangan kirinya.


"Kamu mau pilih dibunuh dengan yang mana ?" tanya Jonathan dengan wajah polosnya.


Sam menggeleng-gelengkan kepalanya. "Tidakkkk !! Jangan bunuh aku !!"


Saat akan menggerakkan kedua kakinya untuk bangun, Sam kesakitan. Ia baru menyadari kalau kedua pergelangan kakinya berdarah karena luka tembak.


Sam panik bukan main. Dengan kedua tangannya, ia merayap di lantai. Jonathan tertawa melihatnya, lalu ia berdiri dari jongkoknya


Jonathan pelan-pelan melangkahkan kakinya mengikuti Sam yang tengah buru-buru merayap agar menjauhinya. Tapi percuma.


"Kau sungguh lucu, Sam. Melihatmu seperti ini, rasanya aku jadi semakin ingin bermain denganmu." ucap Jonathan tersenyum menyeringai.


Terlihat Sam benar-benar panik. Apapun ia lakukan agar ia bisa menjauhi laki-laki gila ini. Kini ia memasuki ruang tengah. Sambil merayap, ia juga menangis ketakutan.


"Jangaan !! Jangaan bunuh aku !!" kata Sam berteriak, ia terus merayap sambil menangis.


Jonathan sungguh menikmatinya. Ia mengikuti Sam dengan pelan dari belakang. Tiba-tiba langkahnya terhenti, ia menatap seorang perempuan yang juga tengah menatapnya.