Laki-Laki Culun Psychopath

Laki-Laki Culun Psychopath
BAB 56 | S2


Pada akhirnya Tasya menerima tawaran Jonathan. Kini ia memboceng Jonathan. Ada rasa canggung diantara mereka berdua. Motor matic yang dikemudikan Jonathan melewati jalan pintas.


Karena sebelumnya, Jonathan bertanya alamat tempat Tasya yang ingin datangi. Ternyata tempatnya satu arah dengannya. Tentu saja Jonathan tidak merasa keberatan mengantarnya.


Namun Jonathan beralasan kalau dirinya akan ke tempat kerja, dan ia bilang kepada Tasya kalau arah tempat kerjanya satu arah dengannya. Meskipun melewati gedung perusahaannya. Dan jaraknya cukup jauh


Hampir satu jam lebih perjalanan dan mereka berboncengan. Tak ada pembicaraan setelah Jonathan menanyakan alamat tujuannya. Beberapa saat kemudian Tasnya meminta Jonathan untuk berhenti.


Jonathan memberhentikan motornya. Tasya pun turun. Jonathan menatap sebuah gedung yang kemungkinan tempat Tasya akan melakukan pemotretan.


"Terimakasih ya, maaf ngerepotin." ucap Tasya sambil melepas helmnya.


Lalu ia mengembalikannya kepada Jonathan. Jonathan tersenyum dan menerima helmnya. "Sama-sama."


"Maaf, aku langsung masuk aja ya, soalnya aku buru-buru." ucap Tasya sedikit menyesal.


"Ya, tidak masalah." jawab Jonathan tetap tersenyum.


"Kalau begitu, masuk ya, sampai jumpa." kata Tasya, sambil berjalan masuk dan melambaikan tangannya kepada Jonathan.


Jonathan masih tersenyum, lalu membalas lambaian Tasya. Lalu ia memasukan helmnya yang dipakai Tasya tadi di dalam bagasi jok motornya. Ia pun pergi dari tempat itu.


.....


Tasya kini berjalan memasuki lift.


Setelah sampai di lantai tempat tujuannya. Baru saja pintu lift terbuka, Tasya terkejut melihat perempuan yang tak asing baginya.


Perempuan itu berumur 27 tahun. Tepatnya managernya. Ia bernama Salsa, dan dia juga sedikit terkejut. Tasya pun berbicara padanya. "Kakak, bikin kaget saja."


"Kamu kira kamu saja yang kaget ? Kakak juga kaget." balas Salsa.


Karena setahunya, ia mengirim supirnya untuk menjemput Tasya. Dan Satu jam yang lalu Tasya menelponnya, kalau belum ada jemputan dari supirnya.


Salsa menelpon supirnya, ternyata supirnya terjebak macet. Mau tak mau Salsa menunggu. Setelah satu jam belum ada kabar dari Tasya.


Sambil menunggu, ia punya keinginan untuk membeli makanan ringan di minimarket. Dan tentu saja, Salsa masih mengira kalau Tasya akan datang terlambat. Ternyata datang tepat waktu.


"Apa supir yang kukirimkan untuk menjemputmu terlambat ?" tanya Salsa.


"Tidak, aku dianatar sama teman." jawab Tasya berlalu, ia harus segera masuk ke ruangan dan mengganti pakaiannya.


Salsa pun mengurungkan niatnya ke keluar. Dan ia segera menelpon supirnya untuk kembali saja karena orang yang akan dijemput telah sampai duluan ditempat.


.....


Pemotretan telah selesai. Tasya segera duduk di sofa yang dikhususkan untuknya. Salsa memberinya minuman berbungkus botol plastik. Tasya dengan senang hati menerimanya. Lalu ia meminumnya.


"Kamu tadi diantar siapa ?" tanya Salsa.


Tasya baru saja selesai meminum minumannya, pun menatap managernya. "Tadi kakak tanya apa ?"


"Kamu tadi diantar siapa ?" Salsa mengulang pertanyaan.


"Ohh, aku diantar teman." jawab Tasya.


"Laki-laki atau perempuan nih temannya yang nganterin kamu ?" tanya Salsa.


"Laki-laki ?" sahut Salsa terbelalak.


Salsa yang sudah sangat mengenal Tasya. Tak jarang tak ada laki-laki yang mendekatinya. Bahkan ada model laki-laki, aktor, penyanyi laki-laki pun mendekatinya.


Tapi Tasya selalu menganggap mereka adalah teman atau rekan. Tak hanya itu, ada juga penyanyi yang mengutarakan perasaannya. Dengan ramah namun tegas, Tasya menolaknya.


Tasya memang cantik, tak hanya seorang model dan penyanyi yang masih muda, tapi ia juga selebgram. Ditambah primadona di kampusnya. Mana yang tidak ada laki-laki yang tidak tertarik kepadanya.


"Iya, dia laki-laki, dia temanku, dia juga kuliah satu kampus denganku." jawab Tasya.


"Aku tidak salah dengarkan ? Kalau kamu dekat dengan seorang laki-laki ?" tanya Salsa.


"Kakak gimana sih, tidak perlu memikirkan yang aneh-aneh. Kalau dia baik aku tidak masalah." jawab Tasya, lalu ia kembali meminum minumannya.


_____________________________________


Visual.


Jonathan.



___


Tasya.



___



_____________________________________


.....


Disisi Lain.


Kini Jonathan berada di dalam sebuah restauran. Ia bersama Rino dan Selly. Rino adalah asistennya, dan Selly adalah sekertarisnya.


Rino yang bisa melakukan apapun kebutuhan Jonathan. Dan Selly yang memiliki pengalaman menjadi sekertaris sebelum saat di perusahaan Max.


Sekarang Jonathan tengah berdiskusi dengan kliennya. Kliennya ini cukup sedikit membuatnya kesal. Sudah bapak-bapak, tua, hitam, duda dan sedikit gendut. Padahal beberapa saat lalu ia merasa good mood.


Padahal Jonathan telah menunjukan kecerdasannya saat menjelaskan tentang kerja samanya. Biasanya berhasil, namun sekarang dibuat-buat sulit.


Nama kliennya Faiz. Sejujurnya Faiz tidak sepenuhnya percaya dengan lawan bicaranya saat ini. Karena kliennya masih terlalu muda.


Ya, Faiz sekarang tengah meremehkannya. Ditambah Faiz adalah salah satu pengusaha yang cukup berpengaruh di kota S.


"Baiklah, saya akan memikirkannya terlebih dahulu. Kalau begitu saya undur diri." ucap Faiz, lalu ia berdiri tanpa menatap Jonathan.


Ia malah menatap sesuatu kepada Selly.


Sedangkan Selly yang ditatap begitu merasa risih dan tak nyaman. Jonathan memasang wajah datarnya.


Setelah melihat kepergian Faiz dan sekertarisnya, Rino mulai berbicara. "Tuan, tak perlu berkecil hati. Nanti saya usahakan membuat pertemuan selanjutnya, agar tuan bisa bisa berbicara lagi padanya."


"Tidak perlu, aku bisa mengatasinya sendiri setelah ini." jawab Jonathan, lalu berdiri dan berjalan pergi.


Rino dan Selly saling menatap, mereka heran dengan tuan mereka. Mereka menghela nafasnya, lalu berjalan menyusulnya.


_____________________________________


Visual.


Rino.



___


Selly.



_____________________________________


.....


Malam Harinya jam 10 malam.


Jonathan tengah mengemudi mobilnya. Ia tidak sendiri, ia berdua bersama Tony. Mereka berdua keluar tanpa memberitahu siapapun kepada orang-orang rumah.


Jonathan mengemudikan mobilnya ke tempat tujuannya. Tony setia menemani tuannya sambil memengang laptopnya yang sudah siap akan ia gunakan.


"Jika berhasil, gajimu kunaikan 10 kali lipat dari gajimu." ucap Jonathan sambil mengemudikan mobilnya.


"Benarkah ?" sahut Tony, Jonathan mengangguk-angguk kepalanya.


"Baiklah kalau begitu, aku jadi tidak sabar." kata Tony, Jonathan terkekeh.


Setelah memakan perjalanan hampir satu jam, akhirnya mereka telah sampai tujuan. Kini mobil yang mereka tumpangi telah terpakir di dekat rumah besar.


Tanpa perintah, Tony langsung membuka, dan menyalakan laptopnya dan langsung memulai aksinya. Sedangkan Jonathan pun tinggal menunggunya sambil bermain game di ponselnya.


Hampir setengah, Tony pun berbicara. "Tuan Jo, aku sudah meretas semua CCTV yang ada di rumah itu."


Jonathan terkekeh. "Bagus. Kamu jaga disini, dan tunggu kabar dariku."


Tony mengangguk kepalanya dan memberi jempol. Jonathan pun keluar dari mobil. Ia telah siap perlengkapannya di tas punggungnya.


Jonathan berjalan mendekati pos penjaga di rumah itu. Terlihat ada satpam yang sedang berjaga. Tapi apanya yang berjaga ? Kehadirannya saja tidak tau, satpam itu malah sedang sibuk nonton acara di TV.


_____________________________________


Visual.


Tony.



_____________________________________