Laki-Laki Culun Psychopath

Laki-Laki Culun Psychopath
BAB 44


Semua warga berkumpul. Mereka semua melihat vila terbakar. Semua warga berusaha memadamkan api dengan peralatan yang mereka punya, selagi menunggu pemadam kebakaran datang.


.....


Tebakar sudah semuanya. Meski pemadam kebakaran datang dan mematikan Api yang membakari vila itu, tapi tetap saja semua habis sudah.


Petugas pemadam kebakaran juga menemukan dua mayat laki-laki yang sudah hangus terbakar.


Yang jelas, besok pasti akan muncul berita kebakaran vila yang menewaskan dua laki-laki. Dan pelaku yang melakukan itu, sungguh misterius, karena petugas tidak menemukan jejak-jejak peninggalan sang pelaku.


.....


Disisi Lain.


Jonathan tidak tidur karena tengah fokus mengendarai mobilnya. Ketiga perempuan yang ikut dengannya sudah tertidur, mungkin karena sudah malam.


Kali ini Jonathan akan pergi kembali ke kota S. Waktu perjalanan mereka mungkin tidak sedikit, hanya satu jam saja untuk kembali ke kota S dari puncak yang letaknya di perbatasan.


Jonathan tidak mengemudikan mobilnya ke tempat inap, hotel atau semacamnya. Melainkan ia mengemudikan mobilnya ke markasnya.


Ya, markas yang sudah ia dapat setelah mengalahkan Bos Gangster yangdi takuti di Kota S.


Sebelumnya Jonathan juga sudah menghubungi Rino untuk segera menyiapkan dua kamar. Satu kamar untuknya dan kamar yang satunya lagi untuk Laura dan kedua temannya.


.....


Mobil yang dikemudikan Jonathan telah sampai. Meski sudah hampir tengah malam, ternyata para anggota gangstersnya setia menjaga dan menyambut kedatangannya.


Jonathan memberhentikan mobilnya. Lalu ia keluar, ia melihat Rino yang sudah menyambutnya. "Selamat datang kembali tuan muda."


"Apa dua kamar yang kupinta sudah disiapkan ?" tanya Jonathan.


"Sudah." sahut Rino.


Lalu Jonathan meminta Rino untuk memanggil tiga orang bawahannya. Setelah dipanggil, Jonathan meminta ketiga anak buahnya untuk membawa barang-barang yang ada di dalam mobilnya.


Mereka semua membawa barang-barangnya ke tempat yang sudah disiapkan. Jonathan berjalan ke samping kiri mobilnya. Ia membangunkan Laura. "Hei bangunlah."


Jonathan menepuk pelan pipi Laura. Laura pun terbangun. Ia segera keluar dari mobil. Satu, dua, tiga,..... dua puluh detik kemudian ia tersadar. Ia melihat sekelilingnya.


Ia terkejut bukan main saat melihat banyak sekali pria berpenampilan preman. Laura panik, Jonathan yang disampingnya segera menenangkannya.


"Tenanglah, mereka semua bukanlah musuh." ucap Jonathan.


"Lalu siapa mereka semua ?" tanya Laura, rasa paniknya mulai sedikit berkurang.


"Besok akan kujelaskan, sebaiknya kamu bangunkan kedua temanmu." ucap Jonathan dingin, lalu ia berjalan mendekati Rino.


Laura tidak menjawab, tapi ia langsung menjalankan apa yang diucapkan sahabat kecilnya.


Sementara, Jonathan dan Rino berbicara. Rino melaporkan tentang wanita bernama Sinta, kini tengah berada di ruang tahanan yang ada di belakang rumah.


"Apa tuan muda ingin bersenang-senang dengan wanita yang bernama Sinta itu ?" tanya Rino.


Jonathan terkekeh. "Tidak, aku tidak akan memakainya. Aku memiliki rencana."


"Apa itu tuan ?" sahut Rino bertanya.


Lalu ia menatap Rino. "Aku ingin minta bantuan padamu."


Rino sedikit memiringkan kepalanya sambil mengerut dahinya karena penasaran.


Sementara Disisi Laura, ia sudah membangunkan Nita. Nita juga seperti Laura yang awalnya terkejut, tapi Nita bisa menenangkan diri karena saat ini ia masih memeluk Sarah yang masih tertidur.


Nita melihat Jonathan dan laki-laki asing di belakangnya, yang sudah berdiri di belakang Laura. Laki-laki asing yang tak lain adalah Rino.


Jonathan meminta Laura untuk menyingkir. Setelah Laura menyingkir, Rino melangkah maju, perlahan ia meraih tubuh Sarah dari pelukan Nita dan menggendongnya.


Laura yang melihat Sarah di gendong oleh laki-laki lain pun ia bersuara. "Kamu akan membawa temanku ?"


Rino yang akan berjalan dan menggendong tubuh Sarah pun menjawab. "Aku akan membawanya ke kamar yang sudah disiapkan."


"Apa maksudmu ?" tanya Laura yang sudah berfikir yang tidak-tidak. Dan Nita pun juga sedikit panik karena kondisi Sarah yang masih belum baik.


Rino tidak menjawab, tetapi ia meneruskan langkahnya dan membawa Sarah ke dalam kamar yang sudah disiapkan.


Jonathan pun bersuara. "Kalian berdua tenanglah. Lebih baik kalian ikuti dia. Ini sudah malam, waktunya tidur."


Jonathan berjalan meninggalkan kedua gadis itu. Laura dan Nita pun segera berjalan mengikut laki-laki asing itu yang menggendong Sarah menuju salah satu kamar.


Laura juga melihat Jonathan masuk ke dalam salah satu kamar di samping tempat kamar tempat Sarah di masukan oleh Rino.


Setelah Rino manaruh tubuh Sarah di ranjang, saat akan pergi, tapi ia menatap wajahnya. "Cantik. Tapi dia kenapa ?"


Rino segera pergi meninggalkan Sarah di dalam kamar dengan pikirannya penasaran dengan kondisi Sarah.


Setelah Rino keluar dari kamar, Laura dan Nita pun segera masuk. Mereka berdua melihat Sarah sudah ditidurkan di ranjang. Dan mereka berdua juga melihat barang-barang mereka juga sudah ada di dalam kamar.


Banyak sekali pertanyaan di dalam pikiran mereka berdua. Tentang rumah besar yang mereka masuki, dan orang-orang preman yang berjaga.


Kerena sudah malam, mereka berdua segera membersihkan diri secara bergantian. Dan setelah itu mereka tidur untuk istirahat.


Mereka berdua membiarkan Sarah untuk tidak ikut mandi dan membiarkannya tetap tidur di ranjangnya. Karena kondisi Sarah pasti masih tidak baik.


.....


Disisi Kamar Lain.


Jonathan tengah duduk di pinggir ranjang. Pikirannya sedang beradu. Kedua tangannya memegang kepalanya. Ia merasa kepalanya sakit.


Ia memenjamkan kedua matanya. Kepalanya sudah tak terasa sakit lagi. Lalu ia membuka kedua matanya. Ia terkejut melihat sosok dirinya berdiri di depannya.


Ya, sosok pemilik tubuhnya. Sosok Jonathan asli yang mengenakan pakaian serba putih, dan berdiri di depannya. Melihat itu, Ia berdiri dari duduknya.


Tapi sosok Jonathan asli itu tersenyum menatapnya. Dan perlahan wujudnya memudar.


Melihat sosok Jonathan yang asli akan memudar, ia pun meraih sosok itu yang akan segera menghilang.


"Tunggu !!"


Namun sudah, sosok Jonathan asli telah menghilang. Ia hanya bisa berdiri. Namun ia bisa melihat arti senyuman yang ia lihat tadi. Senyuman itu seakan memohon kepadanya. Tapi memohon apa ?


Lalu ia segera menepis pikirannya, lebih baik ia segera membersihkan diri, dan setelah itu tidur.