Laki-Laki Culun Psychopath

Laki-Laki Culun Psychopath
BAB 106 | S2


Jonathan tertawa geli melihat Linda yang tengah berontak karena rasa pedas di dalam mulutnya. "Bagaimana ? Pedas rasanya ?"


Linda meronta-ronta. Dia terlihat seperti cacing kepanasan. Dikedua sudut kedua matanya, sudah terlihat air mata yang keluar.


Jonathan tersenyum dan tertawa gila. "Lihatlah dirimu yang saat ini. Ohh, kenapa aku sangat suka sekali melihat dirimu seperti ini, hahahah...."


Jika ada yang bertanya, dari mana Jonathan mendapatkan bon c4be ? Jawabannya adalah, ia membelinya di minimarket sebelumnya.


Jonathan menghentikan tawanya. Namun ia masih tertawa kecil. Lalu ia mengabaikan Linda, ia beralih pandangannya ke arah Alan, sang manager dari Linda. "Ahh, sekarang giliranmu."


Alan beronta-ronta agar bisa terlepas. Rasanya ingin menghajar wajah tampan Jonathan hingga tak berbentuk. Namun sayang ia tidak bisa terlepas tali yang mengikatnya.


Jonathan mengambil satu botol kecil bon c4be dengan level yang sama seperti ia berikan kepada Linda. Dengan kasar, Jonathan melepas lakban yang menutup mulut Alan.


"Brengsek kau !! Kubunuh kau !!" ucap Alan berteriak sambil berontak berusaha melepaskan diri.


Jonathan mengembungkan kedua pipinya, karena ia menahan tawanya. "Ppffff.., ahh kamu ingin membunuhku ? Sungguh lucu sekali. Apa kamu tidak sadar diri akan keadaanmu sekarang ?"


Lalu Jonathan membuka tutup botol kecil bon c4be level 50. Setelahnya, ia mencengkram dagu Alan. Jonathan bersuara sambil tersenyum. "Selamat makan."


Saat akan menuangkan isi botol berisi bubuk pedas itu, Alan berontak sekuat tenaga. Jonathan saja kesulitan mencengkram dagu pria ini. "Cuihh !!"


Alan meludah ke arah wajah Jonathan. Namun, Jonathan sudah menyadarinya, ia menghindar dan melepas cengkraman tangannya. Sehingga ia tidak terkena air ludah dari Alan.


Jonathan menatap ke arah Alan sambil tersenyum menyeringai. "Kamu benar-benar ingin bermain."


Tanpa ragu, Jonathan langsung menaburkan bubuk bon c4be dari botolnya ke arah wajah Alan. "Aggrrhhh !!"


Alana berteriak keras. Perih.


Ya, perih rasanya, yang dimana bubuk pedas di taburkan ke wajahnya. Bahkan kedua matanya pun juga kena. Alan menutup kedua matanya.


Alan menggeleng-gelengkan kepalanya. Sudah bisa dibayangkan, rasa perih di kedua matanya. Pasti rasanya bukan main.


"Aggrrhhh !! Perih !! Lepaskan aku !!" Alan berteriak, ia benar-benar harus membasuh wajahnya dan membersihkan kedua matanya dengan air mengalir.


Jonathan kembali menutup mulut Alan dengan lakban. Ia mengabaikan apa yang dialami oleh Alan. Lalu kini, tatapan Jonathan beralih ke arah Jimmy.


Jimmy yang dari tadi diam melihat Jonathan menyiksa dengan sadis kepada dua orang barusan. Jonathan tersenyum padanya. Lalu ia mendekati Jimmy.


Kini Jonathan berjongkok dihadapannya Jimmy sambil menatapnya dengan senyumannya. Jimmy sudah berwajah pucat. Ia membayangkan siksaan apa yang ia dapat dari laki-laki ini


"Statusmu dengan ibuku masih bersuami istri, ya ?" kata Jonathan sambil mengusap dagunya seakan ia berfikir.


Jonathan menatap Jimmy dengan tatapan terkejut. "Berarti kamu ayah tiriku dong ?"


Ahh, sungguh rasanya ingin menjitak kepala Jonathan. Jimmy melotot ke arahnya. Bisa-bisa Jonathan bergurau disaat keadaan seperti ini.


Jonathan menghela nafasnya. "Tapi sayangnya, aku tidak sudi memiliki ayah tiri. Ayahku cukup satu, yaitu ayah kandungku."


"Sungguh aku tidak menerima kenyataan kalau dirimu menjadi ayah tiriku. Ahh..., bukan 'kah kamu sendiri yang membuat dirimu menjadi tokoh ayah tiriku, secara kamu mengancam dan memaksa ibuku." kata Jonathan.


Jonathan tersenyum menyeringai ke arah Jimmy yang tengah marah padanya. "Karena statusmu masih menjadi suami ibuku, maka sekarang akan kubuatkan status ibuku menjadi janda. Aku tidak sudi memiliki ayah tiri."


Jonathan berdiri dari jongkoknya. Ia meraih pistol kecilnya yang ia simpan di dalam saku celananya. "Aku ingin bermain-main dulu denganmu, hahahahaha...."


Dor !!


Satu tembakan terkena salah satu pergelangan kaki Jimmy. Jonathan mendengus kesal. "Ahh, padahal aku ingin sekali peluruku mengenai lututnya."


Terlihat Jimmy meringis kesakitan. Ia masih berusaha berontak, namun kembali lagi, percuma. Jonathan mengarahkan kembali pistolnya ke arah Jimmy, dan menekan pelatuknya.


Dor !!


Tembakan keduanya mengenai tepat di dada pria dewasa itu. Seketika Jimmy mati karena peluru yang ditembaki oleh Jonathan tembus mengenai jantungnya. Padahal ia mengarahkan pistolnya ke perut pria dewasa itu.


"Aggrrhhh.., sial kenapa malah kena dadanya. Padahal aku masih ingin bermain dengannya." ucap Jonathan terlihat frustasi.


Jonathan berjalan mendekat sambil menekan pelatuk pistol kecil ke arah wajah Jimmy berkali-kali.


Dor..!! Dor..!! Dor..!!


Klek klek klek..


Pelurunya habis. Jonathan berjalan mendekati tas ranselnya yang tergeletak di lantai. Ia menyimpan pistolnya, dan mengambil belatinya. Sungguh terlihat sangat santai sekali Jonathan seperti tidak memiliki dosa sama sekali.


Setelah mengambil belatinya, Jonathan berjalan ke arah Alan. Laki-laki itu masih berontak karena rasa sakit dan perih di kedua matanya.


Jonathan tersenyum melihat keadaan Alan. Ia menjambak rambut laki-laki itu. "Kamu ingin rasa sakit dan perih pada kedua matamu hilang ? Baiklah, akan kuhilangkan."


Sedangkan Linda, ia merasakan rasa pedas di dalam mulutnya mulai berkurang. Wanita itu bergidik ngeri melihat Jonathan yang sangat sadis menyiksa managernya.


Ya, Jonathan tengah asik mencongkel salah satu bola mata Alan. Setelah mata kanannya sudah tercongkel, Jonathan mencongkel bola mata kirinya.


Kini, Alan sudah mengeluarkan darah yang keluar dari luka bekas congkelan kedua matanya. Ingin berteriak minta ampun dan minta tolong percuma, mulutnya terkunci oleh lakban yang menutup rapat mulutnya.


Crakk !!


Jonathan menginjak dua bola matanya Alan di lantai hingga pecah. Jonathan berkata. "Bagaimana, rasa perih di kedua matamu sudah hilang, 'kan ?"


Spontan Jonathan menepuk mulutnya. "Upss, maafkan aku yang telah mengantikan rasa perih matamu menjadi rasa kenikmatan. Hahahahaha...."


Sungguh sadis dilihat oleh wanita itu. Linda mencoba terus berontak. Hasilnya tetap nihil. Dalam hatinya ia berkata. "Psychopath."


Jleb..!! Jleb..!! Jleb..!! Jleb..!!


Jonathan menusuk wajah Alan berkali-kali. Jleb..!! Jonathan menusuk leher laki-laki itu, dan memutar-putar belatinya, karena ia terbawa suasana.


Pada akhirnya, Alan mati. Jonathan menyudahinya. Jonathan menghela nafasnya. Pikirannya terbayang-bayang wajah istrinya.


Ia mengingat janjinya kepada Tasya agar berhenti, dan pelan-pelan untuk menghilangkan sisi Psychopath-nya. "Maafkan aku, karena terbawa suasana. Aku berjanji, hari ini adalah terakhirku untuk menggila lagi."


Lalu tatapan Jonathan beralih ke arah Linda yang tengah ketakutan. Jonathan tersenyum. "Apa rasa pedas di mulutmu sudah hilang ?"


Dengan spontan Linda menggeleng-gelengkan cepat kepalanya. Wanita itu memang masih merasakan rasa pedas di dalam mulutnya, meskipun tidak sepedas di awal. Sungguh takut yang amat luar biasa terhadap suami Tasya ini.


Jonathan terkekeh melihatnya tingkah Linda. Lalu ia mendekat. Saat akan bertanya, tiba-tiba ponselnya berbunyi dan bergetar. Jonathan segera meraih ponselnya dari dalam sakunya, dan membaca isi pesan chat untuknya.