Laki-Laki Culun Psychopath

Laki-Laki Culun Psychopath
BAB 68 | S2


Keesokan Harinya.


Seperti biasa Jonathan dan lainnya sarapan bersama. Tak ada pembicaraan apapun. Suasana di ruangan itu cukup tenang. Hanya suara sendok dan garpu saling beradu di piring.


Tanpa basa-basi Jonathan langsung berdiri dari duduknya dan pergi begitu saja dari ruangan makan itu dan keluar dan entah pergi kemana. Setelah Jonathan tak kelihatan, mereka semua saling berpandangan.


"Apa dia sedang bertengkar dengan pacarnya ?" Laura menebak.


Semua menggeleng-gelengkan kepalanya. Mereka tidak tau, karena semalam mereka telah tidur saat Jonathan telah kembali pulang.


Rino pun menjawab. "Sepertinya bukan itu, dan tapi kemungkinan semalam Tuan Jo telah membunuh orang lagi."


Semua menatap Rino. Sarah pun bersuara. "Apa kamu yakin ?"


Rino menjawab. "Ya, semalam, aku bangun dan pergi ke dapur untuk minum, aku tidak sengaja melihat Tuan Jo pulang jalan melewatiku begitu saja. Pakaian basah bukan hanya kena air hujan, tapi juga ada noda darah."


Tony meletakkan kembali gelasnya setelah ia meminum airnya. Lalu ia bersuara. "Kali ini, siapa yang dibunug Tuan Jo ? Dan siapa yang sudah membuatnya marah ?"


"Kita akan tau, pasti akan berita setelah ini, atau besok." kata Sinta.


Mendengar perkataan Sinta, mereka semua mengangguk kepalanya. Mereka sudah tak kaget lagi jika ada berita pembunuhan sadis.


Jiwa mereka sudah benar-benar bukan jiwa yang kasihan kepada korban. Melainkan mereka mendukung apa yang dilakukan Jonathan.


Tentu saja, disisi mereka bersepuluh juga akan melakukan apapun untuk memberi pelajaran jika mereka terganggu. Namun mereka tidak sesadis Jonathan.


Setelah selesai sarapan. Mereka membubarkan diri, dan menjalankan aktifitas mereka masing-masing. Para maid pun datang untuk membereskan semua sisa-sisa sarapan mereka.


.....


Rino telah selesai mengantar ketiga perempuan ke kampus. Lalu ia melajukan mobilnya untuk pergi ke kantor.


Beberapa lama kemudian, ia telah sampai. Setelah memarkirkan mobilnya, ia turun dan segera berjalan masuk dalam gedung perusahaan.


Tak heran, jika para karyawan wanita terpesona dengannya. Rino, Tony, Dika, David, Agil, Sinta, dan Selly adalah orang sangat dikagumi oleh karyawannya. Terutama tuan muda mereka. Jonathan yang berpenampilan biasa-biasa saja juga tak kalah.


Rino telah sampai di ruangannya. Semua pekerjaannya cukup banyak, ditambah pekerjaan tuannya yang selalu ditinggal


Tapi ia tidak mempermasalahkannya. Karena ada Selly, David, dan Agil yang selalu membantunya. Disisi Tony, ia dibagian IT, ia juga dibantu oleh Sinta, dan Dika. Kerja sama mereka tidak perlu di ragukan.


.....


Hari telah siang, Jonathan dan Tasya selalu bersama. Mereka terpisah di kampus saat mereka masuk kelas. Karena beda kelas.


Jam telah waktunya pulang. Jonathan pasti selalu memboncengi kekasihnya menggunakan motor maticnya. Mereka benar-benar terlihat serasi.


Disisi lain.


Ada sebuah mobil terparkir di dekat gerbang kampus. Di dalam mobil, Rino mengendarai mobilnya. Ia akn menjemput ketiga perempuan. Ia tersenyum melihat tuannya bisa dekat dengan seorang perempuan.


"Mereka terlihat serasi." kata Rino.


Lalu ada sebuah pandangan yang membuatnya kesal dan marah. Karena ia melihat ketiga perempuan, siapa lagi kalau bukan Laura, Nita, dan Sarah.


Namun yang membuatnya kesal dan marah adalah ada tiga laki-laki yang bejalan keluar bersama dengan ketiga perempuan itu. Sebenarnya ada empat, tapi yang satu hanya diam dan berjaga jarak.


Meski Sarah bisa menjaga diri karena juga bisa bela diri, ia tidak suka melihat pemandangan itu. Ya, Rino telah memiliki rasa suka terhadap Sarah semenjak pertama kali bertemu. Ia tak peduli masa lalu perempuan itu.


Rino menerima apa adanya. Ingin sekali membunuh laki-laki itu yang mendekati Sarah. Tapi ia urungkan dulu. Ia ingin sampai sejauh mana laki-laki itu akan mendekati Sarah. Lagian ia dan Sarah tidak memiliki hubungan spesial, Rino belum siap mengutarakannya.


Ketiga laki-laki itu telah pergi menjauh ketiga perempuan itu. Laura, Sarah, dan Nita pun berjalan mendekati mobilnya Rino yang tengah menunggu mereka. Rino menyembunyikan rasa kesalnya dan ia bersikap seperti biasanya kepada lainnya.


.....


Beberapa Hari Kemudian.


Muncullah berita tentang pembunuhan dua orang di tempat sepi menjadi berita yang heboh. Polisi dan pihak lainnya tidak menemukan bukti apapun.


Tapi mereka semua menemukan ada jejak sidik jari, namun mereka benar-benar kesulitan memeriksanya. Karena jejak sidik jari tersebut terkena air hujan. Jadi mereka tidak bisa sepenuhnya menyimpulkan siapa pelakunya.


Namun ada yang membuatnya lebih heboh. Dari tempat kejadian itu, menuju arah tempat yang dimana para polisi menemukan tiga mayat mati terbakar. Setelah diperiksa ternyata kemungkinan kejadiannya terjadi dua minggu yang lalu atau lebih.


Setelah menemukan salah satu identitas mayat itu, ternyata salah satu nama mereka adalah Farel salah satu mahasiswa kampus yang cukup terkenal di kota S.


Tentu saja, mendengar berita itu tak hanya orang-orang, tapi semua mahasiswa dan mahasiswi terkejut tentang berita itu. Salah satu mahasiswa terpopuler di kampus mereka, ternyata telah mati.


Pantas saja mereka tak penah melihatnya masuk. Terutama yang menyangkut orang tuanya dan teman-temannya, mereka sedih. Mereka meminta kepada pihak polisi untuk mencari sang pelaku, namun polisi kesulitan menemukannya.


Jonathan yang kini sedang di kantor mendengar berita itu, ia bersikap biasa-biasa saja. Ya kali ini pergi ke kantor karena ada pertemuan penting.


Setelah selesai pertemuannya. Jonathan berdiam di kamar pribadi yang ada di ruangan kerjanya. Ia telah mengambil sebuah pisau.


Dengan santai, ia melukai kedua telapak tangannya. Terutama di jari-jarinya. Ia terkekeh dan ia sangat menikmati saat ia melukai tangannya sendiri.


Tujuannya ia lakukan itu adalah, supaya para polisi dan pihak lainnya tidak bisa menemukan siapa pelaku pembunuhan itu. Tapi sungguh, ia menikmati dengan luka-lukanya sendiri.


Mungkin Jonathan teledor. Tapi tak masalah. Jika ada yang curiga padanya. Tinggal ia datangi diam-diam, menyiksanya dan membunuhnya.


Setelah selesai melukai kedua telapak tangannya, ia memanngil Selly dan Dika datang keruangannya untuk mengobatinya.


Selly dan Dika memilih diam, dan fokus mengobati luka tuannya. Namun pikiran mereka berdua tak menyangak kalau tuannya sangat nekat dan gila.


.....


Keesokan Harinya.


Hari sudah Siang. Jonathan mengendarai motornya, ia datang menjemput kekasihnya. Terlihat Tasya sedang menunggunya di depan rumah.


Jonathan mematikan mesin motornya. Tasya berjalan mendekati kekasihnya. Gadis ini tampak terlihat senang.


Tasya tersenyum padanya. Sambil Jonathan memberi helm satunya dan memakainya, ia bersuara. "Kamu terlihat senang."


"Ya, aku mendapat undangan untuk mengisi acara konser." kata Tasya yang terus tersenyum.


"Baguslah, jika itu membuatmu senang." kata Jonathan yang juga tersenyum kepada kekasihnya.


Jonathan kembali menaiki motornya, dan menyalakan mesinnya. Namun saat Tasya akan ikut naik memboncengnya, ia melihat kedua tangan Jonathan yang diperban.


"Tanganmu kenapa ?"