Laki-Laki Culun Psychopath

Laki-Laki Culun Psychopath
BAB 32


Ingin Sekali marah, namun pemilik tubuhnya tidak menuruti kemauannya. Jonathan benar-benar kesal, baru saja mendapat uang hasil rampasannya dari preman, kini ia harus mengeluarkan biaya yang tidak sedikit.


Bagaimana tidak ? Ketiga gadis itu memesan banyak makanan. Meski mahal baginya tidak masalah, tapi tidak kira-kira. Siapa yang mau menghabiskan makanannya. Mubazir jadinya.


"Kalian bertiga..." ucap Jonathan sambil menunjuk jarinya ke Luara, Sarah, dan Nita.


Hari telah memasuki sore hari. Kini Jonathan tengah berada di kamar sebelah, siapa lagi kalau bukan kamar yang dihuni oleh Laura, Sarah, dan Nita.


Jonathan menghela nafasnya. "Kalian benar-benar...., jumlah makanan ini siapa yang akan menghabiskannya ?"


"Kamu." sahut Sarah enteng.


Jonathan menatap dingin ke arah Sarah. Sarah merasa tidak nyamana ditatap seperti itu. "Aku memang cantik, jadi jangan lihat aku seperti itu."


Jonathan tersenyum menyeringai. "Sekarang kamu sudah bisa senang, ya ? Setelah kematian kedua orang tuamu. Jadi kamu menghibur diri dengan cara seperti ini."


Seketika Sarah membeku mendengar ucapan Jonathan. Laura yang mendengar pun, ia menatap datar ke arah Jonathan. Laura juga tidak terima.


Karena kematian orang tua Luara, juga bersamaan dengan kematian orang tuanya Sarah di kejadian yang sama. Begitu pun juga Nita, hanya saja ia menundukan kepalanya.


"Bisakah kamu tidak mengingatkan kematian orang tua kami ?"ucap Laura datar, air matanya sudah mulai mucul di setiap sudut matanya, namun ia tahan, Sarah dan Nita pun juga menangis.


Jonathan terdiam, ia tetap menatap dingin ke arah Laura. Ia menyadari kalau kata-katanya terlalu berlebihan. Tapi ia tetap mencoba tetap tenang agar merasa tidak bersalah dalam berucap ucapannya tadi.


"Kenapa diam ?" tanya Laura datar, ia masih menahan air matanya agar tidak jatuh, dan tubuhnya sedikit gemetar. Tapi setidaknya ia sedikit memberi perlawanan.


Jonathan sedikit memiringkan kepalanya, lalu tersenyum miring. "Apa setelah makan kamu mendapat nyali untuk berbicara padaku seperti ini ?"


Laura tidak menjawab, ia diam saja. Ucapan Jonathan, sungguh membuatnya ingin melayangkan tangannya untuk menampar pipi laki-laki ini. Namun ia urungkan, mengingat kalau Jonathan adalah teman masa kecilnya.


Jonathan terkekeh. "Sudahlah, terserah kalian mau apa setelah ini, mau pergi dari sini, silahkan saja. Yang terpenting jangan mengganggu kegiatanku."


Jonathan memundurkan diri setelah mengeluarkan kata-katanya. Ia segera pergi keluar dan meninggalkan ketiga gadis ini di kamar. Karena Jonathan akan melakukan aksinya untuk pergi ke suatu tempat.


Ketiga gadis ini terdiam. Sarah dan Nita terduduk di lantai sambil menangis. Laura diam berdiri dan masih berusaha untuk tetap tenang, meski ia menangis dalam diamnya.


Laura pun berjalan menuju sofa di kamar, lalu ia mendudukinya. Ia menundukkan kepalanya, Air matanya yang sudah ia tahan, akhirnya keluar juga.


"Kenapa kamu jadi ketelaluan, Jo." batin Laura.


Kini mereka bertiga, sama-sama menangis. Kata-kata Jonathan memang sederhana, tapi cukup membuka rasa sedih yang baru saja dilupakan. Sungguh tak berperasaan.


Laura kini berfikir, apa dia mengajak Sarah dan Nita untuk pergi ? Meninggalkan Jonathan sendiri ?


Lalu ia menatap kedua temannya. "Hei.."


Laura memanggil kedua temannya. Sarah dan Nita yang masih terisak, secara bersamaan menoleh kepalanya ke arah Laura yang baru saja memanggil mereka berdua.


"Apa kalian masih ingin pergi dari sini atau, akan tetap disini ?" tanya Laura.


Sarah dan Nita menatap Laura dengan dalam-dalam. Mendengar pertanyaan dari Laura barusan, apakah mereka harus membuat keputusan ?


.....


Disisi Lain, di dalam mobil. Jonathan baru saja menyalakan mesin mobilnya, namun mobilnya belum berjalan. Ia terpikiran kejadian yang tadi.


"Hanya masalah makanan, ya." batin Jonathan.


Contohnya seperti tadi. Salah satu dari mereka memesan makanan dalam jumlah yang banyak. Bisa diperkirakan makanan yang ia pesan, bisa untuk sepuluh orang.


Jonathan menghela nafasnya. Ia menepis pikirannya untuk tidak merasa bersalah atas perkataannya yang tadi. Setidaknya ucapannya sedikit menyadarkan ketiga gadis itu untuk tidak menyia-siakan makanan.


Jonathan segera melajukan mobilnya. Tangan kanannya memegang ponsel yang ia dapat dari preman yang ia bunuh. Di layar ponsel itu, Ho bisa melihat arah jalan menuju markas gangster.


.....


Sudah hampir satu jam lebih ia mengemudikan mobilnya. Hari pun mulai malam. Perjalanannya cukup lama. Di layar ponsel, tanda dirinya telah mendekati tempat tujuannya.


Ternyata tempat itu masuk salah satu desa dipinggir kota. Dari dalam mobilnya, Jonathan melihat-lihat sekeliling tempat itu, yang rupanya banyak sekali rumah.


Lalu ia melihat sebuah rumah besar di ujung jalan perpotongan pertigaan. Dan rumah itu satu-satunya paling besar. Jonathan jauh menjaga jarak, lalu ia memilih memarkirkan mobilnya yang agak jauh supaya tidak ketahuan.


Jonathan segera keluar dari mobil. Perlengkapannya telah ia siapakan semua di dalam tas ranselnya. Sesuai dugaan, rumah besar itu ternyata di jaga oleh dua pria bertato dan bertindik. Namun entah mereka menyimpan senjatanya atau tidak.


"Wah, penampilan mereka cukup mengerikan." Jonathan berkata dengan pelan.


Lalu Jonathan mengendap-endap. Ia berjalan mendekat sambil bersembunyi di balik tembok rumah orang yang ada di dekatnya.


Ia memeriksa keadaan yang ada didekat pintu gerbang rumah besar itu. Jonathan ingin memastikan yang berjaga pintu gerbang rumah besar itu hanya dua pria saja.


Setelah melihat keadaan pintu gerbang benar-benar hanya dijaga dua orang saja. Ia segera pergi kembali ke mobilnya. Lalu ia segera naik, menyalakan mobilnya dan menjalankannya.


Ia membawa mobilnya sedikit menjauh dari rumah besar itu. Mungkin kurang lebih ia sudah di jarak 200 meter dari rumah besar tadi.


Jonathan sudah mengambil posisi di kursi kemudinya. "Baiklah, waktunya bermain."


Kakinya menginjak pedal gasnya, mobilnya pun melaju. Dengan santai dan tenang, Jonathan mengemudikan mobilnya dalam kecepatan yang tinggi.


.....


Sementara disisi lain, kedua preman yang berjaga pintu gerbang. Mereka berdua terlihat sedang berdiri saling berhadapan dan berbincang untuk mengurangi rasa penatnya.


"Malam ini cukup sepi." tanya preman1.


"Benar, aku ingin sekali makan." sahut preman2.


"Tahan saja, karena giliran kita masih satu jam lagi."


Brakkk !!!


Kedua preman yang berjaga pintu gerbang terdorong dan jatuh di tanah. Tubuh mereka kesakitan setelah menerima hantam mabil avanza hitam.


Jonathan segera turun dari mobilnya, kedua preman yang ia tabrak terkejut melihatnya, karena ada orang asing datang dengan modal nekat.


Mereka berdua ingin berteriak untuk meminta bantuan. Namun dengan cepat Jonathan melompat ke arah mereka berdua yang masih terbaring di tanah.


Dugh !!


Dugh !!


Kedua preman itu langsung tak sadarkan diri. Dahi mereka berdarah setelah Jonathan menghantamnya dengan batu yang masing-masing ia genggam di kedua tangannya.