
Setelah mendapatkan lokasi tuannya. Roni dan Tony segera pergi. Tadinya Tasya ingin ikut, tapi Rino melarangnya, dan menyuruhnya untuk menunggu di rumah bersama yang lainnya.
.....
Beberapa lama kemudian.
Roni dan Tony telah sampai di lokasi. Namun sialnya mereka hanya menemukan mobil Jonathan saja yang terparkir di pinggir jalan.
"Sekarang kita harus bagaimana ?" tanya Tony.
"Ayo kita panggil semua anggota kita." jawab Rino.
Rino dan Tony segera menghubungi semua anggota-anggota gangsters yang tersebar di Kota S untuk membantu mencari keberadaan tuannya.
.....
Sementara Di Tempat Lain.
Byurrr !!
Jonathan yang dalam posisi terikat, ia terbangun dari pingsannya setelah ada yang menyiraminya. Jonathan membuka matanya. Ia melihat sekelilingnya dan menyadari kalau kedua tangan dan kedua kakinya terikat.
"Bangun juga akhirnya."
Jonathan mendongak ke arah sumber suara yang menyapanya. Ia melihat sosok laki-laki yang tak asing baginya. Ia menyipit kedua matanya.
"Kenapa ? Kamu terkejut ?" tanya orang itu tersenyum menyeringai.
"Dari reaksi yang terlukis di wajahmu, sudah jelas terkejut. Hahahaha" lanjutnya sambil tertawa.
Jonathan tidak menjawab, ia memasang wajah datarnya dan tatapan dinginnya. Orang itu kembali bersuara. "Apa segitu penglihatanmu buruk sampai kamu tidak bisa melihatku ? Sepertinya kamu perlu kacamata ya. Benar juga kacamatamu pasti terjatuh. Hahahaaha."
Jonathan menghela nafasnya. Lalu ia menatap malas ke arah orang itu. "Aku ingin pulang."
Orang itu terkekeh. "Kamu mau pulang ? Tidak semudah itu. Kita akan bermain-main disini."
Jonathan memutar bola matanya. "Sebenarnya apa maumu ?"
Orang itu bertepuk tangan, lalu menjawab. "Hebat sekali, kamu masih terlihat tenang, meski dalam kondisi seperti ini."
Orang itu menghentikan tepuk tangannya lalu ia berjalan mendekati Jonathan. Plak !! Orang itu menampar pipi Jonathan. Lalu ia berkata. "Aku ingin sekali melihatmu tersiksa."
Jonathan tak menjawabnya, ia hanya diam dan menatap tajam ke arah orang laki-laki itu. Orang itu pun tersenyum menyeringai. "Aku kagum, kamu masih bisa memberi tatapan tajam padaku."
"Aku akan memberi penawaran yang menarik untukmu." ucap orang itu, Jonathan masih diam, orang itu kembali melanjutkan ucapannya. "Aku akan melepaskanmu dan membiarkanmu hidup, jika kamu menceraikan istrimu."
Jonathan tetap diam, tatapannya dingin ke arah orang itu. Orang itu tersenyum remeh memandang Jonathan. "Bagaimana ? penawaranku menarik bukan ?"
Jonathan tak menjawab.
Tak mendapat jawaban dari laki-laki yang ia benci, orang itu menamparnya lagi. Plak !! Terlihat darah di sudut bibirnya Jonathan.
"Jadi kamu tidak memberi jawaban ? Baiklah aku akan memberimu sebuah siksaan yang menyenangkan." kata orang itu.
Jonathan menundukkan kepalanya, ia menatap ke bawah. Orang itu tertawa melihat Jonathan seperti itu. "Hahahah... Kenapa kamu takut ? Sampai kamu tak mau menatapku ? Hahahaha..."
Orang itu menarik rambut Jonathan ke belakang. Ia melihat Jonathan memenjam kedua matanya seakan pasrah akan nasibnya, orang itu tersenyum menyeringai.
Plak..!! Plak..!!
Orang itu menghempaskannya. Rambut Jonathan terlepas kasar, ia kembali menundukkan kepalanya. Tubuhnya sedikit bergetar. Melihat Jonathan seperti itu orang itu tertawa.
"Hahahahaha..., lihatlah dirimu, kamu ketakutan sampai bergetar seperti itu.... Hahahaha..., sungguh menyenangkan sekali melihatnya. Hahahahaha...."
Orang itu tertawa puas melihat Jonathan. Namun tiba-tiba terdengar suara orang tertawa selain dirinya, seketika membuatnya berhenti tertawa. Karena suara tawanya sangat-sangat tidak asing.
"Hahahahahaha..."
Orang itu menoleh kepalanya ke arah sumber suara tawa itu. Ia terdiam, lalu beberapa detik kemudian, ka mengerut dahinya.
"Hahahahahah.... Sudah lama aku tak merasakan ini, hahahahaha....!!"
Orang itu terdiam dan memberikan tatapan aneh kepada Jonathan yang tiba-tiba tertawa keras. "Apa dia sudah gila ?"
"Astaga, tamparanmu sungguh sakit. Hahahahahaha.." ucap Jonathan, lalu tertawa keras dengan tatapannya yang sulit diartikan.
"Sepertinya kamu sudah gila karena ketakutan." kata orang itu sambil tersenyum menyeringai. Orang itu berfikir kalau Jonathan telah gila. Bisa-bisanya dalam kondisi terikat bisa tertawa. Pasti sudah gila, itulah pikiran orang itu.
"Aku ? Gila ? Hahahahaha..., Andri Andri..., kamu benar, aku sudah lama gila." ucap Jonathan sambil tertawa keras dan menatap orang itu.
Ya, orang yang menculiknya adalah siapa lagi kalau bukan Andri. Dia nekat menculik Jonathan, dan mengancamnya, memberi pilihan jika ingin hidup maka harus ceraikan istrinya. Ya, Andri benar-benar sudah tergila-gila dan sangat ingin Tasya menjadi miliknya.
Andri tersenyum melihat Jonathan yang benar-benar terlihat sudah gila. "Aku sungguh kasihan padamu. Kamu menjadi gila. Tidak kusangka, laki-laki yang selama ini dekat dengan Tasya itu polos, kini sudah gila. Lebih baik kamu terima saja penawaranku, maka kamu akan kulepaskan."
"Kamu mau melepaskanku ? Justru aku memilih tidak ingin dilepaskan." ucap Jonathan menyeringai dan menatap Andri, seakan ia merasa haus akan sesuatu yang sudah lama tak ia lakukan.
Andri terdiam, ia melihat Jonathan dengan teliti. Warna kedua pupil iris mata laki-laki itu berwarna coklat gelap. Namun mengingat dirinya kalah cepat memiliki Tasya oleh laki-laki ini, Andri mendekat lagi.
DUGH !!
Andri menghantam dada Jonathan. Jonathan beserta kursinya terdorong dan terjatuh ke belakang. Andri kembali bersuara. "Sepertinya aku benar-benar harus memberimu pelajaran."
"Hahaha, kamu benar-benar om-om tua yang tidak tau malu. Beraninya sama orang yang jauh lebih muda. Yah sesuai kenyataannya kalau pinggangmu sepertinya sakit kalau banyak bergerak."
Masih sempat-sempatnya Jonathan tartawa dan memberi komentar. Padahal dirinya masih terikat di kursi, bahkan lebih parahnya dalam posisi tergeletak miring di lantai.
DUGH !!
Andri menedang punggung Jonathan. Andri marah karena tak terima mendengar ucapan Jonathan yang menjeleknya. Andri menatap marah, ia tersenyum mendengar teriakan Jonathan seperti kesakitan.
"Aaaagggrrrrhhhahahahahahahaha..., aduh sakit sekali punggungku hahahaha..., ayolah om, kamu itu sudah tua. Istriku mana mungkin tertarik sama yang tipe om-om. Dan terbukti jelas kalau kau tidak berani menghadapiku secara jantan. Secara kau om-om tua, dan aku laki-laki masih muda."
Nafas Andri memburu, ia marah, ia menahan agar dirinya tidak terpancing. Jonathan kembali bersuara. "Kau ingin tau ? Istriku selalu menyebut namaku saat bercinta denganku. Aahhhh bayangkan saja, sungguh senang rasanya. Nikmat mana yang kau dustakan ?"
Andri semakin marah. Panas rasanya mendengat hal vulgar. Andri segera meraih Jonathan dan kursinya. Ia cepat-cepat melepaskan ikatannya Jonathan. Ya, dia terpancing ucapan laki-laki ini.
Setelah terlepas, ia meraih kerah pakaiannya Jonathan. Ia menghempas kasar dan menendangnya. Jonathan kembali terjatuh ke lantai. Andri pun bersuara. "Ayo, kita beradu. Aku akan membuatmu lumpuh."
Jonathan tengkurap di lantai, lalu ia perlahan membalikkan tubuhnya untuk duduk di lantai. Ia terkekeh mendengar ucapannya Andri. "Aku tidak ingin melawan laki-laki yang sudah tua. Aku merasa kasihan."
Andri segera meraih kembali kerah pakaiannya Jonathan. Ia benar-benar marah mendengar Jonathan terus memancing emosinya.
BUGH !!
Andri menendang perut Jonathan. Jonathan terdorong dan terjatuh kembali ke lantai. Jonathan terbaring di lantai. Andri melangkah mendekatinya. Setelah dekat, ia menginjakkan satu kakinya di perut Jonathan.
Sambil seperti itu, Andri pun bersuara. "Kamu bilang masih muda ? Dan sekarang lihat siapa yang masih berdiri disini."