
Rasa tak percaya atau tidak, Max baru saja sampai di lokasi tempat Putranya dikurung di dalam sebuah bangunan. Ia telah mendapat laporan tentang keberadaan Putranya.
Sedih dan marah bercampur menjadi satu, setelah melihat keadaan sang Putranya. Tubuh Riki sudah terbakar gosong. Tak hanya itu ia juga melihat dua mayat laki-laki seumuran dengan Putranya, dan empat mayat laki-laki dewasa.
Keenamnya juga sama telah mati terpanggang, hanya saja untuk keempat mayat laki-laki dewasa itu, tak hanya tubuhnya terbakar, tapi juga kepalanya terpisah dari tubuhnya.
"Roy !!" Max berteriak memanggil nama asistennya.
Roy pun mendekat. "Baik tuan."
"Cari keberadaan laki-laki culun itu !!" Max memberi perintah.
"Baik tuan." jawab Roy, ia langsung menjalankan tugasnya.
"Aku ingin sekali menggantungkan kepala si culun ini di markasku." batin Max. Ia menjadi memiliki dendam yang besar kepada Jonathan atas kematian Putranya.
Hal lain dengan orang tua Angga, dan Ciko. Mereka sangat sedih atas meninggalnya Putra mereka yang sangat menyedihkan. Mereka taunya, anak mereka dibunuh oleh pembunuh misterius.
Itulah polisi yang menyimpulkan. Karena kasus yang dialami Angga dan Ciko sangat mirip dengan kejadian pembunuhan yang sudah terjadi di belakang ini.
Polisi hanya menemukan dua mayat saja, Angga dan Ciko.sebenarnya Max menyuruh anak buahnya untuk mengurusi kematian Putranya, dan keemar mayat anak buah bayaran Putranya. Angga dan Ciko ditinggalkan begitu saja.
Tujuannya adalah, Max ingin lebih hati-hati. Karena kasus yang menimpa Putranya, pasti ada maksud lain. Buktinya, keempat mayat tanpa kepala. Buat apa Putranya punya anak buah bayaran.
Karena ia melihat isi ponsel Putranya. Yang ternyata Riki menyewa anak buah dari gangster lain untuk menculik ketiga gadis. Tapi hasilnya apa, Putranya menjadi korban, dan kehilangan nyawanya.
.....
Beberapa Hari Kemudian setelah kematian Riki.
"Tiga gadis ya ?" batin Max.
Max tengah duduk di kursi kebesarannya, sambil melihat laporan yang ia dapat. Laporan dari ahli dalam penyelidikan di kelompoknya.
Meski laporan keberadaan laki-laki culun yang bernama Jonathan belum ditemukan.
"Roy !! Tangkap orang tua dari ketiga gadis ini, bawa kemari dalam keadaan hidup-hidup !!" Max memberi perintah.
"Baik tuan." Roy pun pergi dan segera menjalankan tugasnya.
Max merasa kematian Putranya adalah dari ketiga gadis, terutama yang bernama Laura. Ternyata Laura adalah gadis yang disukai Putranya.
Cintanya selalu ditolak, sampai-sampai Riki menyewa empat anak buah bayaran dari gangsters di tempat lain untuk menculik ketiga gadis itu, salah satunya Laura.
Karena kejadian ini, Max menyalahkan Luara, karena telah menolak perasaan Riki, sehingga membuat Riki nekat melakukan cara kotor.
.....
Keesokan Harinya.
Jonathan tengah menjalankan mobil avanza hitam curiannya. Ia kini tengah mengikuti sebuah mobil yang mencurigakan di jalur yang sama.
Awalnya Jonathan berniat langsung ke markas kelompok mafia milik Max. Ia sudah tau lokasinya, karena ia pernah kesana waktu itu. Ia ingin membuat kejuatan untuk Max yang sudah ia rencanakan.
Namun saat ditengah perjalan, ada ada mobil hitam yang berjalan di depannya. Dan anehnya, mobil itu di jalur yang sama. Jonathan mengerut dahinya. "Apa mereka anak buah Max ?"
Perjalanan sudah mendekati lokasi. Sebelum jalan pertigaan, Jonathan memilih berhenti, dan memarkirkan mobilnya di situ. Ia lalu berjalan diam-diam agar tidak ketahuan.
Susah hampir lama, Jonathan berjalan memasuki kebun dengan bersembunyi. Setelah sampai di dekat sebuah bangunan, indra pendengarannya menangkap sebuah percakapan.
"Karena Putri kalian, Putraku mati !!" ucap Max.
"Sungguh, kami yakin, Putri kami tidak seperti yang tuan bicarakan."
Ternyata mereka tiga sepasang suami istri itu adalah orang tua dari Laura, Sarah, dan Nita.
"Omong kosong, jika saja Putrimu tidak menolak Putraku, Putraku tidak akan berbuat nekat, dan pada akhirnya Putraku meninggal." Max membentak.
"Roy !!" Max memanggil nama asistennya.
"Baik tuan." sahut Roy.
"Tangkap ketiga anak gadis mereka !! Dan bawa kemari !!" Max memberi perintah.
Roy tidak menjawab. Ia tidak menjawab karena tiba-tiba keenam orang tua dari tiga gadis itu, berteriak. Menangkis memohon.
Orang tua dari Laura, Sarah, dan Nita terkejut. Lalu mereka menangis dan memohon agar tidak berbuat yang tidak-tidak kepada Putri mereka.
Dor !! Dor !! Dor !!
Dor !! Dor !! Dor !!
Tiga pasangkan suami istri itu pun ditembak mati oleh Max. Jonathan yang melihat itu langsung pergi menjauh. Ia pun telah merekam semuanya menggunakan camera ponselnya
Entah kenapa, pikirannya terus tertuju kepada ketiga gadis itu. Padahal ia sudah punya rencana untuk memberi kejutan kedatangan untuk Max di ruangannya.
Tapi situasinya sesuai, semua anggota mafia yang ia lihat dari persembunyiannya tengah berkumpul di sekeliling Max. Jika ia maju jelas ia bisa mati dikroyok.
Tentu saja Jonathan tidak ingin gegabah dalam menyerang musuh dalam jumlah yang banyak. Kecuali ia maju membawa mobil truck dan langsung menabrak semuanya.
Mungkin ini adalah pertama kalinya Jonathan gagal dalam menyembunyikan jejaknya. Mungkin oleh polisi dan pihak semacamnya sangatlah mudah. Tapi untuk berkaitan dengan kelas mafia, mungkin tidaklah mudah.
.....
Sore Harinya, di kampus.
Suasana kampus, terasa sangatlah berbeda dari sebelumnya. Mungkin karena Riki dan gengnya telah tidak hadir lagi di kampus dan membuat sok menjadi penguasa, alias mati.
Telihat Laura, Sarah, dan Nita akan masuk ke dalam mobil. Mereka baru saja selesai kuliahnya. Mobil mereka keluar dari area kampus, Sarah mengendarainya dengan kecepatan standar.
Saat di tengaj pejalanan pulang, tiba-tiba ada mobil avanza hitam menghalangi jalan mereka. Sarah mengerut dahinya, begitu juga dengan Laura, dan Nita, mereka bertanya-tanya, kenapa ada mobil avanza hitam menghalangi jalan mereka.
Lalu turunlah laki-laki yang tak asing di mata mereka bertiga. Seketika mereka terbelalak "Jonathan ?"
Jonathan mengetok-ngetok kaca kaca mobil. Sarah segera membuka pintu mobilnya. Ia keluar, dan memasang wajah marah. "Kamu mau apa lagi, kita sudah tidak mengganggumu !!"
Dengan wajah dinginnya, Jonathan langsung menodongkan pistolnya di tepat dahi Sarah. "Diam !! Kamu masuk ke dalam mobilku."
Sarah menelan salivanya. Ia berfikir apa salahnya, padahal ia tak berbuat apa-apa. Jonathan kembali bersuara. "Dan kalian berdua yang di dalam, cepat keluar !!"
Nita dan Laura cepat-cepat keluar dari mobil. Rasa panik dan ketakutan yang mereka berdua rasakan, mereka tidak seberani Sarah, meski hanya akting saja.
"Kalian bertiga cepat masuk ke dalam mobilku !!" Jonathan memerintahkan ketiga gadis itu masuk ke dalam mobilnya. Padahal mobil hasil curian.
Tidak menjawab, tapi Laura, Sarah, dan Nita segera masuk ke dalam mobil. Jonathan juga segera masuk. Tak lupa ia mengunci semua pintu mobil. Lalu ia menyalakan mesin mobilnya dan melajukannya.