
Semenjak kejadian penculikan Tasya. Tasya selamat, ia menjalani kehidupannua seperti biasanya. Namun ada satu hal yang kurang baginya. Ketidakhadirannya sosok Jonathan disisinya.
Ya, semenjak kejadian itu, Jonathan hingga sekarang masih tidak diketahui keberadaannya.
Disisi Rino, ia telah mengerahkan anak-anak buahnya yang menyebar di kota S untuk mencari keberadaan Jonathan, hasilnya nihil. Bahkan Tony yang sangat pandai dibidang IT dan melacak keberadaannya juga tak ada hasilnya.
Di samping itu, ada hal berita yang sungguh mengejutkan di sosmed. Kematian Samuel, Sang model laki-laki sekaligus aktor film. Ia ditemukan mati di kediaman vilanya.
Pihak polisi dan pihak lainnya mencari jejak-jejak pembunuhan itu. Namun hasilnya sungguh tak ada, karena vila itu terbakar hangus. Dan pihak dokter telah memeriksa kalau Sam sebelum terbakar, ia telah mati kehabisan darah dari luka-luka yang didapatnya.
Jadi bisa disimpulkan kalau kematian Sam sungguh misterius seperti korban pembunuhan sebelumnya. Tak ada sisa-sisa jejak yang mencurigakan.
Disisi Salsa, ia memilih tutup mulut untuk tidak memberitahu siapa dalang dibalik peristiwa itu. Salsa baru mengetahui kalau Jonathan dan kelompoknya sungguh di luar dugaan.
J Company, perusahaan yang dipimpin oleh Jonathan. Salah satu perusahaan yang ternama di Negerinya. Tak banyak yang mengetahui kalau Jonathan adalah pemimpin perusahaan tersebut.
Ditambah, Jonathan juga pemimpin gangsters di Kota S. Jika Salsa melapor, dari pihak Jonathan dan yang lainnya tidak akan diam saja, dengan kemampuan kekayaan mereka dapat memanipulasikan laporan tersebut.
Ditambah Laura menakut-nakuti Salsa. Jika Salsa melapor, Rino dan yang lainnya bisa memilih diam dan tak membantu Jonathan. Tapi Laura memberitahu kalau hal itu sampai terjadi, Jonathan sendiri'lah yang akan datang kepasa Salsa.
Tentu saja, wanita berumur 28 tahun dan berprofesi sebagai manager ketakutan jika Jonathan benar-benar datang padanya, ditambah saat Laura dan yang lainnya kalau Jonathan, diam-diam memiliki sisi Psychopath. Tentu saja itu membuat semakin ketakutan.
.....
Tak terasa sudah satu bulan berjalan. Jonathan masih belum diketahui keberadaannya. Dengan terpaksa, sepenuhnya Rino yang menggantikan posisi tuannya di perusahaan.
Di kampus, Tasya kini tengah diam duduk sendiri di ruangan musik yang biasanya ia tempati. Ia terdiam, tak memainkan piano yang biasanya ia mainkan.
Dalam hatinya ia merasa kehilangan dan rasa ketakutan. Ia merasa kehilangan sosok Jonathan yang biasanya selalu bersamanya. Dan ia juga merasa ketakutan, ia baru mengetahui kalau Jonathan diam-diam memiliki sisi Psychopath.
Rino, Laura, dan yang lainnya telah memberitahu tentang Jonathan. Sisi Psychopath Jonathan akan muncul jika ia merasa kesal dan marah kepada orang asing, terutama jika ada orang asing yang mengganggu ketenangannya.
Tasya menghela nafasnya. Kalau Jujur, ia kecewa pada Jonathan, namun rasa cintanya yang begitu besar, itu mengalahkan rasa kecewanya. Kini ia benar-benar merasa sangat-sangat kehilangan.
Lalu terdengar suara pintu terbuka. Tasya menoleh, ia melihat sosok perempuan. Perempuan itu datang mendekatinya.
"Boleh aku duduk didakatmu ?"
Tasya mengangguk kepalanya. "Silahkan Laura."
Ya, perempuan itu Laura.
Laura segera mengambil kursi kayu, dan menempatkannya di samping kursi kayu yang duduki oleh Tasya.
Kini mereka berdua saling duduk bersampingan. Laura menatapnya dan bertanya. "Bagaimana kabarmu ?"
Tasya tersenyum. "Aku baik-baik saja."
"Belakang ini, aku lihat, kamu selalu ke ruangan ini." kata Laura.
"Aku hanya ingin menenangkan diri. Disini lebih nyaman." jawab Tasya.
.
Hening.
.
Hening.
.
Hening.
.
"Eh ? Kenapa ?" Tasya tersadar dari lamunan.
"Apa kamu merindukan Jonathan ?" tanya Laura dengan menyebutkan nama sahabat kecilnya.
Tasya terdiam, ia menundukan kepalanya. "Kalau kamu tanya 'apa aku merindukannya ?'" Tasya mengangkat kepalanya dan tersenyum kepada Laura. "Tentu saja aku sangat merindukannya." air matanya keluar.
Laura mengusap air mata yang keluar dan membasahi pipi milik perempuan cantik ini. Lalu ia memegang kedua pundaknya. "Apa kamu benar-benar mencintainya ?"
Tasya mengangguk-angguk kepalanya. Tatapan Laura semakin serius. "Meskipun diam-diam ia punya sisi Psychopath, bagaimana ?"
Tasya tak menjawab, ia baru teringat itu. Laura bisa menilai kalau Tasya merasakan rasa takut. Laura berdiri dari duduknya, lalu ia berdiri di hadapan model cantik ini.
"Aku sudah bisa menebaknya, karena kamu pasti takut dengan pembunuh. Aku akui, sebagai sahabat kecilnya. Aku juga tak tau kalau dirinya bisa memiliki menjadi gila." kata Laura.
Lalu ia meninggalkan Tasya. Namun sebelum pergi keluar dari ruangan itu, Laura menghentikan langkah kakinya, ia pun berkata tanpa membalikan tubuhnya, dan hanya menoleh kepalanya ke samping.
"Padahal aku berharap, jika kamu ada di sampingnya, kamu bisa menghilang sisi buruknya itu." kata Laura, dan pergi keluar dari ruangan itu.
Meski merasa kehilangan Jonathan, Tasya dalam keadaan bimbang. Tasya pun bangkit dari duduknya, dan berjalan keluar dari ruangan itu.
.....
Waktu terus berjalan dan tak terasa. Hingga pada akhirnya Tasya, Laura, Nita, dan Sarah lulus, dan wisuda. Belakangan ini, mereka kini selalu bersama-sama jika tidak ada kesibukan.
Sampai saat ini Jonathan, masih belum diketahui keberadaannya.
Disamping itu, kini Rino menjalin hubungan sepasang kekasih dengan Sarah. Ia tak peduli dan menerima apa adanya. Sedangkan Laura, ia juga menjalin hubungan dengan Tony.
Begitu juga dengan Nita, yang menjalin hubungan dengan Dika. Sedangkan David, dan Agil mereka tak memiliki pasangan. Lebih tepatnya di tolak.
David menyukai Sinta, dan Agil menyukai Selly. Kedua wanita itu menolak kedua laki-laki itu. Alasan karena mereka berdua dulu pernah menjadi wanita simpanan. Mungkin David dan Agil harus lebih berjuang lagi.
.....
Tasya dan Salsa baru sampai di Kota J setelah menaiki pesawat terbang. Karena Tasya mendapat undangan untuk bernyanyi di atas panggung, salah satu konser besar yang diadakan di Kota J.
Dari bandara, mereka manaiki taksi untuk pergi Hotel D4xx, tempat yang menjadi penginapan mereka. Salsa juga telah memesan kamar untuk disewa. Tentu saja, Tasya satu kamar dengannya.
Kini mereka telah berada di Hotel.
Tasya duduk di kursi yang ada di balkon. Tasya duduk terdiam, meski ia telah naik daun namun tetap saja, rasanya hampa tanpa seseorang yang ia cintai.
"Kamu masih memikirkan Jonathan ?"
Tasya menoleh, ia melihat Salsa duduk disampingnya. Pandangan Tasya kembali ke arah luar.
Tasya menghela nafasnya. "Tanpa aku kasih jawaban, kamu pasti sudah tau kak, jawabannya."
Tasya berdiri dari duduknya. "Aku masih mencintainya." setelah mengatakan itu, Tasya kembali masuk ke dalam kamarnya.
Ia segera tidur siang. Salsa berjalan masuk menyusulnya. Ia tak hanya sebagai manager, tapi sebagai sosok kakak untuk Tasya.
Sebenarnya ia kurang suka jika Tasya masih mencintai laki-laki berkacamata itu. Tapi mau gimana lagi, kalau sudah cinta, bisa saja membuatnya buta.
.....
Disisi Lain terlihat seorang laki-laki berpakaian rapi, layaknya seorang pelayan. Dari seragamnya, bisa ditebak kalau dia adalah pelayan di salah satu hotel D4xx, hotel ternama di Kota J. Sudah hampir satu tahun ia berkerja di tempat itu.
Laki-laki mudah dikenali dari ciri khasnya, ia selalu memakai kacamata minusnya. Namun dibalik itu, ia memiliki paras yang tampan. Ia cukup terlihat rajin bekerja. Dan melayani pengunjung-pengunjung yang datang.