
Jonathan dan perempuan itu saling bertatapan. Dari sorot tatapan mata perempuan itu, Jonathan merasa ada kesamaan dengan dirinya. Karena tak ingin berlama-lama, Jonathan memilih untuk pergi meninggalkan tempat.
"Ayo Tony, disini aku sama saja membuang-buang waktu." ajak Jonathan, lalu ia membalikkan tubuhnya dan melangkahkan kakinya.
"Baik Tuan Jo." balas Tony yang juga berbalik dan mengekori Jonathan.
Baru beberapa langkah, terdengar suara lantang, dengan nada mengejek, hingga membuat langkah Jonathan dan Tony berhenti. "Dasar menghalangi jalanku saja. Pada akhirnya, kau sendiri yang pergi, dasar pengecut !!"
"Sudah, jangan tambah masalah." ucap teman perempuannya yang tadi berkata sopan.
Jonathan terdiam lalu ia melirik sekitar, meskipun hari sudah siang, tapi keadaan jalan juga sepi, tersenyum tipis. Tony yang melihatnya hanya bisa diam. Ia sudah menebak apa yang akan terjadi.
Tony memilih masuk ke dalam mobil. "Perempuan berambut sebahu itu, kenapa mirip Tuan Jo, ya ? Ahh,, Lebih baik aku kerjakan saja tugasku sebelum disuruh."
Jonathan berbalik lagi dan berjalan cepat mendekati sumber suara dari perempuan berambut pendek itu, si pemilik mobil. Semua ketiga temannya mengerut dahinya karena melihat pemilik mobil yang sudah dibuat lecet oleh temannya berjalan mendekati temannya.
BUGH !!
Braakk !!
Semua yang melihat langsung dibaut terkejut. Pasalnya melihat Jonathan memukul wajah temannya hingga terjatuh duduk di aspal.
"Hei !! Ada yang kau lakukan !?!?" sahut teman perempuan yang tadi berkata sopan. Dia meraih temannya yang tadi wajahnya dipukul Jonathan untuk bangun.
Dia merangkul temannya yang sudah mengeluarkan darah dari lubang hidungnya. Kedua teman lainnya berjalan mendekatinya. Lalu salah satu temannya melotot ke arah Jonathan.
"Kau laki-laki macam apa, bisa-bisanya kamu berbuat kasar kepada perempuan. Sesuai dengan kata-kata temanku barusan, kamu benar-benar pengecut !!"
Jonathan terkekeh mendengarnya, lalu tangannya meraih sesuatu dari saku celananya. Ia langsung menodongkan pintol kecilnya ke arah keempat perempuan itu.
Keempat perempuan itu langsung terdiam. Jonathan terkekeh melihat mereka, lalu ia bersuara. "Entah itu yang muda, tua, laki-laki, perempuan. Kalau ada yang membuatku kesal, aku tidak segan-segan memberinya kejutan."
Tak ada yang berani menjawab. Jonathan tersenyum melihat keempat perempuan itu terdiam. Lalu ia memasukkan kembali pistol kecilnya ke saku celananya. "Bagus, tidak ada yang menajawab."
Lalu ia kembali menatap perempuan yang sedang merangkul perempuan yang ia pukuli. Mereka berdua sempat bertatapan, Jonathan langsung membuang pandangannya.
"Beruntunglah, kalian tidak kubunuh, karena aku memang tidak punya banyak waktu." ucap Jonathan
lalu Jonathan membalikkan lagi meninggalkan keempat perempuan itu yang masih terdiam. Ia melangkah jalan mendekati mobilnya, lalu masuk ke dalam. Setelah masuk ke dalam. Jonathan duduk dan menyalakan kembali mesin mobilnya, dan berjalan maju meninggalkan tempat itu.
Tanpa menoleh, Jonathan yang mengemudikan mobilnya, ia bersuara. "Tony..."
Baru menyebutan namanya, Tony memotongnya. "Aku baru saja selesaj meretas CCTV yang ada di tempat tadi barusan."
Jonathan terkekeh, lalu ia berkata. "Terimakasih Tony."
"Sama-sama Tuan Jo." sahut Tony sambil tersenyum.
Setelah mobil yang mereka tumpangi suh berjalan jauh, Jonathan mencari tempat yang aman. Setelah menemukan tempat aman dan sepi, ia dan Tony lekas turun dari mobil. Mereka segara menggantikan plat nomer. Setelah selesai mereka kembali melanjutkan perjalanan.
.....
Disisi Lain.
Dalam sebuah mobil jazz merah berjalan. Di dalam mobil itu ada empat perempuan berseragam putih abu-abu.
"Apa kamu hafal plat nomer mobilnya ?" tanya salah satu dari mereka, sambil mengelap darahnya yang keluar dari lubang hidungnya dengan tisu yang ia ambil dari dashboard.
Temannya yang duduk dibelakang menjawab. "Aku hafal, sekarang sudah kucatat di ponselku."
"Baguslah, ayo kita laporkan laki-laki berkacamata tadi ke polisi."
Lalu mereka mengangguk kepalanya, kecuali yang sedang mengemudikan mobil temannya, ia pun berkata. "Aku cari puskesmas terdekat ya."
"Aku tidak menyangka ada laki-laki berkacamata itu membawa pistol." ucap temannya yang duduk di belakang, yang bernama Dila
Lalu yang duduk disampingnya, yang bernama Rina, ia berkata kepada temannya yang terluka itu. "Kamu sih, kalau bawa mobil gak hati-hati."
Mendengar kata-kata seperti itu dari temannya, Bela hanya terkekeh sambil membersihkan sisa darah yang sedikit mengering. "Ya, ya aku salah, tadi."
Lalu perempuan yang bernama Dila, memandang Nadien yang kini sedang mengemudikan mobilnya Bela. Lalu ia sedikit menyipit kedua matanya. Nadien yang tak sengaja melihat Dila seperti itu lewar kaca sepion dalam mobil, ia bersuara.
"Kenapa kamu melihatku seperti itu, Dila ?" tanya Nadien.
"Tidak kenapa-kenapa, aku hanya merasa ada kemiripan deh." jawab Dila.
"Kemiripan ?" sahut mereka bertiga.
"Ya, Setelah kuteliti, laki-laki berkacamata tadi, wajah dan kedua matanya mirip denganmu." jawab Dila kepada Nadien.
Semua yang mendengar kata-kata Dila, hanya tertawa, kecuali Nadien. Ia hanya tersenyum, lalu berkata. "Kamu ada-ada aja. Tidak ada kemiripanlah."
"Tapi apa yang dikatakan Dila, ada benarnya juga, soalnya aku juga melihat wajahnya, tapi kalau dipikir-pikir, dia tampan juga." kata Rina.
"Laki-laki kaya gitu dibilang tampan ? Aku tidak sudi mendengarnya." ucap Bela.
Dila, dan Rina tertawa mendengarnya. Nadien hanya tersenyum, lalu ia sekilas mengingat masa kecilnya setelah mengingat kata-kata Dila dan Rina barusan, ia jadi teringat kakak laki-lakinya.
Nadien menghela nafasnya, karena mau bagaimana pun, kakak laki-lakinya telah meninggal bersama ayah kandungnha saat ia berumur 5 tahun. Lalu ia menepis pikirannya dan fokus mengemudikan mobil temannya.
Mereka akan pergi ke rumah Bela untuk mengobati lukannya. Setelahnya, mereka berencana pergi ke kantor polisi untuk melaporkan kejadian tadi.
.....
Beberapa lama kemudian.
Disisi Lain, Jonathan dan Tony. Setelah memakan waktu lama, kini mereka berdua telah sampai di perumahan elit.
Mobil mereka tengah terpakir di dekat gerbang pintu masuk perumahan itu. Merkea berdua masih duduk di dalam mobil.
"Kita akan mulai nanti malam." kata Jonathan.
Tony mengangguk kepalanya. "Baik Tuan, Jo."
Lalu Tony menatap Jonathan. Jonathan yang ditatap, memasang wajah anehnya. "Kenapa kamu melihatku seperti itu ? Aku masih normal !!"
"Ihhh, Tuan Jo, aku juga normal kali." sahut Tony kesal.
"Lalu, kenapa kamu menatapku seperti itu ?" tanya Jonathan.
"Aku merasa wajah Tuan juga mirip dengan perempuan tadi." ucap Tony.
"Maksudmu, perempuan tadi yang kupukul tadi ?" tanya Jonathan.
"Bukan, bukan yang itu. Tapi yang rambutnya sebahu." kata Tony membenarkan.
Jonathan terdiam, lalu ia menghela nafasnya. "Lupakan itu, sekarang kita buat rencana untuk nanti malam."
Jonathan berkata lagi. "Ahh, aku melupakan sesuatu." lalu ia meraih kantong plastik hitam yang yang ada di kursi penumpang belakang.
"Nanti malam kita pakai ini." kata Jonathan, lalu tangannya mengambil isi yang ada di dalam kantong plastik hitam itu.
Tony sangat penasaran, pasalnya sebelum berangkat ke kota J, ia sudah penasaran isi kantong plastik yang dibawa tuannya. Lalu ia terbelalak melihatnya setelah Jonathan menunjukkan isi kantong plastik itu.
"Nanti malam kita pakai topeng ini." kata Jonathan sambil menunjukan dua topeng power rangers, dengan dua warna yang berbeda.