
Jonathan menaiki motor maticnya. Entah tempat mana yang harus ia kunjungi. Ingin mencari suasana baru, apa berarti ia harus mencari tempat baru ?
Lalu terlintas kata pantai di dalam pikirannya. "Apa aku pergi ke pantai ya ?"
.....
Dan benar saja, Jonathan pergi ke pantai. Ia telah memarkirkan motornya. Tak lupa ia mengunci motornya. Lalu Ia berjalan mendekati tepi pantai.
Jonathan menghirup udara pantai. "Rasanya nyaman."
Memang nyaman udara pantai, selagi hari belum di tengah siang. Ia melihat sekelilingnya, dan seketika mambuatnya kesal.
Banyak pasangan yang terlihat mesra di pantai. Jika ia mengoreksi dirinya, hanya dirinya saja yang datang sendiri. Berbeda dengan lainnya yang datang bersama pasangannya.
"A_jing !! Disini malah aku terlihat kasihan kalau begini." umpat Jonathan dalam hatinya.
Jonathan akhirnya memilih pergi dari tempat itu. Awalnya ia ingin suasana baru yang untuk membuatnya nyaman. Namun suasana pantai malah membuatnya kesal.
Jonathan kembali menaiki motor maticnya. Ia memilih berkeliling jalan-jalan di kota saja. Percuma berkunjung ke tempat-tempat baru walaupun sendirian.
.....
Tak terasa hari sudah akan malam. Jonathan memilih masuk ke dalam POM bensin. Ia segera memarkirkan motornya. Lalu ia mengambil sesuatu di dalam bagasi motornya.
Setelah apa yang ia ambil, ia membawanya dengan kantong kresek, ia segera pergi ke toilet yang ada di POM bensin tersebut.
10 menit kemudian, Jonathan keluar dari toilet dalam keadaan rambut basah sambil membawa kantong kresek. Ya, dia habis mandi.
Sebelum pergi dari toilet, tak lupa ia membayar ke penjaga toilet. Jonathan kembali ke parkiran, dan memasukan kantong kreseknya ke dalam bagasi motornya.
Dirinya menjadi lebih segar setelah mandi. Kalau ia memilih mandi di rumah, sama saja ia pulang, sedangkan dirinya lagi ingin jalan-jalan ke luar rumah, yang ada ia bolak-balik jika pulang ke rumah.
Jonathan segera menaiki motor maticnya, dan menyalakan mesinnya. Ia segera membawa kendaraannya pergi keluar dari POM bensin.
.....
Disisi Lain.
Di dalam rumah, semua tengah berkumpul di ruang santai. Mereka menonton TV dan tanpa kehadiran tuannya. Rino sebagai asisten setia, ia pasti bertanya-tanya kemana tuannya pergi.
Sarah yang duduk di samping Rino penasaran. "Kak Rino kenapa ?"
"Tuan Jo kenapa belum pulang ya ?" tanya Rino.
"Mungkin Jonathan sedang ingin jalan-jalan." jawab Laura santai tanpa menoleh, pandangannya tetap fokus ke acara TV, dan sambil memakan cemilannya yang telah di sediakan oleh maid di rumah itu.
"Jalan-jalan kemana ?" tanya Dika dan Agil bersamaan.
"Mungkin mencari suasana baru." jawab Nita.
"Suasana baru ?" sahut Rino dan keempat laki-laki lainnya bersamaan.
"Ya, mungkin selain membunuh, Jonathan ia mencoba hal baru yang bisa menenangkan hatinya." jawab Laura.
Laura, sebagai sahabat kecil, ia kini sudah paham Jonathan selama setahun ini, begitu juga dengan Nita dan ketiga perempuan lainnya. Jika menebak Jonathan sedang membunuh di belakang mereka, mereka sudah tidak heran.
Selama setahun hidup satu rumah dengan keenam laki-laki itu, bagi Laura, Nita, Sarah, Sinta, dan Selly sudah mereka anggap keluarga. Begitu juga dengan sebaliknya.
Dan dengan pelatihan bela diri yang kelima perempuan itu dapat, kini mereka sudah bisa membela diri jika mengalami gangguan. Tetapi mereka tetap rutin melatih diri.
Dan sekarang jika mendengar kalau Jonathan ingin mencari suasana baru, mereka mulai menebak-nebak. Suasana baru apa yang diinginkan Jonathan.
"Tony, coba kau lacak keberadaan lokasi Tuan Jo." ucap Rino kepada Tony.
Tony yang duduk di samping Laura pun segera menjalankan. Ia langsung membuka ponselnya untuk mengetahui keberadaan tuannya.
.....
Jonathan melajukan motornya dengan pelan. Ia melihat sebuah caffe berlantai dua, dan terlihat cukup ramai. Kebetulan perutnya sedang sudah lapar, karena siang ia juga belum makan.
Jonathan memberhentikan motornya dan memarkirkannya di depan caffe. Sekarang pikirannya tidak seperti tadi, meski datang sendiri tanpa pasangan, yang terpenting ia masuk caffe untuk makan.
Kini ia telah duduk paling pojok di lantai satu. Masa bodo dengan keadaan di dalam caffe. Ada yang datang bersama pasangannya atau dengan temannya. Pokoknya makan.
Namun tadi sebelum ia masuk ke dalam caffe, ia sempat mendengar suara perempuan bernyanyi. Tapi setelah masuk dan hingga sekarang tidak ada suara yang bernyanyi lagi.
Dan ia seakan pernah mengenal suara itu. Tapi siapa pemilik suara indah itu ? Lalu pikirannya ia tepis, saat makanan dan minunan yang ia pesan datang.
.....
Jonathan telah selesai menghabiskan makanannya. "Ahh kenyangnya. Makanannya cukup enak."
Lalu ia tersenyum sedikit menyeringai, dan berkata dalam hatinya. "Tapi lebih enak jika mencium aroma manusia yang terhangus terbakar."
Lalu ia segera bangkit berdiri, dan akan membayar makanannya. Kini Jonathan mengantri menuju kasir. Lalu indra pendengarannya mendengar suara cukup ramai.
Tak hanya Jonathan, pengunjung lainnya juga menoleh ke arah sumber suara ramai itu. Terlihat seorang perempuan yang turun dari lantai dua.
Perempuan dikelilingi pengunjung untuk meminta foto bersama. Perempuan itu dengan senang hati menerima permintaannya.
Yang tadinya Jonathan dalam antrian kelima, tiba-tiba semua orang yang mengantri bubar. Mereka memilih meminta foto bersama dengan perempuan itu.
Jonathan melihat perempuan itu. Ia merasa kenal. Tapi siapa ? Karena jaraknya tidak dekat jadi kurang jelas meskipun ia sudah memakai kacamatanya.
Lalu pandangan perempuan itu tertuju pada Jonathan dan memberi senyuman. Karena merasa kurang kenal, Jonathan memalingkan pandangan dan sedikit mengangkat kedua bahunya.
Ia memilih melangkah maju menuju kasir untuk membayar. Setelah bayar, Jonathan melangkah pergi keluar caffe. Menaiki motornya dan pergi berlalu.
.....
Di dalam mobil.
Terlihat seorang perempuan dengan wajah sedih. Entah kenapa Tasya merasa sedih ketika diabaikan oleh laki-laki yang baru dikenalnya.
Ia memang tidak menyangka akan bertemu dengan Jonathan di caffe, tempat barusan ia bernyanyi tadi. Padahal ia sudah memberi senyumannya, namun diabaikan, merasa seperti tidak mengenalnya.
"Kamu kenapa ?" tanya Salsa, sang manager yang duduk di sebelahnya.
"Aku cuma lelah saja." jawab Tasya.
"Yakin ?" tanya Salsa menggoda.
"Iya." sahut Tasya.
"Kamu tidak sedang memikirkan seseorang 'kan ?" Salsa menggodanya.
"Tidak kak." jawab Tasya pelan.
Salsa menghela nafasnya. "Tasya, kamu tidak bisa berbohong padaku. Aku sudah lama mengenalmu."
Tasya hanya diam. Lalu ia segera menepis pikirannya. Ia juga heran, kenapa ia malam memikirkan laki-laki lain selain pekerjaan dan keluarganya.