
Semua karyawan sudah berkumpul di lapangan yang ada di belakang gedung perusahaan J Company. Semua karyawan bingung kenapa saat sedang di tengah jam kerja mereka, tiba-tiba atasan mereka menyuruh mereka berkumpul.
Tak hanya karyawan saja, bahkan OB (Office Boy) dan OG (Office Girl).
Semua saling berbisik untuk bertanya-tanya. Mereka semua tidak ada yang tau. Sedangkan 3 karyawan perempuan yang tak asing, mereka bertiga santai-santai saja. Mereka bertiga yang tak lain Laura, Nita, dan Sarah.
Kembali teringat sebelumnya, semua karyawan tidak ada yang tau kalau ketiga perempuan itu memiliki hubungan dekat dengan para atasan mereka.
Lalu dari belakang mereka, terlihat 8 orang berjalan melewati semua karyawan. 8 orang itu 6 laki-laki, dan 2 perempuan, yang tak lain Jonathan, Rino, Tony, Dika, Agil, David, dan Sinta, dan Selly.
Mereka berdelapan berbaris di depan semua karyawan. Semua karyawan sudah tau siapa 8 orang yang berdiri di depan mereka, terutama laki-laki muda yang berkacamata, dia 'lah sang pemilik perusahaan tempat mereka bekerja.
Rino pun bersuara.
"Kita langsung saja. Apa kalian semua tau, kenapa kalian kami kumpulkan di sini ?"
"Tidak tau Pak." jawab semuanya bersamaan.
"Perlu diketahui, data perusahaan telah dicuri. Yang lebih anehnya, pencurinya tau dimana letak data perusahaan di simpan." kata Rino.
Sebenarnya tempat data-data penting milik perusahaan disimpan di dalam branhkas yang ada di ruangan David. Tentu saja, keadaan brangkas tempat penyimpanan itu, penutupnya telah hancur.
Tapi yang membuat mereka berdelapan heran, dari mana pencuri itu tau kalai data-data penting berada di dalam ruangan David. Karena di CCTV hanya merekam pencuri itu langsung masuk ke ruangan David, seakan sudah paham.
"Jadi, kami semua curiga, diantara kalian yang menjadi pencurinya." kata Rino.
Semua terdiam, tak ada yang mengakui. Karena merasa tidak bersalah. Tony oun bersuara. "Lebih mengaku saja sekarang, dari pada tidak sama sekali."
Masih tidak ada yang mengaku. Semua karyawan saling melirik heran. Karena tak ada yang mengaku sama sekali, dari tempatnya berdiri, Jonathan menatap semua karyawannya.
Beberapa detik kemudian, ia menatap seorang perempuan cantik berseragam biru, alias OG (Office Girl). Perempuan itu terlihat berusia 26 tahun dan dia berbaris di tengah-tengah. Gelagat perempuan itu terlihat berbeda di mata Jonathan.
Tiba-tiba Jonathan berjalan maju. Semua orang yang melihatnya menatap heran. Jonathan berjalan mendekati perempuan berseragam biru itu. Saat sudah mendekat, Jonathan langsung menampar keras ke perempuan berseragam OG itu.
Plak !!
Setelah perempuan itu menerima tamparan keras langsung berjongkok sambil memegang pipinya, dan sedikit mengeluarkan darah di sudut bibirnya. Jonathan sudah berdiri di hadapan perempuan itu.
Lalu ia bersuara keras sambil menunjuk perempuan itu. "Kecuali dia, semua kembali bekerja !!"
Semua karyawan segera berlarian untuk kembali masuk ke gedung perusahaan, meski di isi kepala mereka bertanya-tanya sedang apa yang terjadi.
Semua karyawan sudah kembali masuk. Kini di lapangan, tinggallah perempuan itu, Jonathan, Rino, dan yang lainnya. Rino, Tony, Dika, dan yang lainnya berjalan mendekati tuan muda mereka.
.....
Kini scene berpindah di sebuah atap gedung perusahaan J Company. Telihat seorang OG (Office Girl) tengah duduk di lantai menghadap pemimpin mereka.
"Siapa namamu ?" tanya Jonathan dingin.
"Nama saya Dita tuan." jawab perempuan OG itu yang bernama Dita.
Jonathan tersenyum sinis.
"Tanpa kamu mengaku, aku sudah tau, kalau kamu adalah pencuri data perusahaan."
Ya, semua membawa dua orang tadi, ke atap gedung perusahaan. Di pinggir atap, terlihat Rino dan yang lainnya tengah berdiri bersenderan di pagar pembatas sambil melihat tuan muda mereka tengah mengintrogasi perempuan tadi.
"Saya tidak tau apapun tuan." ucap perempuan sambil menunduk.
Tentu saja Jonathan paham hal itu. Karena dasarnya dia sangat pandai bersandiwara. Apalagi kalau dia berbohong.
"Sungguh saya tidak tau apapun, Tuan." ucap Dita.
Jonathan menghela nafasnya, lalu ia tertawa kecil. "Jangan membohongku. Perlu kamu ketahui tentangku. Aku ini pandai berbohong. Kamu berbicara bohong ke orang yang pandai berbohong, itu mana bisa."
Dita terdiam, dan masih tidak mau mengakui kalau dirinya bukan pelakunya. Jonathan menghela nafasnya. Lalu ia menatap ke arah Rino, dan menyuruh mendekatinya. Rino pun berjalan mendekati Tuan mudanya.
"Perlu bantuan apa, Tuan Jo ?" tanya Rino.
"Bisakah kamu mencari tiga laki-laki baj_ngan yang berbadan besar ?" tanya Jonathan.
Tak hanya Dita, tapi Rino juga sedikit heran mendengar pertanyaan dari tuannya. Lalu ia membatin. "Sebenarnya apa lagi yang ingin dia lakukan lagi ?"
"Bisa tuan, aku akan menyuruh anak buahku untuk mencarinya." jawab Rino.
"Bagus, aku sudah tidak sabar melihat perempuan ini diperk0sa tiga orang secara bersamaan." kata Jonathan tersenyum menyeringai.
Tak hanya Rino terkejut, Dita juga terkejut, dia terkejut bukan main. Jonathan kembali bersuara. "Aku sudah tidak butuh pengakuan darinya, aku lebih memilih melihat adegan pemerk0saan secara live."
Baru saja Rino meraih ponselnya, si perempuan itu bersujud. "Ampun Tuan. Aku mengaku salah."
Dita bersujud sambil menangis ketakutan. Jonathan menghela nafasnya, lalu membatalkan niatnya. Rino hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya. Tak menyangka ancaman tuannya sungguh ampuh.
Dita pun mulai bercerita. Yang dimana, suatu hari, ada seorang pria dewasa datang ke rumah. Menawarkan kerja sama dan memberinya bayaran besar. Tentu saja dia mau, ditambah anaknya yang masih berusia 7 tahun tahun tengah sakit.
Akhirnya dia terpaksa menerima tawaran orang itu. Dita yang merupakan Office Girl, ia menguping kalau data perusahaan tersimpan di ruangan David saat ia mengantar minuman.
Malamnya ia melakukan aksinya. Namun, hingga saat ini, ia belum mendapat bayarannya dari orang itu. Dita juga menceritakan curi-curi orang itu.
"Maaf tuan, jangan laporkan saya. Putri saya sakit, ia menderita leukimia. Saya ingin mendonorkan sumsum saya, namun saya tidak memiliki banyak biaya. Jadi, saya terpaksa menerima tawaran itu." ucap Dita sambil menangis sambil berlutut dan menangkupkan kedua tangannya, kepalanya menduduk.
Disini, Jonathan bisa melihat sorot kedua mata Dita, kalau perempuan itu berkata jujur. Jonathan menghela nafasnya, lalu ia manatap Dita. "Kemana suamimu ?"
"Suami saya sudah meninggal, Tuan, karena kecelakaan." jawabnya pelan sambil menangis terisak.
Ada rasa bersalah Jonathan bertanya barusan. "Berdiri 'lah."
Perlahan perempuan bernama Dita itu berdiri, dan wajahnya masih menunduk. Ia tak berani menatap Jonathan.
Jonathan perlahan memegang pundak Dita. "Saya bangga padamu, kau seorang diri berani melakukan apapun demi anakmu, pasti semua orang tau tidak rela melihat anaknya menderita. Tapi tetap saja, saya kecewa padamu."
Jonathan melepaskan pundak kembali menghela nafasnya. "Dengan berat hati, saya memecat kamu."
Dita tak menjawab, ia hanya bisa menangkis terisak. Ia menyadari kesadarannya, seharusnya ia tak seharusnya menerima tawaran itu.
Jonathan meraih dompetnya, lalu ia mengambil selembar kertas dan meraih pulpen di saku jasnya, lalu ia menuliskan sesuatu.
Jonathan langsung meraih tangan Dita hingga membuat perempuan itu terkejut. Jonathan langsung memberikan selembar cek di telapak tangan Dita.
Dita semakin kaget bukan main melihat selembar cek yang ia terima, dan bertulis 1 Miliyar. Jonathan tersenyum lalu berkata. "Bawa selembar cek ini untuk biaya operasi anakmu, sisanya, kamu bisa membuka usaha."
Setelah mengatakan itu, Jonathan langsung berlalu melawati perempuan itu yang masih terkejut. Dita berbalik dan membungkuk tubuhnya. "Terimakasih."
Jonathan menghentikan langkahnya, ia sedikit menoleh, ia tersenyum, dan mengangguk pelan kepalanya. Lalu ia kembali melangkahkan kakinya. Rino dan yang lainnya pun menyusul tuannya dan mengekorinya.
"Sekarang, kita mencari seseorang yang telah lebih dulu meretas CCTV kota." ucap Jonathan, mendengar itu, Rino dan yang lainnya mengangguk kepalanya.