Laki-Laki Culun Psychopath

Laki-Laki Culun Psychopath
BAB 94 | S2


Baru saja melangkah keluar dari kamar mandi, Jonathan langsung terdiam dan terbelalak melihat Tasya sudah berdiri di depannya sambil melipatkan kedua tangannya di depan dadanya.


"Dari mana ?" Tasya bertanya.


Meski terkejut melihat istrinya yang sudah terdiri dihadapannya, Jonathan tetap tenang.


"Aku tadi ada urusan penting, sayang." jawab Jonathan.


Tasya terbelalak melihat wajah suaminya ada luka lembam. Lalu ia melangkah maju mendekatinya. "Wajahmu kenapa ?"


Habis sudah, Jonathan melupakan penampilan wajahnya yang terdapat luka lembam. Lalu Tasya melihat pakaian yang dikenakan suaminya. "Ini pakaian siapa yang kamu pakai ?"


Tetap tenang.


Jonathan menjawab. "Ini pakaian Rino. Rino meminjamnya padaku."


Tasya tidak menjawab lagi. Tapi ia memandang pakaian kotor yang digenggam suaminya. Ia langsung merebut pakaian kotor itu. Tasya segera melihat-lihat keadaan pakaian suaminya.


Sedangkan Jonathan, ia tetap memasang wajah santainya, meski dalam pikirannya, ia tengah sedikit panik. Ia membatin. "Gawat !!"


"Noda darah ?" tanya Tasya, saat melihat pakaian bekas suaminya terdapat noda darah.


Lalu pandangan Tasya beralih memandang suaminya. "Kamu membunuh lagi ?"


Jonathan tak menjawab. Sebenarnya ia tak membunuh korbannya, ia hanya menyiksanya. Lalu seketika ia teringat kedua anak buah Andri dan 3 laki-laki homo. Ya, tadi malam sudah ada korban yang mati karena ulahnya.


Lalu pipi Jonathan di sentuh oleh istrinya. Perlahan Tasya mengelus pipi suaminya yang lembam. Dengan lembut ia berkata. "Apa kamu punya alasan kuat untuk mejelaskan hal ini ?"


Jonathan tersenyum. Saat akan menjawab, Tasya sudah sudah memotongnya. "Besok saja penjelasannya. Sekarang ayo kita tidur. Kamu pasti sudah lelah."


Jonathan tersenyum, lalu ia dan istrinya segera melangkah pergi dari tempat itu menuju kamar mereka untuk tidur. Dalam hati Jonathan bersyukur, kalau istrinya masih bisa berfikir tenang.


.....


Keesokan paginya.


Disisi Lain, di kota J, terlihat seorang pria yang berumur 40 tahunan, tengah berbicara kepada seseoranh lewat sambungan telefonnya.


"Jangan sampai ketahuan. Kalau kamu ketahuan, jangan bawa-bawa namaku."


"Baik tuan."


Tutt.


Bersamaan Jimmy mematikan sambungan telefonnya, terlihat seorang wanita yang baru memasuki umur kepala empat. Meski begitu, ia masih telihat cantik. Ia datang masuk ke dalam kamar.


"Mas, sarapannya sudah siap." ucap wanita itu, yang tak lain adalah Nadia.


Jimmy tersenyum, dia yang sudah siap dengan pakaian kantornya, ia segera keluar kamar bersama istri trcintanya, meskipun ia tau kalau istrinya tidak akan pernah mencintainya. Setidaknya hidup bersama, ia sudah membuatnya puas.


Mereka telah sampai sampai di ruang makan. Pelayan rumah berpamitan untuk menghindar setelah menaruh menu sarapan di meja makan. Kini Jimmy dan Nadia duduk untuk makan. Mereka tidak berdua, mereka bertiga.


"Apa kamu punya kegiatan setelah pulang sekolah ?" tanya Jimmy kepada Putrinya.


"Untuk hari ini, tidak ada pah." jawab Nadine.


Jimmy mengangguk kepalanya setelah mendengar jawaban Nadine. Meski bukan Putri kandungnya, Jimmy menyayanginya.


"Pah, Mah, aku berangkat sekolah dulu." pamit Nadine yang telah menyelesaikan sarapannya.


Nadine pergi keluar rumah untuk berangkat sekolah dengan mengenakan mobil pemberian Jimmy padanya. Tinggalah di ruang makan itu Jimmy dan Nadia.


Jimmy menyelesaikan sarapannya, begitu juga dengan Nadia. Jimmy pun bangkit dari duduknya. "Aku berangkat."


Dia merasa sangat bersalah jalan yang telah ia ambil. Dia merasa bersalah kepada Joelian, dan Jonathan, terutama kepada Nadine. Yang hanya diketahui Putrinya, kakak laki-lakinya dan ayah kandungnya telah meninggal karena kecelakaan. Jimmy 'lah yang mengarang cerita itu. Nadia hanya bisa diam dan hanya bisa pasrah.


.....


Sementara Disisi sisi lain.


Jonathan tengah duduk diam di sofa dalam kamarnya, dan Tasya duduk disampingnya. Jonathan telah menceritakan semuanya apa yang ia alami kemarin. Tasya yang mendengar juga tak menyangka kalau Andri bisa seburuk itu.


Mencelakai suaminya demi memrebutkan dirinya. Namun yang membuatnya terkejut, cara Jonathan menyiksa Andri. Tapi Jonathan tidak menceritakan kalau Andri telah diperk0sa tiga laki-laki homo. Lebih baik ia menutupinya.


"Andri akan dimasukan ke rumah sakit jiwa oleh orang-orangku." kata Jonathan.


"Kalau dia sampai bebas ?" tanya Tasya.


"Kupastikan, dia tidak akan bebas. Dan kalau dia bebas ? Aku tinggal membuatnya kembali gila." jawab Jonathan santai.


Tasya tak menjawab, lalu ia menatap Jonathan. "Aku boleh minta sesuatu ?"


Jonathan mengerut dahinya. "Kamu meminta apa ?"


"Jangan membunuh lagi." jawab Tasya.


Jonathan mengangguk-angguk kepalanya. "Aku tidak membunuhnya, bukankah aku sudsh cerita ? Kalau tidak percaya, kamu bisa bertanya kepada Roni, dan Tony."


Jonathan hanya menyuruh anak buahnya untuk membunuh kedua anak buah Andri. Setidaknya ia hanya menyiksa Andri, itulah pemikiran Jonathan. Ya, meskipun begitu, tetap saja ada pembunuhan.


Tasya hanya tersenyum dan percaya. Meskipun ia sudah tau kalau suaminya sangat pandai bersandiwara, tetapi ia mencoba percaya. Dan ia yakin, suatu saat Jonathan perlahan bisa menghilangkan sisi gilanya. Hanya membutuhkan proses dan waktu.


.....


Beberapa hari kemudian.


Jonathan yang baru saja pulang dari kuliahnya, kini tengah dalam perjalanannya ke kantornya. Setelah sampai, ia segera berjalan cepat-cepat ke ruangannya.


Karena sebelumnya, saat jam istirahat kuliahnya, Roni memberitahu hal yang penting. Setelah masuk di dalam ruangannya, ia melihat Rino, Tony, Dika, David, dan Agil sedang duduk di sofa menunggunya


Mereka berlima langsung berdiri dari duduknya. Jonathan tak duduk di kursi kebesarannya, melainkan ia tetap berdiri di hadapan mereka berlima.


"Sebenarnya apa yang ingin disampaikan padaku Rino ?" tanya Jonathan.


"Data perusahaan kita telah dicuri." jawab Rino.


Mereka berlima menunduk, mereka tak berani menatap ke arah tuan muda mereka. Namun tak disangka, Jonathan malah meresponnya dengan santai.


"Dicuri ya ?"


sahut Jonathan sambil mengusap dagunya, seakan ia berfikir. Mereka berlima seketika heran dengan Jonathan, yang masih-masih saja tetap tenang.


"Kalau sudah kecuri mau gimana lagi ? Tinggal kita cari saja siapa yang mencurinya 'kan." kata Jonathan santai.


Lalu Jonathan menatap Tony. "Apa kamu sudah memeriksa semua CCTV di gedung perusahaan kita ?"


"Sudah, kejadian saat malam, terekam seorang berpakaian hitam, dan wajahnya tak terlihat karena di kain menutup wajahnya. Di mengendari sepeda motor tanpa plat. Aku meretas CCTV kota untuk mencari jejaknya, namun semua rekaman telah hapus." Tony menjelaskan.


Jonathan tersenyum melihat Tony. "Apa kamu tidak kepikiran, kenapa rekaman CCTV di kota bisa terhapus lebih dulu saat kamu ingin meretasnya ?"


Tony terdiam, lalu ia terbelalak. Namun saat akan menjawab, Dika sudah bersuara lebih dulu. "Ada kemungkinan, CCTV di kota sudah meretas lebih dulu oleh seseorang."


"Tapi, kenapa orang yang mencuri data perusahaan kita bisa tau dimana letaknya ? Apa ada seseorang yang penghianat di perusahaan kita ?" kata Agil bertanya.


Jonathan menatap Rino. "Kumpulkan semua karyawan di lapangan belakang."