
Sekarang Jonathan telah dibawa oleh Roy dan kedua anak buahnya ke sebuah bangunan yang cukup besar, tapi tak terlihat terawat.
Roy dan kedua anak buahnya turun dari mobil, begitu pun Jonathan ke ga turun. Jonathan merasa tidak asing dengan bangunan yang ia masuki.
Setelah masuk, lampu ruangan menyala. Jonathan sedikit kagum melihat seisi ruangan itu. Meski di luar terlihat tak terawat, tapi di dalam ruangan sangat terawat.
Lalu Jonathan dibawa ke dalam sebuah ruangan. Roy mempersilahkan Jonathan untuk masuk. Di dalam ruangan itu ada seorang pria dewasa berumur 55 tahun.
Pria itu duduk di kursi kebesarannya. Ia menoleh, dan menatap Roy dan Jonathan. Pria itu menatap bingung melihat Jonathan karena penampilannya.
"Tuan, saya telah membawa orangnya." kata Roy.
Pria itu yang tak lain adalah Max, ia mengerut dahinya. "Maksudmu ?"
"Orang yang selama ini tuan cari, adalah dia." jawab Roy.
Max berdiri dari kursi kebesarannya. Ia berjalan mendekati Jonathan. Sudah berdiri di depannya, Max menatap tajam ke arah Jonathan. Ia lihat dari ujung atas kebawah.
Max menoleh dan menatap Roy. "Apa kamu mengelawak, Roy ?"
"Maksud tuan ?" sahut Roy heran.
"Kamu bilang, dia ini orang yang pembunuh misterius itu ?" tanya Max sambil menunjuk ke arah Jonathan.
"Benar Tuan." jawab Roy dengan yakin.
"Yang benar saja, dia ini pembunuh misterius itu, sedangkan sosok yang kamu bawa ini adalah laki-laki culun. Mana ada seram-seramnya !!" kata Max memarahi asistennya.
Sedangkan disisi Jonathan, ia hanya memasang wajah polosnya. Seakan-akan ia tak mengerti apapun. Bersandiwara adalah keahliannya. Ditambah penampilannya yang culun.
Dalam hatinya, ia terkekeh geli melihat sosok yanh ia kenal dulu. Max Admaja, Putra Bams Admaja. Dari nama marga, Jonathan tak menyangka dunia itu sungguh sempit.
Ternyata dia datang ke markas kelompok mafianya dulu di kehidupan sebelumnya. Sungguh, dia benar-benar tidak menyangka. Ia jadi teringat masa lalu. Terutama balas dendam kepada ketua mafianya terdahulu sebelum Max.
Bams adalah ketua mafianya dulu, Sekarang dipimpin oleh Putranya, yang tak lain Max. Max pun juga memiliki Putra, yang bernama Riki, sosok yang selalu membully sang pemilik tubuhnya.
Dan sekarang sosok yang ia lihat adalah Max, Putra dari Bams yang sudah pensiun. Mungkin 10 tahun lagi Max akan pensiun dan digantikan oleh Riki, itu pun kalau masih hidup nantinya.
Sungguh kebetulan, ia memiliki dendam kepada Bams di kehidupan sebelumnya. Dan di kehidupannya yang sekarang, tak hanya membalas dendam kepada Bams, tapi kepada keturunannya.
Max yang sekarang tengah memarahi asistennya. Jonathan terkekeh dalam hatinya, ia tak pernah menyangka akan bertemu dengan Max di usia yang berkepala lima.
Padahal di kehidupan sebelumnya, Max yang ia kenal masih berumur mendekati remaja, kurang lebihnya. Dan sekarang terbalik, ia lebih muda dari Max.
"Tapi tuan. Saya sangat yakin kalau dia adalah pembunuh misterius itu." kata Roy yang mencoba meyakinkan Tuannya.
"Kamu sepertinya tidak sehat Roy, lebih baik kamu pergi istirahat." kata Max.
"Tapi Tuan..."
"Pergi dari ruanganku !!" Max membentak, Roy hanya pasrah, dan menuruti kemauan Tuannya.
Kini di dalam ruangan itu hanya berdua, Max dan Jonathan. Max berdiri tegas dihadapan Jonathan. Secara Jonathan hanya memasang wajah polosnya.
"Siapa namamu ?" tanya Max.
"Jonathan." jawabnya.
"Kamu tau kan kalau tempat ini adalah tempatnya para penjahat." kata Max.
Jonathan mengangguk-angguk kepalanya. "Ya, aku tau. Dari awal dibawa kesini, aku sudah menduga kalau orang yang membawaku bukanlah orang baik." kata Jonathan sok polos.
"Tentu saja pulang om, aku tidak mau terlibat dengan orang jahat." jawab Jonathan.
Max menggeleng-gelengkan kepalanya. "Baik kalau kamu ingin pulang, maka pulanglah. Aku akan menyuruh orangku untuk mengantarmu pulang."
Lalu Max mengambil ponsel dari saku celana. Ia menelpon salah satu anak buahnya. Dan benar saja, baru saja selesai menelpon, 2 anak buahnya masuk ke dalam ruangan.
"Kamu antarkan dia keluar dari tempat ini." Max memberi perintah. 2 anak buahnya itu mengangguk kepalanya.
Max kembali bersuara. "Setelah itu kalian bunuh dia, dan buang mayatnya."
"Baik tuan."
Jonathan sudah menduga, kalau ada orang yang dinilai rendah masuk ke dalam markas mafia, dipastikan takkan bisa pulang dengan mudah, tepatnya mustahil untuk keluar dengan selamat.
Jonathan memilih memasang wajah paniknya, Max yang melihatnya hanya bisa menatap datar. "Kau hanyalah sampah di dunia ini. Bisa-bisanya sosok yang kuinginkan, malah yang datang sosok laki-laki yang culun sepertimu. Sungguh tidak lucu."
Kedua anak buahnya memegang Jonathan. Jonathan mencoba berontak. Itupun hanya pura-pura. "Om, jangan bunuh aku."
"Aku janji tidak akan melaporkan ini kepada siapapun." lanjutnya sambil menampilkan wajah sedihnya yang ia buat-buat.
Max terkekeh. "Kamu kira aku akan percaya ?"
Jonathan dibawa paksa oleh kedua anak buahnya. Max menghela nafasnya. Iya berjalan mendekati kursi kebesarannya, dan mendudukinya.
"Bisa-bisanya membawa anak culun ke markas."
.....
Sementara Disisi Lain. Jonathan yang sudah di dalam mobil. Ia duduk di kursi belakang. 2 orang yang membawanya duduk di depan. Jonathan tidak tau ia akan dibawa kemana.
Jonathan memilih diam, sambil memasang wajah sedihnya. Beruntung kedua tangan dan Kedua kakinya tidak diikat.
Itu pun karena, kedua orang buah yang membawanya, menganggap membereskan sosok laki-laki culun adalah hal yang mudah. Tidak perlu diikat, atau lainnya.
Cukup membawa ke tempat yang sepi, lalu membunuhnya. Sama saja mereka bisa menghemat tenaga saat-saat membunuh laki-laki culun ini.
Diam-diam Jonathan melihat kalau anak buah Max yang duduk di kursi kiri depan memegang sebuah pistol. Sedangkan anak buah max yang satunya hanya fokus mengendarai mobilnya.
Jonathan tetap duduk diam dibelakang, hanya menunduk kepalanya. Tak lama kemudian mobil yang ditumpanginya berhenti di sebuah tempat yang sepi.
Setelah mematikan mesin mobilnya, tiba-tiba Jonathan mencekik leher salah satu anak buah Max yang duduk di kursi kiri.
Jonathan mencekiknya dengan menggunakan ikat pinggangnya. Dengan cepat tangan Jonathan merebut pintolnya.
Dor !!
Anak buah Max yang duduk di kursi kemudi tertembak dan mati setelah Jonathan menembaknya.
Dor !!
Anak buah Max yang satunya juga ia tembaki. Jonathan segera keluar dari mobil. Dan tak lupa ia mengambil uang dari dompet milik kedua anak buah Max yang ia bunuh.
Dor !! Dor !! Dor !!
Setelah keluar dari mobil, Jonathan menembak mobil itu di bagian tangki bahan bakarnya. Jonathan pun berlari menjauh agar tidak terkena ledakan.
DUAR !!