Laki-Laki Culun Psychopath

Laki-Laki Culun Psychopath
BAB 29


"Kamu mau bawa kita bertiga kemana ?" tanya Laura yang duduk di kursi penumpang bagian depan.


Sedangkan Sarah dan Nita duduk di kursi penumpang belakang. Ketiga gadis itu tak tau apa yang akan dilakukan Jonathan. Entah kenapa tiba-tiba Laki-laki ini membawa mereka.


Jonathan tidak menjawab, ia tetap fokus menyetir mobilnya. Namun tangan kirinya mengambil ponselnya. Lalu ia berikan kepada Laura.


Laura menerimanya sambil mengernyit dahinya. "Kenapa kamu memberikan ponselmu padaku ?"


"Putar video itu, dan lihatlah." jawab Jonathan tanpa menoleh, dan tetap fokus menyetir mobilnya. "Dan kalian berdua yang duduk dibelakang, kalian juga harus melihat videonya." lanjutnya.


Laura pun memulai memutar video yang ada di ponsel Jonathan. Sarah dan Nita sedikit memajukan badannya dari duduknya. Mereka bertiga bertiga pun melihat video yang diputar dalam ponsel milik laki-laki ini.


Hening.


Hening.


Hening.


Mereka bertiga sangat fokus menonton video dari ponsel Jonathan. 5 detik setelah terdengar suara tembakan di dalam video itu, Laura segera menyudahi video itu, dan menaruh ponsel Jonathan dashboard.


"Tidak mungkin." ucap Sarah.


Nita terdiam membeku, tubuhnya melemas. Perlahan ia mundur dan bersandar di kursi penumpang. Sarah menutup mulutnya dengan kedua tangannya, ia menangis.


Laura menoleh dan menatap tajam ke arah Jonathan. Jonathan yang merasa di tatap oleh Laura, ia segera meminggirkan mobilnya dan berhenti di pinggir jalan. Lalu ia mematikan mesin mobilnya.


Lalu pandangannya ke arah Laura yang masih manatap tajam padanya, air matanya perlahan keluar. Jonathan mengangkat alis sebelahnya. "Sudah menatapnya ?"


"Apa ini semua rencanamu ?" tanya Laura dengan badannya yang bergetar, ia menahan untuk tidak menangis.


Jonathan menggeleng-gelengkan kepalanya. "Bukan, ini bukan rencanaku. Bukankah kamu sudah melihatnya barusan kan ?"


"Kenapa kamu bisa merekam video ini ?" tanya Laura yang masih menahan untuk tidak menangis.


Jonathan bersandar di kursi kemudinya, dengan santai dan tenang ia menjawab. "Aku tadi siang berencana datang sendiri ke tempat mafia itu. Tapi setelah sampai sana, aku tidak menyangka kalau orang tua kalian ditangkap."


"Apa salah keluargaku dan keluarga sahabatku ? Kenapa mereka menangkap dan membunuhnya ? Apakah ini semua rencanamu ?" tanya Laura yang sudah tidak bisa menahan tangisnya.


Sekarang, Sarah dan Nita yang masih duduk di belakang, mereka berdua menangis. Entah percaya atau tidak tentang video yang mereka tonton tadi, orang tua mereka telah meninggal.


"Bukankah kamu sudah mendengarnya tadi." jawab Jonathan dengan santai.


Laura tidak menjawa, ia tetap menatap tajam ke arah Jonathan. Jonathan terkekeh melihatnya. "Jangan menatapku seperti itu."


Laura langsung memukul-pukul Jonathan dengan kedua tangannya. Jonathan hanya diam dan tersenyum. Bagianya pukulan gadis seusianya ini bukanlah apa-apa.


Lalu Jonathan menangkap dan memegang kedua lengan Laura. Laura terus berontak. "Kamu pasti sudah merencanakan ini kan, Jo. Kamu sudah merencanakannya."


Perlahan Jonathan melepas kedua lengan Laura yang sudah mulai tenang. Lalu tatapannya berubah menjadi tatap biasa saja. "Aku tidak merencanakan itu. Itu bukan bagian dari rencanaku. Max, ayah dari Riki menyalahkanmu karena telah menolak Riki."


"Kenapa kamu bisa mengatakan tau hal itu. Seakan kamu tau kejadiannya." kata Laura datar.


Jonathan menggeleng-gelengkan kepalanya, lalu ia menghela nafasnya. "Seharusnya kamu tau alasannya, Bukankah kamu dengar kata-kata ayahnya Riki di dalam video itu. Aku bisa tau detail karena aku tadi bersembunyi di dekat lokasi."


Dengan tenang dan santai Jonathan menjelaskan kenapa Max menangkap keluarga Laura, Sarah, dan Nita. Jonathan menceritakan semuanya tanpa di kurangi atau ditambah-tambahi.


Alasan Jonathan membawa mereka ketiga gadis itu adalah agar aman dari Max dan kelompok mafianya. Karena baru kali ini ia melakukan kesalahan. Mungkin menghilangkan jejak dari polisi dan pihak semacamnya sangatlah mudah baginya.


Tapi tidak untuk berkaitan dengan kelas mafia, tidaklah mudah. Sehingga jejak Laura, Sarah, dan Nita sewaktu sebagai sandera Riki, sangatlah mudah. Bahkan Jonathan menyimpulkan kalau Max berfikir, kalau ketiga gadis ini bekerja sama dengannya.


Dengan santainya dan tanpa merasa dosa sama sekali, Jonathan bercerita tanpa memperdulikan suasana perasaan dan tangisan di dalam mobil. Terutama Sarah, dan Nita, mereka semakin menangis saat mendengar cerita Jonathan. Hingga akhirnya mereka berdua tertidur.


"Lalu, kenapa kamu menyelamatkan kami bertiga ?" Laura bertanya, ia sudah mulai tenang.


Jonathan terdiam. Ia juga bingung, kenapa dirinya tiba-tiba ingin menyelamat Laura, Sarah, dan Nita. Laura terus menatap Jonathan dan menunggu jawaban dari laki-laki ini.


Jonathan tidak menjawab, ia kembali menyalakan mesin mobilnya, dan memegang kemudi. Laura terus menatapnya, ia masih menunggu jawaban Jonathan.


Jonathan yang sudah menjalankan mobilnya, ia menghela nafasnya. "Kita tidak bisa membuang-buang waktu. Kita akan mencari tempat yang aman."


"Kita, kamu ingin membawa aku, Sarah, dan Nita kemana ?" tanya Laura curiga.


"Yang terpenting, kita harus mencari tempat yang aman. Kalau bisa, kita keluar kota." jawab Jonathan, tanpa menoleh dan tetap fokus melihat ke depan.


Laura terbelalak mendengarnya. "Keluar kota ? Kalau mau keluar kota, tinggal keluar kota sendiri !! Jangan bawa-bawa aku dan kedua temanku !!"


Dengan tenang dan santai sambil mengemudikan mobilnya, Jonathan berkata. "Apa kamu mau mati dibunuh oleh orang-orang mafia ? Apa kamu tidak ingin membalas dendam kedua orang tuamu ?"


Laura terdiam, kematian orang tuanya memanglah sangat sedih yang ia rasakan. Jujur, ia ingin membalas dendam kematian kedua orang tuanya. Tapi, ia bisa apa ? Ia tak pandai bela diri.


"Terserah, kamu dan kedua temanmu ini mau ikut denganku mencari tempat yang aman, atau tetap tinggal di kota ini." kata Jonathan, sebenarnya ia bingu, kenapa ia malah ingin menyelamatkan Laura dan kedua temannya.


"Bagaimana dengan kuliahku ?" tanya Laura.


Jonathan menghela nafasnya. Dengan malasnya ia menjawab. "Kuliahmu bisa ditunda dulu. Sampai kamu benar-benar aman."


"Lalu Sarah, dan Nita bagaimana ?" tanya Laura, sambil menunjukkan kedua temannya yang tertidur di kursi penumpang karena lelah menangis.


Lagi-lagi Jonathan menghela nafasnya. "Tentu saja sepertimu, mau tak mau, kuliah kalian tunda dulu, sampai masalah ini selesai."


"Sekarang kita pergi, aku tak membawa barang pakaian apapun." kata Laura lagi.


Jonathan tidak menoleh kepalanya, matanya tetap fokus melihat ke arah depan dengan melotot, karena kesal dan cape menjawab. "Baiklah, aku antar kerumah kalian bertiga. Bawalah barang yang berguna."