
"Ternyata cengkramanmu lumayan juga." ucap Jonathan sambil memegang lehernya.
Jonathan masih mengatur nafasnya. Ia berdiri dihadapan Max, satu tangannya masih setia mengenggam belatinya.
Lalu ia mendekati Max yang sedang berlutut dan menahan rasa sakit lehernya yang terluka dan mengeluarkan darah.
Duak !!
Jonathan menendang wajah Max.
Max berbaring di lantai. Jonathan menduduki tubuhnya.
"Setelah kau membunuhku, Kau takkan bisa melarikan diri dari sini." kata Max yang terbata-bata.
Penglihatannya memudar. Tubuhnya benar-benar lemas akibat darah yang mengalir dari luka tusukan di lehernya, cukup banyak.
Jonathan terkekeh. "Benarkah ? Jika memang aku tidak bisa lari dari sini, setidaknya aku berhasil membunuhmu."
Max masih tetap berusaha menjaga kesadarannya. Jonathan tersenyum miring, lalu senyumannya memudar, ia menatap dingin. "Aku ingin membalas dendamku di 40 tahun yang lalu."
Max tidak mengerti apa yang di katakan laki-laki muda berkacamata ini. "40 tahun ?"
"Kamu tidak akan mengerti, setelah aku membunuhmu, aku akan membunuh ayahmu." ucap Jonathan dingin, sambil memainkan belatinya.
Max masih tetap menjaga kesadarannya. Ia penasaran apa yang dikatakan Jonathan, meski ia tidak mengerti.
"Bukankah ayahmu bernama Bams ?" tanya Jonathan, Max terbelalak mendengarnya.
"Dari mana dia bisa tau nama papahku ?" batin Max.
Tatapan dingin Jonathan perlahan memudar, lalu ia tersenyum. "Kamu tidak akan tau siapa aku."
Kedua tangan Jonathan menggenggam belatinya. Max yang melihat itu memenjam matanya. Mau melawan percuma. Tubuhnya lemas, darahnya sudah mengalir keluar banyak dari luka tusukan di lehernya.
JLEB...!! JLEB...!! JLEB...!!
JLEB...!! JLEB...!! JLEB...!!
Jonathan berkali-kali menusuk leher Max dengan belatinya. Ia tidak peduli cipratan darah yang mengenai dirinya.
Braaakk !!
Sedang asyik menikmati kegiatannya, tiba-tiba pintu ruangan itu terbuka. Tanpa rasa dosa sama sekali, Jonathan menghentikan aktifitasnya, dan menoleh.
Lalu ia kembali menatap Max yang sudah kehilangan nyawanya. Ternyata Dika dan Agil, yang tak lain kedua anak buahnya yang masuk.
Dika dan Agil terkejut melihat apa yang sedang dilakukan oleh tuannya. Sang ketua mafia telah tewas mengenas di tangan tuan barunya.
Awalnya mereka berdua khawatir, karena tuan mereka belum keluar dari ruangan. Padahal mereka telah telah menyelesaikan tugasnya sedangkan tuan mereka belum keluar dari ruangan.
"Tugas kalian sudah selesai ?" tanya Jonathan tanpa melihat kedua anak buahnya.
"Sudah tuan." sahut Dika dan Agil bersamaan.
Jonathan bangkit dari duduknya. Pandangan tetap ke arah mayat Max. "Kalian bawa wanita yang sedang tak sadarkan diri di sofa."
Dika dan Agil melihat-lihat seisi ruangan itu. Lalu pandangan mereka terjutu ke sofa. Mereka berdua mendekat.
Seketika mereka terpaku melihat wanita yang tak sadarkan diri itu tak mengenakan pakaian sama sekali. Seketika pikiran mereka entah kemana.
"Kalian jangan diam saja, cepat pakaikan pakaiannya !!" kata Jonathan, ia mengerti apa yang sedang dipikirkan kedua anak buahnya.
Dika dan Agil segera cepat-cepat memakaikan pakaian wanita itu. Mereka berdua merasa tersiksa karena ada yang tegang di balik resleting celana mereka.
.....
Mereka akui, wanita yang mereka bawa cukup muda dan cantik, mungkin berumur 25 tahunan.
Semua yang dilewati oleh Dika dan Agil begitu saja. Tanpa ada yang melihat. Gimana mau melihat, semua karyawan segedung tak sadarkan diri.
Karena sebelumnya, Dika dan Agil menembak semua karyawan dengan peluru bius yang mereka bawa. Mereka melakukan itu saat mereka terpisah, sehingga mereka mengerjakan dengan mudah.
Mereka menembak bius ke semua karyawan secara terang-terangan disaat jam kerja. Jika denhan cara bersembunyi, itu terlalu lama, kerena itu bisa ada karyawan yang lolos melarikan diri.
Agil dan Dika telah berhasil membawa wanita itu keluar dari gedung perusahaan dan memasukkannya ke dalam mobil. Tak ada yang melihat, karena Tony telah memarkirkan mobilnya tepat di depan pintu keluar.
Beberapa menit kemudian, Jonathan pun juga keluar. Dan dia menentengkan sebuah tas di tangannya. Ketiga anak buahnya bingung apa yang dibawa tuannya.
Tapi mereka memilih untuk diam dan tak bertanya, karena dari penampilan pakaian tuan mereka penuh noda darah itu membuat mereka bertiga mengurungkan untuk bertanya.
Mereka segera pergi dari tempat itu menggunakan mobilnya.
.....
Hari telah malam
Rencana pertama telah dilakukan. Mobil yanh mereka tumpangi pergi ke salah satu bangunan kosong. Lokasinya cukup jauh dari pusat kota J, karena dekat dengan puncak.
Disini mereka berempat berkumpul, dan akan menginap. Jonathan memilih di dalam bangunan itu. Dan ketiga anak buahnya, menunggu di luar.
Dari keempat laki-laki ini, hanya Jonathan yang paling muda (20thn). Sedangkan tiganya hanya sudah berumur 24-26 tahun. Meski begitu, Agil, Dika, dan Tony menghormati Jonathan sebagai tuan mereka yang baru.
Apalagi saat Dika dan Agil bercerita kepada Tony, saat Jonathan membunuh bos mafia saat siang tadi. Dika dan Agil memang tidak tidak melihat keseluruhan.
Tapi yang yang mereka lihat adalah hasil Jonathan yang telah membunuh bos mafia itu dengan cara yang tak biasa.
Dari pada memikirkan itu, mereka bertiga lebih baik fokus dengan memakan makanan yang mereka beli sebelum mereka mencari bangunan kosong itu.
.....
Di dalam bangunan itu Jonathan tengah duduk di hadapan wanita yang ia bawa, kini ia dalam kondisi duduk di kursi kayu. Wanita itu tidak diikat.
Setelah memberinya makan, Jonathan mengintrogasikannya. Ternyata wanita yang ia bawa bernama Selly, yang merupakan sekertaris Max.
Dari pengakuainnya, selama ini Selly yang selalu menjadi pelampiasan nafsu atasannya. Sebenarnya ia ingin keluar dari perusahaan itu. Tapi Max mengancam akan menghancurkan orang tuanya yang ada di kampung.
Max adalah seorang duda, yang ditinggal istrinya. Istrinya tak tahan tinggal dengan Max yang merupakan bos mafia. Istrinya memilih pergi jauh, dan entah kemana.
Maka dari itu, Selly selalu menjadi pelampiasan nafsunya. Jonathan hanya menatap datar kepadanya. Lalu ia berdiri dan pergi keluar meninggal Selly di dalam.
Jonathan keluar dari banguan itu. Pandangannya ke arah depan, tanpa peduli sekitarnya. Ketiga anak buahnya hanya diam. Mereka tak berani bertanya.
"Aku ingin tau bagaimana kondisimu,Bams. Setelah kubunuh semua keturunanmu." batinnya.
"Besok, kita jalankan rencana kedua." ucap Jonathan sambil tersenyum.
.....
Keesokan harinya. Hari telah pagi. Semua telah selesai sarapan yang mereka beli dari warung makan yang jauh dari dari tempat mereka.
Jonathan telah siap dengan perlengkapannya. Kali ini yang ikut dengannya Dika dan Tony. Agil tetap di tempat untuk menjaga wanita bernama Selly agar tidak kabur melarikan diri.
Jonathan segera menjalankan mobilnya meninggalkan bangunan kosong itu. Dia telah mendapat alamat rumah Bams yang ia dapat dari Selly.
"Tunggulah kedatanganku Bams. Hahaha."