
Hari sudah telah siang, Tasya telah selesai pemotretan. Setelah selesai ganti pakaian normalnya, Tasya berjalan mendekati Jonathan yang tengah menunggunya. Jonathan akan mengantar Tasya pulang. Salsa memilih untuk pulang sendiri, karena ia tak ingin menjadi obat nyamuk di pasangan kekasih itu.
Jonathan dan Tasya telah masuk mobil. Sebelum pulang, mereka mampir dulu ke sebuah restauran. Setelah mereka sampai. Mereka segera turun, dan berjalan masuk ke dalam restauran. Setelah memilih tempat duduk yang kosong. Jonathan memanggil pelayan, dan memesan makanan, dan minuman.
Sambil menunggu, mereka berbagi cerita, dan bercanda. Beberapa saat kemudian, pesanan mereka berdua datang. Lalu mereka segera menyantap makanan mereka. Setelah selesai makan, sejenak mereka mengobrol lagi. Sesekali mereka tertawa bersama. Beberapa saat kemudian mereka menyudahi, Jonathan dan Tasya bangkit dari duduk mereka.
Jonathan dan Tasya berjalan bersama menuju kasir. Jonathan membayar makanan mereka. Setelah selesai, mereka berjalan keluar dari restauran menunju mobil yang terpakir di depan. Setelah masuk, Jonathan menyalakan mesin mobilnya dan melajukan mobilnya pergi dari tempat itu.
Jonathan mengemudikan mobilnya dengan kecepatan standar. Tasya mengerut dahinya karena mobil yang dinaiki mereka tidak ke arah jalan menuju pulang ke rumah orang tua Tasya.
"Ini mau kemana ?" tanya Tasya.
Jonathan tersenyum menatap ke arah depan tanpa menoleh ke arahnya. "Aku ingin membawa ke suatu tempat."
"Kemana ?" tanya Tasya penasaran.
Jonathan tidak menjawab, ia hanya menoleh sekilas dan tersenyum padanya. Tasya hanya menghela nafasnya. Ia pasrah Jonathan membawanya. Namun jalan yang dilewati mereka cukup sepi, dan memasuki hutan.
.....
Beberapa lama kemudian, mobil yang dikemudikan Jonathan berhenti. Jonathan turun, lalu berjalan menggitari, dan membuka pintu mobilnya untuk Tasya keluar.
Setelah keluar, Tasya terdiam melihat sebuah rumah sederhana. Di belakang rumah itu terdapat sungai kecil. Di depan rumah itu, Tasya memutar badannya melihat-lihat sekeliling tempat itu.
Udaranya cukup sejuk karena banyak pepohonan. Pemandangannya juga sungguh indah. Dari situ, ia bisa melihat pemandangan kota S. Ya, kini mereka di salah satu bukit tertinggi yang ada di selatan pinggir Kota S. Bahkan laut pun juga kelihatan.
Tasya menatap Jonathan. "Ini tempat apa ?"
"Ini adalah tempat yang dimana dulu aku dima-diam menenangkan diri." jawab Jonathan.
"Aku membeli tempat ini dan membangunkan rumah sederhana ini sebelum bertemu denganmu. Dan kamu 'lah orang pertama yang 'ku ajak kesini." kata Jonathan.
Tasya terdiam dan setia mendengar. Jonathan kembali bersuara. "Waktu itu, sebelum aku pergi ke Kota J, saat aku pergi menjauhimu setelah menyelamatkankmu, aku pergi kesini untuk menenangkan diri beberapa hari."
Tasya pun berkata. "Setelahnya, kamu pergi ke kota J ?"
Jonathan mengangguk-angguk kepalanya. Lalu ia menggenggam tangan Tasya. Lalu mengajak Tasya berjalan mendekati rumah sederhana milik Jonathan.
Jonathan mengeluarkan kunci dan membukannya. Mereka berdua masuk ke dalam rumah. Tasya melihat-lihat sekeliling isi dalam rumah. Bersih, perlengkapan di dalam rumah itu juga bisa dibilang cukup lengkap.
"Rumah ini sungguh nyaman, meski terkesan tak besar dan sederhana, entah kenapa aku merasa ingin tinggal disini." lalu Tasya menatap Jonathan, dan bertanya. "Siapa yang mengurusi rumah ini ?"
"Aku sendiri." sahut Jonathan setelah mengunci pintu rumah itu.
Jonathan mengangguk-angguk kepalanya. "Seminggu sekali, aku datang kesini. Itupun dimana aku tak ada kegiatan."
"Pada saat kamu telat menjemputku, apa itu juga kamu datang dari sini ?" tanya Tasya, Jonathan tersenyum dan mengangguk kepalanya.
"Iiihhh..., kenapa kamu gak bilang-bilang aku !!" kata Tasya sambil mencubit pelan perut tunangannya.
Jonathan terkekeh. Lalu ia berkata. "Apa kamu suka tempat ini ?"
Tasya mengangguk-angguk kepalanya. "Ya, aku suka, tempar ini sangat tenang dan damai."
Jonathan pun memeluk Tasya.
Dan Tasya membalas pelukannya. Mereka saling berpelukkan. Jonathan pun bersuara. "Setelah menikah, kita akan kesini bersama."
Tasya mengangguk-angguk kepalanya. Lalu perlahan mereka melonggarkan pelukannya. Mereka saling menatap. Perlahan wajah mereka miring dan mendekat. Lalu mereka memenjam kedua matanya.
Cup.
Bibir mereka saling bersentuhan. Dengan pelan Jonathan *****_* lembut bibir Tasya. Dan Tasya membalas apa yang Jonathan lakukan padanya. Mereka saling *****_*. Tiba-tiba Jonathan mengangkat tubuh Tasya dan menggendongnya. Mereka tidak melepas ciuman dan lum_tan mereka.
Tasya bagaikan koala yang memeluk batang pohonnya, kedua tangan dan kakinya memeluk erat tubuh Jonathan. Mereka melepas ciuman mereka. Tasya memeluk Jonathan dengan erat. Jonathan berjalan mendekati salah satu pintu kamar dan membukanya. Lalu mereka masuk, dan tak lupa menutup rapat dan menguncinya.
Jonathan menurunkan Tasya di ranjang. Mereka saling bertatapan. Tatapan mereka masing-masing penuh Cinta dan saling menginginkan lebih. Lalu mereka kembali berciuman. Perlahan mereka saling membantu melepaskan pakaian yang mereka pakai.
Jonathan dan Tasya sama-sama sudah tak mengenakan sehelai benang pun. Pada akhirnya, mereka melakukan hal itu untuk yang kedua kalinya setelah kejadian panas yang pernah mereka lakukan sebelumnya saat di Kota J.
.....
Disisi Lain. Hari telah Sore.
Di sebuah rumah besar. Terlihat seorang laki-laki tengah duduk di kursi kebesarannya yang ada di ruangan kerjanya yang ada di dalam rumahnya. Andri tak bisa berhenti memikirkan perempuan yang telah ia temui tadi.
Tak lama kemudian, pintu ruangannya terbuka, datanglah Galang, sang asistennya. Galang datang dengan membawa berkas. Isi berkasnya adalah data-data yang ia dapat. Lalu ia menyerahkan berkas itu kepada tuannya.
Andri menerimanya. Galang masih setia berdiri. Andri mempersilahkan asistennya untuk duduk. Galang pun duduk di kursi yang ada dihadapan tuannya. Andri buka berkas itu dan membacanya, dan terlihat foto laki-laki berkacamata yang ia temui tadi.
Galang yang sudah membaca data itu sebelumnya, lalu membantu menjelaskan isi data itu. "Namanya Jonathan. Dia laki-laki dari kalangan orang biasa dan sederhana. Dia pernah tinggal di kota J. Di kampus sebelumnya, dia pernah dibully karena dia laki-laki yang polos. Dia pernah kerja sebagai OB, dan pelayan di caffe. Dia tak memiliki orang tua, saat berusia 10 tahun, ibunya pergi meninggalkan dirinya dan suaminya dan memilih menikah dengan laki-laki lain yang lebih kaya. Saat berusia 15 tahun, ayahnya meninggal karena sakit parah." Galang menjelaskan semua data-data tentang Jonathan yang ia dapat.
"Hanya ini yang kamu dapat ?" tanya Andri, dan Galang mengangguk kepalanya dengan yakin.
Sedangkan Andri sendiri merasa tidak yakin dengan data yang ia dapat. "Jika dia orang sederhana dan polos, kenapa dia bisa menjalin hubungan lebih dengan Tasya yang seorang model ? Apa benar ini data-data tentang dirinya ?"