
Laura dan kedua temannya telah masuk kelas. Mereka bertiga juga perkenalan di depan semua mahasiswa dan mahasiswi. Setelah itu, mereka segera duduk di kosong yang ada dibelakang.
.....
Di kelas lain.
Jonathan juga baru saja menyelesaikan berkenalannya. Dosen pun mempersilahkannya untuk segera duduk di kursi yang kosong. Kebetulan kursi kosong ada di pojok belakang. Penampilan Jonathan memang masih seperti dulu. Ciri khasnya, culun.
Berpakaian biasa saja namun rapi. Dan tak lupa ia memakai kacamatanya. Sebenarnya ia bisa mengubah penampilannya, namun ia lebih memilih berpenampilan culun saja. Karena penampilan adalah topengnya untuk menutupi sisi lainnya.
Kadang ia masih merasa konyol, buat apa lanjutin kuliah, tapi dari pada bosan, lebih baik ada kegiatan, jadi ia lanjutin kuliahnya. Lagian ia juga ingin pemilik tubuhnya juga harus bisa bergelar sarjana.
Saat berjalan menuju ke kursinya, tiba-tiba ada sebuah kaki yang ingin membuatnya jatuh. Bukannya menyingkir, Jonathan malah menginjaknya.
"Aggrrhhh !!"
Salah satu mahasiswa berteriak. Jonathan segera melangkah cepat kakinya ke kursinya. Dosen yang sedang mengajar pun menoleh.
"Leo, sekarang kamu keluar dari kelas saya !!"
"Tapi bu..."
"Tidak ada tapi-tapi. Sekarang keluar !!"
Mau tak mau, akhirnya Leo keluar dari kelas. Sebelum keluar, ia memberi tatapan tajam ke arah Jonathan.
Jonathan hanya mengabaikannya, dengan wajah polosnya ia berakting memulai menulis.
Ternyata mahasiswa itu bernama Leo. Kakinya terasa sakit, sebenarnya tadi ia ingin membuah mahasiswa berkacamata baru itu jatuh.
Namun malah kakinya yang diinjak, dan sekarang ia harus keluar dari kelasnya. "Akan kubalas dia."
.....
Hari telah siang.
Jam kelas telah selesai. Semua keluar dari kelas. Jonathan berjalan sendiri, ia pergi ke kantin. Tak ada mahasiswa dan mahasiswi lainnya yang dekat dengannya.
Mungkin karena ia mahasiswa baru atau karena penampilan culunnya. Jonathan masa bodo dengab hal itu. Bagi ada yang mengganggunya, berarti ada yang ingin bermain dengannya.
Suasana kantin cukup ramai. Terlihat juga ada Laura, Nita, dan Sarah di sana. Mereka bertiga juga sedang menikmati makanan dan jus mereka.
Jonathan memilih membeli salah satu jajanan ringan dan satu botol minuman. Setelah ia dapatkan, ia segera pergi menjauhi kantin.
Jonathan memilih mencari tempat yang sepi. Ia berjalan di lorong di bangunan kampus kedua. Lalu ia memilih untuk duduk santai di belakang bangunan ini.
Ia melihat beberapa kursi kayu. Ia memilih kursi kayu yang masih waras. Setelah dapat, ia lalu duduki dan bersantai sambil menikmati jajannya dan minumannya.
Setelah selesai menghabiskan jajan dan minumannya, ia segera pergi dari temat itu. Saat ia berjalan di lorong, tiba-tiba ia mendengar suara piano dari dalam ruangan.
Bahkan sampai membuat langkah kakinya terhenti. Suara piano itu terdengar indah di indra pendengarannya. Jonathan segera mendekati salah satu ruangan.
Ternyata suara piano itu dari dalam ruangan yang bertulis ruangan musik. Jonathan menghela nafasnya. "Di ruang musik pasti ada alat musik."
Lalu ia akan pergi dari tempat itu. Namun lagi-lagi langkahnya terhenti, indra pendengarannya bukab hanya suara piano lagi yang ia dengar, tapi suara indah dari seorang perempuan.
Kuterima suratmu,
telah kubaca dan aku mengerti.
Betapa merindunya.
dirimu akan hadirnya diriku
Di dalam hari-harimu,
bersama lagi.
Kau tanyakan padaku,
"Kapan aku akan kembali lagi?"
Katamu kau tak kuasa,
melawan gejolak di dalam dada.
pertemuan kita nanti,
Saat bersama dirimu.
Semua kata rindumu semakin membuatku tak berdaya,
Menahan rasa ingin jumpa.
Percayalah padaku aku pun rindu kamu, ku akan pulang
Melepas semua kerinduan yang terpendam.
Dari luar kaca jendela, Jonathan melihat seorang perempuan asing yang sedang bernyanyi dan bermain piano di dalam ruangan itu. Perempuan itu asing di matanya, tapi cantik.
Mendengar perempuan itu bernyanyi dan bermain piano, itu sampai membuatnya terdiam mendengarnya. Entah kenapa mendengar suara indah itu, membuatnya tenang.
Jonathan masih saja terdiam di depan ruangan itu, padahal perempuan itu telah berhenti menyanyi dan bermain pianonya.
Tiba-tiba pintu ruangan itu terbuka. Jonathan sampai terkejut, keluarlah perempuan tadi. Cantik, dan tinggi tubuhnya hampir sama dengannya. Jonathan lagi-lagi terdiam melihatnya.
"Apa kamu lakukan disini ?" tanya perempuan itu dengan ramah.
Jonathan tersadar. "Ahh, aku tidak sengaja mendengar suaramu lewat disini. Suaramu sangat indah dan permainan pianomu jawab juga gak kalah bagus."
Perempuan itu tersenyum. "Terimakasih."
Jonathan juga tersenyum. Perempuan itu sedikit mengerut dahinya dan ia bertanya. "Apa kamu mahasiswa baru disini ?"
Perempuan itu merasa laki-laki berkacamata dihadapan ini asing di matanya. Jonathan pun menjawab "Ya, benar. Aku mahasiswa pindahan kesini."
"Namaku Jonathan." Jonathan memperkenalkan dirinya, lalu sambil mengulur tangannya.
Perempuan itu terkekeh. Lalu ia mambalas uluran tangan Jonathan. "Namaku Natasya, kamu bisa memanggilku Tasya."
"Senang berkenalan dan berteman denganmu." ucap Tasya tersenyum manis
Jonathan tersenyum. Ternyata nama perempuan cantik dan pandai bidang musik ini bernama Natasya. Ia merasa dari dalam dadanya bergetar.
Jonathan pun tersadar, Lalu ia melepaskan tangan mereka. Tasya pun juga melepasnya. Lalu terdengar suara bel kampus.
"Owh, iya Jonathan, aku pamit dulu ya, aku ada jadwal kelas sekarang." Tasya pamit, dan pergi berlalu.
Jonathan kembali tersenyum melihat Tasya yang sudah melangkah jauh. Lalu ia tersadar. "Bukankah, dia dan aku searah ke arah bangunan kampus yang itu ?"
"Kenapa tidak bareng saja tadi ya ?" Jonathan baru menyadarinya.
Jonathan menghela nafasnya, mungkin ia dan Tasya di gedung yang sama tapi kelas yang berbeda. Setidaknya ia bisa berjalan bersama dengan teman perempuan barunya.
"Tunggu !! Kenapa aku jadi begini ya ?" batinnya.
Jonathan segera menepis pikirannya. Ia berjalan pergi dari temapt itu. Tiba-tiba ada yang menarik dari kerah belakangnya.
"Hei mau kemana kamu ?"
Jonathan menoleh. Ia mengerut dahinya saat melihat laki-laki yang tidak begitu asing di matanya. "Kamu siapa ? Bisakah kamu melepas tanganmu dari pakaianku."
Bukannya melepas, laki-laki itu malah menariknya dan menyeret paksa pakaiannya. Jonathan hanya menghela nafasnya dan menuruti perbuatan laki-laki ini.
.....
Bruukk !!
Tubuh Jonathan tengkurap setelah didorong dan terjatuh di lantai. Kini ia tengah berada di dalam sebuah ruangan yang kotor, tepatnya gudang. Banyak sekali barang-barang yang tidak terpakai di dalam gudang.
Di dalam gudang itu, ia bersama dua laki-laki. Tepatnya juga mahasiswa, dan salah satunya adalah yang menyeretnya barusan.
Jonathan membalikkan tubuhnya. Kini ia terduduk di lantai. Dengan wajah polos dibuatnya, ia menatap kedua laki-laki yang berdiri depannya sekarang.
"Gara-gara kamu, aku disuruh keluar dari kelas !!"
Jonathan pun teringat, ternyata salah satu laki-laki yang dihadapannya dan yang menyeretnya barusan adalah Leo.