
Setelah hampir satu jam perjalanan, akhirnya telah sampai tujuan. Jonathan telah mengantar Tasya pulang ke rumahnya. Mereka telah sampai di halaman depan rumah milik orang tua Tasya.
Rumahnya lumaya besar karena berlantai dua. Tasya turun dari motor dan mengembalikan helmnya. Jonathan menerimanya. Tasya pun berkata. "Hmm.., Makasih ya ?"
Jonathan yang baru saja memasukan helmnya ke bagasi motor, ia menoleh. "Ya, sama-sama"
"Gimananya ?" gumannya pelan, namun Tasya bisa mendengarnya.
Jonathan agak ragu untuk berbicara lagi. Tasya mengerut dahinya. "Kamu kenapa ?"
"Ahh tidak apa-apa. Boleh minta nomer ponselmu ?" tanya Jonathan cepat.
Tasya tekekeh mendengarnya. Ia mengangguk-angguk kepalanya. Jonathan lekas meraih ponselnya dan mencatat nomer yang disebutkan oleh Tasya.
"Hmm, aku pamit pulang ya." kata Jonathan sambil menaiki motor maticnya.
Belum sempat Tasya menjawab, tiba-tiba terdengar suara wanita. "Tasya kamu pulang diantar siapa ?"
Tasya menoleh. "Mamah ?"
Mamah Tasya berjalan mendekati Tasya dan laki-laki asing bersamanya. Mamah Tasya melihat laki-laki berkacamata yang telah mengantar putrinya.
"Aku diantar temanku, mah." jawab Tasya sedikit malu.
Jonathan dengan sopan sedikit menunduk dan mengulurkan tangannya. "Nama saya Jonathan, tante."
Mamah Tasya dengan ramah membalas ulur tangan laki-laki berkacamata ini. Dengan sopan Jonathan mencium punggung tangan mamahnya Tasya.
"Nama Tante Ninda." balas mamahnya Tasya yang bernama Ninda.
"Ya sudah, saya pamit pulang dulu " kata Jonathan, Ninda mengangguk kepalanya dan mempersilahkannya untuk pulang.
.....
Setelah melihat kepergian Jonathan yang sudah menjauh, Ninda menatap putrinya. Tasya melirik, lalu ia segera melangkahkan kakinya dengan cepat masuk ke dalam rumahnya.
Ninda tersenyum melihat kelakuan putrinya yang menghindarinya. Ninda pun menyusul ke dalam rumah. Di dalam, di ruangan keluarga, terlihat seorang pria dewasa yang sedang menikmati kopinya dan menonton acara di TV.
Ia menoleh melihat Tasya yang masuk dan langsung naik ke anak tangga. Ia langsung masuk dan menutupi pintu kamarnya yang ada di lantai dua.
Pria itu mengerut dahinya, ia menatap istrinya yang mendekati dan duduk di sampingnya. "Tasya kenapa, mah ? Tidak biasanya dia tidak menyapa papah setelah pulang."
"Sepertinya putrimu sedang menyukai seseorang, pah." jawab Ninda kepada suaminya.
Hendro, nama papahnya Tasya. Ia menoleh dan menatap istrinya. "Tasya menyukai seseorang ?"
Ninda mengangguk-angguk kepalanya. Hendro masih menatap istrinya. "Apa mamah sudah lihat orangnya ?"
Ninda pun bercerita, kalau Tasya baru saja diantar teman laki-lakinya. Tentang Tasya menyukainya atau tidak, itu masih kemungkinan.
Karena Ninda belum sempat bertanya, Tasya langsung pergi ke dalam rumah. Itulah kenapa Tasya tidak menyapa Hendro, karena ia tak ingin mendapatkan pertanyaan yang tidak-tidak dari kedua orang tuannya.
Hendro yang mendengarnya hanya menghela nafasnya. "Kalau dia memang menyukainya, aku tidak masalah, Mah. Asal dia laki-laki baik, dan sayang sama Tasya."
Karena selama ini, Tasya tak pernah pulang dengan laki-laki manapun. Dan jarang dekat, seakan menjaga jarak.
Laki-laki yang dekat dengan Tasya selama ini , siapa lagi kalau bukan Hendro, sang ayah dan adik laki-lakinya.
Tentang mengenal keluarga Tasya. Kedua orang Tasya hanya orang yang bercukupan, namun mereka memiliki usaha yang sudah maju, dan cukup sukses.
Mereka memiliki toko kue. Toko kue mereka cukup terkenal karena Tasya yang selalu mempromosikan sendiri toko kedua orang tuanya di sosmed.
Secara dia adalah selebgram. Dan sudah ada beberapa cabang toko kue lainnya. Bahkan sudah punya karyawan yang tidak sedikit
.....
Semejak Jonathan mengantar Tasya, hubungan Jonathan dan Tasya semakin dekat. Kadang Jonathan datang dan menjemput Tasya untuk berangkat bersama ke kampus, jika tak ada jadwal ke kantor atau ada kelas di waktu yang sama.
Dan jika ada jadwal pemotretan atau jadwal panggung, Jonathan setia menemaninya. Banyak laki-laki yang tak suka kedekatan Jonathan kepada Tasya.
Bahkan beberapa laki-laki dari tingkat biasa, selebgram, penyanyi, dan aktor tak suka kepada Jonathan. Terutama dengan Sam, ia semakin membenci Jonathan. Malahan mahasiswa di kampus pun menatap iri melihatnya.
.....
Tak terasa kedekatan mereka setelah hari itu telah terlewat dua minggu. Hari sudah malam, Jonathan berencana mengajak Tasya jalan keluar. Ia tak membawa motor maticnya.
Ia mengendarai mobil sedannya yang selama ini tak pernah ia pakai. Sebenarnya ia punya dua mobil, salah satunya Honda Accord Hitam yang ia pakai sekarang ini.
Jonathan telah sampai. Ia melihat Tasya yang sudah menunggu di depan rumah. Ia bisa melihat ekspresi Tasya yang membeku. Jonathan menghela nafasnya, sesuai dugaannya.
Jonathan turun dari mobilnya. Tasya diam menatap penampilan Jonathan memakai kemerja dan celana jean. Tasya bisa menebak pakaian yang dipakai Jonathan bukanlah murah.
"Ini mobil siapa ?" tanya Tasya.
"Mobilku." jawab Jonathan santai.
"Jangan bercanda." balas Tasya tertawa. "Kamu menyewanya kan ?"
"Tidak, ini benar mobilku, mau kulihat surat-suratnya ?" tanya Jonathan.
Tasya pun terdiam. Lalu Jonathan menarik tangan Tasya untuk masuk ke dalam mobilnya. Tasya menurut saja. Jonathan melajukan mobilnya.
.....
Selama perjalanan, di dalam mobil tak ada pembicaraan. Jonathan paham, ia merasa Tasya kecewa padanya.
Setelah sampai di tempat tujuan. Jonathan turun dari mobilnya dan ia berjalan mengitari mobilnya. Lalu ia membuka pintu untuk Tasya.
Tasya ikut turun dari mobil. Ia melihat sekelilingnya. Jonathan membawanya ke bukit. Dari tempatnya, ia bisa melihat pemandangan kota.
Mereka saling diam. Jonathan pun bersuara. "Tasya."
Tasya pun menoleh kepalanya. Lalu ia menghadap ke arahnya, dan menatapnya dengan tatapan datarnya.
Namun Jonathan menatap lembut Tasya, lalu ia berkata. "Aku ingin jujur padamu."
"Kamu ingin jujur apa padaku, selama ini aku tertipu dengan penampilanmu." kata Tasya menggeleng-gelengkan kepalanya
"Sungguh sulit dipercaya, aku dibohongi olehmu." lanjutnya sambil memijit pelipisnya.
Tasya menatap tajam ke arah Jonathan. "Coba apa yang ingin kamu katakan padaku."
Jonathan pun berkata. "Inilah aku."
Tasya mengerut dahinya. "Maksudnya ?"
Jonathan menjawab.
"Ya.., bisa dibilang aku salah satu orang dibilang mampu."
"Mampu menikahi kamu." lanjutnya, Tasya terdiam membeku.
Jonathan menghela nafasnya. "Sebelumnya aku minta maaf kalau kamu merasa dibohongi. Karena dari awal masuk kuliah, aku ingin menjadi mahasiswa biasa."
"Namun tidak disangka, ketika pertama kali aku melihatmu, aku terpesona padamu, bukan hanya kecantikanmu saja, tapi suara indahmu saat bernyanyi, itu membuatku terasa nyaman dan damai."
"Dan kebaikanmu menerimaku apa adanya, karena itu, aku semakin ingin selalu di dekatmu. Maafkan aku jika aku menutupinya selama ini."
Jonathan menghela nafasnya, lalu menatap serius kepada Tasya, lalu ia memegang kedua tangannya. "Aku jatuh cinta padamu."
Tasya tak menjawab. Ia masih menatap Jonathan. Sedangkan Jonathan pun menundukkan kepalanya, lalu perlahan melepas kedua tangannya Tasya.
Jonathan menatapnya dan tersenyum. "Kamu tidak perlu menjawabnya. Lupakan apa semua yang kukatakan barusan. Ayo kita cari tempat makan, kamu pasti lapar."
Jonathan berjalan mendekati mobilnya. Namun tiba-tiba.
Grep !!
Jonathan terdiam membeku. Tasya memeluknya dari belakang.
"Aku juga jatuh cinta padamu."