Laki-Laki Culun Psychopath

Laki-Laki Culun Psychopath
BAB 65 | S2


Keesokan Harinya.


Jonathan tengah sarapan bersama dengan orang-orang rumahnya. Rino dan yang lainnya menatap heran dengan Jonathan yang sekarang tengah senyum hangat.


Tony pun berbisik kepada Laura yang duduk sarapan di sebelahnya. "Teman masa kecil punya riwayat penyakit ? Kok senyum-senyum sendiri."


"Aku juga tidak tau." sahut Laura yang juga berbisik.


Tiba-tiba Jonathan bertanya setelah menyelesaikan sarapannya. "Rino, Selly, apa aku ada jadwal penting di kantor ?"


"Tidak ada." sahut Selly.


Rino tak menjawab, ia masih bingung dengan perilaku tuan mudanya yang mungkin sedikit aneh.


"Ya, sudah. Aku berangkat duluan ya." ucap Jonathan tersenyum hangat, dan berlalu meninggalkan lainnya di ruang makan.


Setelah Jonathan keluar dari rumah, mereka saling menatap. Sarah pun bersuara. "Ada dengannya ? Kenapa dia senyum-senyum seperti itu ?"


"Entahlah, semenjak dari pagi ia terus tersenyum." sahut Rino.


Mereka pun menepis pikirannya dan menyudahi sarapannya. Seperti biasa, Rino sebelum ke kantor, ia mengantar Sarah, Laura, dan Nita ke kampus.


Dika, Agil, Tony, David, Sinta, dan Selly lebih dulu pergi ke kantor dengan mobil mereka masing-masing. Ya, mereka telah memiliki mobil sendiri.


Karena di kantor mereka berenam, dan juga Rino, merupakan orang paling terpenting di kantor setelah Jonathan.


.....


Kali ini, Jonathan membawa motor maticnya. Karena tadi malam Tasya lebih nyaman naik dengan motor matic miliknya.


Sambil mengendarai motornya, Jonathan terus tersenyum di balik kaca helmnya mengingat kalau dirinya dan Tasya telah menjalin hubungan sepasang kekasih tadi malam.


***


Flashback.


Jonathan mengakui dirinya kepada Tasya adalah kalau dirinya pemimpin salah satu perusahaan, namun ia tak memberitahu kalau perusahaan itu adalah milik Rudi yang diberikan kepadanya.


Tasya tentu saja terkejut bukan main. Namun mau bagaimana lagi Tasya sudah menerima apa adanya, kini ia menjalin hubungan dengan Jonathan.


"Jangan pernah menutupi apapun dariku." Tasya meminta.


"Ya, tapi ada beberapa hal yang harus kututupi darimu." kata Jonathan.


"Apa itu ?" Tasya bertanya.


"Aku belum siap menceritakan semuanya padamu." jawab Jonathan.


"Kenapa ?" sahut Tasya bertanya.


Jonathan menangkupkan kedua tangannya di depan dadanya. "Aku mohon aku belum siap menceritakannya padamu."


Tasya menatap Jonathan yang menatap dengan tatapan memohon. Ia menghela nafasnya. "Baiklah aku akan menunggu jika kamu siap menceritakannya padaku."


Dan tak lupa, Jonathan meminta kepada Tasya untuk tidak memberitahu kepada siapapun tentang dirinya di kampusnya.


Flashback end.


***


Jonathan telah menjemput Tasya yang telah menunggunya di depan rumah. Jonathan memberi helm satunya kepada Tasya dan memakaikannya.


Tasya pun naik dan duduk di belakang jok motor maticnya. Jonathan pun melajukan motornya dengan kecepatan standar.


Tasya berpegangan erat di pinggang Jonathan. Jonathan hanya tersenyum dan tetap menatap ke arah depan.


.....


Hampir satu jam perjalanan, mereka berdua telah sampai di kampus mereka. Motor yang dibawa Jonathan telah berhenti di tempat parkiran kampus.


Tasya turun dari motor, dan melepas helmnya. Jonathan pun juga melakukan hal yang sama. Setelah selesai, mereka berjalan bersama meninggalkan tempat parkir.


Kedekatan Jonathan dan Tasya, ditambah saling berpegangan. Mereka semua menjadi bertanya-tanya. Apa mereka berpacaran ?


.....


"Pantas saja, dia dari pagi dia tersenyum. Ternyata udah punya pacar rupanya." kata Laura terkekeh.


Jam kuliah tengah istirahat. Laura dan kedua temannya tengah duduk dan makan makanan ringan di kantin kampus.


Mereka bertiga akhirnya tau penyebab kenapa Jonathan selalu senyum sejak tadi pagi.


"Ternyata seorang Jonathan yang sadis bisa jatuh cinta juga." kata Sarah tertawa.


"Aku juga berfikiri seperti itu." jawab Nita yang juga tertawa.


Nita menghentikan tawanya.


"Tapi, kita bisa lihat deh laki-laki di kampus ini. Mereka kayanya iri deh sama Jonathan."


Laura terkekeh. "Aku jadi kasihan sama mereka kalau punya berfikiran buruk tentang Jonathan."


Saat mereka bertiga tengah asik dengan pembicaraan dan makanan ringan mereka, tiba-tiba ada empat mahasiswa mendekati mereka.


"Hai, boleh gabung ?" kata mahasiswa itu.


Namun belum mendapat persetujuan dari ketiga perempuan itu. Mereka berempat langsung duduk di kuris yang kosong.


"Ahh benar, kalian bertiga mahasiswi baru beberapa minggu lalu 'kan ? Kita pun belum kenalan." kata mahasiswa satunya.


"Namaku Rio."


"Aku Nanda."


"Aku Aldi."


"Dan temanku ini, namanya Candra." kata Nanda memperkenalkan temannya yang memasang wajah datarnya.


Para mahasiswi di kantin berbisik melihatnya. Bagaimana tidak, keempat laki-laki populer tengah duduk bersama ketiga mahasiswa baru itu.


Laura, dan kedua temannya pun memperkenalkan nama mereka ke keempat mahasiswa populer itu. Meski begitu, mereka bertiga merasa tidak nyaman.


"Laki-laki lemah !!" Laura.


"Menjijikkan !!" Nita.


"Rasanya ingin pergi dari sini." Sarah.


Mereka bertiga mengumpat dalam hati. Ya, semenjak berlatih bela diri bersama Selly, dan Sinta. David dan Agil yang melatih mereka berlima, mereka menjadi diam-diam menghanyutkan.


.....


Jonathan kini tengah menemani Tasya pemotretan. Di dalam ruangan itu juga ada Sam. Beberapa saat kemudian Jonathan berdiri, lalu bilang kepada Salsa kalau dirinya ingin pergi ke toilet.


Jonathan keluar dari ruang itu. Ia berjalan di lorong. Toiletnya berada di ujung. Jonathan pun masuk ke dalam.


Di dalam ia tak buang air kecil, atau buang air besar. Melainkan ia hanya berdiri di hadapan cermin toilet. Tiba-tiba terdengar langkah kaki masuk ke dalam.


Sesuai dugaannya, Sam datang padanya. Karena dari tadi Sam melempar tatapan benci dan marah padanya. Dikehidupan sebelumnya, itu sudah biasa dilakukan oleh lawannya.


Jonathan berbalik dan menatap polos kepada Sam. Sam berjalan mendekat. Kini mereka berdua saling berhadapan.


"Kamu berpacaran dengan Tasya, Karena kamu ingin namamu ikut naik 'kan ? Secara kamu hanyalah orang biasa." kata Sam dengan senyuman meremehkan.


Jonathan memasang wajah dan tatapan polosnya kepada Sam. "Jangan salah paham Om, aku mencintai Tasya bukan karena..."


Ucapan Jonathan terpotong karena tiba-tiba Sam mencengkram dan menarik kerahnya. "Kamu mengejekku ?"


Sam tak terima karena Jonathan selalu memanggil sebutan Om. Jonathan memasang wajah takutnya. Namun kedua matanya tak sengaja melihat sebuah pulpen di saku kemeja mahal milik Sam.