
Karena sudah selesai, Laura, Sarah. dan Nita segera kembali ke hotel. Mereka berjalan dilorong hotel setelah keluar dari lift. Mereka bertiga sudah sampai di depan pintu kamar mereka.
Sarah mengambil kunci pintu kamarnya yang ia simpan di saku jaketnya. Saat sedang membuka kunci. Tiba-tiba ada laki-laki asing mendekat dan menyapa mereka bertiga.
"Hei..., kalian bertiga, apa kita boleh kenalan ?" tanya laki-laki asing itu, dia tidak sendiri, ia berdua bersama temannya yang berdiri di belakang.
Laura dan Nita mengerut dahinya. Mereka merasa aneh saja kepada laki-laki ini. Dengan pedenya meminta kenalan secara terang-terangan.
Sarah yang baru saja membuka kunci pintu, ia menoleh dan merasa hal yang sama dengan kedua temannya.
"Ahh, namaku Adit, dan temanku ini namanya Aji." ucap laki-laki itu yang bernama Adit memperkenalkan dirinya dan temannya.
"Kami menginap di kamar yang ada di ujung sana." kata Aji.
Laura dan Nita hanya diam, dan mereka tidak menjawab, karena mereka merasa tidak nyaman. Sarah yang mencium aroma yang menyengat, ia pun bersuara. "Oke cukup perkenalannya."
Sarah menarik tangan Laura dan tangan Nits untuk segera masuk ke dalam kamar. Saat Saeah akan menutup pintunya, dengan kedua tangannya, Aji menahannya.
"Menyingkirlah !!" ucap Sarah kesal.
"Setidaknya beri tahu nama kalian bertiga, bukankaj kami berdua sudah memberi nama kami." ucap Aji tersenyum, namun dipandangan Sarah, senyumannya sungguh jijik dilihat.
"Apa kalian tidak sadar diri ? Bukan kami bertiga yang ingin tau nama kalian. Tapi kalian berdua sendiri 'lah yang memperkenalkan diri kalian !!" ucap Sarah sambil mendorong pintu kamarnya.
Laura dan Nita yang di dalam kamar, segera membantu Sarah untuk mendorong pintu kamar agar tertutup.
Pada akhirnya, pintu kamar mereka bertiga, berhasil tertutup, dan langsung saja Sarah segera mengunci pintunya.
Ketiga gadis itu terlihat bernafas lega. Mereka bertiga tak menyangka ada laki-laki model seperti dua laki-laki barusan.
"Apa mereka mabuk ?" tanya Nita menebak.
"Sepertinya mereka tidak sepenuhnya mabuk. Tapi aku bisa mencium aroma alkohol dari mereka berdua." jawab Sarah.
"Lebih baik sekarang kita istirahat untuk tidur. Aku lelah, besok pagi, kita mulai beres-beres barang kita." kata Laura dan diangguki oleh kedua temannya.
Mereka berdua memutuskan untuk pergi berpisah dari Jonathan. Bagi mereka Jonathan sosok yang berbahaya, karena bisa saja suatu saat nanti Jonathan pasti akan berbuat yang tidak-tidak kepada mereka bertiga.
Teringat kalau mereka menjadi buronan Max dan kelompok mafianya, mereka yakin, jika mereka bertiga pergi sejauh-sejauhnya dan pandai bersembunyi, pasti bisa lolos.
.....
Secara diluar kamar mereka bertiga, masih terlihat Aji da Adit yang berdiri di depan pintu kamar ketiga gadis itu.
"Aku jadi tertarik dengan mereka." kata Adit.
"Bukan hanya kamu, aku juga tertarik bodoh !!" sahut Aji.
"Ayo kita kembali ke kamar. Besok pagi, kita harus bertemu ketiga gadis ini." kata Adit.
"Heii !! Apa kamu besok akan ingat ? Kamu kan lagi mabuk." kata Aji sambil tersenyum mengejek.
Aji terkekeh melihat temannya. Lalu mereka berdua segera menjauhi pintu kamar ketiga gadis tadi, dan pergi ke arah kamar inap mereka.
.....
Sementara disisi lain.
Terlihat seorang pemuda tengah duduk di sofa di ruang utama yang ada di dalam rumah besar
Dihadapannya juga seorang pria dewasa berumur 30 tahun yang tengah duduk dan dibelakangnya, ada para anggota gangster yang sedang berdiri di hadapannya.
"Bos, terimakasih telah mengalahkan Rudi." kata Rino, yang duduk dihadapan bos barunya.
Jonathan yang duduk dihadapan hanya memutar bola matanya. "Jangan memanggilku bos, aku tidak tertarik menjadi bos kalian."
"Tapi, anda telah telah mengalahkan Rudi, bos." kata Rino, ia tak percaya dengan pemuda yang sudah mengalahkan Rudi ini menolak menjadi bosnya.
Jonathan menjawab. "Yang membunuh bosmu, kamu sendiri, Bukankah kamu menembakinya setelah aku menjatuhkannya dari lantai dua."
"Tapi, tetap saja, anda yang akan menjadi bos baru kami." jawab Rino.
"Astaga, apa hanya ada seseorang yang bisa mengalahkan pimpinan kalian, kalian menjadikan orang itu menjadi pimpinan kalian yang baru ?" kata Jonathan heran.
Rino menghela nafasnya. "Sebenarnya, kami tidak suka dengan Rudi. Karena 5 tahun yang lalu, Rudi yang tiba-tiba datang membunuh bos kami yang dulu."
Rino pun menceritakan kenapa dirinya dan anggota lainnya tidak suka dengan Rudi. Dulu, 5 tahun yang lalu, pemimpin yang dulu adalah pemimpin terbaik yang mereka miliki. Rudi adalah salah satu anggota yang paling kuat. Bahkan anggota lainnya tidak sebanding dengannya.
Entah kenapa, tiba-tiba Rudi berkhianat kepada pimpinan mereka. Secara terang-terangan Rudi menyerangnya, semua anggota tidak ada yang bisa menghentikannya karena kalah melawannya.
Rudi dan pimpinannya saling berkelahi Rudi berhasil mengalahkan pimpinannya. Setelah Rudi mengalahkan pimpinannya, ia segera mambawa anggota pergi untuk berhadapan dengan gangster lain di kota yang sama.
Hanya Rino saja, dan beberapa anggota lainnya menetap, dan setia menemani pimpinan mereka yang sudsh tak bisa menahan rasa sakit. Pukulan Rudi, mampu mambuat organ dalamnya rusak. Dan akhirnya ia meninggal.
Tapi detik-detik terakhir sebelum ia meninggal, ia berpesan kepada Rino dan beberapa anggotanya yang masih didekatnya. Jika ada seorang yang bisa mengalahkan Rudi, angkatlah dia menjadi pemimpin yang baru.
Setelah itu, Rino diam-diam menyuruh orang untuk membunuh Rudi. Tapi hasilnya gagal, orang suruhannya malah mati ditangan Rudi. Rino dan anggota lainnya tidak suka Rudi yang seenak-enaknya asal berkata.
Tidak seperti pimpinan mereka sebelumnya. Meski gangster, dan ditakuti oleh masyarakat kota S, tapi ia peduli kepada bawahannya. Yang paling disukai Rino sikap kepimpinannya adalah bijak, dan berwibawa.
Tidak bruntal seperti Rudi. Ia membuat kelompok Gangsternya menjadi tidak karuan. Bahkan tidak segan-segan membunuh anak buahnya jika melakukan kesalahan.
......
Rino telah menceritakan semuanya. Jonathan yang setia mendengarnya, lalu ia angkat bicara, dengan santainya ia berkata. "Sebenarnya, aku menyusup hanya untuk mencuri."
Semua terdiam mendengar calon pemimpin baru mereka. Jonathan kembali bersuara. "Kudengar, bukankah kelompok Gangster ini paling kaya ?"
Rino pun menjawab. "Benar tuan. Kelompok Gangster ini kaya karena juga pemimpin sebelumnya punya perusahaan."
Jonathan terkekeh. "Aku kira, kelompok Gangster ini kaya karena terlalu sering merampas barang milik orang lain."