
BUGH!
Sebuah bogem mentah mendarat tepat diwajah Anton membuat pria itu meringis dan menyentuh hidungnya yang berdarah.
"Tuan!" pekik Neo terkejut dengan serangan yang diterima tuannya.
Anton memberi kode agar Neo tidak ikut campur.
Lagi-lagi Adam memberikan tinjunya kali ini diperut Anton seketika membuat pria itu jatuh tersungkur.
Neo yang sudah tidak tahan ingin sekali melindungi Anton namun dicegah oleh pria itu.
"Tuan tenangkan diri Tuan." ucap Orkan mencoba mencegah Adam agar semakin tidak terkendali.
"Dasar pengecut! Jika kau masih membenciku kau boleh langsung menyerangku!" kata Adam marah.
Anton tersenyum tipis mencoba bangkit namun lagi-lagi ia terjatuh saat tiba-tiba tendangan Adam mengenainya.
"Tuan!" teriak Neo.
"Hentikan Neo. Jangan campuri urusanku!" bentak Anton mencegah membuat pria muda itu menghentikan niatnya.
"Apakah kau sebegitunya tidak punya nyali untuk menghadapiku sehingga menargetkan putriku?" tanya Adam dengan nafas memburu dan mata yang berapi-api.
Anton tersenyum aneh kemudian berdiri mendekati Adam dengan tubuh sempoyongan.
"Aku sama sekali tidak punya niat untuk melukai putrimu." jawab Anton.
"Kau pikir aku akan percaya dengan perkataanmu itu? Selama ini kau selalu mengawasinya diam-diam dan mencari celah ketika kami lengah." ucap Adam dengan tatapan tajam.
Anton menghembuskan nafas kasar.
"Awalnya aku memang ingin memanfaatkan putrimu demi bekerjasama dengan Harris. Tapi siapa sangka kalau aku justru tertarik dengan sikap putrimu itu. Aku mengawasinya hanya untuk mengenalnya." kata Anton jujur.
"Kau pikir aku anak kecil yang bisa kau kelabui begitu saja? Heh, aku sudah hafal kelicikanmu itu Millano!" ucap Adam menyeringai.
"Terserah kalau kau tidak percaya padaku." sahut Anton santai.
"Bagaimana dengan penawaranku? Aku akan menyerahkan diri dengan sukarela kalau kau mengizinkan aku menemui putrimu." tanya Anton lagi.
"Kau pikir aku akan membiarkan kau mendekatinya? Tidak! Putriku saja belum sadar. Kau kira aku orangtua bodoh yang akan memasukkan putrinya kedalam bahaya?" seru Adam.
"Apakah kondisinya begitu parah?" tanya Anton panik.
"Kau tidak usah sok peduli. Bukankah ini yang kau inginkan?" gertak Adam emosi.
"Sungguh bukan aku yang mencelakainya. Ini memang kelalaianku karena orangku bertindak sendiri tanpa perintahku!" ucap Anton menjelaskan.
"Jangan mengelak lagi. Jika bukan karena aku menghargai Ariana maka aku sudah menghabisimu saat ini juga." kata Adam tegas.
"Kau tidak pantas menyebut namanya!" seru Anton emosi.
"Lalu? Apa kau pantas?" tanya Adam menyeringai.
"APA MAKSUDMU?!" tanya Anton tak terima.
"Bawa mereka!" titah Adam seketika beberapa orang berbadan kekar dan berpakaian serba hitam membawa Anton dan anak buahnya.
...****************...
"Sayang, semuanya baik-baik saja kan?" tanya Nathan menyambut kedatangannya istrinya.
Amel tersenyum lalu menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
"Aku merindukanmu." ucap Amel bermanja merangkul lengan suaminya.
"Aku juga." sahut Nathan.
"Aku sangat penasaran bagaimana caramu bernegosiasi dengan Nyonya Harris?" tanya Nathan.
"Jangan kau pikirkan lagi. Yang terpenting saat ini perusahaan keluarga kita sekarang sudah kembali stabil kan?" kata Amel.
"Kau benar, istriku." sahut Nathan setuju.
"Kau ingin langsung pulang atau mau berkunjung kesuatu tempat dulu?" tanya Nathan menawarkan.
"Emm.. Aku rindu orangtuaku." jawab Amel.
"Kau mau mengunjunginya?" tanya Nathan.
"Bolehkah?" tanya Amel dengan mata berbinar.
"Tentu." jawab Nathan seketika membuat Amel memeluk pria itu.
"Terimakasih, suamiku." ucap Amel manja.
Keduanya bergegas masuk ke mobil menuju ke kediaman Wijaya. Perjalanan butuh waktu 20 menit karena jalanan cukup lenggang pagi ini.
"Papa!" panggil Amel bersemangat saat memasuki rumah tinggalnya.
Arka mendongak dan betapa terkejutnya ia saat melihat sosok yang berlari menghampirinya.
"Putriku? Kenapa tidak memberi kabar kalau datang?" sambut Arka lembut.
"Astaga bukan begitu, Sayang. Tentu saja Papa senang kau kemari. Papa merindukanmu, tidak menyangka kau sudah menikah. Oh ya, dimana suamimu?" tanya Arka tersadar.
"Saya disini, Pa." jawab Nathan.
"Ah kau datang juga. Biar Papa minta Yeni menyiapkan makanan untuk kalian." ucap Arka hangat.
"Tidak perlu repot-repot, Pa." kata Nathan sopan.
"Kau ini seperti dengan siapa saja. Kau juga putraku, aku harus menyambutmu dengan baik. Pasti putriku ini sangat merepotkanmu bukan?" ucap Arka mengingat bagaimana ia memanjakan putri tunggalnya itu.
"Papa!" protes Amel.
Arka dan Nathan seketika terkekeh melihat raut wajah Amel yang sedang cemberut.
"Kalian bersantailah disini ada sesuatu yang mau Papa urus. Kalau suamimu ingin istirahat, kau juga bisa mengantarnya kekamar." kata Arka.
"Baik, Pa." sahut Amel tersenyum manis.
"Layanilah suamimu dengan baik." ucap Arka membuat wajah Amel seketika bersemu merah.
"Papa!" protes Amel malu-malu.
"Hahaha.. Jagalah putriku dengan baik." bisik Arka kepada menantunya.
"Baik, Pa." sahut Nathan patuh.
"Ayo, Sayang." ajak Nathan.
"Kemana?" tanya Amel bingung.
"Bukankah baru saja Papamu bilang harus melayaniku dengan baik?" ucap Nathan mengingatkan seraya menggoda istrinya.
"KAU?!" pekik Amel membulatkan matanya.
Seketika Amel berlari kearah kamarnya mencoba menyembunyikan wajahnya yang sudah seperti kepiting rebus. Nathan menyusulnya dengan terkekeh.
...****************...
"Mas, lepaskan aku." berontak Davina.
"Biarkan aku memelukmu sebentar lagi. Aku benar-benar merindukanmu." ucap Marvin lembut.
"Kenapa kau seperti ini sih? Kau membuatku kesulitan bernafas tahu. Lagipula ini kan ranjang pasien mana boleh diganggu seperti ini?" protes Davina memanyunkan bibirnya.
"Istriku kejam sekali." sahut Marvin berpura-pura sedih.
"Bukan begitu maksudku. Hanya saja kita masih dirumah sakit, aku akan sangat malu jika dokter atau perawat datang melihat posisi kita seperti ini." ucap Davina jujur.
"Tidak masalah lagipula kita kan suami istri." sahut Marvin.
"Mas, ayolah...." pinta Davina lelah menanggapi sikap suaminya yang semakin hari semakin aneh.
Marvin terkekeh kemudian mengecup kening istrinya cukup lama.
"Sudah, turunlah." pinta Davina lagi.
"Tidak mau." tolak Marvin membuat Davina jengah.
"Mas..." panggil Davina memperingatkan.
"Apa, istriku?" tanya Marvin sengaja menggoda Davina.
Davina seketika mendorong tubuh Marvin, beruntung pria itu tidak terjatuh karena tubuhnya masih kokoh berbaring disamping Davina hanya bergeser beberapa senti saja.
"Kau tega sekali, Sayang. Bagaimana kalau aku terjatuh dan terluka? Apakah kau sudah tidak peduli padaku?" tanya Marvin membuat Davina memutar kedua bola matanya malas.
"Andai dulu aku tahu kalau kau sedramatis ini, aku tidak akan pernah mau menikah denganmu." sarkas Davina.
"Tapi sekarang kita sudah jadi suami istri sesungguhnya. Sudah terlambat kalau kau menyesalinya." ucap Marvin terkekeh.
"Kau benar-benar membuatku pusing. Kalau begini rasanya lebih baik aku lupa ingatan saja." celetuk Davina membuat Marvin memberikan tatapan tajam kepada istrinya.
"Tidak boleh bicara sembarangan!" seru Marvin memperingatkan.
Kali ini Davina yang tertawa kecil melihat ekspresi Marvin yang sebelumnya begitu menggelikan berubah menjadi serius. Davina sempat berpikir bahwa suaminya itu memilki kepribadian ganda. Sikapnya diluar saat berhadapan dengan orang dan saat berada didekatnya sangat kontras.
"Turunlah. Badanku terasa pegal kalau terus tidur dengan posisi begini." kata Davina.
"Oke, tapi morning kiss, please..." pinta Marvin dengan wajah penuh harap.
"Astaga kali ini aku benar-benar tidak akan percaya dengan rumor yang beredar diluar sana tentangmu. Kau benar-benar menggelikan." ucap Davina.
"Maka dari itu jangan mempercayai rumor." sahut Marvin.
"Haah..."
Davina menghembuskan nafasnya kasar tidak tahu harus bagaimana lagi menghadapi sikap suaminya.
-BERSAMBUNG