
Luna yang sedang kesal dengan Davina tiba-tiba dikejutkan dengan kehadiran seorang pria yang berdiri dihadapannya. Pria yang memakai setelan serba hitam dan juga berkaca mata hitam.
"Siapa pria ini? Kenapa tiba-tiba muncul dihadapanku?" tanya Luna dalam hati.
"Bisakah Nona bekerjasama denganku? Ada yang ingin kutanyakan kepada Nona." kata pria misterius yang tak lain adalah Marvin.
"Apakah Tuan mengenal saya? Atau apakah sebaliknya?" tanya Luna penasaran dengan perasaan gugup.
Tak bisa dipungkiri ada perasaan takut dan khawatir dihati Luna, ia takut jika pria dihadapannya itu mempunyai niat buruk kepadanya.
"Ini adalah pertemuan pertama kita. Tenang saja aku tidak punya niat buruk terhadapmu. Aku hanya ingin bertanya tentang seseorang." ucap Marvin yang mengetahui gadis dihadapannya ketakutan.
Luna mengerutkan dahinya kemudian menatap Marvin seolah sedang menyelidiki sesuatu.
"Apakah gadis yang duduk bersamamu tadi adalah temanmu?" tanya Marvin seketika Luna terdiam.
"Mungkinkah maksudnya Davina? Kenapa dia bertanya tentang Davina? Jangan-jangan dia punya niat jahat dengan Davina? Sepertinya aku harus berhati-hati." pikir Luna dalam hati.
"Kenapa Tuan bertanya tentangnya? Apakah Tuan mengenalnya?" tanya Luna penuh selidik.
"Bisakah kau memberitahuku namanya?" tanya Marvin lagi semakin menumbuhkan rasa curiga dihati Luna.
"Aku tidak akan memberitahumu." jawab Luna ketus.
"Kau tenang saja, Nona. Aku tidak punya niat jahat terhadap temanmu itu. Justru aku sedang mengejarnya. Bagaimana apakah kau mau membantuku?" tanya Marvin menawarkan.
"Bagaimana aku bisa percaya dengan kata-katamu? Jangan pikir karena tampilanmu ini membuatku terkecoh dengan niat terselubungmu." ucap Luna waspada.
"Kau benar-benar waspada, Nona. Tenang saja aku tidak akan menyakiti temanmu itu. Aku hanya sedang mengejarnya. Jika kau tidak percaya, kau bisa membaca ini." kata Marvin kemudian menyerahkan sebuah kartu nama kepada Luna.
Awalnya Luna ragu namun daripada mati penasaran akhirnya ia mengambil kartu nama itu. Kedua mata Luna membulat sempurna saat membaca nama Marvin Harris. Seketika tubuhnya bergetar karena ketakutan. Tidak disangka Luna akan berhadapan dengan pria paling berkuasa di negaranya.
"A-apakah Tuan tertarik dengan teman saya?" tanya Luna gugup.
"Iya. Tolong beritahu aku namanya." jawab Marvin tanpa ekspresi.
"Apa Tuan benar-benar tidak akan menyakiti teman saya?" tanya Luna memastikan.
"Apa aku terlihat seperti pelaku kriminal?" tanya Marvin yang ekspresinya tidak bisa dilihat oleh Luna.
"Bagaimana kalau aku menjawab iya? Pasti akan ada masalah yang menimpaku. Tapi aku harus bagaimana ini? Apa aku memang harus memberitahu tentang Davina?" tanya Luna dalam hati penuh kebingungan.
"Kau tidak perlu khawatir. Aku bisa menjamin bahwa temanmu akan baik-baik saja. Aku hanya ingin mengenalnya karena aku tertarik padanya saat pandangan pertama. Bisakah kau membantuku?" pinta Marvin membuat Luna terdiam sejenak.
"Kau hanya perlu memberitahuku namanya saja. Itu sudah cukup." ucap Marvin lagi.
"Baiklah. Sepertinya pria ini memang tidak punya niat jahat. Aku akan mempercayainya. Lagipula tampangnya sangat cocok disandingkan dengan Davina." batin Luna.
"Namanya Davina. Maaf Tuan hanya itu yang bisa saya beritahu." ucap Luna yang diangguki kepala Marvin.
"Terimakasih. Siapa namamu?" tanya Marvin.
"Sa-saya Luna, Tuan." jawab Luna gugup.
"Baiklah. Tenang saja aku akan memperlakukan temanmu dengan baik." ucap Marvin kemudian meninggalkan Luna yang masih tercengang.
"Astaga apa tadi itu benar-benar Marvin? Tuan muda keluarga Harris yang sangat terkenal itu?" tanya Luna tak percaya.
"Tapi kenapa dia penasaran dengan Davina? Apakah Vina pernah bertemu dengan pria itu sebelumnya?" tanya Luna penasaran.
"Sebaiknya nanti aku tanyakan langsung ke Vina." gumam Luna kemudian berjalan menuju kelasnya.
Marvin langsung kembali menuju mobilnya dan menelpon seseorang.
"Beritahu aku informasi tentang mahasiswi bernama Davina." titah Marvin tegas.
"Baik Tuan, aku akan mengirimkan datanya dalam waktu 10 menit." sahut suara pria yang merupakan bawahan Marvin.
Keluarga Harris merupakan pemilik kampus Y. Jadi sangatlah mudah bagi Marvin untuk mengakses informasi mahasiswi yang menempuh pendidikan di kampus tersebut.
Belum sampai 10 menit, ponsel Marvin berdering. Terdapat notif sebuah email yang masuk yaitu data tentang Davina.
"Sepertinya ini akan lebih menarik." gumam Marvin dengan senyum tipisnya.
"Johan, jalan ke perusahaan." perintah Marvin.
"Baik Tuan." sahut Johan kemudian melajukan mobil sesuai instruksi Marvin.
"Siapa sebenarnya dirimu kelinci kecil? Sepertinya menaklukanmu tidak semudah yang aku pikirkan." batin Marvin yang semakin penasaran dengan Davina.
*
*
*
"Dasar bodoh! Sudah puas kau membuat malu keluarga Johnson?" kata Andreas Johnson, ayah dari Nathan.
Andreas sangat murka saat mengetahui bahwa anak yang ia banggakan telah mencoreng nama baiknya. Andreas tidak terima kalau Nathan telah menghamili seorang gadis diluar nikah. Bagi Andreas itu merupakan sebuah perbuatan yang sangat memalukan dan melanggar norma.
"Kenapa kau tidak bisa menahan nafsu binatangmu itu? Akibat ulahmu hari ini perusahaan kita sahamnya merosot." ucap Andreas yang masih tersulut api amarah.
"Pah.. Tenangkan diri Papa, ingat kesehatan Pah." ucap Bella lembut.
Bella merupakan istri Andreas dan juga ibu kandung Nathan. Tak bisa dipungkiri Bella juga sangat kecewa dengan tingkah anaknya. Namun Bella tidak ingin memperkeruh suasana, maka dirinya harus menyikapinya dengan kepala dingin dan menjadi penengah antara suami dan anaknya.
"Lihat kelakuan anakmu itu! Benar-benar menjijikan!" umpat Andreas kesal.
Bella tau suaminya sangat terpukul dengan kejadian yang menimpa Nathan jadi tidak mempermasalahkan kata-kata kasar yang keluar dari mulut Andreas.
"Maafkan Nathan, Pah Mah." ucap Nathan bersalah, ia tidak berani mengangkat wajahnya.
Nathan juga tidak menyangka kalau perbuatannya akan cepat tercium oleh media dan menjadi topik panas hari ini. Itu akibat dirinya yang memposting foto cincin dan undangan di akun sosmednya. Ternyata keputusannya itu memancing para pesaing bisnis untuk menyelidikinya dan menghancurkan keluarga Johnson.
"Lalu apa dengan maafmu semuanya bisa kembali seperti semula?" tanya Andreas.
"Hari ini saham anjlok dan ada 2 investor yang sudah menarik dananya dari perusahaan kita. Kau benar-benar bodoh, Nathan! Papah benar-benar kecewa padamu!" ucap Andreas yang kemudian duduk dan memegangi kepalanya yang berdenyut semakin kuat.
"Papah tenang ya, jangan terbawa emosi lagi." bujuk Bella kemudian memberikan segelas air kepada suaminya.
Nathan dapat merasakan kekecewaan kedua orangtuanya terhadap dirinya. Namun tidak mungkin Nathan lari dari tanggungjawabnya. Nathan tidak ingin anaknya menderita karena kesalahan dirinya. Bagaimanapun Nathan juga memiliki naluri seorang ayah, tidak mungkin akan berbuat sekeji itu.
"Pah, aku tetap akan bertanggungjawab dan menikahinya. Maaf jika keputusanku membuat Papah kecewa." ucap Nathan yang masih saja menundukkan kepalanya.
Nathan tidak berani menatap mata kedua orangtuanya. Kesalahan yang dilakukan Nathan memang sudah melukai dua hati orang yang membesarkannya.
"Kau memang harus menikahinya. Kau tidak boleh membiarkan anak itu lahir tanpa dirimu." kata Andreas tegas.
"Papah benar-benar kecewa padamu, Nathan. Tapi semuanya sudah terjadi. Papah berharap setelah ini kau akan berubah dan menjadi pribadi yang lebih baik kedepannya." ucap Andreas lemah.
"Terimakasih, Pah." sahut Nathan.
"Keluarlah." perintah Andreas.
Nathan mengangkat kepalanya melirik Bella kemudian mendapat anggukan kepala dari ibunya.
Nathan dapat membaca kode yang diberikan ibunya kalau ayahnya membutuhkan waktu untuk menenangkan diri.
Nathan keluar dari ruangan kerja ayahnya dengan langkah yang berat dan wajah sendu.
"Apa aku pernah melakukan dosa yang sangat besar sebelumnya? Sampai harus mendapat hukuman dari anakku sendiri?" tanya Andreas membuat Bella sedih.
"Suamiku, kau harus kuat melalui ini. Apapun yang Nathan perbuat kita tidak bisa lepas dari tugas kita sebagai orangtua. Lebih baik anak kita bertanggung jawab atas kesalahannya bukan? Daripada membiarkan nyawa yang tidak bersalah harus menerima akibatnya?" ucap Bella mengingatkan tentang pilihan terburuk yang mungkin diambil oleh putranya.
"Kau benar, istriku. Aku harap anak kita tidak akan bertindak yang membahayakan kehidupannya." kata Andreas lirih.
"Kita akan melaluinya bersama-sama, suamiku." ucap Bella menguatkan.
"Terimakasih." sahut Andreas kemudian keduanya saling berpelukan.
-BERSAMBUNG