Istri Brutal Mr. Arogan

Istri Brutal Mr. Arogan
Episode 90 Salah Tempat


"Baguslah. Orang itu sudah pergi. Sebaiknya aku harus segera mencari waktu untuk bicara dengan Ayah." batin Davina.


"Sekarang ayo kita makan, perutku sudah lapar." ajak Davina merangkul lengan Marvin dan berjalan kembali ke mobil.


"Baiklah. Kemana?" tanya Marvin.


"Jalankan saja mobilnya." jawab Davina.


"Baik, Nyonya." sahut Marvin membuat Davina terkekeh.


Marvin membalasnya dengan senyuman kemudian melajukan mobilnya.


Menempuh perjalanan 10 menit, Marvin dan Davina sampai disebuah resto mewah.


"Disini?" tanya Marvin.


"Iya, aku dengar makanan disini terkenal sangat enak. Bahkan aku juga sudah melihat review disosmed jadi aku sangat penasaran." jawab Davina bersemangat.


"Jadi kau belum pernah kesini sebelumnya?" tanya Marvin yang dijawab gelengan kepala Davina.


"Kali ini pilihanmu sangat tepat. Kau pasti tidak akan kecewa. Ayo." kata Marvin.


"Sepertinya dia sudah pernah kesini. Wajar saja, mana ada tempat dikota ini yang belum pernah dia kunjungi." gumam Davina.


"Selamat datang Tuan Muda Harris." sapa seseorang yang menyambut kedatangan keduanya.


"Siapkan satu ruangan untuk kami." titah Marvin.


"Baik, Tuan." sahut pria itu kemudian menuntun Marvin dan Davina menuju sebuah ruangan privat.


"Hidangkan makanan spesial untuk istriku." pinta Marvin.


"Istri? Ba-baik, Tuan." sahut pria itu lagi segera melaksanakan perintah Marvin.


"Tuan sudah menikah? Astaga, sebuah kabar yang sangat besar. Tapi kenapa tidak ada berita yang meliputnya?" tanya pria itu dalam hati.


"Sudahlah, kehidupan orang kaya memang rumit." gumamnya lagi.


"Sepertinya kau sangat hafal dengan menu disini?" tanya Davina mengerutkan keningnya.


"Tentu saja." jawab Marvin tersenyum membuat Davina tersadar.


"Tunggu, jangan bilang kalau resto ini milikmu?" tanya Davina menebak.


"Tebakanmu benar. Lebih tepatnya ini adalah salah satu bisnis keluarga Harris." jawab Marvin membuat Davina terkejut.


"Astaga! Jadi aku dengan bodohnya mengajakmu kemari berharap memberikan kejutan padamu, rupanya malah kau pemiliknya sendiri. Sungguh memalukan." ucap Davina kecewa.


Marvin terkekeh kemudian membelai lembut rambut panjang istrinya.


"Aku menghargai niatmu, Sayang. Lagipula aku juga sudah lama tak berkunjung kemari." sahut Marvin lembut.


"Ah, aku benar-benar malu." ucap Davina sembari menutup wajah dengan kedua tangannya.


Marvin tertawa kecil melihat tingkah lucu istrinya.


"Sudah, apa kau ingin berkeliling sebentar sambil menunggu makanan siap?" ajak Marvin.


"Hem.. Boleh." sahut Davina antusias.


Marvin mengajak Davina berkeliling resto yang sangat luas. Terlihat ramai pengunjung yang datang dan pergi silih berganti.


"Bisnismu sepertinya berjalan dengan baik." puji Davina.


"Iya, apakah kau tertarik untuk mengelolanya?" tanya Marvin membuat Davina menoleh.


"Tidak-tidak, aku tidak mampu." jawab Davina.


"Jangan memandang rendah dirimu." ucap Marvin.


"Bukan begitu, kuliahku saja belum lulus. Apalagi urusan keluargaku sudah sangat banyak, aku saja belum tentu sanggup meneruskannya." sahut Davina jujur.


"Haha kau benar. Yasudah ayo kita kembali, makanan kita sudah siap." ajak Marvin disetujui oleh Davina.


Benar saja, ketika mereka kembali hidangan badu saja datang dan tertata rapi dimeja.


"Wow, dari tampilannya saja sudah bisa dipastikan rasanya sangat lezat." ucap Davina takjub.


"Ayo habiskan, kau pasti sudah sangat lapar." sahut Marvin.


Tanpa menunggu aba-aba Davina langsung duduk dan tak sabar menyantap makanan yang ada dihadapannya. Marvin hanya tersenyum melihat tingkah istrinya yang memang sangat doyan makan.


"Kenapa kau tidak pernah bercerita kalau kau juga berbisnis dibidang kuliner?" tanya Davina.


"Kau tidak pernah bertanya, jadi kurasa tidak perlu." jawab Marvin santai.


"Ah, kau benar. Sepertinya seluruh tempat dikota ini sudah kau kuasai ya?" tanya Davina penasaran.


"Mungkin 50% sudah menjadi milik keluarga Harris." jawab Marvin membuat Davina membulatkan matanya.


"Iya, karena aku adalah satu-satunya penerus Harris. Dari kecil Nenek sudah memberikan pelatihan padaku." sahut Marvin mengingat masa kecilnya yang berbeda dengan anak-anak seusianya.


"Itulah konsekuensi yang harus kita terima karena bukan terlahir dikeluarga biasa. Terkadang aku hanya ingin menjalani kehidupan normal seperti yang lainnya." kata Davina.


"Kau ingin kehidupan normal?" tanya Marvin.


"Iya.. Aku ingin hidup tenang tanpa terlibat konflik. Tapi itu sangat mustahil. Identitasku saja harus kusembunyikan. Benar-benar melelahkan." jawab Davina jujur.


"Jadi, apakah tidak ada yang tahu siapa dirimu? Maksudku teman-teman kampusmu." tanya Marvin.


Davina menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.


"Mantan kekasihmu juga tidak tahu identitasmu yang sebenarnya?" tanya Marvin membuat Davina seketika mengernyitkan dahinya dan menatap aneh dirinya.


"Ah, aku hanya bertanya saja tidak bermaksud mengungkit masa lalumu." ralat Marvin menyadari kesalahannya.


Davina terkekeh melihat reaksi panik Marvin.


"Diapun tidak tahu." jawab Davina tersenyum.


"Benarkah? Seandainya dia tahu pasti tidak akan meninggalkanmu." ucap Marvin.


"Itulah yang kutakutkan. Aku tidak ingin diterima seseorang karena latar belakangku." kata Davina.


"Apa itu alasannya kau menyembunyikan identitasmu?" tanya Marvin menebak.


"Itu salah satunya. Alasan yang utama adalah Ayah tidak ingin membahayakanku. Ayah ingin melindungiku dari serangan musuhnya." jawab Davina.


"Ayahmu pasti sangat menyayangimu." ucap Marvin.


"Tentu saja. Setiap orangtua pasti mencintai anaknya, wajar kan?" sahut Davina.


"Jadi, aku termasuk pria beruntung bisa menikahimu." ucap Marvin.


"Awalnya aku meragukanmu." kata Davina membuat Marvin menghentikan makannya.


"Aku paham." sahut Marvin tersenyum lembut.


"Tapi aku juga tidak pernah membayangkan kalau kebenarannya akan sangat mengejutkan aku." ucap Marvin jujur.


'Haha.. Aku jadi penasaran bagaimana perasaanmu saat bertemu dengan Ayahku pertama kali." kata Davina terkekeh.


"Aku masih sangat ingat dan itu benar-benar menakutkan saat bertatap muka dengan ayahmu. Andai saja tidak mengingat siapa diriku mungkin aku sudah pingsan. Benar-benar situasi yang menegangkan." ucap Marvin jujur.


"Apakah ayahku semenakutkan itu?" tanya Davina penasaran.


"Semua orang yang mendengar namanya pasti akan langsung ketakutan." jawab Marvin mantap.


"Apalagi ayahmu berkenalan denganku menggunakan cara yang unik. Benar-benar memacu adrenalin." tambah Marvin jujur.


"Maafkan ayahku." ucap Davina bersalah.


"Tidak, ayahmu tidak bersalah. Wajar saja ayahmu melakukan hal itu. Terlebih lagi aku menikahimu tanpa meminta restunya secara langsung lebih dulu." kata Marvin mengingat pernikahannya dengan Davina yang terbilang sangat cepat dan tanpa persiapan.


"Tidak masalah. Lagipula kondisi saat ini belum memungkinkan untuk mengekspos hubungan kita." ucap Davina santai.


"Iya, aku pasti akan menyiapkan pesta pernikahan untukmu." kata Marvin


"Tidak perlu." tolak Davina.


"Apakah kau tidak ingin pesta pernikahan?" tanya Marvin heran.


"Kita sudah sah menjadi suami istri. Itu sudah cukup bagiku. Yang aku inginkan adalah kelanggengan hubungan kita bukan pestanya." jawab Davina jujur.


"Bagaimana kalau bulan madu?" tanya Marvin membuat Davina tersedak.


"Pelan-pelan makannya, Sayang." kata Marvin yang langsung memberikan segelas air kepada istrinya.


"Jangan bilang kalau kau juga tidak menginginkan bulan madu?" tebak Marvin dengan tatapan penuh selidik.


"Jangan menatapku seperti itu. Bukan aku tidak mau bulan madu, tapi untuk saat ini aku ingin fokus studiku dulu. Aku ingin segera lulus." jawab Davina jujur.


"Berapa lama lagi?" tanya Marvin.


"Satu tahun ini." jawab Davina.


"Apakah tidak bisa dipercepat?" tanya Marvin tak sabar.


"Emm.. Akan aku usahakan." jawab Davina.


"Tak perlu dipaksakan. Aku akan menunggumu." sahut Marvin membelai lembut kepala istrinya.


"Dasar labil." gerutu Davina membuat Marvin terkekeh.


-BERSAMBUNG