
"Sayang, apakah kamu baik-baik saja? Sepertinya beberapa hari ini kamu terlihat sangat pucat." ucap Nathan khawatir.
"Aku baik-baik saja. Mungkin ini efek kehamilanku, akhir-akhir ini aku tidak bisa makan dengan baik." kata Amel lemas.
"Ayo kita periksa ke dokter saja." ajak Nathan.
"Tidak usah, kau kan hari ini ada kelas. Kau berangkat kuliah saja." ucap Amel menolak ajakan Nathan.
"Kau yakin? Aku khawatir padamu dan juga bayi kita." kata Nathan tidak rela.
"Kau tenang saja. Lagipula ada Papa dan Mama dirumah ini, aku tidak sendirian." ucap Amel.
"Baiklah. Aku akan memberitahu Mama lebih dulu. Kau istirahatlah, kalau terjadi sesuatu cepat telpon aku." kata Nathan mengecup kening istrinya cukup lama.
"Hem. Baik." sahut Amel kemudian kembali berbaring diranjangnya.
"Mah, sepertinya Amel kondisinya tidak baik-baik saja. Nathan sangat khawatir, tapi dia menolak untuk ke dokter." ucap Nathan menemui Bella dan memberitahu tentang kondisi istrinya.
"Apa tadi istrimu sudah sarapan?" tanya Bella.
"Belum, Mah. Beberapa hari ini dia tidak nafsu makan dan sering muntah-muntah." jawab Nathan sedih.
"Haish.. Yasudah kau berangkat kuliah saja, biar Mamah yang mengurusnya." ucap Bella membuat Nathan tersenyum lega.
"Terimakasih, Mama memang yang terbaik." puji Nathan kemudian memeluk ibunya lalu berpamitan berangkat kuliah.
"Sudah mau jadi ayah kelakuan masih saja seperti anak-anak." gumam Bella dengan menggeleng-gelengkan kepala akibat tingkah Nathan.
"Ada apa dengan putramu itu?" tanya Andreas yang sudah siap berangkat ke perusahaan.
"Itu istrinya sedang tidak enak badan, dia sangat khawatir." jawab Bella.
"Huh.. Bagaimanapun juga diperut perempuan itu ada bakal cucu kita. Kau jagalah dia dan pastikan kesehatannya baik-baik saja. Aku berangkat kerja dulu." pesan Andreas kemudian berpamitan.
Bella tersenyum tipis lalu menghembuskan nafas kasar.
"Sampai kapan kau akan memelihara gengsimu itu? Sebenarnya hatimu sudah menerima istri Nathan sebagai menantumu kan? Walaupun berawal dari kesalahan tapi kita sebagai orangtua hanya bisa mendoakan kebaikan untuk rumahtangga anak kita, Pah. Aku harap setelah cucu kita lahir kau akan kembali menjadi pria yang hangat seperti sebelumnya." batin Bella berharap sepenuh hati.
"Bi, tolong buatkan sup ayam dan antarkan ke kamar Nathan." titah Bella kepada Ajeng, asisten rumah tangga di kediaman Johnson.
"Baik Nyonya." sahut Ajeng patuh segera menuju kedapur.
Bella mengetuk pintu kamar lalu keningnya mengernyit saat melihat Amel membuka pintu dengan wajah yang sangat pucat.
"Astaga kau pucat sekali, Nak! Cepat kembali ke kasurmu." pekik Bella lalu menuntun Amel untuk berbaring.
"Sudah berapa hari kamu tidak makan?" tanya Bella panik.
"3 hari, Mah." jawab Amel lirih.
"Kau ini meskipun tidak bisa makan nasi kau kan bisa makan pengganti lainnya. Kau bisa meminta Bi Ajeng untuk memasak sesuai keinginanmu, atau bilang ke Mama. Sekarang kau itu sudah berbadan dua, kau juga harus perhatikan asupanmu demi anakmu." kata Bella memberi nasehat kepada menantunya.
"Maaf, Mah." sahut Amel tak bertenaga.
"Kau istirahat saja, Bi Ajeng sedang memasak sup untukmu. Mama juga akan telpon dokter untuk memeriksa kondisimu sekarang." ucap Bella tegas.
"Baik, Mah." kata Amel patuh.
20 menit berlalu, Ajeng membawa semangkuk sup ayam dan juga segelas teh hangat.
"Makanlah, Nak. Sup ayam bagus untuk menjaga kekebalan tubuh ibu hamil terlebih ini masih hangat jadi tidak akan membuatmu mual." ucap Bella.
Ajeng membantu Amel untuk duduk lalu Bella mulai menyuapi menantunya dengan penuh kasih sayang.
"Terimakasih, Mah. Amel sadar Papa dan Mama pasti belum sepenuhnya merestui pernikahan ini kan? Tapi Amel akan terus berusaha untuk menjadi menantu yang baik." kata Amel membuat Bella menghentikan suapannya.
Bella menatap wajah pucat Amel kemudian membelai kepala menantunya dengan lembut.
"Apa yang kau pikirkan? Papa dan Mama sudah merestui kalian sejak hari pernikahan kalian. Memang awalnya Papa mertuamu keras hatinya, tapi sekarang sepertinya sudah mulai luluh. Kau harus bersabar ya. Dan yang paling penting, fokuslah dengan kesehatanmu dan juga bayimu. Jangan berpikiran yang macam-macam, oke?" ucap Bella mengundang senyuman diwajah Amel.
"Sekarang habiskan supnya, sebentar lagi Dokter Sandra akan tiba." ucap Bella kembali menyuapi menantunya.
Amel menganggukkan kepalanya mematuhi ucapan ibu mertuanya.
...****************...
Davina membaca sebuah pesan dari Marvin yang mengajaknya bertemu disebuah restoran pusat perbelanjaan.
"Untuk apa dia mengajakku bertemu di mall? Tumben sekali." gumam Davina heran.
"Ibu.. Vina mau keluar dulu." pamit Davina yang sudah siap dengan tampilan feminimnya.
"Loh, mau kemana anak Ibu? Cantik sekali." puji Sera sekaligus menggoda putrinya.
"Ibu jangan menggodaku. Vina terlihat aneh ya berdandan seperti ini?" tanya Davina khawatir.
Sera menatap penampilan putrinya dari ujung rambut hingga ujung kakinya kemudian tersenyum.
"Kenapa Ibu diam saja? Pasti jelek ya? Kalau begitu aku ganti pakaian dulu." kata Davina panik namun segera ditahan oleh Sera.
"Kau cantik, Sayang. Apapun yang kau kenakan akan membuatmu cantik kalau kau percaya diri." ucap Sera.
"Memangnya kau mau kemana? Tumben sekali heboh dengan penampilan." tanya Sera penasaran.
Davina menyembunyikan wajahnya malu-malu membuat Sera bisa menebak tujuan putrinya.
"Kau pasti mau bertemu dengan Marvin, kan?" tebak Sera dengan menyentil dagu putrinya.
"Tebakan Ibu benar sekali." sahut Davina malu-malu.
"Apa kau nyaman dengan pakaianmu, Nak?" tanya Sera memastikan.
"Sebenarnya tidak begitu nyaman, Bu." jawab Davina jujur.
Sera menghela nafas kemudian mendekati putrinya.
"Nak, ada satu hal yang perlu kau ingat. Orang yang mencintaimu akan menerima apa adanya dirimu. Kau tidak perlu berubah untuk mencuri perhatiaannya, karena orang yang tulus kepadamu tidak akan memaksamu menjadi pribadi orang lain. Kau cukup jadi dirimu sendiri, Ibu yakin Marvin pasti bisa menerima dan mencintai kepribadianmu. Kau mengerti maksud Ibu kan?" pesan Sera membuat Davina tersadar.
Davina teringat dengan hubungannya dimasalalu. Dulu Davina merubah tampilannya menjadi gadis yang lemah lembut demi mantan kekasihnya, Nathan. Padahal itu sangat bertentangan dengan kepribadiannya. Saat itu Davina berpikir bahwa ia ingin Nathan selalu bisa menerimanya namun malah pengkhianatan yang Davina dapatkan.
"Ibu benar. Seharusnya aku tidak mengulangi kesalahan untuk kedua kali." ucap Davina kemudian bergegas mengganti pakaiannya.
"Ibu harap Marvin benar-benar pria yang tepat untukmu, Nak." batin Sera mendoakan kebaikan untuk putri semata wayangnya.
"Ini baru Davina Almira." gumam Davina menatap dirinya dicermin dengan senyum sumringah.
"Bu, Davina pergi dulu. Tolong sampaikan kepada Ayah ya, Bu." pamit Davina.
"Kau tenang saja, Ayahmu itu tidak akan bangun dalam waktu dekat. Kau berhati-hatilah." ucap Sera.
"Wow! Sepertinya Ayah sangat kelelahan, Ibu benar-benar luar biasa." bisik Davina seketika membuat wajah Sera memerah karena malu.
"Kau ini beraninya menggoda ibumu, sudah sana pergi." ucap Sera mengundang tawa kecil Davina.
"Baiklah-baiklah. Vina tidak akan mengganggu Ibu dan Ayah. Selamat berbulan madu, Bu. Siapa tahu aku akan punya adik." kata Davina kembali menggoda ibunya.
"Dasar kurang ajar!" pekik Sera.
Davina terkekeh kemudian berlari meninggalkan ibunya yang pipinya sudah seperti tomat.
"Vina pergi dulu, Bu." teriak Davina menutup pintu kamar hotel dengan cepat.
"Haih.. Ibu memang sudah sangat merindukan suara bayi tapi bukan adikmu, Nak. Ibu sudah tidak sabar untuk menggendong cucu. Semoga saja pilihanmu untuk menikah dengan Marvin adalah keputusan yang tepat." gumam Sera.
...----------------...
-BERSAMBUNG