
"Ibu? Ada apa?" tanya Davina mengangkat panggilan telpon dari ibunya.
"Apakah putriku tidak merindukanku?" tanya Sera dengan nada lirih.
"Ibu ada apa? Tentu saja aku sangat merindukanmu. Apa terjadi masalah?" tanya Davina panik.
"Syukurlah kau masih mengingat ibumu ini. Ibu kira setelah menikah, kau sudah tidak punya waktu untuk memikirkan Ibu dan Ayah. Kau tidak pernah memberi kabar kepada kami, itu sungguh menyakiti hati Ibu." jawab Sera membuat Davina terkekeh.
"Ibu sepertinya terlalu banyak menonton drama di televisi. Bukankah Ayah yang memblokirku agar tidak bisa menghubungi kalian? Jangan bilang Ibu tidak tahu mengenai hal ini." sindir Davina mengingatkan.
"Haha.. Kau benar, Sayang. Sedang apa dirimu? Apakah sibuk hari ini?" tanya Sera.
"Aku baru selesai kelas, Bu. Setelah ini akan ke perusahaan Harris." jawab Davina.
"Sepertinya hubungan kalian sangat baik. Bagaimana kalau kita makan siang bersama? Ibu dan Ayah baru saja mendarat di kota A. Ini sedang perjalanan ke hotel." ajak Sera sekaligus memberitahu kedatangannya.
"Ibu dan Ayah kesini? Kenapa tidak memberitahuku sebelumnya?" tanya Davina kaget.
"Bukankah sekarang Ibu sudah memberitahumu? Ibu akan mengirimkan lokasi kepadamu. Nanti kau dan suamimu datanglah." kata Sera.
"Huh.. Ibu dan Ayah benar-benar. Yasudah sampai jumpa, Bu." sahut Davina.
"Bagaimana? Apakah kau sudah memberitahu putri kita? Bagaimana reaksinya?" tanya Adam.
"Iya, kau pasti sudah menebaknya. Sepertinya putri kita sedikit kesal, aku khawatir dia akan memberi kita kejutan." jawab Sera menyimpan kembali ponselnya kedalam tas.
"Haha sudah kuduga. Tenang saja, kita sudah mengajak suaminya juga. Aku ingin lihat bagaimana putri kita menjaga citranya didepan anak muda Harris itu." ucap Adam penasaran.
"Sepertinya aku berpikir lain. Aku khawatir justru anak kita akan menunjukkan tabiat aslinya." sahut Sera.
"Hahaha.. Benar juga yang kau katakan. Aku jadi semakin penasaran bagaimana putri liar kita dijinakkan. Aku sudah tidak sabar." kata Adam terkekeh.
"Apa ada yang salah denganmu? Kenapa kau malah memperolok putri kita sendiri?" tanya Sera heran.
"Aku tidak memperoloknya. Aku hanya ingin lihat bagaimana putri kita tumbuh dewasa dan apakah dia sudah benar-benar jatuh cinta. Menantu kita apakah mampu menghadapinya?" kata Adam penasaran.
"Sudahlah jangan membahasnya lagi. Mereka sudah menikah, lagipula kita jangan mencampuri urusan anak muda." sahut Sera.
"Kau benar, istriku. Masih ada beberapa jam lagi sebelum makan siang bagaimana kita bermain terlebih dulu?" bisik Adam.
"Apa yang kau katakan? Semalam apakah tidak cukup untukmu?" tanya Sera kesal.
"Bagaimana aku bisa cukup denganmu. Kau selalu saja bisa membangunkan hasratku." goda Adam membuat Sera membulatkan matanya.
"Cukup! Atau aku akan melemparkanmu keluar!" ancam Sera seketika membuat Adam tak berkutik.
"Istriku kejam sekali." rengek Adam namun tak digubris Sera sama sekali.
"Nyonya Besar hebat sekali. Tuan Besar benar-benar seperti anak ayam kalau berhadapan dengannya." batin Orkan yang menjemput kedua majikannya.
"Apa kau sedang mengataiku didalam hatimu?" tanya Adam dingin membuat Orkan tersentak.
"Ti-tidak, Tuan." jawab Orkan gugup.
"Awas saja kalau kau berani meledekku. Aku akan mengirimmu kembali ke tempat pelatihan." ancam Adam seketika membuat Orkan merinding ketakutan.
"Sa-saya tidak berani, Tuan." sahut Orkan gemetaran.
"Baguslah." ucap Adam setelah itu kembali merayu istrinya agar tidak marah kepadanya.
Orkan yang mendengar rayuan Adam kepada Sera merasa mual dan ingin sekali menertawakan majikannya itu.
"Benar sekali kata orang. Sekuat apapun seorang pria pasti akan takluk pada istrinya. Tuan Besar kalau begini seperti bukan mafia kejam yang terkenal itu. Aku benar-benar melihat adegan yang menarik." batin Orkan terkekeh.
"Kau sedang menertawakanku?" tanya Adam dengan tatapan tajam.
"Tidak, Tuan. Saya tidak berani." jawab Orkan.
"Baik Tuan." sahut Orkan patuh.
"Apakah Tuan Besar mengira aku ini buta dan tuli? Sudahlah lebih baik aku menurutinya daripada harus kembali ke tempat mengerikan itu." gumam Orkan.
...****************...
"Nona silahkan menunggu diruangan Tuan Muda lebih dulu. Tuan masih ada meeting dengan beberapa klien." ucap Johan.
"Hem.. Baiklah." sahut Davina.
"Benar-benar pria yang sibuk. Bagaimana jika aku juga harus mengurus perusahaan Ayah? Aku khawatir kami tidak punya banyak waktu untuk bersama." batin Davina lirih.
"Haih.. Lahir dikeluarga kaya memang merepotkan." gumam Davina.
"Apa yang membuat istriku tidak senang?" tanya Marvin mengagetkan Davina.
"Ma-mas, kenapa kesini? Johan bilang kau masih ada meeting." tanya Davina.
"Apakah ada hal yang lebih penting dari menyambut kedatangan istriku? Kau belum menjawab pertanyaanku. Apa yang membuatmu tidak senang, Sayang?" kata Marvin lembut.
"Ah.. Tidak ada. Tadi aku hanya sembarangan berpikir." jawab Davina.
"Apa yang sedang dipikirkan istriku? Wajahmu terlihat tidak begitu baik saat aku masuk tadi. Bahkan kau tidak menyadari kedatanganku." tanya Marvin penasaran.
"Aku hanya berpikir bagaimana kita bisa memiliki cukup waktu bersama kedepannya. Kau sangat sibuk dengan pekerjaanmu. Status kita sebagai pewaris tunggal juga tidak bisa tergantikan." jawab Davina jujur.
"Apa yang membuatmu berpikir begitu? Kau khawatir aku tidak punya cukup waktu untukmu? Kau benar-benar meremehkanku, Sayang. Sejak menikah denganmu, kaulah yang menjadi prioritasku. Urusan pekerjaan banyak orang yang bisa diandalkan." ucap Marvin.
"Apakah baik seperti itu? Bagaimana jika orang-orang itu mengkhianatimu?" tanya Davina ragu.
"Apakah aku tidak bisa menilai orang? Sepertinya kau benar-benar memandang rendah suamimu ini, Sayang." kata Marvin membuat Davina tersenyum kaku.
"Bu-bukan begitu maksudku. Aku hanya berjaga-jaga saja. Banyak orang yang awalnya mengaku teman tapi akhirnya menjadi lawan." ucap Davina khawatir.
"Kau terlalu banyak berpikir, Sayang. Kau pasti lapar kan? Ayo kita makan siang." ajak Marvin.
"Eh.. Aku hampir lupa memberitahumu untung saja kau mengingatkanku. Tadi Ibu menelponku katanya akan mengajak kita makan siang." kata Davina.
"Apa? Makan siang? Hari ini?" tanya Marvin terkejut.
"Iya, Mas. Kenapa kamu terlihat sangat kaget seperti itu?" tanya Davina heran.
"Kau serius? Ayah dan Ibumu mengajak kita makan siang? Lalu apa yang harus aku lakukan untuk menyambut mereka? Apa aku juga harus memberi mereka hadiah kedatangan?" tanya Marvin panik.
Davina terkekeh melihat reaksi lucu suaminya. Davina baru tahu kalau seorang Marvin Harris bisa kehilangan wibawa saat akan menemui mertuanya.
"Jangan khawatir, Mas. Orangtuaku tidak memerlukan itu. Kau tidak perlu takut bertemu dengan mereka." ucap Davina menenangkan.
"Aku tidak takut menemui mereka. Aku hanya khawatir mereka akan menganggapku menantu yang tidak sopan." kata Marvin.
"Kedua orangtuaku bukanlah orang yang berpikiran sempit. Kau tenang saja." sahut Davina menggenggam tangan Marvin erat.
Marvin menatap lekat Davina kemudian menghembuskan nafasnya kasar.
"Hah.. Kau benar. Tapi kenapa sekarang aku merasa sangat gugup?" kata Marvin jujur membuat Davina terkekeh.
"Orangtuaku tidak akan memakan orang. Lebih baik kita bersiap lebih dulu." ucap Davina.
"Ya kau benar. Ayo kita membeli pakaian baru untuk bertemu dengan mertuaku. Aku juga harus memberi mereka hadiah." ajak Marvin bersemangat.
"Heh, semudah itu suasana hatinya berubah? Aku khawatir dia akan kembali gugup saat bertatap muka dengan Ayah. Aku ingin lihat bagaimana Tuan Muda Harris mengatasinya." batin Davina terkekeh kemudian mengikuti langkah suaminya.
-BERSAMBUNG