Istri Brutal Mr. Arogan

Istri Brutal Mr. Arogan
Episode 112 Terpesona Istri


Tak terasa dua jam sudah Davina dan Marvin menghabiskan waktu untuk bermain air. Mereka memutuskan berhenti berenang karena keduanya sudah lapar. Setelah bilas dan berganti pakaian, keduanya menuju resto dilantai bawah. Terlihat sebuah meja yang sudah dipenuhi hidangan. Para pelayan menyambut kedatangan Davina dan Marvin dengan ramah.


"Selamat siang, Tuan dan Nyonya." sapa salah satu pelayan yang usianya paling tua diantara yang lainnya.


"Siang." sahut Davina dan Marvin bersamaan.


"Selamat menikmati makan siang Tuan dan Nyonya. Jika membutuhkan sesuatu bisa memanggil kami." ucap pria itu ramah.


"Terimakasih Pak Albert. Kalian kembalilah melaksanakan tugas yang lain. Jangan lupa makan siang." titah Davina tegas namun suaranya terdengar lembut.


"Terimakasih Nyonya Muda." sahut Albert setelah itu undur diri bersama pelayan yang lain.


"Kenapa kau menatapku seperti itu?" tanya Davina heran.


"Istriku ini berwibawa sekali. Kau benar-benar disegani oleh mereka." puji Marvin yang semakin kagum dengan istrinya.


"Sudah jangan terus menyangjungku, bisa-bisa aku nanti besar kepala. Ayo cepat makan setelah ini aku mau mengajakmu berkeliling." kata Davina.


"Baik Nyonya." sahut Marvin membuat Davina memicingkan kedua matanya.


Marvin terkekeh mendapati tatapan tajam istrinya dan memilih untuk mulai menyantap makanan yang ada dihadapannya. Sedangkan Davina hanya mendengus sebal kemudian ikur menikmati makan siangnya.


Setelah keduanya mengisi tenaga, Davina meminta Edwin untuk menyiapkan dua buah motor trail.


"Kau bisa mengendarainya kan?" tanya Davina.


"Kau meremehkanku?" ucap Marvin seketika Davina tertawa kecil.


"Aku hanya ingin memastikannya saja." jawab Davina mulai menaiki salah satu motornya.


"Kita tidak berboncengan?" tanya Marvin heran.


Davina menggelengkan kepalanya membuat Marvin segera menahan Davina yang sudah menyalakan motornya.


"Biar aku saja. Kau hanya perlu pegangan dibelakangku." pinta Marvin.


Davina menghela nafas kemudian tersenyum tipis.


"Kau tidak perlu khawatir. Aku sudah terbiasa." ucap Davina santai.


Davina tersenyum melihat Marvin yang masih tak bergeming. Davina tahu suaminya itu pasti mengkhawatirkan dirinya.


"Percaya padaku, aku sudah biasa mengendarainya. Ayo bersiaplah, kau harus mengetahui sisi lain dari istrimu ini." kata Davina lalu menguncir rambutnya dan memakai helm.


Mau tak mau Marvin mengikuti permintaan istrinya.


Davina mulai memutar gasnya. Benar saja Marvin dibuat takjub dengan kelihaian gadis muda itu mengendarai trailnya. Dengan mudah Davina melewati jalanan menanjak dan berkelok hingga sampai dipuncak. Udara sejuk menerpa wajah mereka dan pemandangan dibawah sana benar-benar memanjakan mata mereka.


Davina menstadarkan motornya diikuti oleh Marvin. Davina merogoh ponselnya dan membuka aplikasi kamera.


"Sepertinya kita jarang sekali mengabadikan foto berdua." ucap Davina.


"Ayo kita selfie." ajak Davina membuat Marvin tersenyum.


Marvin menempelkan wajahnya ke pipi Davina membuat wanita itu terkejut.


"Tidak perlu sampai sedekat ini kan?" protes Davina.


"Bagaimana kalau begini?" kata Marvin memeluk Davina dari belakang dan melingkarkan kedua tangannya diperut istri cantiknya itu.


Davina hanya tersenyum kemudian menyalakan kamera depan dan mengangkat ponselnya.


Marvin menyandarkan dagunya kepundak Davina dan menampakkan senyum tampannya saat kamera ponsel berhasil mengambil foto keduanya. Davina dan Marvin tersenyum puas melihat hasil jepretan itu.


"Aku ingin semua orang tahu bahwa kau hanyalah milikku." ucap Marvin mengumumkan kepemilikannya.


Davina tersenyum kemudian menyentil hidung mancung suaminya.


"Kekanakan sekali." cibir Davina.


Marvin semakin mengeratkan pelukannya dan menelusupkan wajahnya ke ceruk leher Davina.


"Sampai kapan kau akan terus memelukku seperti ini?" tanya Davina.


"Biarkan aku terus memelukmu, Sayang. Tubuhmu benar-benar sudah menjadi candu bagiku. Aku tidak bisa lama-lama berjauhan denganmu." jawab Marvin membuat Davina geli mendengarnya.


"Kemampuan menggodamu benar-benar sudah diluar batas, Mas." sindir Davina membuat Marvin terkekeh dan melepaskan pelukannya.


Kali ini Marvin memutar tubuh Davina sehingga tatapan keduanya bertemu.


"Didekatmu aku benar-benar tidak bisa mengontrol diriku." ucap Marvin jujur.


Davina tersenyum lalu membelai lembut pipi suami tampannya.


"Aku juga, Sayang." balas Marvin tersenyum.


Kali ini Davina melingkarkan tangan keleher Marvin dan menempelkan bibirnya lalu ******* bibir suaminya. Marvin yang cukup terkejut dengan serangan tiba-tiba Davina menarik tubuh wanita cantik itu sehingga keduanya semakin tak berjarak dan ciuman itu berubah menjadi semakin liar. Jika tidak mengingat keberadaan mereka sekarang mungkin Marvin sudah melahap habis Davina. Beruntung keduanya masih waras sehingga tidak melakukan hal diluar batas di alam terbuka.


...****************...


Setelah memastikan bahwa dirinya tengah berbadan dua, kini Amel sudah tidak sabar untuk membagikan kabar baik ini kepada ayahnya.


"Kau ingin menemuimu Papahmu?" tanya Nathan.


"Iya, kita mampir kerumah sebentar." jawab Amel antusias.


Nathan tersenyum melihat kebahagiaan terlihat jelas diwajah cantik istrinya. Kabar baik yang selama ini mereka tunggu-tunggu. Akhirnya Tuhan mengabulkan permintaan mereka.


Sampai dikediaman Wijaya, Amel buru-buru turun dari mobil. Tanpa sadar ia berlari kecil membuat Nathan khawatir setengah mati.


"Sayang, hati-hati!" teriak Nathan mengingatkan segera menyusul istrinya.


Amel seketika menghentikan langkahnya.


"Astaga aku ceroboh sekali. Maaf Sayang, aku lupa." ucap Amel menoleh dan meringis kepada Nathan.


Nathan hanya menghela nafas kemudian menggandeng tangan istrinya.


"Kendalikan dirimu. Ada nyawa lain yang harus kau perhatikan keselamatannya juga sekarang." kata Nathan kembali mengingatkan.


"Kau benar. Terimakasih, Sayang." sahut Amel.


Keduanya bergegas masuk ke rumah, Amel tersenyum senang saat mendapati pria yang telah merawatnya sedang menonton televisi diruang keluarga.


"Papa!" panggil Amel.


Arka menoleh terkejut melihat kedatangan anak dan menantunya.


"Kalian datang?" tanya Arka meminta keduanya untuk duduk.


"Apakah aku mengagetkan Papa?" kata Amel balik bertanya.


"Aku sedikit kaget. Kenapa tidak memberi kabar dulu?" tanya Arka lagi.


"Ingin menemui orangtua apakah harus ada janji dulu? Kedatangan Amel dan Nathan kesini ingin memberi kabar penting kepada Papa." jawab Amel seketika Arka menatapnya serius.


"Apakah ada masalah genting?" tanya Arka khawatir.


Amel menggelengkan kepalanya membuat Arka semakin kebingungan.


"Lalu kabar penting apa?" tanya Arka penasaran.


"Sebentar lagi Papa akan jadi Kakek. Amel hamil lagi, Pa." jawab Amel membuat Arka membulatkan matanya.


Arka menatap Amel dan Nathan bergantian tanpa sadar airmatanya luruh begitu saja.


"Papa! Kenapa Papa malah menangis? Apakah Papa tidak senang akan memiliki cucu?" tanya Amel panik.


Dengan cepat Arka menggelengkan kepalanya kemudian memeluk putrinya.


"Ini tangisan kebahagiaan, Nak. Syukurlah..." ucap Arka lembut membuat Amel lega.


"Berapa usia kandunganmu?" tanya Arka.


"Kata dokter baru 8 minggu, Pa." jawab Amel mengingat perkataan dokter kandungan yang telah memeriksanya.


"Hamil muda masih sangat rentan, kau harus menjaganya dengan baik. Pastikan kau istirahat yang cukup dan makan makanan bergizi. Jangan banyak pikiran, itu bisa menghambat pertumbuhan janinmu." kata Arka panjang lebar menasehati Amel.


Nathan juga ikut mendengarkan dan mengingat semua perkataan ayah mertuanya.


"Papa tenang saja, kali ini Amel akan menjaganya dengan baik. Amel tidak akan mengulangi kebodohan yang sama seperti kehamilan pertamaku dulu." ucap Amel seketika wajahnya berubah sendu.


"Yang lalu biarlah berlalu, Nak. Itu bukan kesalahanmu. Fokuslah untuk kehamilan keduamu ini. Jika kau butuh sesuatu segera beritahu Papa." kata Arka membelai lembut kepala putrinya.


Amel tersenyum kemudian memeluk pria baruh baya yang ia cintai itu.


"Terimakasih banyak, Pa." ucap Amel.


Nathan yang hanya menjadi pendengar dan penonton itu ikut tersenyum menyaksikan keharmonisan hubungan istri dan mertuanya.


"Kali ini aku akan menjaga kalian dengan baik." batin Nathan.


-BERSAMBUNG