
Drt Drt
Tiba-tiba ponsel Davina bergetar.
"Ah sebentar, ada yang menelpon. Aku angkat dulu ya." ucap Davina bergegas mengambil ponselnya dan menjauh dari Marvin.
"Kau menyelamatkanku kali ini, Orkan." gumam Davina.
Marvin mengernyitkan keningnya melihat reaksi Davina.
"Siapa sebenarnya dirimu kelinci kecilku?" tanya Marvin dalam hati.
"Nona gawat!" ucap Orkan.
"Ada apa?" tanya Davina.
"Tuan Besar sudah tahu kalau Nona bertemu dengan Tuan Anton." jawab Orkan panik.
"Bagaimana bisa tahu? Bukannya kau yang memberitahunya?" tanya Davina setengah berbisik agar tidak terdengar oleh Marvin.
"Aku tidak memberikan kabar apapun Nona. Mungkin saja anak buah Tuan Darwin yang melakukannya." jawab Orkan jujur.
"Sial! Apakah Ayahku menelponmu?" tanya Davina.
"Tidak Nona. Tapi tadi Tuan Darwin menghubungiku dan mengatakan bahwa lusa Tuan Besar akan kemari." jawab Darwin.
Davina melirik Marvin yang sedari tadi mengamati gerak-geriknya.
"Dia sudah mulai curiga kepadaku. Bagaimana reaksinya kalau dia tahu kalau aku adalah putri Carlos?" tanya Davina dalam hati.
"Nona, apakah Nona masih disana? Kenapa Nona diam saja?" panggil Orkan.
"Ah iya.. Baiklah. Biarkan saja Ayah datang kemari. Aku yakin Ayah pasti sudah menyiapkan sebuah rencana." jawab Davina.
"Baik Nona. Tapi apakah Nona tidak penasaran dengan permasalahan Tuan Besar dengan Tuan Anton?" tanya Orkan sebelum mengakhiri panggilannya.
"Aku akan menanyakannya langsung saat kami bertemu. Kau segera hubungi aku kalau ada kabar baru." jawab Davina sekaligus memberikan perintah kepada Orkan.
"Baik Nona, maaf mengganggu waktu Nona. Selamat malam." sahut Orkan setelah itu memutuskan panggilannya.
Davina menghela nafas kemudian meletakkan ponselnya diatas nakas.
"Ada apa, Sayang?" tanya Marvin.
Davina melirik dan menatap wajah suaminya lekat.
"Apakah aku harus mengatakan yang sebenarnya padamu sekarang?" gumam Davina.
"Kenapa diam saja? Apa ada masalah?" tanya Marvin lagi membuat Davina tersadar.
"Tidak sekarang, Vina. Tunggu bertemu dengan Ayah dan minta pertimbangannya." batin Davina.
"Tidak ada. Tidak ada apa-apa, Mas." jawab Davina mencoba menampakkan senyumnya agar Marvin tak curiga.
"Kau tidak sedang berbohong padaku, kan?" tanya Marvin lagi.
Sedari tadi Marvin mengamati gerak-gerik istrinya. Ia tahu ada sesuatu yang disembunyikan istrinya. Namun mendengar jawaban Davina yang berusaha menutupi sesuatu, Marvin mencoba memahaminya. Marvin tidak ingin memaksa, ia tahu pasti ada alasan kuat dibalik sikap istrinya.
"Maaf, Mas. Aku belum bisa menceritakannya padamu. Tolong beri aku waktu lagi." jawab Davina bersalah.
Sebenarnya Davina juga tidak ingin menyembunyikan identitasnya terlebih kepada suaminya sendiri. Namun latar belakang yang ia miliki mengharuskannya melakukan hal itu.
"Apa ada kaitannya dengan identitasmu?" tanya Marvin.
Davina menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
Marvin menghela nafas. Tak bisa dipungkiri Marvin sangat penasaran siapa istrinya sebenarnya. Namun disisi lain, ia juga takut. Takut jika kebenarannya akan mengejutkan dirinya.
Marvin bisa menilai dari kepribadian Davina, sikap dan kecerdasannya. Apalagi Marvin ingat bahwa Davina menguasai teknik bela diri. Itu menunjukkan bahwa istrinya sudah terlatih dan pastinya berasal dari keluarga berkuasa.
"Beri aku sedikit waktu lagi." ucap Davina lagi.
"Iya, aku akan sabar menunggumu jujur kepadaku." sahut Marvin membuat Davina lega.
"Terimakasih, Mas." kata Davina lembut.
...****************...
"Tuan tenanglah. Jika Tuan bertindak sekarang, itu akan membuat Tuan Anton curiga. Dan bisa membahayakan keselamatan Nona Davina." kata Darwin mengingatkan.
Adam menoleh kepada Darwin lalu memberi tatapan membunuh kepada orang kepercayaanya itu.
"Lalu apa yang harus aku lakukan? Diam saja melihat putriku diserang?" tanya Adam marah.
"Nona Davina sangat tangguh, Tuan. Orkan melaporkan bahwa kejadian ini disengaja oleh Nona." jawab Darwin memberitahu.
"Gadis itu memang nakal. Apa Orkan tahu tujuannya melakukan itu?" tanya Adam penasaran.
"Iya, Nona ingin tahu apa rencana Tuan Anton yang menawarkan kerjasama kepada Tuan Muda Harris untuk melawan Carlos." jawab Darwin membuat Adam terkejut.
"Jadi Anton sedang mencari sekutu untuk melawanku?" tanya Adam.
"Benar Tuan." sahut Darwin.
"Rupanya menantuku lumayan juga sampai membuat Anton ingin bekerjasama dengannya." gumam Adam menyeringai.
"Lalu apakah Marvin menerima ajakan itu?" tanya Adam penasaran.
"Tidak Tuan. Maka dari itu Tuan Anton menemui Nona agar membujuk Tuan Muda Harris menerima kerjasamanya." jawab Darwin.
"Anton, licik juga kau. Aku jadi ingin memberi salam kepada menantuku. Kau sudah menyiapkan penerbanganku lusa kan?" tanya Adam.
"Sudah Tuan. Semua sudah siap." jawab Darwin.
"Baiklah. Apakah putriku tahu?" tanya Adam lagi.
"Sudah Tuan. Saya sudah memberitahu Orkan tentang kunjungan Anda esok lusa." jawab Darwin.
"Bagus. Sebelum menemui putriku, aku akan memberi kejutan kepada menantuku lebih dulu. Aku ingin tahu bagaimana reaksinya." ucap Adam menyeringai.
Darwin hanya menggeleng-gelengkan kepalanya mengetahui rencana majikannya itu.
...****************...
"Bagaimana Tuan? Apakah Tuan tetap ingin bekerjasama dengan Tuan Harris?" tanya Robert.
"Menurutmu?" tanya Anton.
"Aku rasa tidak akan berhasil, Tuan. Melihat kuatnya prinsip pemuda itu dan ternyata istrinya juga tidak mudah dimanipulasi." jawab Robert.
"Bagus juga penglihatanmu." ucap Anton.
"Sekarang aku tidak lagi tertarik kerjasama dengan bocah keras kepala itu. Aku lebih penasaran dengan istrinya itu." kata Anton membuat Robert mengernyitkan dahinya.
"Apakah Tuan tertarik dengan istri Tuan Marvin? Tuan ingin jadi pebinor?" tanya Robert.
"Apa itu pebinor?" tanya Anton merasa asing dengan kata yang didengarnya.
"Perebut bini orang." jawab Robert sontak membuat Anton tertawa geli.
"Kau pikir aku abg tua yang mencari daun muda?" tanya Anton memberikan tatapan tajam.
"Tidak Tuan. Bukan begitu maksud saya. Bukankah Tuan tadi yang bilang sendiri kalau tertarik dengan istri Tuan Marvin?" kata Robert kebingungan.
"Hah.. Aku hanya tertarik dengan kepribadian gadis itu. Lagipula usianya sangat cocok menjadi putriku. Aku kagum dengan keberanian dan ketenangannya." jawab Anton mengingat pertemuannya dengan Davina.
"Oh.. Maaf Tuan saya sudah lancang." sahut Robert bersalah.
"Siapkan rencana lain untuk melawan Carlos." titah Anton.
"Apakah Tuan benar-benar tidak butuh dukungan Harris lagi?" tanya Robert memastikan.
"Tidak perlu. Kau aturkan waktu agar aku bisa bertemu dengan gadis pemberani itu. Ingat rencanakan agar terlihat seperti kebetulan." ucap Anton.
"Baik Tuan." sahut Robert patuh.
Perintah Anton kali ini membuat Robert kebingungan. Kemarin tuannya itu masih sangat ambisius untuk memaksa Marvin bekerjasama dengannya. Tapi hari ini setelah bertemu Davina, dengan santainya Anton berkata tidak tertarik lagi dengan kerjasama Harris. Entah apa yang saat ini ada dipikiran Anton, Robert tak bisa menebaknya.
"Oh iya, mundurkan juga jadwalku ke kota A. Aku ingin tinggal beberapa hari lagi disini sebelum melancarkan aksiku." pinta Anton.
"Baik Tuan." sahut Robert.
-BERSAMBUNG