Istri Brutal Mr. Arogan

Istri Brutal Mr. Arogan
Episode 120 Kebahagiaan Sera


Karena kondisi Davina yang tidak memungkinkan, belanja di mall mereka batalkan. Kali ini Davina dan Sera sudah kembali ke kediaman Carlos.


"Cepatlah, Ibu sudah tidak sabar dengan hasilnya." ucap Sera bersemangat.


"Ibu semangat sekali, Vina takut kalau hasilnya tidak sesuai yang Ibu harapkan." kata Davina tersenyum tipis.


"Tidak masalah, toh kalian masih muda. Tapi apa salahnya kalau kau mengetesnya kali ini, mungkin saja dugaan Ibu benar." ucap Sera santai.


Davina menghela nafas kemudian menggenggam benda pipih itu ditangannya.


Davina segera ke kamar mandi untuk membuktikan dugaan Sera.


"Tenangkan dirimu, Nak apapun hasilnya." kata Sera menenangkan.


"Aku tidak tahu harus senang atau apa." gumam Davina.


...****************...


Hari sudah mulai gelap, setelah menjalani pelatihan di hari pertama tubuh Marvin merasa lelah. Marvin meringis saat merasakan perih dilengannya yang kembali terbuka karena ulah mertuanya. Marvin memutuskan untuk membersihkan diri sebelum jam makan malam.


"Baru satu hari saja aku sudah merindukanmu." gumam Marvin mengingat wajah istri cantiknya.


"Bagaimana aku bisa tahan dalam 29 hari ke depan?" decah Marvin.


"Sepertinya aku memang sudah kecanduan berdekatan dengan istriku. Haaiih...." ucap Marvin.


Ingin sekali ia melakukan video call dengan Davina, namun sesuai perjanjian dengan Adam tidak ada ponsel selama masa pelatihan. Tak melihat wajahnya satu hari saja sudah membuat Marvin gelisah apalagi satu bulan. Bisa-bisa Marvin gila karena menahan rindu.


"Apakah ini nasib baik atau buruk menjadi menantu Carlos? Bagaimana caranya agar tidak merindukanmu, Sayang?" tanya Marvin dalam hati.


TOK TOK!


"Tuan Muda, waktunya makan malam." kata Rey memberitahu.


"Baik, aku masih bersiap." sahut Marvin dari dalam kamar.


"Saya akan menunggu Tuan disini." ucap Rey.


"Setelah makan malam ada kegiatan apa lagi?" tanya Marvin agar mempersiapkan diri.


"Tidak ada Tuan. Tuan Muda bisa beristirahat lebih awal karena esok bisa jam 4 pagi pelatihan kembali dimulai." jawab Rey.


"Jam 4 pagi? Bukankah langit masih gelap?" tanya Marvin dengan mengerutkan keningnya membuat Rey terkekeh.


"Seperti itulah hari-hari kami disini, Tuan Muda." jawab Rey santai.


"Kehidupan kalian pasti sangat disiplin ya? Sudah berapa lama kau disini?" tanya Marvin penasaran.


"Saya baru 5 tahun, Tuan Muda." jawab Rey.


"5 tahun? Cukup lama juga." sahut Marvin.


"Tidak, Tuan. Justru saya pendatang baru disini. Banyak yang lebih lama mengikuti Tuan Carlos daripada saya. Bahkan ada yang sedari kecil sudah mengikuti pelatihan disini, karena orangtuanya juga menjadi bawahan Tuan Carlos." ucap Rey menjelaskan.


"Sepertinya kesetiaan orang-orang Tuan Carlos tidak perlu diragukan lagi." kata Marvin takjub.


"Benar, Tuan. Bagi kami menjadi bagian dari Carlos adalah sebuah keberuntungan dan tanggungjawab." sahut Rey membuat Marvin tersenyum.


"Ayah mertuaku memang hebat." puji Marvin dalam hati.


"Heh, tapi aku juga tidak kalah hebat dengannya. Aku pasti bisa membuat keluarga Harris seperti Carlos." gumam Marvin penuh tekad.


...****************...


CEKLEK!


"Bagaimana, Nak?" tanya Sera penasaran saat melihat pintu kamar mandi terbuka.


"I-ini, Bu." jawab Davina gugup sembari memperlihatkan benda pipih itu kepada Sera.


Mata Sera berbinar saat mendapati dua garis merah, seperti yang ia duga.


Davina hanya tersenyum tipis, ia tidak tahu harus bereaksi seperti apa.


"Kenapa dengan wajahmu itu, Nak? Kau tidak senang kalau dirimu hamil?" tanya Sera mendapati ekspresi datar Davina.


"Emm.. Itu, Vina tidak tahu harus bagaimana, Bu. Apakah hamil akan membuatku kesakitan? Bisakah Vina menjaga janin didalam perutku ini?" perkataan Davina membuat Sera tersenyum.


"Nak, kau pasti bisa melalui masa-masa ini. Tuhan sudah memberikan kepercayaan padamu. Kau dan Marvin harus menjaganya dengan baik." ucap Sera lembut.


"Hamil tidak menyakitkan, hanya saja kau perlu mengurangi tingkah brutalmu itu agar tidak membahayakan calon cucuku." kata Sera memperingatkan membuat Davina terkekeh.


"Hem.. Sepertinya posisiku sudah tergeser dihati Ibu." ucap Davina membuat Sera tertawa kecil.


"Tentu saja. Kau sudah ada pria yang menyayangimu." sahut Sera seketika keduanya pun tertawa.


"Ibu akan menelpon ayahmu untuk memberitahu kabar bahagia ini." ucap Sera antusias.


"Jangan, Bu." cegah Davina.


Sera menatap Davina heran.


"Kenapa, Nak?" tanya Sera.


"Biarkan mereka tahu setelah pulang dari pelatihan saja, Bu. Aku tidak ingin mengganggu rencana Ayah dan fokus Marvin. Pasti Ayah melakukan ini ada tujuannya kan, Bu?" jawab Davina.


Sera tersenyum kemudian membelai lembut rambut panjang putrinya.


"Kau benar, Nak. Baiklah kalau itu keinginanmu. Oh ya Ibu akan memanggil dokter kemari untuk memastikan dan mengetahui berapa usia kandunganmu." ajak Sera.


"Baiklah, Bu." sahut Davina.


Sera segera memerintah Edwin untuk memanggil dokter kandungan terbaik dikota K. Sera lebih memilih untuk mengundang dokter ke mansion bukan karena mereka berkuasa tapi untuk menjamin keselamatan Davina. Sera tidak bisa memastikan apa yang akan mereka hadapi saat berada diluar. Terlebih status Davina yang baru saja diungkap, bisa saja memancing musuh untuk bertindak. Sera tidak ingin kecolongan dan membuat putrinya dalam bahaya. Apalagi kini Davina sedang berbadan dua, untuk sementara menyembunyikan kabar bahagia itu lebih baik.


30 menit kemudian, datanglah wanita yang mungkin berusia 40 tahunan disusul beberapa pria kekar yang mengangkat monitor dan beberapa peralatan yang akan digunakan untuk USG sesuai dengan permintaan Sera. Kini mereka berada dikamar tamu, dan Davina sudah bersiap untuk diperiksa.


"Selamat datang, Dok. Maaf harus merepotkan dokter datang kemari." sapa Sera sekaligus meminta maaf.


"Tidak masalah, Nyonya. Sebuah kehormatan bisa melayani Nyonya Carlos. Saya Adriana, dokter kandungan yang bekerja dirumah sakit S." ucap Adriana memperkenalkan diri.


"Salam kenal, Dok. Saya Davina, bisakah dokter memeriksa saya?" sahut Davina tak sabar.


"Tentu Nona Davina, berbaringlah." ucap Adriana sopan.


"Bagaimana, Dok? Apakah saya benar-benar hamil?" tanya Davina penasaran.


Adriana memandang Davina dan Sera bergantian kemudian tersenyum simpul.


"Benar, Nona sedang hamil. Menurut perhitungan alat ini usianya baru 6 minggu." jawab Adriana.


"Syukurlah. Ah, akhirnya sebentar lagi aku akan jadi Nenek." kata Sera senang tak terasa menitikkan airmata haru.


Davina tersenyum melihat raut kebahagiaan diwajah wanita paruh baya yang selama ini selalu menyayanginya.


"Di usia ini janin masih sangat rentan. Saya harap Nona bisa menjaga diri dengan baik. Bulan depan Nona bisa memeriksa kandungan lagi." ucap Adriana menjelaskan.


"Baik, Dok. Terimakasih banyak." sahut Davina.


"Apakah ada keluhan? Ada mual-mual atau tidak nafsu makan?" tanya Adriana.


"Tidak, Dok. Hanya saja akhir-akhir ini saya merasa cepat lelah." jawab Davina.


"Itu wajar, Nona. Kalau begitu saya resepkan beberapa vitamin namun juga harus diimbangi dengan makanan bergizi." kata dokter sembari menggoreskan pena pada selembar kertas.


"Apakah ada pantangan lain, Dok?" tanya Davina.


"Tidak ada. Nona bisa beraktivitas seperti biasa termasuk hubungan ****." jawab Adriana seketika membuat wajah Davina memerah.


Sera dan Adriana terkekeh melihat Davina yang tersipu malu.


-BERSAMBUNG