Istri Brutal Mr. Arogan

Istri Brutal Mr. Arogan
Episode 95 Terdesak


"Sudah menemukan dimana posisi orang itu?" tanya Adam.


"Belum, Tuan." jawab Orkan.


"Hah, kerjamu lamban sekali. Sepertinya kau benar-benar harus menjalani pelatihan lagi." cibir Adam dengan tatapan dingin.


"Maaf, Tuan." sahut Orkan dengan menundukkan wajahnya.


Drt Drt


Ponsel Adam bergetar dan langsung mengangkat panggilan suara saat dilayar menunjukkan nama Darwin.


"Bagaimana?" tanya Adam.


"Semua akses sudah tertutup, Tuan. Saat ini dipastikan bahwa Tuan Anton tidak bisa meninggalkan kota A." jawab Darwin menjelaskan.


"Kerja bagus. Sekarang bantu aku melacak dimana keberadaan Anton. Aku tidak bisa menemukan dimarkasnya." titah Adam.


"Baik, Tuan. Saya akan mengirimkan lokasinya jika sudah terlacak." sahut Darwin setelah itu memutuskan panggilan suaranya.


"Untung saja masih ada orang yang bisa kuandalkan." gumam Adam melirik tajam ke arah Orkan.


"Sepertinya aku harus menyiapkan fisik dan mentalku untuk menghadapi pelatihan lagi." batin Orkan sadar diri.


"Kita kesini." ucap Adam sembari menyodorkan ponselnya.


"Baik Tuan." sahut Orkan patuh lalu menginjak gas mobilnya menuju lokasi yang ditunjuk Adam.


...****************...


"Tuan baik-baik saja?" tanya Johan yang mengamati Marvin sedari tadi hanya diam merenung.


"Aku baik-baik saja. Jangan khawatirkan aku." jawab Marvin berbohong.


"Jika Tuan masih menyalahkan diri sendiri maka itu akan membuat Nona Davina sedih, Tuan." ucap Johan.


"Apa maksudmu?" tanya Marvin dengan mengerutkan keningnya.


"Nona terluka karena keinginannya untuk melindungi Tuan Muda. Jika Tuan merasa bersalah dan sedih seperti ini berarti pengorbanan Nona Davina akan sia-sia." jawab Johan.


Marvin terdiam sejenak mencoba memahami arti perkataan Johan.


"Kau benar." ucap Marvin tersadar.


"Tuan harus semangat demi kesembuhan Nona Davina." kata Johan lagi.


"Terimakasih, Jo. Kau tunggu disini, aku ingin menemui orangtuaku." ucap Marvin.


"Tuan tidak ingin aku temani?" tanya Johan.


"Tidak perlu. Kau disini saja." jawab Marvin membuka pintu mobil dan turun begitu saja.


"Aku harap Tuan Muda tidak akan terpuruk seperti beberapa tahun yang lalu. Nona Davina, kau harus cepat sembuh." batin Johan menatap kepergian Marvin dengan haru.


"Selamat sore Bu, Ayah." sapa Marvin yang duduk didepan makam kedua orangtuanya.


"Aku merindukan kalian." ucap Marvin lirih.


"Bu, hari ini aku kembali merasakan sedih seperti saat Ibu meninggalkanku." kata Marvin bercerita.


"Ayah, aku merasa gagal sebagai suami. Aku tidak bisa melindungi istriku." ucap Marvin.


"Marvin sangat takut Bu, Yah. Aku tidak sanggup jika harus kehilangan orang yang aku sayangi lagi. Istriku akan baik-baik saja kan ya Bu, Ayah?" kata Marvin yang kembali menitikkan airmatanya.


"Aku masih ingat saat dia menanyakan keadaanku dan tersenyum padaku padahal saat itu dia sedang terluka karena melindungiku." gumam Marvin mengingat kejadian beberapa jam lalu.


"Saat ini istriku masih terbaring dirumah sakit. Aku tidak sanggup melihatnya terluka karena diriku. Aku sangat takut, Bu." ucap Marvin yang tak bisa dipungkiri jika pikiran negatif mulai merasuki otaknya.


"Ibu dan Ayah mendengarkanku kan? Tolong sampaikan pada Tuhan kalau aku sangat mencintai Davina." kata Marvin lagi.


Setelah puas bercerita dimakam kedua orangtuanya, Marvin bergegas kembali ke mobil.


"Kembali kerumah sakit." titah Marvin.


"Baik, Tuan." sahut Johan.


"Apa yang kau katakan benar, Jo." ucap Marvin tiba-tiba membuat Johan terkejut.


"Maksud Tuan?" tanya Johan kebingungan.


"Aku tidak boleh menyia-nyiakan pengorbanan istriku. Aku harus semangat untuk mendukung dan mendoakan kesembuhan istriku." jawab Marvin membuat Johan tersadar.


"Baguslah kalau Tuan sudah menyadarinya. Aku yakin Nona pasti akan baik-baik saja." ucap Johan tersenyum.


"Aku juga harap begitu. Terimakasih, Jo." kata Marvin.


"Sama-sama, Tuan." sahut Johan lega.


"Berhentilah ditoko bunga, aku ingin membeli bunga tercantik untuk istriku." ucap Marvin lagi.


...****************...


"Tuan beberapa tempat umum sudah dijaga oleh orang-orang Tuan Carlos." kata bawahan Anton memberitahu.


"Benar-benar tidak ada tempat untukku bersembunyi lagi. Kau sudah berhasil membuatku terpojok." gumam Anton menyeringai.


"Aku tidak tahu bagaimana keadaan gadis kecil itu. Dasar Robert bodoh sekali! Kalau sampai terjadi hal yang fatal, aku yang akan menghabisinya dengan tanganku." batin Anton.


"Tidak masalah. Biarkan saja mereka menemukan kita." ucap Anton santai.


"Tuan yakin?" tanya Calvin memastikan.


"Kenapa dengan tatapanmu itu? Kau sedang berpikir aku menyerah begitu saja?" tanya Anton.


"I-iya, Tuan." jawab Calvin jujur.


"Haha.. Tebakanmu benar. Aku sudah lelah, lagipula ini adalah kesalahanku. Aku harus menanggungnya karena melukai orang yang tidak bersalah." ucap Anton.


"Tapi bukan Tuan yang melakukannya. Kenapa Tuan tidak menyerahkan Robert saja? Biarkan dia menerima hukuman atas kecerobohannya." kata Calvin menyarankan.


"Kau memandang rendah diriku?" tanya Anton dengan tatapan dingin.


"Ti-tidak, Tuan. Saya tidak bermaksud begitu." sahut Calvin ketakutan.


"Semua yang dilakukan anak buahku adalah tanggungjawabku termasuk kesalahannya juga akan menjadi tanggunganku." ucap Anton.


"Saya benar-benar beruntung bisa bekerja dengan Tuan." sahut Calvin bangga.


"Kau ambilkan surat dikantong jasku yang tertinggal dimobil." titah Anton.


"Baik Tuan." sahut Calvin patuh bergegas melaksanakan perintah tuannya.


"Ini Tuan." ucap Calvin seraya menyerahkan sebuah amplop kertas kepada Anton.


"Sepertinya aku harus benar-benar membaca surat ini agar mengetahui kebenarannya sebelum Carlos menangkapku." gumam Anton.


Anton menghembuskan nafas panjang dan menyiapkan hatinya untuk mengetahui kebenaran yang telah ia tunggu dalam waktu bertahun-tahun.


"Akhirnya aku menemukanmu." suara yang terdengar familiar ditelinga Anton membuatnya menoleh.


Mata Anton membulat saat mengetahui siapa sosok yang berdiri tak jauh dihadapannya.


"Lebih cepat dari perkiraanku." sambut Anton menyeringai.


"Kau terkejut aku bisa menemukanmu?" tanya Adam.


"Tentu saja tidak. Apa yang tidak bisa ditemukan oleh seorang Carlos? Kalaupun aku lari keujung dunia, akan sangat mudah bagimu menemukanku." jawab Anton.


"Bagus kalau kau mengakuinya." sahut Adam.


"Kau ingin menangkapku dengan tangan kosong?" tanya Anton yang tak melihat senjata ditangan Adam.


"Tergantung pada dirimu. Kau ingin ikut aku dengan sukarela atau paksaan." jawab Adam memberi pilihan.


"Bagaimana jika aku menolak keduanya?" tanya Anton bernegosiasi.


"Sebaiknya kau pikirkan dengan baik." jawab Adam dingin.


Anton mengamati sekitarnya yang penuh dengan orang-orang Adam. Kalaupun dia melawan, anak buahnya tidak akan sanggup untuk menandingi para bawahan Adam.


"Aku akan mengikutimu dengan senang hati tetapi izinkan aku menemui putrimu lebih dulu." ucap Anton.


"Kau merasa punya hak untuk mengajukan permintaan padaku?" tanya Adam geram.


"Aku sungguh tidak ada niat sedikitpun untuk melukai putrimu." jawab Anton.


"Kau pikir aku akan percaya padamu?" kata Adam emosi.


"Kau boleh menyalahkanku tapi kumohon kali ini percayalah padaku." ucap Anton serius.


Adam terdiam hanya mengerutkan keningnya dan memberi tatapan dingin kepada Anton.


"Aku ingin melihat kondisi putrimu setelah itu mari kita lakukan perhitungan termasuk hal dimasalalu." kata Anton lagi.


-BERSAMBUNG


Kira-kira Adam setuju gak ya dengan permintaan Anton? Bagaimana kelanjutannya, jangan lupa subscribe ya untuk dapat notif update episode terbaru 🖤


Terimakasih sudah setia dengan novel ini 🤗


Mungkin dalam waktu dekat novel Istri Brutal Mr. Arogan akan tamat nih 🖤


Silahkan tuliskan komen, saran, dan kritiknya dong buat Minthor 🤗


Masih belajar dan berusaha menulis cerita menarik untuk Readers 🤗


Terimakasih, lopeyou 🖤😘