Istri Brutal Mr. Arogan

Istri Brutal Mr. Arogan
Episode 65 Perkenalan Mertua


"Apa yang sebenarnya Ayah lakukan?" tanya Davina cemas.


Davina mendapatkan kabar dari Orkan jika ayahnya sudah berada di kota A. Davina terkejut saat Orkan memberitahu kalau ayahnya membawa Marvin.


"Apa tujuan Ayah? Kenapa tidak langsung menemuiku malah membawa Marvin." gumam Davina.


"Kau tahu apa tujuan Ayah?" tanya Davina kepada Orkan.


"Saya tidak tahu, Nona." jawab Orkan jujur.


"Ck! Pasti Ayah selalu suka seenaknya sendiri." ucap Davina kesal.


"Kau tahu kemana Ayahku membawa Marvin?" tanya Davina.


"Iya Nona. Saya sudah meminta orang mengikuti mereka." jawab Orkan.


"Bawa aku kesana. Kabari Mely untuk menyusul." titah Davina.


"Baik Nona." sahut Orkan patuh.


Dengan cepat Orkan menghubungi Mely dan mengirimkan lokasi setelah itu ia melajukan mobilnya. Kali ini Orkan sudah diberi fasilitas mobil oleh Adam agar lebih mudah melancarkan misinya.


"Nona tenang saja. Tuan Besar pasti tidak akan mencelakai Tuan Marvin." ucap Orkan melihat raut kegelisahan diwajah Davina.


"Iya aku tahu. Aku hanya khawatir kalau Marvin ketakutan bertemu dengan Ayah. Bahkan aku tidak bisa membayangkan bagaimana reaksinya jika ia tahu siapa diriku sebenarnya. Ayah benar-benar terlalu cepat bertindak." kata Davina.


Jujur ada rasa takut yang menyelimuti Davina. Gadis itu khawatir jika Marvin tahu siapa dirinya.


"Apa yang harus aku katakan padanya?" tanya Davina dalam hati.


"Nona tenang saja. Tuan Marvin pasti akan mengerti kondisi Nona." ucap Orkan.


"Aku harap juga begitu. Cepatlah sampai ke lokasi." kata Davina.


"Baik Nona." sahut Orkan menginjak gasnya.


Kembali ke ruang gelap dimana Marvin disekap oleh Adam Carlos.


"Tuan, Nona sedang perjalanan kemari." bisik Darwin.


"Cepat juga putriku itu. Rupanya pria ini benar-benar sudah merebut posisiku." gumam Adam.


Adam menganggukkan kepalanya kemudian mengibaskan tangan kepada Darwin.


"Aku ingin tahu bagaimana caramu menarik perhatian putriku?" ucap Adam.


"Putri Anda? Saya rasa tidak mengenalnya." jawab Marvin.


"Benarkah kau tidak mengenal putriku? Davina Almira, dia adalah putriku satu-satunya. Bukankah dia sekarang istrimu? Atau kau tidak mengakuinya?" tanya Adam dengan nada dingin.


"Ja-jadi Tuan adalah ayah Davina?" tanya Marvin gugup.


"Heh... Berani sekali kau menikahi putriku tanpa meminta restuku! Lancang sekali kau!" hardik Adam membuat Marvin merinding.


Jika dihadapannya adalah musuh mungkin Marvin takkan gentar. Tapi kali ini ia harus menghadapi mertuanya yang belum pernah ia temui sama sekali. Marvin merasakan aura yang sangat kuat dari sosok yang menangkapnya kali ini.


"Ma-maaf Tuan. Awalnya saya ingin meminta restu secara langsung tapi Vina sendiri bilang kalau Tuan sudah merestui pernikahan kami." ucap Marvin hati-hati.


Tiba-tiba suasana ruangan semakin menyeramkan kala Marvin mendengar suara tawa Adam.


"Dasar pengecut!" umpat Adam.


"Aku tidak menyangka Tuan Muda Harris harus menikahi seorang gadis yang kau sendiri tidak tahu siapa orangtuanya. Apa kau tidak takut dengan latar belakang istrimu?" tanya Adam.


"Saya sudah berusaha untuk menyelidiki identitas istriku tapi nihil. Saya tahu pasti latar belakang Vina tidaklah biasa. Tapi saya tidak peduli." jawab Marvin.


Adam bisa menilai ucapan Marvin adalah kejujuran.


"Benarkah kau tidak mengetahui siapa istrimu sebenarnya?" tanya Adam memastikan.


"Bukankah Tuan yang menutup rapat identitas putri Anda?" tanya Marvin membuat Adam tersenyum.


"Tidak ada satu orangpun yang bisa menembusnya." tambah Marvin lagi.


"Kau benar. Jadi pernahkah kau membayangkan darimana istrimu berasal?" tanya Adam.


"Iya saya pernah menduga-duga. Tapi istri saya berkata suatu saat akan mengatakan yang sebenarnya dan saya percaya padanya." jawab Marvin.


"Heh... Jadi apakah kau benar-benar jatuh cinta pada putriku?" tanya Adam.


"Tentu saja. Davina satu-satunya gadis yang menarik perhatianku." jawab Marvin yakin.


"Kau pikir aku percaya dengan mulut buayamu itu?" tanya Adam terkekeh.


"Saya mengatakan yang sebenarnya." jawab Marvin.


"Kau sangat beruntung karena putriku segera kemari saat mendengar aku menangkapmu." ucap Adam.


"Davina? Dia kemari?" tanya Marvin.


"Jadi siapa sebenarnya orang aku hadapi ini? Kenapa tubuhku terasa dingin sekali." gumam Marvin.


BRAKK!


"Ayah hentikan! Cukup bermain-mainnya." teriak Davina membuka pintu dengan keras.


"Haha.. Apa ini caramu menyambut ayahmu, Sayang?" tanya Adam.


"Ayah keterlaluan." ucap Davina kesal.


"Itu benar-benar suara Davina." gumam Marvin.


"Apa tujuan Ayah sebenarnya?" tanya Davina.


"Kemarilah, Nak. Ayah merindukanmu." ucap Adam menghampiri Davina dan memeluk putri tunggalnya itu.


Adam tidak peduli dengan putrinya yang terus menggerutu karena menyekap Marvin.


"Bukankah Ayah sudah berjanji tidak akan melakukan sesuatu tanpa persetujuanku?" ucap Davina mengingatkan.


"Iya, aku memang berjanji padamu dan tidak pernah mengingkarinya." sahut Adam.


"Lalu apa yang Ayah lakukan ini?" tanya Davina melepas pelukannya.


"Ayah hanya ingin berkenalan dengan suamimu." jawab Adam melirik Marvin yang sedari tadi hanya mendengar percakapannya dengan Davina.


"Ayah..." rengek Davina.


"Tenang saja. Ayah tidak akan mencelakai priamu." ucap Adam dengan membelai lembut kepala putrinya.


"Jadi apa kau sudah benar-benar jatuh hati padanya?" tanya Adam memastikan.


"Ayah lepaskan saja dia." jawab Davina.


"Lihatlah kau tampak malu-malu. Kenapa? Jangan-jangan kau memang sudah jatuh cinta ya." goda Adam.


"Ayah jangan meledekku." protes Davina.


"Kau dengar sendiri kan, Marvin? Putriku ini tidak mau mengakui perasaannya. Sepertinya usahamu belum cukup keras untuk menaklukan putriku." kata Adam.


"Ayah hentikan!" ucap Davina.


Marvin tersenyum tipis. Ia senang mendengar interaksi ayah dan putri yang romantis. Tapi disisi lain ia juga khawatir karena belum tahu sosok mertuanya.


"Jadi sudahkah kau siap mengungkapkan dirimu yang sebenarnya, putriku?" tanya Adam membuat Davina terdiam.


Davina menatap Marvin yang matanya masih tertutup walaupun ruangan itu tanpa penerangan.


"Apakah sekarang saatnya?" tanya Davina meminta persetujuan ayahnya.


"Mau kau tunda sampai kapan lagi, Nak?" kali ini Adam ganti bertanya.


Ya, sampai kapan Davina akan menyembunyikan identitasnya. Jika terlalu lama maka Davina khawatir kalau Marvin akan kecewa padanya.


"Tapi..." ucap Davina ragu-ragu.


"Apa yang membuatmu ragu, Sayang? Sudah saatnya suamimu tahu siapa dirimu." sahut Adam menguatkan Davina.


Perkataan Adam membuat Davina kembali memantapkan hatinya. Davina mengatur nafasnya bersiap mengungkapkan kebenaran kepada suaminya.


"Kau baik-baik saja? Apakah Ayahku menyakitimu?" tanya Davina mendekati Marvin dan melepaskan tali yang mengikat kedua tangan dan kaki suaminya itu.


"Aku baik-baik saja." jawab Marvin.


"Ayah ada ruangan yang lebih baik?" tanya Davina tapi dengan kata sindiran.


"Hahaha.. Ayo kita pindah ke sebelah." jawab Adam.


"Mari ikut saya Nona." sahut Darwin yang langsung menunjukkan arah.


"Maaf.. Aku akan menuntunmu dulu. Aku buka penutup matamu diruangan sebelah saja." ucap Davina lalu menggandeng lengan kekar suaminya.


"Siapa dirimu sebenarnya?" tanya Marvin.


"Sebentar lagi kau akan mengetahuinya." jawab Davina.


-BERSAMBUNG