Istri Brutal Mr. Arogan

Istri Brutal Mr. Arogan
Episode 119 Mertua dan Menantu


BUGH!


Marvin mengusap keringat yang mengalir di keningnya. Lagi-lagi Marvin membuat lawan beladirinya terjatuh.


"Pria itu kuat sekali." ucap salah satu pemuda.


"Iya, kemampuannya sangat hebat." puji yang lain.


"Siapa lagi yang mau berlatih denganku?" tanya Marvin dengan ekspresi datar.


"Aku." sahut Adam seketika membuat para pemuda menoleh lalu segera memberikan hormat kepada pria yang paling ditakuti itu.


Marvin tersenyum tipis.


"Mereka bukanlah lawanmu. Ayo hadapi aku." tantang Adam menyeringai.


"Baiklah, kali ini aku tidak akan sungkan." ucap Marvin.


Keduanya bersiap, otomatis menarik perhatian seluruh orang yang ada ditempat itu.


Marvin menyerang lebih dulu dan dengan cepat ditangkis oleh Adam. Keduanya bertarung sangat gesit dan kuat. Pertarungan berlangsung cukup lama sampai terdengar nafas yang mulai tersengal-sengal menandakan keduanya kelelahan. Bisa dilihat bahwa Adam dan Marvin memiliki kemampuan seimbang.


"Kemampuanmu lumayan juga." ucap Adam.


BUGH!


"Ssshhh..." Marvin meringis memegang bahunya yang sengaja ditinju oleh Adam.


"Tapi lawanmu masih bisa melihat titik lemahmu. Kau ceroboh." bisik Adam.


Marvin mundur beberapa langkah, ia merasa bahunya yang terkena tembak terbuka kembali.


"Darwin, bawa dia ke ruang medis." titah Adam.


"Baik, Tuan." sahut Darwin segera mengajak Marvin untuk mengobati lukanya.


"Tuan Muda baik-baik saja kan?" tanya Darwin.


"Iya, hanya sedikit perih saja." jawab Marvin.


"Untung saja pukulan Tuan Carlos tidak terlalu keras tadi. Jujur baru kali ini saya melihat orang yang bisa mengimbangi kemampuan beladiri Tuan Carlos." puji Darwin membuat Marvin mengernyit.


"Benarkah?" tanya Marvin tak percaya.


"Benar, Tuan Muda. Saya juga bisa melihat Tuan Carlos kewalahan saat menghadapi serangan Tuan Muda." jawab Darwin lagi.


Marvin mengangguk-anggukan kepalanya lalu menyeringai tipis.


"Jadi karena terdesak, ayah mertuaku menyerang lenganku." ucap Marvin.


"Cih! Jangan sombong dulu!" kata Adam yang tiba-tiba datang dan menyahut tak terima.


Marvin dan Darwin saling beradu tatap kemudian tersenyum tipis.


"Aku sengaja tidak mengeluarkan seluruh tenagaku. Lagipula aku tidak senang jika harus menang dari lawan yang terluka." ucap Adam membela diri.


"Jika ayah masih ingin menguji kemampuanku, ayo kita ulangi lagi." ajak Marvin.


"Tidak! Kau pulihkan dulu lukamu. Aku tidak ingin dimarahi putriku." tolak Adam.


"Setelah makan siang, kau datanglah ke arena tembak." perintah Adam kemudian pergi bersamaan dengan Darwin.


"Apalagi ini?" tanya Marvin dalam hati.


"Aku masih ingat saat menculiknya dulu kemampuannya tidak seperti tadi." gumam Adam.


"Apakah dia sengaja menyembunyikan kemampuannya?" tanya Adam dalam hati.


"Baiklah, aku ingin lihat seberapa hebat dirimu anak muda." batin Adam menyeringai.


...****************...


"Baru beberapa jam saja sudah merindukan suamimu?" tanya Sera menggoda putri semata wayangnya.


"Emm.. Tidak, Bu. Aku hanya khawatir saja, lengannya juga belum sembuh. Ayah benar-benar keterlaluan." jawab Davina yang masih kesal dengan Adam.


Sera terkekeh kemudian membelai lembut rambut Davina.


"Tenang saja, suamimu pasti baik-baik saja. Kalau ayahmu berani macam-macam, Ibu akan menghukumnya." ucap Sera membuat Davina tersenyum.


"Kau pasti bosan kan? Bagaimana kalau kita lanjut berbelanja?" tanya Sera menawarkan.


"Ide bagus. Ayo, Bu." jawab Davina bersemangat.


"Win, antar kami ke mall Z ya." pinta Sera.


"Baik, Nyonya." sahut Edwin sopan kemudian melajukan mobilnya.


Karena tidak ada Adam maupun Marvin, keduanya kini dikawal dengan penjagaan yang ketat. Namun Davina tidak ingin terlalu menarik perhatian, sehingga para pengawal menjaga jarak aman.


Tiba-tiba Davina merasa kepalanya sangat pusing, tubuhnya menjadi lemas.


"Sayang, kau baik-baik saja?" tanya Sera yang menyadari wajah Davina berubah pucat.


"Hanya sedikit pusing, Bu. Akhir-akhir ini Vina merasa tubuhku mudah sekali lelah." jawab Davina lirih.


"Ah.. Apakah kau terlambat datang bulan?" tanya Sera seketika membuat Davina mengernyitkan keningnya.


Davina mencoba mengingat dan menyadari kalau bulan ini dirinya memang belum datang bulan.


"Kenapa Ibu bertanya begitu?" tanya Davina heran.


"Ibu hanya menebak saja. Keadaanmu ini sama seperti Ibu disaat awal mengandung dirimu. Tubuh Ibu jadi gampang sekali lelah. Mungkin saja saat ini kau sedang hamil." jawab Sera antusias.


Ucapan Sera membuat Davina terdiam.


"Hamil? Benarkah? Apakah aku saat ini sedang mengandung?" tanya Davina dalam hati.


"Kenapa, Sayang? Apakah kamu tidak menantikan kehadiran buah hati?" tanya Sera mendapati wajah Davina yang berubah datar.


"Bukan begitu, Bu. Hanya saja Vina tidak tahu harus bagaimana kalau benar-benar hamil." jawab Davina jujur membuat Sera tersenyum.


"Jangan khawatir, semua akan baik-baik saja. Bagaimana kalau kita ke dokter kandungan untuk memastikan?" ajak Sera.


"Emm... Jangan dulu, Bu. Nanti beli testpack di apotek saja." jawab Davina.


"Baiklah. Win, kau dengarkan?" ucap Sera.


"Baik, Nyonya." sahut Edwin.


...****************...


Setelah makan siang, kali ini Marvin sudah berada di lapangan tembak bersama dengan Adam dan juga Darwin.


"Kau tahu menjadi menantuku haruslah menguasai segalanya. Bukan hanya hebat dalam bela diri, kau juga harus bisa menembak, memanah, dan menguasai alat perang lainnya." ucap Adam menegaskan.


"Bukan sembarang orang bisa menjadi anggota Carlos. Meskipun kau sudah menikahi putriku, tapi kau harus tetap melalui pelatihan ini. Aku tidak ingin menyerahkan putriku kepada orang yang tidak bisa diandalkan." tambah Adam kali ini menatap Marvin dengan tatapan dingin.


"Akan aku pastikan bahwa aku bisa melaluinya dengan baik dan membuktikan bahwa aku layak menjadi suami Davina." ucap Marvin tegas.


PROK PROK!


"Bagus! Kau cukup percaya diri." puji Adam dengan senyum menyeringai.


"Baiklah, waktu kita masih panjang. Aku ingin lihat sehebat apa kemampuanmu. Aku harap kau tidak mengecewakan." kata Adam dengan nada penuh peringatan.


"Baik, Ayah. Aku tidak akan mengecewakan Ayah dan Davina." sahut Marvin tegas.


DOR!


Adam menembakkan pelurunya tepat sasaran membuat Marvin tersenyum tipis.


DOR!


Kali ini Marvin yang melesatkan pelurunya namun sayang sasarannya sedikit meleset.


"Heh.. Kau masih perlu banyak belajar, Nak." cibir Adam menyeringai.


"Kali ini aku pasti tepat." gumam Marvin.


Marvin menatap fokus lingkaran kuning yang berjarak 50 meter didepannya. Marvin menarik nafas kemudian menarik pelatuknya.


DOR!


Peluru Marvin tepat menembus lingkaran kuning membuatnya bernafas lega. Adam hanya menyeringai tipis lalu kembali menembakkan senapannya, begitu juga Marvin. Darwin hanya menjadi penonton ditengah ketegangan mertua dan menantu.


"Sepertinya hanya Tuan Marvin yang sanggup menjadi menantu keluarga Carlos." gumam Darwin.


"Aku tidak bisa menebak bagaimana hubungan mertua dan menantu ini dimasa depan. Sepertinya nyawa bagi mereka tidak terlalu penting lagi." batin Darwin yang heran dengan kedua pria itu.


Adam bukannya menjalin hubungan seperti ayah mertua dan menantu pada umumnya tetapi malah menguji Marvin untuk mempertaruhkan nyawanya. Sungguh berbeda dari keluarga normal lainnya.


-BERSAMBUNG