Istri Brutal Mr. Arogan

Istri Brutal Mr. Arogan
Episode 44 Bertemu Mertua


"Apa kau sudah lapar?" tanya Marvin saat Davina sudah keluar dari kamar mandi.


"Hem.. Lumayan." jawab Davina.


"Tunggu aku mandi dulu ya. Setelah itu kita turun ke ruang makan bersama." ucap Marvin yang diangguki kepala Davina.


Davina mengeringkan rambutnya sembari menunggu Marvin membersihkan diri. Mata Davina tertuju pada pintu balkon yang sedikit terbuka. Karena Davina penasaran, ia pun berjalan menuju balkon dan seketika matanya takjub saat melihat pemandangan dari lantai dua itu.


Terdapat taman bunga dan juga kolam renang. Halaman hijau yang sangat luas memanjakan mata Davina.


"Indah sekali." gumam Davina.


"Kau menyukainya?" tanya Marvin yang membuat Davina terkejut.


"Kau mengagetkanku saja." ucap Davina sambil mengelus dadanya.


"Maaf. Nanti setelah makan siang, aku akan mengajakmu berkeliling rumah ini." kata Marvin lembut.


"Baiklah." sahut Davina antusias.


Setelah berganti pakaian, Marvin dan Davina menuruni tangga menuju ruang makan.


"Selamat siang Tuan Muda, Nona." sapa Mira.


"Siapkan makan siang sekarang." titah Marvin yang langsung dipatuhi Mira.


Dengan cepat Mira menyajikan makanan di meja makan.


"Rupanya istri Tuan Muda cantik sekali. Sepertinya umurnya juga masih sangat muda. Tuan benar-benar pintar sekali mencari istri." batin Mira yang terpesona dengan Davina.


"Apa ada sesuatu diwajahku?" tanya Davina saat menyadari Mira terus menatapnya.


"Ah tidak Nona. Hanya saja saya terpesona dengan kecantikan Nona. Maaf kalau saya lancang. Perkenalkan nama saya Mira, Nona bisa panggil saya Bibi atau kakak juga boleh." jawab Mira yang usianya sekitar 40 tahun.


Davina terdiam kemudian memberikan senyuman tipis kepada Mira.


"Terimakasih." ucap Davina ramah.


"Nona bisa memanggil saya jika membutuhkan sesuatu. Atau kalau Nona ingin makan apa, request saja ke saya. Keahlian masak saya tidak kalah dengan koki di restoran bintang lima." kata Mira bersemangat mempromosikan dirinya sendiri.


"Baiklah, terimakasih kasih banyak Kak Mira." ucap Davina membuat Mira tersenyum senang.


"Wah Nona memanggilku Kakak, aku merasa usiaku menjadi lebih muda 10tahun." sahut Mira bangga.


"Sudah, kembali kerjakan tugasmu." ucap Marvin memberi peringatan.


"Ba-baik Tuan Muda. Permisi." kata Mira gugup kemudian kembali ke dapur.


"Kau ini mengganggu kesenangan orang saja." ucap Davina melihat perubahan ekspresi Mira.


"Biarkan saja. Kalau tidak aku ingatkan, dia pasti akan terus mengoceh. Berisik sekali." kata Marvin.


Davina terkekeh kemudian melanjutkan makan siangnya.


"Tuan galak sekali. Padahal aku senang sekali bisa bicara dengan Nona. Sepertinya aku harus lebih sering berinteraksi dengan Nona, dia sepertinya wanita yang sangat baik." gumam Mira antusias.


Seperti perkataan Marvin, setelah makan siang ia benar-benar mengajak Davina berkeliling rumah. Marvin memberitahu Davina dimana saja letak dan fungsi ruangan didalam rumah. Setelah itu baru keluar rumah. Dimulai dari halaman depan baru kehalaman belakang yang ada kolam renang dan juga taman bunga yang tadi dilihat Davina dari balkon kamar.


"Siapa yang mendesain rumah ini?" tanya Davina.


"Ibuku. Taman bunga itu juga tempat favorit ibuku. Dulu sewaktu masih hidup, ibu selalu menghabiskan waktu ditaman itu. Bunga-bunga cantik itu dirawat oleh tangan ibuku sendiri. Sedangkan kolam ini dibuat oleh ayahku. Dia sangat senang berenang, terlebih kalau pulang bekerja. Katanya pikirannya kembali segar setelah berenang." jawab Marvin.


"Maaf, aku tidak bermaksud mengungkitnya." ucap Davina tak enak hati.


"Tenang saja. Aku sudah mengikhlaskan kepergian orangtuaku. Oh iya aku sudah lama tidak mengunjungi mereka. Bagaimana kalau nanti sore kau ikut denganku untuk menjenguk mereka?" ajak Marvin.


"Oke." sahut Davina dengan senang hati.


"Bolehkah aku ke taman itu?" tanya Davina.


"Boleh. Ayo kita kesana." ajak Marvin bersemangat.


Berbagai bunga warna-warni menghiasi taman itu.


"Pasti ibumu sangat menyayangimu." kata Davina.


"Iya, hanya saja aku tidak bisa memenuhi permintaan terakhirnya saat beliau masih hidup." ucap Marvin sedih.


"Memang apa permintaan ibumu?" tanya Davina penasaran.


"Menikah. 5 tahun yang lalu ibu memaksaku untuk menikah. Tapi saat itu aku sama sekali tidak tertarik berhubungan dengan wanita manapun. Seandainya waktu itu aku sudah bertemu denganmu, mungkin aku bisa memenuhi permintaannya." jawab Marvin.


"Memangnya kau yakin kalau bertemu denganku 5 tahun yang lalu akan mengejarku?" tanya Davina.


"Mungkin saja. Karena hanya kau gadis satu-satunya yang bisa membuatku penasaran." jawab Marvin jujur.


"Haish.. Mulut pria pasti seperti itu. Lagipula 5 tahun yang lalu aku masih 15 tahun. Mana mungkin aku mau menikah denganmu. Bisa jadi kau terkena kasus kriminal karena menikahi gadis dibawah umur." ucap Davina membuat Marvin terkekeh.


"Kau benar juga. Ternyata aku sangat beruntung bisa menikahi gadis muda sepertimu." kata Marvin, Davina pun tersipu.


"Aku mau lihat bunga mawar itu." ucap Davina bergegas mempercepat langkahnya menuju mawar merah didepannya.


Marvin tersenyum melihat tingkah Davina.


"Istri kecilku ini pemalu sekali." batin Marvin kemudian menyusul Davina.


...****************...


Hari menjelang sore, Marvin dan Davina sudah bersiap menuju tempat pemakaman orangtua Marvin. Mereka menaiki mobil hitam yang dikemudikan oleh Johan.


Butuh waktu 20 menit untuk sampai di tempat pemakaman. Terlihat pemakaman itu memang khusus untuk keluarga elit. Marvin mengajak Davina menuju tempat kedua orangtuanya.


"Ibu, Ayah.. apa kabar?" sapa Marvin kemudian berjongkok dihadapan dua makam.


Davina mengikuti Marvin dan berjongkok disampingnya.


"Marvin rindu kalian." ucap Marvin dengan suara bergetar.


Davina membelai lembut punggung Marvin seolah memberikan kekuatan untuk suaminya itu. Marvin tersenyum kepada Davina.


"Ibu, ini Davina istriku. Dulu ibu sangat ingin aku menikah bukan? Sekarang aku membawanya untuk bertemu ibu. Davina adalah gadis yang cantik dan baik." ucap Marvin membuat Davina terharu.


"Aku berharap pernikahan kami seperti Ayah dan Ibu. Langgeng sampai maut memisahkan. Doakan kami ya Yah, Bu." kata Marvin lagi.


"Selamat sore Ibu, Ayah." sapa Davina bergantian.


"Aku memang belum pernah bertemu dengan kalian. Tapi dari cerita Marvin, aku bisa menilai bahwa kalian adalah orang baik. Tolong restui pernikahan kami. Aku akan berusaha menjadi istri yang baik untuk Marvin. Aku akan selalu mendukung dan menemani Marvin dalam keadaan apapun." ucap Davina membuat hati Marvin menghangat.


Davina menatap Marvin kemudian memberikan senyuman manis kepada suaminya. Davina juga menggenggam erat tangan Marvin membuat pria itu tertegun. Marvin tersenyum kemudian keduanya berpamitan untuk kembali ke rumah.


"Apakah yang kau katakan didepan makam kedua orangtuaku itu serius?" tanya Marvin saat sudah tiba dikamarnya.


Davina menganggukkan kepalanya.


"Kau yakin? Bukankah didalam hatimu belum ada aku?" tanya Marvin serius.


Davina menghela nafas kemudian tersenyum.


"Iya untuk saat ini hatiku memang belum sepenuhnya menerimamu. Tapi kita tidak tahu apa yang akan terjadi kedepannya bukan? Aku juga pernah berkata padamu, kalau aku ingin menikah sekali seumur hidup." jawab Davina.


"Jadi apakah kau sudah mulai tertarik padaku?" tanya Marvin penasaran.


Davina menganggukkan kepalanya dengan malu-malu.


"Benarkah?" tanya Marvin tak percaya.


"Iya, tapi sepertinya kau harus berjuang lebih keras lagi." jawab Davina.


"Pasti. Aku pasti akan terus berusaha untuk menaklukanmu. Aku tidak akan menyerah." sahut Marvin bersemangat.


"Baiklah. Terimakasih banyak, Mas." ucap Davina membuat hati Marvin semakin bahagia.


"Aku pasti akan membuatmu bahagia bersamaku." tekad Marvin dalam hati.


-BERSAMBUNG