Istri Brutal Mr. Arogan

Istri Brutal Mr. Arogan
Episode 50 Mulai Khawatir


"Kita sudah sampai." ucap Marvin.


"Iya, aku tahu. Ayo turun." sahut Davina.


Kedu sejoli itu memasuki taman bermain. Terlihat tempat itu begitu lenggang, hanya ada beberapa pengunjung karena memang bukan hari libur.


Marvin merasa lega karena dirinya tidak terlalu suka berkumpul dengan banyak orang terlebih lagi orang tak dikenal.


"Jadi ini hukuman yang kau maksud?" tanya Marvin.


"Iya, kau harus menemaniku menaiki wahana ditempat ini sampai aku puas." jawab Davina bersemangat.


"Tentu saja." sahut Marvin dengan senyum tipis.


"Kalau tahu hukumannya adalah menemanimu maka aku akan melakukan banyak kesalahan dimasa depan." ucap Marvin pelan namun telinga Davina dapat mendengar perkataannya dengan jelas.


"Jangan konyol. Ini karena kau tidak melakukan kesalahan fatal. Jika terjadi lagi, jangan harap aku akan mengampunimu." ucap Davina membuat Marvin tertegun.


"Siapa sebenarnya istriku ini? Aku bisa merasakan aura yang sangat kuat darinya." gumam Marvin semakin penasaran dengan sosok Davina.


"Ayo, jadi menemaniku tidak?" panggil Davina saat melihat Marvin hanya berdiri mematung.


"Ah, tentu. Tunggu aku." sahut Marvin cepat kemudian bergegas menyusul istrinya.


Davina mengajak Marvin menaiki beberapa wahana yang memacu adrenalin. Terdengar suara tawa dan teriakan Davina menandakan gadis itu benar-benar menikmati permainannya.


Tak terasa hari sudah menjelang sore. Waktu setengah hari telah Marvin dan Davina habiskan di taman bermain. Marvin dapat melihat wajah bahagia dan kepuasan Davina selama bermain ditempat itu.


"Apa kau sudah puas?" tanya Marvin memastikan saat keduanya sudah berada didalam mobil.


"Iya. Terimakasih sudah mau menemaniku." jawab Davina dengan tersenyum simpul.


"Sama-sama. Kalau kau ingin aku menemanimu lagi kesini, bilang saja padaku." ucap Marvin serius.


"Kupikir waktumu tidak akan sesenggang itu." sahut Davina mengingat kesibukan Marvin.


"Kau hanya perlu mengatakannya padaku. Waktuku adalah milikmu." ucap Marvin dengan tatapan lembut.


"Baiklah, aku akan mencatatnya dalam agenda waktu liburku." sahut Davina membuat Marvin terkekeh.


"Kenapa kau tertawa? Apa yang lucu?" tanya Davina heran.


"Tidak ada. Aku hanya baru tahu kalau kau cukup imut sepanjang bermain tadi. Kau terlihat seperti anak-anak yang sangat bersemangat." jawab Marvin jujur.


"Hei, bukankah kau sedang mengolokku?" protes Davina.


"Tidak, aku mengatakan yang sebenarnya. Aku suka dengan perubahanmu yang sudah tidak canggung lagi dihadapanku." ucap Marvin lembut dengan senyum menawan diwajahnya.


Davina terdiam sejenak kemudian membalas senyuman suaminya.


"Ya, aku akan berusaha memperbaikinya demi hubungan kita." sahut Davina.


Marvin tidak menyangka jika gadis yang dihadapannya sudah benar-benar membuka hati untuknya.


"Terimakasih istriku." ucap Marvin yang dibalas anggukan kepala dan senyuman manis Davina.


"Maaf, Mas. Aku belum bisa membalas panggilan mesramu. Beri aku sedikit waktu lagi." ucap Davina didalam hati.


......................


Mansion keluarga Harris.


"Kau pasti lelah bermain seharian, istirahatlah. Aku masih ada beberapa pekerjaan yang harus kuselesaikan." ucap Marvin.


"Lakukanlah pekerjaanmu. Aku akan tidur jika sudah mengantuk." sahut Davina.


"Kau tidak ingin menunggu suamimu?" tanya Marvin sengaja menggoda Davina.


"Tergantung. Kalau kau terlalu lama maka aku lebih baik tidur duluan." jawab Davina malu-malu.


"Baiklah aku akan menyelesaikannya dengan cepat." sahut Marvin bersemangat kemudian bergegas menuju keruang kerjanya yang berada disebelah kamar.


"Ada apa dengannya? Dia terlihat bersemangat sekali? Apakah aku mengatakan sesuatu yang salah?" tanya Davina dalam hati.


Drt Drt


Suara getar ponsel membuyarkan lamunan Davina.


Davina menautkan alisnya saat mengetahui panggilan dari Orkan. Jarang sekali pengawalnya itu menghubunginya jika bukan masalah darurat.


"Ada apa? Ada sesuatu yang penting?" tebak Davina tanpa basa-basi saat mengangkat telpon dari Orkan.


"Apakah kau tahu siapa orang itu?" tanya Davina.


"Saya sudah menyelidikinya, Nona. Sepertinya orang itu juga yang merencanakan kecelakaan Tuan Marvin." jawab Orkan.


"Kau yakin?" tanya Davina memastikan.


"Iya Nona. Saya sudah meminta orang-orang saya untuk mengikuti orang suruhannya dalam beberapa hari ini. Saya bisa pastikan kalau dugaan saya itu benar." jawab Orkan yakin.


"Kau sudah mengetahui identitas orang itu? Cepat kirimkan kepadaku." ucap Davina dengan nada geram.


"Baik Nona." sahut Orkan kemudian memutuskan panggilan telponnya.


Dengan cepat Orkan mengirimkan sebuah foto disertai dengan identitas lengkap orang yang mengawasi Davina dan juga Marvin.


"Apakah Marvin mengenal orang ini? Sebaiknya aku tanyakan saja kepadanya kalau dia sudah kembali." gumam Davina.


"Kau belum tidur?" tanya Marvin saat mengetahui Davina masih sibuk dengan ponsel ditangannya.


"Bukankah kau yang memintaku untuk menunggumu?" sahut Davina.


"Ya kau benar. Aku senang kau mau menungguku. Ada apa? Apa ada sesuatu yang menganggu pikiranmu?" tanya Marvin menyadari istrinya sedang memikirkan sesuatu.


"Iya, aku ingin menanyakan beberapa hal kepadamu." jawab Davina serius.


"Katakanlah." sahut Marvin tak kalah serius.


"Apa kau mengenal orang ini?" tanya Davina dengan menunjukkan sebuah foto dilayar ponselnya.


"Darimana kau mendapatkannya?" tanya Marvin penasaran.


"Baru saja Orkan menelponku dan memberitahu kalau ada orang yang mengawasi kita beberapa hari ini, dan dialah orangnya." jawab Davina membuat Marvin mengerutkan keningnya.


"Kau sedang mengutus orang untuk menyelidiki aku?" tanya Marvin.


"Tidak. Pengawalku hanya melakukan tugasnya untuk melindungiku." jawab Davina jujur membuat Marvin setuju dengan jawaban istrinya itu.


"Dia adalah rekan bisnisku, Anton." ucap Marvin.


"Apakah kau berselisih dengannya?" tanya Davina penasaran.


"Seharusnya tidak. Kami hanya mitra bisnis, bahkan baru dua kali ini kami bekerja sama." jawab Marvin santai.


"Sebaiknya kau berjaga-jaga. Orkan bilang dia juga merupakan dalang dibalik dua kecelakaan yang menimpamu tempo hari." ucap Davina memberi peringatan.


"Seharusnya itu tidak mungkin. Aku memang merasa orang itu aneh, tapi aku tidak pernah berpikir kalau dia berniat mencelakaiku." sahut Marvin berpikir realistis.


"Jadi kau meragukan orangku?" tanya Davina memicingkan matanya.


"Aku tidak bilang begitu. Hanya saja kau bertindak gegabah. Aku akan meminta Johan untuk menyelidikinya besok. Aku tidak ingin kau terlibat dengan masalahku." jawab Marvin lembut.


"Bilang saja kalau kau tidak mempercayaiku." gerutu Davina kesal.


"Aku sangat mempercayaimu, Sayang. Hanya saja aku yang akan memastikannya sendiri." sahut Marvin jujur dengan menggenggam tangan istrinya.


"Itu sama saja kau tidak mempercayaiku. Aku hanya khawatir padamu dan ingin memperingatkanmu." ucap Davina membuat Marvin tersenyum.


"Jadi kau sudah mulai perhatian padaku? Aku merasa sangat tersanjung." goda Marvin membuat Davina gelagapan.


"Sial! Aku keceplosan." batin Davina langsung menundukkan wajahnya.


"Hem... Kenapa istriku diam saja? Rupanya istriku ini pemalu sekali." goda Marvin lagi.


"Hentikan. Bukankah itu wajar kalau seorang istri mengkhawatirkan keselamatan suaminya?" ucap Davina jujur.


"Oh jadi benar kau mengkhawatirkan aku?" tanya Marvin dengan setengah berbisik.


"Berhenti menggodaku kalau tidak aku akan marah." ancam Davina.


"Baiklah-baiklah aku tidak menggodamu lagi. Bolehkah aku bertanya satu hal padamu?" tanya Marvin.


"Hem.. Silahkan." sahut Davina.


"Aku tahu tidak mudah untuk menyelidiki Anton. Hanya orang-orang tertentu yang bisa menembus privasinya. Jadi bagaimana kau bisa mendapatkan informasinya? Siapa dirimu sebenarnya?" tanya Marvin membuat Davina tersentak.


DEG!


"Apakah dia sudah mulai curiga padaku? Bagaimana ini? Apa yang harus aku katakan padanya? Haruskah aku mengungkapkan identitasku yang sebenarnya kepadanya sekarang?" tanya Davina dalam hati.


-BERSAMBUNG