Istri Brutal Mr. Arogan

Istri Brutal Mr. Arogan
Episode 37 Wedding


Hari yang ditunggu-tunggu Marvin akhirnya tiba.


Hari ini Marvin dan Davina sudah sah menjadi pasangan suami istri. Sesuai kesepakatan diantara keduanya, mereka menikah tanpa ada perayaan apapun.


"Sekarang kau harus menyiapkan panggilan khusus untukku." pinta Marvin.


"Panggilan khusus?" tanya Davina dengan raut wajah kebingungan.


"Ya. Jadi apa kau sudah memikirkannya, Sayang?" tanya Marvin sengaja menekankan panggilannya.


"Ah.. Kalau begitu aku akan memanggilmu Kakak. Bagaimana?" sahut Davina gugup.


"Kakak? Itu terdengar tidak romantis sama sekali." kata Marvin menolak.


"Lalu aku harus memanggilmu apa?" tanya Davina bingung.


"Kau bisa memanggilku seperti aku memanggilmu. Bagaimana, Sayang?" goda Marvin seketika membuat Davina tersipu.


"Tidak. Aku malu, aku belum siap dengan panggilan itu." tolak Davina hati-hati.


Marvin menghela nafas kemudian memberikan senyuman tipis kepada Davina.


"Bagaimana kalau kau panggil aku, Mas?" ucap Marvin.


"Mas?" tanya Davina heran namun langsung mendapatkan anggukan kepala Marvin.


"Oke, Mas." sahut Davina membuat Marvin tersenyum puas.


"Tidak perlu terburu-buru, istriku. Aku akan membuatmu perlahan-lahan jatuh hati padaku." batin Marvin.


...****************...


"Aku tidak menyangka akan menyaksikan pernikahan putri kita dengan cara seperti ini, Yah." ucap Sera lirih.


Hari ini Davina mengirimkan sebuah foto buku pernikahan yang menandakan bahwa ia telah sah dipersunting Marvin Harris kepada ibunya.


"Semua ini demi keselamatannya, Sayang. Aku pasti akan mempersiapkan pesta pernikahan termegah untuk putri kita. Tapi untuk saat ini aku ingin mengetahui siapa musuh dalam selimutku jadi aku benar-benar bisa memastikan keselamatan Vina." kata Adam mencoba menenangkan istrinya.


"Ya. Aku dulu pernah berharap andai saja kau tidak memiliki latar belakang seperti ini pasti putri kita tidak perlu mengalami kesulitan untuk menyembunyikan identitasnya." ucap Sera sedih.


"Apa kau menyalahkanku?" tanya Adam.


"Tidak. Semua ini sudah takdir. Nyawa Davina lebih penting dari apapun." jawab Sera.


"Bersabarlah, Sayang." ucap Adam membelai lembut tangan istrinya.


"Cepatlah kau selesaikan musuhmu itu, aku sudah tidak sabar ingin segera mengumumkan kepada dunia bahwa Davina adalah putriku." jawab Sera.


"Baik. Aku akan segera menemukannya." sahut Adam bersemangat.


Keputusan Adam menyembunyikan Davina adalah karena peristiwa 20 tahun silam saat Sera tengah mengandung Davina. Banyak serangan yang tertuju kepada Sera, karena tidak ingin keluarga Carlos memiliki penerus. Namun sampai saat ini Adam belum bisa menemukan siapa dalang yang melatarbelakangi serangan musuh. Adam telah mengeluarkan banyak tenaga dan juga materi untuk membuat orang-orang kepercayaannya bungkam tentang identitas putrinya. Jika ada yang mencoba membocorkan maka Adam tidak segan-segan untuk menghabisinya.


Untuk saat ini Adam bisa merasakan tidak ada pergerakan musuh namun ia tidak ingin mengendurkan kewaspadaannya. Adam yakin musuh tersembunyinya itu sedang menunggu dirinya lengah dan melakukan penyerangan. Maka dari itu Adam tidak mau mengungkap identitas Davina sebelum bisa menemukan musuhnya. Terlebih lagi jika orang-orang tahu kalau penerus Carlos adalah seorang perempuan, sudah bisa dipastikan keselamatan Davina akan benar-benar terancam.


Setelah Adam mendengar kalau Marvin tertarik dengan Davina maka ia dengan mudah merestui hubungan keduanya. Walau keluarga Harris kekuatannya tidak bisa dibandingkan dengan Carlos tapi kemampuan Marvin sangat bisa diandalkan. Adam percaya kalau Marvin pasti akan melindungi Davina dengan baik.


"Ayah ayo segera kita kembali ke kota K. Kalau kita terlalu lama disini aku takut kalau musuh akan menemukan Vina." ucap Sera khawatir.


"Kau tenang saja, aku sudah pesan tiket untuk nanti sore. Aku juga tidak ingin memberi celah sedikitpun kepada musuh. Aku tidak mungkin membiarkan orang menyakiti putriku." kata Adam tegas.


Sera tersenyum kemudian memeluk suaminya erat. Adam membalas pelukan istrinya dengan menghela nafas lega.


"Aku tidak akan membiarkan siapapun menyakiti kalian. Aku pasti akan selalu melindungi kalian sekalipun nyawaku sebagai taruhannya." gumam Adam penuh keyakinan.


...****************...


"Mulai sekarang kau harus tinggal bersamaku disini." ucap Marvin setelah keduanya sampai di mansion milik keluarga Harris.


"Ternyata luas juga. Sepertinya kekayaan Harris memang tidak bisa dipandang sebelah mata." gumam Davina.


"Tunggu dulu. Bagaimana dengan kuliahku? Bukankah jarak rumah ini ke kampus lumayan jauh? Aku akan membutuhkan lebih banyak waktu untuk perjalanan." kata Davina teringat statusnya yang mahasiswi.


"Kau tidak perlu khawatir, aku akan mengantar jemput kamu setiap hari." ucap Marvin.


"Tidak tidak." tolak Davina cepat.


"Kenapa?" tanya Marvin bingung.


"Jika setiap hari aku menaiki mobil mewahmu pasti banyak orang yang akan mencurigaiku. Aku belum siap kalau hubungan kita terungkap." jawab Davina.


"Tapi kau adalah istriku. Tidak mungkin aku membiarkan kau pulang pergi naik taxi sendirian." ucap Marvin keberatan.


"Apa kau bisa membeli sebuah mobil yang sederhana?" tanya Davina.


"Apa kau ingin mengendarai mobil sendiri? Tidak. Itu terlalu bahaya untukmu. Aku tidak mengizinkannya." tolak Marvin tegas.


"Astaga ternyata pria ini protektif sekali. Belum juga menjadi istrinya satu hari." batin Davina.


"Kalau begitu kau bisa mengantar jemput aku dengan mobil itu. Aku rasa tidak akan terlihat mencolok sehingga orang-orang tidak akan dengan mudah mengenalimu." ucap Davina membuat Marvin berpikir sejenak.


"Oke kalau begitu kita ke showroom sekarang." ajak Marvin.


"Hah? Sekarang?" tanya Davina kaget.


"Jo, antar aku untuk membeli mobil." perintah Marvin.


"Baik Tuan." sahut Johan patuh.


"Aku benar-benar tidak bisa menghadapinya." gumam Davina pasrah mengikuti Marvin masuk kedalam mobil.


Perjalanan selama 30 menit, akhirnya Marvin dan Davina sampai disebuah showroom mobil. Sempat ada drama dalam perjalanan yang hampir membuat kepala Johan pusing tujuh keliling. Bagaimana tidak, Davina sudah mengatakan kepada Marvin kalau ingin mobil yang sederhana tapi pria itu justru menunjukkan showroom yang menyediakan mobil-mobil mewah. Akhirnya sampailah mereka dipilihan terakhir, tempat yang menyediakan mobil-mobil bekas.


"Kau yakin ingin membeli mobil disini?" tanya Marvin memastikan.


"Ya. Kau ikuti saja aku." jawab Davina membuat Marvin terpaksa menyetujui istrinya.


Terlihat karyawan yang tersenyum senang menyambut kedatangan Marvin dan Davina. Melihat tampilan Marvin saja sudah bisa membuat karyawan itu menilai bahwa kali ini ia kedatangan tamu yang tidak biasa.


"Selamat siang Tuan, Nona. Apakah ada mobil yang Tuan dan Nona inginkan disini? Kebetulan ada beberapa koleksi yang baru saja datang. Apakah Tuan dan Nona tertarik untuk melihatnya?" sambut karyawan pria dengan hati-hati yang terlihat seusia dengan Marvin.


"Tunjukkan kepada kami." pinta Davina ramah membuat pria itu tersenyum puas namun segera mengalihkan pandangannya karena Marvin langsung memberikan tatapan tajam kepadanya.


"Pria ini benar-benar menakutkan. Sepertinya aku harus hati-hati melayaninya agar tidak kehilangan pekerjaanku." gumam pria itu ketakutan.


Davina menyenggol lengan Marvin saat melihat karyawan dihadapannya ketakutan melihat Marvin.


Davina memberikan tatapan tajam kepada Marvin, namun pria itu malah memberikan senyuman membuat Davina merasa aneh.


Karyawan itu menunjukkan beberapa koleksi mobil terbaru yang tampilannya masih sangat bagus-bagus. Pria itu juga menjelaskan secara rinci kelebihan dan kekurangan masing-masing unit.


"Mas, kau pilih yang mana?" tanya Davina setengah berbisik membuat Marvin terkejut.


Marvin merasakan desiran aneh saat mendengar Davina memanggilnya dengan mesra.


"Terserah kau saja. Mana yang kau suka, aku akan membayarnya." jawab Marvin tersenyum.


Davina menghela nafas kemudian kembali fokus untuk memilih mobil yang ada dihadapannya.


"Bagaimana kalau yang ini?" tunjuk Davina pada mobil berwarna hitam pekat.


Dari tampilannya terlihat sangat elegan, meskipun bukan seri terbaru tapi mobil itu merupakan merk mobil ternama. Desain yang sederhana dan tidak terlalu mencolok memberikan kesan tidak terlalu mewah. Davina berpikir tidak akan menjadi pusat perhatian dengan mobil itu.


"Seleramu bagus juga. Oke kita ambil mobil ini." sahut Marvin setuju.


Marvin memberikan kartu hitam kepada karyawan itu dan membayarnya lunas.


"Jo, kau pulanglah lebih dulu. Aku dan istriku ingin berkeliling sebentar menggunakan mobil baru." titah Marvin.


"Tapi Tuan..."


"Kau tidak perlu khawatir. Aku hanya berkeliling sebentar saja. Aku pastikan akan kembali dengan selamat bersama istriku." ucap Marvin sebelum Johan membantahnya.


"Baik Tuan dan Nona berhati-hatilah." kata Johan kemudian berpamitan.


"Sepertinya asistenmu itu sangat mengkhawatirkanmu." ucap Davina.


"Iya, bahkan dia lebih cerewet daripada Nenek." sahut Marvin membuat Davina terkekeh.


"Kau ingin pergi kemana? Aku akan mengantarmu ke tempat yang kau inginkan." tanya Marvin menawarkan.


"Aku ikut kau saja." jawab Davina.


"Baiklah. Ayo berangkat." ajak Marvin membukakan pintu mobil dan mempersilahkan istrinya masuk lebih dulu.


"Terimakasih." ucap Davina tersenyum.


...----------------...


-BERSAMBUNG