Istri Brutal Mr. Arogan

Istri Brutal Mr. Arogan
Episode 67 Sisi Lain


"Kenapa daritadi diam saja?" tanya Davina dalam perjalanan.


Kali ini Marvin, Davina bersama Mely dan Orkan berada dalam satu mobil yang sama. Sedangkan Adam sudah menuju bandara untuk kembali ke kota K. Tujuan Adam hanyalah untuk menemui Marvin dan memberitahunya untuk melindungi Davina. Selain itu Adam juga tidak ingin Anton mengetahui keberadaannya.


Marvin menatap Davina lekat kemudian beralih melihat dua orang yang duduk di depan.


"Kita bicara dirumah saja." ucap Marvin.


"Baiklah." sahut Davina pasrah.


"Apa yang terjadi? Baru kali ini aku lihat Nona khawatir." batin Mely yang sedari tadi memperhatikan.


"Nona dan Tuan tidak ingin mampir makan dulu?" tawar Orkan karena sudah waktunya makan siang.


"Tidak perlu. Kami makan dirumah saja." jawab Marvin ketus.


Orkan hanya menganggukkan kepalanya dan kembali fokus dengan kemudinya.


Sepanjang perjalanan tidak ada pembicaraan yang dilakukan keempat orang itu. Hingga tibalah dimansion kediaman Harris.


Marvin dan Davina turun, sedangkan Orkan dan Mely kembali ke tempatnya masing-masing. Tidak sembarang orang diperbolehkan masuk ke mansion Harris. Walaupun Orkan dan Mely orang kepercayaan Davina, tapi dirumah itu kekuasaan tetaplah milik Marvin.


"Dimana Johan?" tanya Marvin kepada Thomas.


"Bukannya tadi pergi bersama Tuan?" tanya Thomas kembali membuat Marvin teringat kalau Johan juga dibawa oleh orang Carlos.


"Kau tenang saja. Johan baik-baik saja." sahut Davina setelah itu dirinya berlalu menuju kamar lebih dulu.


"Apakah Nona sedang marah, Tuan?" tanya Thomas penasaran.


"Bukan urusanmu." jawab Marvin ketus lalu bergegas menyusul Davina.


"Loh? Apakah hari ini mau hujan? Tuan dan Nona galak sekali." gumam Thomas.


"Kenapa kau masuk ke kamar lebih dulu?" tanya Marvin.


"Aku mau mandi." jawab Davina tanpa menatap Marvin.


"Hari masih siang, nanti sore saja mandinya. Ayo kita makan dulu." ajak Marvin.


"Hem.. Kau duluan saja." ucap Davina.


BRAK!


Davina menutup pintu kamar mandi cukup keras membuat Marvin terjingkat kaget.


"Eh? Apa benar kata Thomas tadi kalau dia sedang marah? Tapi apa kesalahan yang kulakukan?" tanya Marvin bingung.


Tanpa pikir panjang Marvin pun langsung turun ke ruang makan lebih dulu.


10 menit berlalu, Davina sudah selesai mandi.


"Cih! Dia benar-benar makan duluan? Benar-benar tidak peka." gerutu Davina saat melihat Marvin sudah tidak kelihatan batang hidungnya.


Davina menghempaskan handuk diatas kasur dengan kasar.


"Tunggu! Ada apa denganku? Kenapa aku marah-marah tidak jelas padanya?" tanya Davina heran dengan tingkahnya sendiri.


"Dasar aneh!" ucap Davina mengumpat dirinya sendiri.


Setelah berganti pakaian, Davina segera menyusul ke ruang makan. Namun ia pun tak melihat Marvin disana.


"Kemana dia?" tanya Davina.


"Apa kau sedang mencariku, istriku?" tanya Marvin hampir saja membuat Davina meloncat kaget.


"Bisa tidak kau itu jangan membuatku jantungan?" protes Davina sambil mengelus dadanya.


"Maaf. Aku hanya ingin mengejutkanmu saja. Kau sedang mencariku kan? Ngaku saja." goda Marvin.


Davina memutar kedua bola matanya malas meladeni tingkah aneh Marvin.


"Dimana Mira?" tanya Davina.


"Kau ingin makan apa, Sayang? Biar suamimu ini yang menyiapkan untukmu." tanya Marvin.


"Memangnya kau bisa masak?" tanya Davina tak percaya.


"Tentu saja. Kau rasakan saja nanti bagaimana nikmatnya masakanku. Pasti kau akan ketagihan." jawab Marvin percaya diri.


"Benarkah? Aku tidak yakin." cibir Davina.


"Terserah kau saja. Aku tidak pilah-pilih makanan." jawab Davina.


"Baiklah. Kau tunggu disini istriku. Dalam waktu 30 menit makanan akan siap." ucap Marvin antusias.


"Benarkah dia bisa masak?" tanya Davina ragu.


"Nona tenang saja, kemampuan memasak Tuan Muda tidak perlu diragukan lagi." ucap Mira yang tiba-tiba muncul dibelakang Davina.


"Astaga Mira kau mengagetkanku saja! Apakah semua orang disini memang hoby membuat orang jantungan ya?" kata Davina yang lagi-lagi dibuat terkejut.


"Maaf Nona. Hehe." sahut Mira bersalah.


"Setelah sekian lama akhirnya Tuan Muda mau masuk ke dapur. Sepertinya Nona benar-benar spesial dihati Tuan Marvin." ucap Mira.


"Kalau dia jarang kedapur bagaimana kau bisa bilang kalau kemampuan memasaknya tidak perlu diragukan? Aku khawatir dia akan membuat dapur terbakar." kata Davina.


"Semenjak Nyonya meninggal, Tuan Muda tidak pernah masuk ke dapur. Itu membuat Tuan Muda mengingat kenangan-kenangan bersama Nyonya selama masih hidup. Kemampuan memasak Tuan Muda tidak lepas dari ajaran Nyonya." ucap Mira menjelaskan.


Davina merasa pedih saat mendengar cerita itu. Davina bergegas menyusul Marvin yang sibuk didapur.


"Ada yang perlu kubantu?" tanya Davina.


"Tidak perlu. Istriku cukup duduk saja menunggu makanan siap." jawab Marvin dengan senyum manis.


DEG!


Davina tersihir oleh senyuman pria tampan itu. Jarang sekali ia melihat wajah riang suaminya.


"Kau tampan." puji Davina seketika Marvin menghentikan aktivitasnya.


"Kau bilang apa?" tanya Marvin ingin memastikan pendengarannya.


"Kau tampan." jawab Davina jujur.


"Kau benar-benar memujiku?" tanya Marvin memastikan.


"Iya. Aku ingin selalu melihat senyummu yang seperti tadi." jawab Davina.


Marvin menghampiri Davina seolah ingin kembali memastikan bahwa telinganya tidak salah dengar.


"Tersenyumlah." pinta Davina dengan tatapan lembut.


Marvin menatap istrinya lalu melengkungkan bibirnya.


"Nah. Kau terlihat sangat tampan kalau tersenyum. Aku menyukainya." kata Davina namun segera menutup mulut dengan kedua tangannya.


Davina menundukkan wajahnya malu-malu.


"Hei, aku sudah mendengarnya. Kau tidak bermaksud untuk menarik kata-katamu tadi kan?" goda Marvin dengan senyum menyeringai.


"Eh itu nanti gosong." ucap Davina sambil menunjuk kearah kompor untuk mengalihkan pembicaraan.


"Baiklah kalau kau masih malu dan tidak mau mengakuinya. Tapi aku tadi sudah mendengarnya dengan jelas kalau kau menyukaiku." kata Marvin kembali melanjutkan acara memasaknya.


"Percaya diri sekali. Aku hanya menyukai senyumanmu bukan dirimu." gerutu Davina tapi jelas sekali kalau dia sedang berbohong.


"Aku akan sabar menunggu sampai kau mengakui perasaanmu, kelinci kecilku." batin Marvin.


...****************...


"Kau sudah dapat informasi tentang jadwal keseharian gadis itu?" tanya Anton.


"Iya Tuan. Nona Davina kuliah di Universitas Y. Selain berangkat ke kampus, dia tidak punya kesibukan lain." jawab Robert.


"Gadis itu benar-benar misterius. Aku jadi penasaran siapa dia sebenarnya." gumam Anton.


"Nona Davina punya dua teman gadis yang cukup dekat dengannya. Apakah Tuan ingin saya menemui mereka agar mendapatkan informasi lebih detail tentang Nona Davina?" tanya Robert menawarkan.


"Tidak perlu. Aku rasa informasi dari mereka tidak terlalu penting. Aku akan mencari tahu sendiri dari orangnya secara langsung." tolak Anton.


"Bagaimana dengan Carlos? Apa sudah ada pergerakan?" tanya Anton kemudian.


"Saya tidak bisa menyelidikinya Tuan. Semua akses yang terhubung dengan Carlos sengaja diputus. Sepertinya Tuan Carlos sudah menyadari rencana kita, Tuan." jawab Robert membuat Anton menyeringai.


"Kemampuannya memang tidak tertandingi. Tapi aku akan mengulur waktu dulu. Kita tunda rencana untuk sementara. Saat ini aku sedang tertarik dengan wanita mudanya Harris." ucap Anton dengan tersenyum aneh.


-BERSAMBUNG