
Seperti rencana Davina semalam, hari ini ia mengajak Nenek Julia dan Mely berbelanja dipusat kota.
"Apakah ada yang ingin Nenek beli?" tanya Davina menawarkan.
"Aku ingin melihat perhiasan di toko itu." jawab Julia sambil menunjuk sebuah toko perhiasan mewah yang cukup besar.
"Baik. Ayo kita kesana." ajak Davina menggandeng Julia bersemangat diikuti Mely dibelakangnya.
"Perhiasan apa yang Nenek cari? Kalung, cincin atau gelang?" tanya Davina.
"Nenek mau lihat-lihat dulu." jawab Julia yang diangguki Davina.
Mata Julia tertuju pada sebuah liontin berlian yang terpajang ditoko itu.
"Vina, kemarilah." panggil Julia.
"Iya, Nek? Apa Nenek sudah menemukan yang cocok?" tanya Davina.
"Kau lihat itu, bagus tidak?" tanya Julia sembari menunjuk sebuah liontin.
"Ah.. Cantik sekali, Nek. Selera Nenek tidak perlu diragukan lagi." jawab Davina yang langsung terpesona dengan liontin yang ditunjuk oleh Julia.
"Nona benar sekali. Edisi ini terbatas dan hanya tersedia 2 buah di negara ini." sahut pelayan toko.
"Baiklah, aku ambil yang ini." ucap Julia sambil menyodorkan sebuah kartu hitam miliknya.
"Baik Nyonya, tunggu sebentar." sahut pelayan wanita itu ramah.
"Nak, apakah ada yang kau inginkan? Nenek akan membelikannya untukmu." tanya Julia kepada Mely.
"Ah saya? Ti-tidak Nyonya, tidak perlu. Saya tidak cocok memakai perhiasan mahal seperti ini." tolak Mely.
"Vina, ajak temanmu itu memilih yang ia suka. Jika tidak maka aku akan membelikannya semua perhiasan di toko ini." ucap Julia membuat Davina dan Mely membulatkan matanya secara bersamaan.
"Ba-baik Nyonya, Nenek." kata Davina dan Mely serempak.
"Nona apakah memang begini cara orang kaya menghabiskan uangnya?" tanya Mely heran.
"Sudah kau pilih saja mana yang kau suka. Atau kau mau dibelikan semua perhiasan disini?" kata Davina.
"Tidak Nona. Saya tidak berani." jawab Mely.
"Kehidupan orang kaya benar-benar aneh." batin Mely sembari melihat-lihat perhiasan mencari yang cocok dengan seleranya.
"Nona, aku pilih yang ini saja." ucap Mely.
"Oke." sahut Davina.
Setelah membayar ketiga wanita itu bergegas menuju sebuah butik.
"Kalian anak muda pilihlah yang kalian suka. Nenek yang akan membayarnya." seru Julia.
"Wah, Nenek baik sekali." sahut Davina bersemangat.
Julia tersenyum puas setelah itu sibuk melihat-lihat beberapa model pakaian yang terpajang dibutik itu. Sedangkan Davina dan Mely memilih kesudut yang lain.
SRET!
Tiba-tiba seorang wanita menyerobot pakaian yang sudah dipegang Julia.
"Hei!" teriak Julia.
"Mbak, aku mau yang ini." ucap gadis itu tanpa menghiraukan keberadaan Julia.
"Maaf Nona, tapi Nyonya ini sudah memilihnya lebih dulu." ucap pegawai butik sopan.
"Hei, tapi aku menginginkannya. Lagipula ini adalah model untuk anak muda mana mungkin nenek ini mau memakainya. Ya kan, Nek?" kata wanita itu dengan tak tahu malu.
"Nona ini berani sekali. Sepertinya dia tidak tahu siapa yang sudah ia singgung." batin pegawai itu.
Mendengar suara keributan, Davina bergegas mengajak Mely menuju kearah sumber suara.
"Nenek, ada apa? Nenek baik-baik saja kan?" tanya Davina khawatir.
"KAU!" pekik wanita itu.
Davina menoleh, ia mengerutkan keningnya lalu memutar kedua bola matanya malas.
"Ada masalah apa, Nek?" tanya Davina tak menganggap kehadiran Amel.
"Ah Nenek mau memilih baju itu tapi dia tiba-tiba mengambilnya. Pegawai itu saksinya." jawab Julia pura-pura memasang wajah sedih.
"Hei, aku yang menyentuhnya lebih dulu, Nenek itu hanya melihat-lihatnya." sahut Amel tak terima.
Davina memberikan tatapan tajam kepada Amel.
"Kenapa kau melihatku seperti itu? Apakah dia nenekmu? Lebih baik kau menjaganya agar tidak hilang di keramaian." kata Amel tak sopan.
"Lagipula bukannya kau gadis biasa? Mana mungkin sanggup membeli sepotong kain disini." hina Amel membuat Davina hilang kesabaran.
Davina menghembuskan nafas kasar sedangkan Mely dan Julia hanya menjadi penonton. Sepertinya mereka sedang menantikan adegan seru.
"Apakah aku pernah menyinggungmu? Kenapa setiap kali bertemu, kau selalu mencari masalah denganku?" tanya Davina dingin.
"Mencari masalah denganmu? Haha.. Kau tidak selevel denganku." jawab Amel percaya diri.
Davina menyeringai tipis kemudian mengajak Julia dan Mely berpindah tempat. Bukan karena Davina tidak mampu melawan, ia hanya malas berhadapan dengan orang tidak waras.
"Haha kenapa kau tidak melawan? Sepertinya kau takut denganku? Eh, bukankah Nenekmu menginginkan baju ini bagaimana kalau aku membayarnya untukmu?" cegah Amel seketika membuat Davina kembali emosi.
PLAK!
Davina tercengang, karena tangannya kalah cepat dengan Julia.
"Ssshh..." ringis Amel merasakan perih karena tamparan Julia yang begitu keras membuat sudut bibirnya robek.
"Apakah orangtuamu tidak pernah mendidikmu?" tanya Julia penuh amarah.
"Dasar wanita tua berani sekali menamparku. Vina, beritahu pada Nenekmu ini siapa diriku!" kata Amel masih dengan kesombongannya.
"Apakah kita saling mengenal? Aku tidak tahu siapa dirimu." jawab Davina membuat Amel tak terima.
"Berani sekali kau! Lihat saja akan kupastikan keluarga Wijaya memberimu pelajaran." ucap Amel penuh ancaman.
"Oh jadi kau dari keluarga Wijaya? Haha ternyata hanya seekor lalat saja berani sekali menantang harimau." kata Julia dengan aura yang seketika membuat Amel merinding ketakutan.
"Sudahlah Nek, tidak perlu menanggapinya. Ayo kita pergi ke tempat lain." ajak Davina.
"Baiklah. Kau bungkus semua pakaian edisi terbaru disini dan kirimkan ke mansion." titah Julia kepada pegawai butik.
"Baik Nyonya, maaf atas ketidaknyamanannya." sahut wanita itu tak enak hati.
Julia menggandeng Davina dan disusul oleh Mely meninggalkan Amel yang masih kesal karena belum selesai melampiaskan amarahnya.
"Hei! Kalian lihat saja aku pasti akan membuat kalian menyesal karena sudah mempermalukanku." teriak Amel yang saat ini sudah menjadi pusat perhatian pengunjung butik.
"Nona, sepertinya Nona harus memikirkannya dua kali." ucap pegawai butik lirih.
"Siapa kau? Hanya pegawai rendahan berani sekali memperingatkanku. Apa kau juga ingin aku buat kehilangan pekerjaanmu?" tanya Amel tak suka.
"Apakah Nona tidak tahu siapa yang baru saja Anda singgung?" tanya pegawai itu.
"Memangnya dia siapa? Bukankah hanya wanita tua dan cucunya." jawab Amel tak peduli.
"Haha sepertinya Nona baru keluar dari goa ya? Apakah Nona benar-benar tidak tahu siapa Nyonya Besar itu?" tanya pegawai itu lagi memastikan.
"Berani sekali kau menghinaku. Siapa dia beritahu aku!" ancam Amel.
"Dia adalah Nyonya Julia Harris. Apakah Nona tidak pernah mendengar nama keluarga besar itu? Di kota ini tidak ada satu orangpun yang berani menyinggungnya." jawab pegawai itu.
DEG!
Tiba-tiba tubuh Amel lemas seketika. Hampir saja tubuhnya ambruk kalau tidak segera ditopang oleh pegawai butik.
"Mati aku! Kenapa aku berani sekali menyinggung keluarga Harris? Gawat, jika Papa tahu pasti tidak akan memaafkanku!" gumam Amel bergidik ngeri.
"Kenapa Davina bisa bersama Nyonya Harris? Apa hubungan mereka sebenarnya?" tanya Amel penasaran.
-BERSAMBUNG
"