
Luna menatap intens Davina seolah mencari bukti bahwa dugaannya selama ini benar. Namun Luna hanya mendapati Davina yang tetap terlihat santai tanpa perubahan ekspresi apapun.
"Memang ada apa dengan identitasku?" tanya Davina penasaran.
"A-aku hanya menduga-duga saja. Kau sangat misterius." jawab Luna gugup.
Davina tersenyum tipis kemudian menatap gadis yang sudah 5 tahun menemaninya dimasa sekolah dan sekarang mereka juga melanjutkan pendidikan di universitas yang sama. Entah kenapa Davina seperti menjaga jarak kepada temannya itu. Terlebih tentang identitasnya, Davina menutupnya sangat rapat tidak ingin Luna mengetahui siapa dia yang sebenarnya.
"Aku jadi penasaran bagaimana bisa muncul dugaanmu itu." ucap Davina.
"Emm.. Aku hanya merasa kau bukanlah gadis biasa. Kau tidak sesederhana itu, Vin." sahut Luna jujur.
"Aku tak mengerti maksudmu." kata Davina dengan mengedikkan bahunya.
"Tak usah berpura-pura bodoh, Vin. Aku tahu kau itu sangat tenang, teliti dan juga punya aura yang sangat kuat. Padahal usia kita sama tapi sikapmu benar-benar tidak seperti gadis seusia kita." ucap Luna.
"Mungkin kehidupan yang kuhadapi selama ini tidak seperti jalan hidupmu, Luna. Itu yang membedakan sikap kita. Selebihnya, aku hanyalah seorang gadis sama sepertimu." kata Davina dengan senyum tipis.
"Mungkin benar perkataanmu, Vin." sahut Luna setuju.
"Tapi kenapa tidak ada informasi tentang data pribadimu? Tentang orangtuamu, latar belakangmu?" tanya Luna lagi.
"Apakah itu sangat penting bagimu? Bukankah kau pernah berkata kalau ingin berteman denganku tanpa peduli siapa diriku dan latar belakangku?" tanya Davina membuat Luna terdiam.
Benar. Dulu Luna pernah mengatakan hal itu kepada Davina. Tapi entah kenapa akhir-akhir ini ia menjadi penasaran tentang identitas Davina terlebih saat tahu temannya itu sudah menikah dengan Marvin Harris, bukan pria sembarangan.
"Apakah kau ingin menarik perkataanmu itu?" tanya Davina lagi mengingatkan Luna.
"Maaf, Vin. Aku tidak bermaksud begitu. Maaf sudah terlalu ingin tahu tentang privasimu." jawab Luna bersalah.
Luna tahu kalau Davina tidak suka jika privasinya diganggu. Tapi entah kenapa Luna tidak bisa membenci gadis itu. Luna sangat takut kehilangan Davina karena hanya dialah yang mau menemani Luna pada saat terpuruk ketika semua orang yang dianggapnya teman malah menjauhinya. Berbeda dengan Davina yang awalnya hanyalah orang asing namun mau mengulurkan tangan kepada Luna.
Davina hanya menghela nafas tanpa menyahuti perkataan Luna.
"Vin, kau marah padaku?" rengek Luna.
Davina menatap Luna sesaat lalu menggelengkan kepalanya.
"Bicaralah. Aku takut kalau kau tak bersuara seperti ini. Maafkan aku ya? Aku janji tidak akan membahas identitasmu lagi. Dan seperti yang kau bilang tadi, aku tetap sama seperti yang dulu. Tidak peduli siapapun dirimu, kau tetaplah sahabatku." kata Luna dengan senyum manis.
"Kau cerewet sekali." ucap Davina malas.
"Mulutmu pedas sekali. Tidak bisakah kau berkata lembut padaku? Seperti aku ini." protes Luna.
"Tidak sudi. Sudah jangan banyak protes. Aku sudah membayar semuanya. Sekarang kau mau kemana?" tanya Davina.
"Benar-benar menyebalkan bicara denganmu itu. Memangnya kau mau mengajakku kemana?" tanya Luna berharap Davina mengajaknya ke suatu tempat untuk menghiburnya.
"Aku mau pulang lah. Kalau kau ingin ke suatu tempat, pergi saja sendiri." jawab Davina dingin.
"Ah! Kau ini benar-benar tidak bisa kuharapkan. Aku jadi ingin tahu sampai kapan Tuan Muda Harris akan bertahan dengan kejudesanmu itu. Dasar tidak berperasaan!" umpat Luna kesal.
"Terserah kau saja. Taxiku sudah datang. Aku pulang dulu ya. Bye, Luna!" pamit Davina begitu saja meninggalkan Luna yang masih termangu ditempatnya.
"Apakah ada manusia sekejam itu? Benar-benar spesies langka." gumam Luna melihat kepergian Davina.
"Aku harus berbicara dengan Ayah dan bertanya padanya apakah mengenal Anton atau tidak." batin Davina segera menelpon nomor ayahnya, Adam Carlos.
"Ck! Kenapa aku tidak bisa menghubunginya?" gumam Davina.
"Aku telpon Ibu saja."
Dengan cepat Davina menghubungi nomor Sera namun sama saja. Tidak dapat terhubung.
Saat itu Adam memblokir semua akses agar Davina tidak dapat menghubungi atau menemuinya karena ada sebuah misi yang harus pria itu jalankan. Semua itu ia lakukan demi melindungi keselamatan Davina. Adam tidak ingin putrinya menjadi sasaran musuh karena bisa melacaknya melalui panggilan telepon.
"Aku harus bertanya pada Orkan!" ucap Davina.
"Pak, berhenti ditaman depan ya." pinta Davina.
"Tapi Non, tujuan Nona masih jauh." ucap sopir taxi.
"Tidak apa-apa, Pak. Berhenti disana ya." ucap Davina lembut.
"Baik Nona." sahut sopir itu.
Ding Ding Ding
Orkan terkejut saat mendengar dering ponselnya. Dengan cepat ia mengangkatnya saat tahu yang menghubunginya adalah Davina.
"Nona bagaimana keadaan Nona? Apakah Nona baik-baik saja? Sekarang Nona dimana?" tanya Orkan panik.
Bagaimana dia tidak panik kalau melihat tuan putri yang seharusnya ia jaga 24 jam malah dibawa oleh orang-orang tidak dikenal. Saat berusaha mengikuti Davina, tiba-tiba ada mobil yang menghalangi Orkan sehingga ia kehilangan jejak Davina. Jika sampai terjadi sesuatu pada Davina sudah bisa dipastikan kalau Orkan akan kehilangan nyawanya.
"Aku baik-baik saja. Kemarilah, ada yang ingin kubicarakan padamu. Ditaman sebelum mansion Harris. Oh iya berpenampilanlah seperti pemuda biasa, jangan sampai jadi pusat perhatian." ucap Davina kemudian memutuskan panggilannya.
Orkan segera menuju tempat yang dimaksud Davina. Tampilan Orkan sesuai dengan permintaan Davina, hanya mengenakan celana training dan kaos oblong.
"Cepat juga datangmu." ucap Davina saat tahu Orkan berjalan ke arahnya.
"Apa yang ingin Nona bicarakan?" tanya Orkan.
"Duduklah." sahut Davina meminta Orkan duduk di bangku taman yang tidak jauh darinya.
"Maaf Nona saya berdiri saja, itu tidak sopan." sahut Orkan tak enak hati.
"Kau ini. Kalau begini kita akan jadi pusat perhatian. Berlagaklah selayaknya kita adalah teman baik." kata Davina lagi.
"Teman baik?" tanya Orkan bingung.
"Sudah jangan banyak tanya, cepat duduk!" titah Davina yang langsung dituruti oleh Orkan.
"Apa terjadi sesuatu dengan Ayah?" tanya Davina.
"Tuan dan Nyonya baik-baik saja, Nona." jawab Orkan.
"Kenapa Ayah memblokirku? Apa ada misi berbahaya yang ingin Ayah lakukan?" tanya Davina lagi.
"Saya tidak tahu, Nona." jawab Orkan.
"Kau jangan berbohong padaku. Aku akan menghukummu kalau ketahuan menyembunyikan sesuatu dariku." ancam Davina.
"Saya benar-benar tidak tahu, Nona. Terakhir Tuan Darwin menghubungi saya 3 hari yang lalu. Tuan hanya berpesan kepada saya untuk lebih ketat menjaga Nona." ucap Orkan jujur.
Davina mencoba mencari kebohongan diwajah Orkan namun yang didapati hanyalah kejujuran.
"Pasti ini bukan masalah kecil." gumam Davina.
"Nona tenang saja. Tuan dan Nyonya pasti akan baik-baik saja. Ada Tuan Darwin dan orang-orang yang bisa diandalkan yang akan melindungi mereka." ucap Orkan tidak ingin Nona Mudanya khawatir.
"Haih.. Aku harap juga begitu." sahut Davina.
"Ayah, Ibu. Aku pasti akan menjadi wanita tangguh untuk melindungi kalian. Aku tidak akan membiarkan orang menyakiti kalian sedikitpun." tekad Davina dalam hati.
-BERSAMBUNG