
Suasana kembali bising saat Carlos selesai mengumumkan ahli warisnya. Kini semua mata tertuju pada Davina dan Marvin. Pasangan yang serasi dan menyeramkan tentunya. Terlebih lagi meskipun keluarga Harris tak sekuat Carlos namun kemampuan Marvin tidak diragukan lagi.
"Ternyata aku sudah menyakiti putri Tuan Carlos. Apakah ia akan melakukan perhitungan denganku?" tanya Nathan dalam hati.
Amel melirik Nathan yang terdiam dan menatap Davina tak berkedip.
"Ehm... Kau mengamatinya?" tanya Amel seketika Nathan menoleh kaget.
"Jangan bilang sekarang kau menyesal karena telah meninggalkannya dan memilihku?" tanya Amel penuh selidik.
"Omong kosong apa yang kau bicarakan?" kata Nathan tak terima.
"Lalu? Kenapa kau terus menatap gadis itu?" tanya Amel curiga.
"Apa yang kau pikirkan? Tentu saja aku hanya terkejut dan khawatir kalau mereka akan membuat perhitungan kepada kita." jawab Nathan jujur.
"Benarkah hanya itu yang kau pikirkan?" tanya Amel lagi memastikan.
"Tentu saja. Terlebih kemampuan keluarga kita tidak bisa dibandingkan dengan mereka. Menghadapi keluarga Harris saja kita sudah kewalahan apalagi Tuan Carlos." jawab Nathan menjelaskan.
Amel menatap lekat wajah Nathan mencoba memastikan bahwa pria itu tidak berbohong.
"Mungkin aku yang berpikir berlebihan." gumam Amel.
"Kenapa wajahmu begitu? Jangan berpikir yang tidak-tidak. Ingat ada nyawa lain diperutmu." ucap Nathan mengingatkan.
"Maaf, aku sudah curiga kepadamu." kata Amel bersalah.
"Hem.. Aku sudah biasa kau curigai seperti itu. Tapi kau harus percaya padaku, aku tidak pernah menyesal memilihmu. Yang harus kita pikirkan sekarang bagaimana menghadapi kedua keluarga itu." ucap Nathan yang diangguki oleh Amel.
Saat ini Davina dan Marvin sedang asyik mengobrol dengan beberapa orang yang ingin menjalin hubungan baik dengan mereka. Keduanya berusaha meladeni seramah mungkin meskipun tahu bahwa orang-orang itu hanya ingin memperkuat diri dan mencari keuntungan.
Mata Marvin memicing saat menyadari ada laser berwarna merah tepat didada Davina. Dengan cepat Marvin menarik Davina kedalam pelukannya.
DOORR!
Seluruh orang dibuat terkejut dengan suara tembakan itu. Semuanya berlari untuk menyelamatkan diri masing-masing.
"Kau tidak apa-apa kan?" tanya Marvin yang masih memeluk Davina erat.
"Aku baik-baik saja, Mas." jawab Davina.
"Syukurlah... Ssshhh!!" ringis Marvin.
"Mas lenganmu!" pekik Davina menyadari darah segar mengalir dilengan suaminya.
"Edwin cepat kemari!" panggil Davina.
Dengan cepat Edwin menghampiri keduanya.
"Sepertinya Tuan Muda terkena tembakan. Beruntung pelurunya meleset." ucap Edwin.
"Cepat kalian masuk ke mansion dan rawat luka Marvin." titah Adam tegas.
Adam memberikan kode kepada Darwin dan mendapat anggukkan dari orang kepercayaannya itu.
"Maaf atas insiden ini diluar kendali kami. Acara malam ini terpaksa kami bubarkan. Seluruh hadirin silahkan mengikuti para pengawal berpakaian hitam itu. Jangan takut, kami pastikan kalian semua keluar dari kediaman ini dengan selamat." ucap Darwin menggunakan microphone.
Seluruh tamu mulai berdesas-desus dengan perasaan was-was. Benar-benar mengerikan berhubungan dengan mafia. Mau tidak mau mereka pun harus membubarkan diri demi keselamatan nyawa mereka.
Didalam mansion, Davina langsung membawa Marvin kekamar diikuti oleh Edwin. Sedangkan Sera, Mely dan Orkan membantu Julia kekamarnya karena shock melihat kejadian tadi.
Davina membantu Marvin untuk bersandar diranjang lalu dengan cepat Davina membuka atasan Marvin. Edwin segera membalut lengan kiri Marvin dengan perban.
"Beruntung pelurunya meleset jadi lukanya tidak dalam. Tapi untuk sementara tidak boleh terkena air sampai benar-benar kering." ucap Edwin.
"Thanks, Win." kata Davina.
"Permisi, Tuan Nona." pamit Edwin.
"Kenapa wajahmu masih panik seperti itu? Aku bak-baik saja, Sayang. Kemarilah." kata Marvin menarik tangan istrinya agar duduk disampingnya.
Davina menatap Marvin lekat kemudian menghela nafas dan mengikuti permintaan suaminya.
"Hanya goresan kecil, istriku. Kau tak perlu khawatir." ucap Marvin melingkarkan tangannya keperut Davina.
"Sshh.." ringis Marvin saat tak sengaja lengannya menyenggol lengan Davina.
"Baru tahu rasanya sakit?" cibir Davina membuat Marvin terkekeh.
BRAAKK!
Tiba-tiba Adam masuk bersama Darwin.
Adam menatap Darwin sesaat lalu kembali menatap Davina dengan tersenyum.
"Tidak perlu mencari pelakunya."
"Apa maksud Ayah?" tanya Davina curiga.
Adam mendekat dan menatap Marvin.
"Ayah yang melakukannya." jawab Adam seketika membuat Davina dan Marvin terkejut.
Davina dan Marvin saling berpandangan tak percaya.
"Apakah Ayah ingin membunuh suamiku?" tanya Davina marah.
Adam terkekeh membuat Davina semakin kesal. Sedangkan Marvin hanya menundukkan kepalanya.
"Ayah hanya ingin mengetes kemampuan menantuku. Ayah ingin memastikan bahwa ia benar-benar layak menjadi suamimu." jawab Adam.
Davina turun dari ranjang kemudian memberikan tatapan tajam kepada ayahnya.
"Ayah pikir ini lelucon? Bagaimana kalau Marvin tidak menyadarinya? Apakah Ayah ingin membunuh putri Ayah sendiri?" tanya Davina geram.
Adam menghela nafas kemudian membelai kepala putrinya lembut.
"Ayah tidak akan melakukan itu, Nak. Kau adalah kesayangan Ayah." jawab Adam lembut.
"Lalu kenapa Ayah mengadakan permainan seperti ini? Benar-benar tidak lucu, Yah." protes Davina.
"Hem.. Ayah belum memberi pelajaran kepada suamimu karena telah membiarkanmu terluka beberapa waktu lalu." ucap Adam mengingatkan.
"Ayah! Itu karena keinginan Vina sendiri. Jangan menyalahkan Marvin." kata Davina membela suaminya.
"Haissh... Rupanya kau memang sudah benar-benar jatuh cinta dengan cecunguk ini." ucap Adam.
"Jangan menyebut suamiku begitu!" protes Davina tak terima.
Adam terkekeh kemudian kembali membelai lembut kepala putrinya.
"Baiklah. Sekarang biarkan Ayah bicara dengan suamimu." ucap Adam.
Davina menatap Adam curiga.
"Ayah hanya ingin mendiskusikan sesuatu dengannya. Ayah tidak akan melukai suamimu lagi." kata Adam memahami kecurigaan putrinya.
"Hem. Baiklah." sahut Davina setelah itu keluar dari kamar.
"Bagaimana keadaan Marvin, Nak?" tanya Sera yang kebetulan ingin menjenguk menantunya.
"Hanya luka ringan, Bu. Beruntung pelurunya meleset." jawab Davina membuat Sera lega.
"Lalu kenapa kau cemberut begitu?" tanya Sera penasaran.
"Semua ini gara-gara Ayah." jawab Davina kesal.
"Ayahmu? Kenapa? Apa yang dia lakukan?" tanya Sera kebingungan.
"Tembakan itu rencana Ayah. Katanya untuk mengetes Marvin." jawab Davina membuat Sera membulatkan matanya.
"Astaga! Ayahmu itu kekanakan sekali. Lihat saja Ibu pasti akan menghukumnya." ucap Sera yang tak habis pikir dengan tingkah suaminya.
"Ya Ibu benar. Ibu harus memberi pelajaran kepada Ayah. Vina kesal sekali." kata Davina.
"Sudah-sudah tenangkan dirimu." ucap Sera membelai punggung Davina lembut.
"Dimana Nenek, Bu?" tanya Davina teringat dengan usia Julia yang sudah tidak muda lagi pasti kejadian tadi cukup membuat wanita tua itu terkejut.
"Nenek sedang istirahat dikamarnya. Ada Mely yang menemaninya. Beruntung Nenek hanya terkejut jadi tidak ada yang perlu dikhawatirkan." jawab Sera menjelaskan.
"Syukurlah... Kali ini Ayah sudah keterlaluan, Bu." ucap Davina yang masih kesal.
"Kau benar. Ayahmu memang sudah keterlaluan. Ibu akan membuat perhitungan dengannya." sahut Sera setuju.
"Ibu pura-pura marah saja, Ayah pasti akan galau setengah mati." bisik Davina jahil.
"Iya, biar saja Ayahmu itu pusing karena Ibu marah." sahut Sera.
Davina tersenyum menang.
"Ayah, maafkan Vina ya. Setelah ini berjuanglah, Ayah!" gumam Davina puas.
-BERSAMBUNG