Istri Brutal Mr. Arogan

Istri Brutal Mr. Arogan
Episode 121 Drama Bumil


"Apa yang kau lakukan?" tanya Adam mendapati Marvin yang masih berjalan-jalan padahal hari sudah gelap.


"Ayah mengagetkanku saja." ucap Marvin sembari mengelus dadanya.


"Jangan pikir kau bisa kabur dari sini." kata Adam memperingatkan.


"Aku bukan pengecut Ayah." sahut Marvin membela diri.


"Baguslah." ucap Adam menyeringai tipis.


Adam menatap Marvin sekilas, ia bisa melihat bahwa menantunya itu sedang gelisah.


"Apa yang kau pikirkan? Jangan bilang kau tidak bisa tidur karena jauh dari putriku?" tanya Adam sekaligus menebak.


"Yang Ayah katakan benar. Apakah aku tidak boleh menelponnya?" tanya Marvin mencoba bernegosiasi dengan ayah mertuanya.


"Tidak boleh. Kau manja sekali." cibir Adam.


"Apakah tidak boleh dikurangi waktu pelatihanku, Yah? Aku bisa tersiksa selama itu tidak melihat Davina." pinta Marvin lagi.


"Kalau kau tidak bisa menahannya bagaimana kau menghadapi bahaya yang bisa kapan saja menyerang kalian nanti? Hanya satu bulan, setelah itu kau bisa melepaskan rindumu itu." ucap Adam tegas.


Perkataan Adam membuat Marvin terdiam dan berpikir sejenak. Apa yang dikatakan ayah mertuanya benar. Mengingat identitas Davina dan juga dirinya, pasti banyak musuh yang bersiap menyerangnya kapan saja. Untuk itu Marvin harus mau menjalani pelatihan ini demi melindungi istri tercintanya. Entah bagaimana perasaan Marvin kalau dirinya tahu bahwa Davina hamil. Bukan hanya menjaga Davina saja tapi ada nyawa lain yang harus ia lindungi.


"Kau pasti bisa melaluinya." ucap Adam menepuk pundak Marvin.


"Terimakasih, Ayah." sahut Marvin.


Begitulah hubungan keduanya, terkadang bisa saling mendukung tapi seringkali seperti musuh bebuyutan.


...****************...


Di kediaman Carlos.


Sera menatap iba Davina yang terkulai lemas diranjangnya. Sedari pagi Davina sudah bolak-balik ke kamar mandi memuntahkan isi perutnya. Padahal pagi ini ia belum sempat sarapan. Sejak bangun tidur perutnya terasa seperti diaduk-aduk. Benar-benar membuatnya tidak nyaman.


"Ibu buatkan sup ayam jamur ya?" ucap Sera menawarkan.


Davina menggelengkan kepalanya lemah.


"Walaupun mual kau harus tetap mengisi perutmu. Kau harus memperhatikan asupan untuk janinmu." ucap Sera mengingatkan.


Davina menghela nafas kemudian menganggukkan kepalanya.


"Boleh, Bu. Siapa tahu bisa membuat perutku lebih baik." jawab Davina lemah.


"Kalau begitu kau kembalilah tidur. Nanti Ibu bangunkan kalau supnya sudah siap." kata Sera penuh perhatian.


"Terimakasih, Bu." sahut Davina tersenyum tipis.


Sera menarik selimut dan menutupi tubuh Davina kemudian segera menuju ke dapur.


"Rupanya begini rasanya hamil." gumam Davina.


"Aku jadi penasaran bagaimana reaksi Marvin jika mengetahui ia akan menjadi seorang ayah." ucap Davina membayangkan.


"Ah, satu bulan. Bersabarlah." gumam Davina setelah itu mencoba memejamkan matanya.


30 menit berlalu, Sera membawa semangkuk sup ayam jamur yang sudah ia buat dengan tangannya sendiri. Sera menatap Davina yang tidur dengan mengerutkan keningnya. Sera bisa melihat ketidaknyamanan yang dirasakan putrinya.


"Sayang, bangun." ucap Sera lembut.


Davina perlahan membuka matanya. Aroma lezat dari sup yang dibuat Sera menusuk hidungnya dan membangkitkan nafsu makannya.


"Dari baunya sepertinya enak sekali, Bu." kata Davina bersemangat.


Sera tersenyum kemudian menyendokkan sup itu kemulut Davina.


"Bagaimana?" tanya Sera.


"Kemampuan memasak Ibu benar-benar hebat." jawab Davina memuji Sera.


"Baguslah. Ibu lega kau sudah kembali bertenaga." ucap Sera tersenyum manis.


Baru lima suapan, tiba-tiba Davina kembali mual. Ia segera bangkit dan berlari ke kamar mandi.


HOEK!


Davina memuntahkan sup yang baru saja masuk kemulutnya. Davina membasuh wajahnya dengan air dan menatap cermin. Dirinya saat ini terlihat sangat kusut.


Sera meletakkan mangkoknya kemudian menghela nafas. Sera benar-benar prihatin dengan kondisi Davina. Dulu saat mengandung Davina, ia juga merasakan hal yang sama di trimester pertama namun tidak separah yang dialami putrinya.


CEKLEK!


"Aku tidak apa-apa, Bu. Aku ingin supnya lagi. Semoga saja kali ini bisa menikmatinya." jawab Davina.


"Baiklah. Ayo Ibu akan menyuapimu lagi." kata Sera menggandeng putrinya untuk kembali duduk diatas ranjang.


Seperti harapan Davina, kali ini ia berhasil menghabiskan sup jamur tanpa memuntahkannya. Sera bernafas lega, setidaknya perut putrinya tidak kosong.


...****************...


"Arrgghh!" erang Johan.


Johan mengacak rambutnya, penampilannya kali ini benar-benar berantakan.


"Kalau tahu begini lebih baik aku tidak menyanggupinya. Mengurus perusahaan benar-benar membuatku pusing." gumam Johan.


Dihadapannya masih banyak berkas yang harus ia periksa. Belum lagi meeting yang harus ia hadiri.


"Tuan Muda cepatlah kembali." batin Johan penuh harap.


CEKLEK!


Johan terkejut saat menyadari siapa yang membuka pintu. Johan langsung berdiri dan memberikan hormat.


"Selamat siang Nyonya Besar." sapa Johan sopan.


"Kau terlihat buruk sekali. Apakah ada masalah?" tanya Julia menyadari tampilan Johan yang acak-acakan.


"Ti-tidak ada Nyonya. Hanya saja saya kerepotan membagi waktu untuk memeriksa laporan ini dan juga harus bertemu klien." jawab Johan jujur membuat Julia terkekeh.


"Anak muda sepertinya kau butuh bantuan. Biarkan Melly membantumu memeriksa laporan itu. Urusan klien berikan aku jadwalnya." ucap Julia.


Johan mengerutkan kening saat menyadari wanita yang berdiri disamping Julia.


"Baik Nyonya." sahut Johan lalu menyerahkan tablet kepada Julia yang menampilkan jadwal meeting.


"Nak, kau bantu Johan. Bisa kan?" ucap Julia.


"Baik, Nek." sahut Melly dengan menganggukkan kepalanya.


"Dimana berkas yang aku butuhkan?" tanya Julia lagi.


"Ini Nyonya." jawab Johan sekaligus memberikan sebuah map kepada Julia.


"Kalian bekerjasamalah dengan baik." ucap Julia setelah itu keluar dari ruangan.


Johan dan Melly saling beradu tatap.


"Apa kau mengerti pekerjaan seperti ini?" tanya Johan memastikan.


"Jangan menghinaku. Nona Davina sudah membiayai kuliahku, tentu saja aku mengerti meskipun bukan ahlinya." jawab Melly.


"Baguslah. Kuharap kau tidak mempersulit pekerjaanku." sahut Johan membuat Melly kesal.


"Cih! Sombong sekali!" umpat Melly.


"Kau mengatakan apa?" tanya Johan yang mendengar samar ucapan Melly.


"Tidak ada. Apa yang harus kubantu?" tanya Melly mengalihkan pembicaraan.


"Kau periksa keuangan saja. Cocokan pemasukan dan pengeluaran yang ada di laptop dan berkas itu." tunjuk Johan.


"Hem. Baiklah." sahut Melly segera melaksanakan tugasnya.


Keduanya kini fokus dengan berkas masing-masing. Tanpa sadar Johan melirik dan mengamati Melly yang terlihat serius dengan pekerjaan dihadapannya.


"Kapan kau akan berhenti menatapku?" tanya Melly yang merasa risih ditatap intens oleh Johan.


"A-aku sedang mengawasimu. Aku khawatir kau tidak bekerja dengan baik." jawab Johan asal.


"Huh! Kau lihat saja, kemampuanku tidak seburuk itu." ucap Melly tak terima dipandang remeh oleh Johan.


"Hem.. Kita lihat saja." sahut Johan menantang.


Melly mendengus sebal namun tak ingin menyahuti ucapan Johan lagi karena akan membuat suasana hatinya kacau. Kemudian keduanya kembali fokus dengan pekerjaan masing-masing.


-BERSAMBUNG