Istri Brutal Mr. Arogan

Istri Brutal Mr. Arogan
Episode 55 Pemanasan


"Jadi tempat ini menjadi tujuanmu kalau sedang kesal?" tanya Davina.


Davina menatap kagum pemandangan yang ada didepannya. Suara deburan ombak dan angin yang sejuk memanjakan hati siapapun yang datang ke tempat itu. Meskipun butuh waktu lebih dari 1 jam perjalanan, namun terbayar dengan indahnya pantai pasir putih.


"Apa kau suka?" tanya Marvin.


"Hem.. Iya, aku baru tahu kalau ada tempat seperti ini di dekat kota." jawab Davina tersenyum senang.


"Ayo kita kesana." ajak Marvin menuju sebuah resto berlantai dua.


Davina mengikuti langkah Marvin, keduanya berjalan beriringan. Sedangkan Johan sudah tidak kelihatan batang hidungnya sejak dari parkiran.


"Tuan benar-benar marah padaku. Yasudahlah lebih baik aku kembali ke perusahaan." gumam Johan.


"Tuan tidak ingin aku mengganggu waktunya bersama Nona Davina. Sepertinya tidak lama lagi aku akan punya keponakan." batin Johan dengan tersenyum lalu melajukan mobilnya.


Marvin mengajak Davina untuk duduk dilantai dua. Dari atas pemandangan terlihat lebih jelas dan indah.


"Indah sekali." ucap Davina takjub.


"Apa kau ingin mengabadikan momen ini?" tanya Marvin lembut.


"Ah aku?" sahut Davina gugup lalu menggelengkan kepalanya dengan cepat.


"Kemarilah. Kau berdiri disini." kata Marvin yang langsung dituruti Davina dengan malu-malu.


Marvin mengeluarkan ponselnya lalu mengambil beberapa foto diri Davina.


Davina tersentak saat tiba-tiba tangan Marvin menyentuh pipinya. Ternyata Marvin sedang membantu merapikan rambutnya yang berantakan karena tertiup angin. Davina diam mematung, ia tidak tahu harus bereaksi seperti apa.


"Tersenyumlah." ucap Marvin dengan tersenyum tipis.


CEKREK!


"Cantik." puji Marvin mendapati foto close up Davina.


Mendengar pujian Marvin membuat Davina semakin tersipu.


"Sial. Dia selalu bisa membuatku begini." gerutu Davina dalam hati.


"Aku akan mengirimkan fotonya nanti." kata Marvin yang diangguki oleh Davina.


"Mas, kemarilah." panggil Davina.


"Aku?" tanya Marvin.


"Iya. Sini." jawab Davina dengan melambaikan tangannya.


Marvin berjalan mendekati Davina dengan wajah kebingungan.


"Berikan ponselmu." pinta Davina membuat Marvin semakin bingung namun tetap menyerahkan ponselnya.


Dengan cepat Davina mengarahkan ponsel Marvin untuk mengambil foto selfie keduanya.


"Sekali lagi ya. Mas senyum dong." ucap Davina saat melihat hasil fotonya dengan Marvin berwajah datar.


CEKREK!


"Nah, tampan!" puji Davina spontan.


"Kau juga cantik, istriku." sahut Marvin seketika membuat Davina tersipu.


DEG DEG DEG


"Apa ini? Kenapa jantungku rasanya mau copot?" tanya Davina dalam hati.


"Kau masih saja malu-malu. Ayo duduk." ucap Marvin.


"Ah iya." sahut Davina kikuk lalu duduk saling berhadapan dengan Marvin.


Keduanya saling berpandangan cukup lama dan larut dalam pikirannya masing-masing. Keduanya baru tersadar saat seorang pelayan menghampiri mereka.


Davina dan Marvin saling tersenyum kaku.


"Padahal sudah menjadi suami istri. Tapi kenapa aku gugup begini." batin Marvin.


Tak bisa dibohongi, seorang Marvin Harris juga bisa merasakan gugup saat berhadapan dengan istrinya. Hanya saja pria itu masih bisa menutupi dengan wajah dinginnya sehingga Davina pun tidak menyadari itu.


"Apa kau sering berkunjung kesini?" tanya Davina memulai obrolan.


"Tidak juga. Aku hanya kesini kalau senggang dan lelah dengan pekerjaan." jawab Marvin.


"Jadi sekarang kau sedang lelah dengan pekerjaanmu?" tanya Davina memancing senyum tipis diwajah Marvin.


"Kali ini berbeda. Sebenarnya aku memang sudah berencana untuk mengajakmu kemari. Tapi siapa sangka kalau pagi tadi ada meeting mendadak yang membuat moodku berantakan." jawab Marvin.


"Tidak masalah. Kau bisa berbagi cerita padaku." sahut Davina.


"Itu kalau kau ingin, kalau tidak aku tidak akan memaksamu." ralat Davina saat mendapati tatapan aneh dari Marvin.


"Seharusnya aku tidak berkata begitu. Diawal kan kita sudah sepakat untuk tidak mencampuri urusan masing-masing. Dasar bodoh!" batin Davina merutuki dirinya sendiri.


"Kau adalah istriku, sudah seharusnya kau tahu permasalahan suamimu ini. Aku akan menceritakannya kepadamu tapi nanti setelah hatiku merasa lebih baik." ucap Marvin membuat Davina tertegun.


"Baiklah." sahut Davina lalu keduanya saling melempar senyum.


...****************...


"Kenapa Tuan menawarkan hal itu kepada Tuan Muda Harris?" tanya Robert.


"Aku hanya ingin bermain-main dengannya saja." jawab Anton dengan senyum licik.


"Jadi Tuan sudah menebak kalau Tuan Marvin akan menolak?" tanya Robert penasaran.


"Tentu saja. Anak muda itu memang sangat berprinsip. Aku jadi ingin tahu siapa gadis yang ada didekatnya itu. Apa kau sudah mendapat informasi lengkapnya?" tanya Anton.


"Maaf Tuan, saya tidak bisa mendapatkan apapun tentang gadis itu." jawab Robert hati-hati.


"Menarik. Sepertinya gadis itu sangat dilindungi. Aku jadi semakin penasaran dengan reaksi pemuda sombong itu kalau kita mulai bermain dengan wanitanya." ucap Anton menyeringai.


"Aku harap Tuan tidak bertindak gegabah." kata Robert berharap.


"Sejak kapan kau jadi penakut begitu? Santai saja, aku hanya ingin bermain trik kecil. Hitung-hitung sebagai hukuman karena dia sudah berani menolakku." ucap Anton terkekeh.


Robert menatap atasannya aneh dengan perasaan ngeri. Entah apa yang ada dipikiran Anton hanya dirinya sendiri dan Tuhan yang tahu.


...****************...


"Dimana Johan?" tanya Davina.


"Hem.. Berani sekali menanyakan pria lain dihadapan suamimu sendiri." sindir Marvin.


"Eh bukan begitu maksudku. Daritadi aku tidak melihatnya sama sekali." ucap Davina bersalah.


"Apakah aku kurang menarik bagimu sehingga kau memikirkan asistenku?" tanya Marvin dengan mengerutkan keningnya.


"Astaga pria ini cemburuan sekali." batin Davina.


Davina menghela nafas kemudian menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Kenapa diam saja? Apakah perkataanku benar? Kau lebih tertarik dengan asistenku?" tanya Marvin semakin membuat Davina kesal.


"Kau ini aneh sekali. Wajar kalau aku bertanya bukankah biasanya dia selalu menempel padamu kemanapun. Apakah kau cemburu?" tanya Davina.


Marvin terdiam. Pertanyaan Davina menyadarkannya.


"Iya, aku cemburu. Kau tidak boleh memperhatikan pria selain aku." ucap Marvin.


"Dia mengakuinya? Lucu sekali." batin Davina.


"Baiklah." sahut Davina pasrah membuat Marvin tersenyum senang.


"Lalu kita pulang naik apa? Apakah Johan akan menjemput kita? Hari sudah mulai gelap." tanya Davina.


"Kita tidak pulang. Kita akan menginap dihotel sekitar sini." jawab Marvin.


"APA??" tanya Davina dengan mata membulat.


"Ada apa dengan reaksimu itu? Kau terlihat sangat tidak ingin bersamaku." ucap Marvin kecewa.


"Bukan bukan. Apakah kita akan satu kamar?" tanya Davina polos.


"Tentu saja. Bukankah kita suami istri? Lagipula sudah dua malam kita tidur sambil berpelukkan." jawab Marvin santai.


Davina diam tak berkutik membuat Marvin heran.


"Heh, apa yang kau pikirkan? Jangan-jangan kau berharap kita melakukan sesuatu malam ini?" goda Marvin seketika kedua pipi Davina bersemu merah.


"Apakah dugaanku benar?" tanya Marvin lagi.


"Hentikan candaanmu itu." ucap Davina mencoba menutupi pikiran kotornya.


Tidak bisa dipungkiri kalau Davina membayangkan apa yang akan terjadi jika dua orang dewasa lawan jenis berada dalam satu kamar. Terlebih keduanya sudah sah sebagai pasangan suami istri. Kebetulan tempat yang dipilih juga cocok untuk berbulan madu.


Kira-kira apa yang akan terjadi ya?


-BERSAMBUNG