
"Marvin belum kembali ke kamar?" gumam Davina saat mendapati kamar masih kosong.
"Untunglah. Aku mengantuk sekali. Sepertinya aku bisa tidur duluan sebelum dia kembali. Kalau aku masih membuka mata dan melihatnya disini sepertinya akan sangat canggung." batin Davina.
Davina bergegas mengganti pakaian dengan piyama kemudian melakukan rutinitasnya menggunakan skincare sebelum tidur.
"Kamar ini luas sekali. Jadi rindu Ayah dan Ibu. Aku tidak menyangka jika aku sekarang sudah menikah dan punya kehidupan sendiri. Apakah keputusanku ini tepat?" gumam Davina kemudian tak lama setelah itu ia pun terlelap.
CEKLEK!
"Gadis ini tidak menungguku malah sudah tidur duluan. Tapi wajahnya saat tidur begini terlihat tenang dan tambah cantik." ucap Marvin lirih.
"Baiklah aku akan sabar menunggumu sampai menerimaku sepenuhnya. Selamat malam istriku." bisik Marvin.
Marvin membuka bajunya, hanya menggunakan kolor pendek dan mematikan lampu setelah itu tidur disamping Davina.
Belum lama memejamkan mata, Marvin sudah dikagetkan dengan Davina yang tiba-tiba memeluknya seperti guling.
"Rupanya kelinci kecilku nakal sekali. Dia yang membuat batas, dia juga yang melewatinya sendiri." gumam Marvin menyeringai.
Marvin mencoba memejamkan matanya namun pergerakan Davina membuatnya kembali terjaga.
"Dia sengaja menyiksaku. Untung saja kau tidur, andai kau melakukannya dengan sadar pasti sudah aku beri hukuman." ucap Marvin mencoba menahan sesuatu yang mulai sesak.
"Diamlah. Jika kau bergerak lagi aku tidak tahu apa yang akan terjadi nanti." bisik Marvin.
Marvin bernafas lega ketika Davina kembali tidur dengan tenang. Marvin pun mulai terlelap.
...****************...
"Aaaa..." pekik Davina yang langsung duduk seketika Marvin pun membuka matanya.
"Ada apa? Kenapa berteriak?" tanya Marvin panik dalam kondisi setengah sadar.
"Kenapa kau melewati batas? Dimana gulingnya?" tanya Davina menuduh.
"Sebaiknya kau lihat dengan jelas dulu, siapa yang sudah melewati batas. Gulingnya saja berada dibelakangmu." kata Marvin membuat Davina tersadar kalau dirinyalah yang bersalah.
"Ma-maaf.. Aku.." lirih Davina.
"Tenang saja, kau tidak bersalah." sahut Marvin santai.
"Tapi tadi aku sudah menuduhmu. Maaf aku melakukannya secara tidak sadar." ucap Davina malu.
Davina sadar ketika dirinya melihat posisinya yang memakan lebih dari setengah ranjang membuat Marvin terpojok.
"Tidak apa-apa lagipula kita sudah jadi suami istri. Jika kau ingin hal yang lebih aku juga tidak keberatan." goda Marvin seketika membuat wajah Davina memerah.
"Kenapa ekspresimu seperti itu? Apa yang sedang kau pikirkan?" bisik Marvin.
"Aku mau mandi dulu." kata Davina melarikan diri.
"Ckck.. Istriku lucu sekali. Dia yang memancing tapi tidak mau bertanggung jawab. Harus berapa lama aku bersabar jika tingkah tidurnya seperti tadi malam?" gumam Marvin menatap Davina yang sudah masuk ke kamar mandi.
"Vina, kau memalukan sekali. Bisa-bisanya tidur tapi memeluknya sembarangan. Pasti dia sekarang mengira aku gadis nakal." gerutu Davina merutuki kecerobohannya sendiri.
"Terus apa-apaan dia itu kenapa tidur tidak pakai baju?Aarrrgghh.. Apa yang aku pikirkan!"
Davina mengacap rambutnya secara kasar. Davina teringat bagaimana tangannya menyentuh tubuh berotot milik Marvin yang membuat wajahnya terasa memanas.
"Hentikan imajinasimu, Vina." batin Davina berusaha menetralkan perasaannya.
Setelah membersihkan diri dan berhasil membuang pikiran liarnya, Davina pun keluar dari kamar mandi.
"Selamat pagi istriku. Ada kuliah pagi?" sapa Marvin berusaha menormalkan suasana.
Marvin tahu kalau Davina pasti malu dan tidak ingin membuatnya merasa canggung.
"Pagi, Mas. Tidak, aku kuliah siang." balas Davina.
"Aku ada meeting jam 8. Kau ikutlah denganku ke perusahaan dulu. Setelah itu aku akan mengantarmu ke kampus." ajak Marvin.
"Baiklah." sahut Davina membuat Marvin tersenyum.
"Tolong siapkan pakaian untukku." pinta Marvin lembut.
Davina terdiam sejenak, kemudian ia tersadar bahwa itu adalah salah satu tugas seorang istri untuk melayani suaminya.
"Oke." kata Davina.
Davina mengambil satu setelan lengkap dengan jas berwarna abu-abu. Davina juga mengambil kaos singlet dan ****** ***** untuk Marvin.
Tak lama Marvin keluar hanya dengan handuk yang terlilit dipinggangnya. Davina menatap sekilas namun segera memalingkan wajahnya agar pikiran liar tak kembali bersarang dikepalanya. Marvin tersenyum tipis saat mendapati Davina yang salah tingkah.
Setelah Marvin berpakaian lengkap dan juga Davina yang sudah siap, keduanya turun untuk sarapan.
"Selamat pagi cucu-cucu Nenek." sapa Julia riang.
"Pagi Nek." sahut Marvin dan Davina kompak.
"Vina berapa lama lagi kau akan lulus kuliah?" tanya Julia.
"Sebentar lagi, Nek. Ini sudah masuk skripsi." jawab Davina.
"Syukurlah, Nenek jadi sudah tidak sabar untuk segera menggendong cicit." ucap Julia membuat Marvin tersedak.
"Uhuk.. Uhuk.."
"Minumlah." kata Davina sembari memberikan segelaz air kepada Marvin.
"Kau kenapa? Makan pelan-pelan saja." cibir Julia.
"Nenek, Vina masih sangat muda. Biarkan saja dia fokus dengan pendidikan dan karirnya terlebih dulu. Lagipula kami juga tidak terburu-buru." protes Marvin.
Sebenarnya dalam hati Marvin ia juga ingin memiliki keturunan. Namun karena hubungannya dengan Davina masih tahap pengenalan jadi Marvin tidak ingin gegabah. Lagipula Marvin ingin menunggu Davina sampai benar-benar siap menerimanya.
"Kau benar. Tapi Nenek tidak bisa menunggu terlalu lama lagi. Belum tentu umurku masih panjang." ucap Julia sedih.
Davina memberikan tatapan tajam kepada Marvin.
"Nenek jangan khawatir. Kami akan berusaha tapi hasil bukan kita yang menentukan bukan? Nenek sabar ya." kata Davina mencoba menghibur Julia.
"Iya kau benar, Nak. Nenek akan menunggu kau melahirkan cicit untukku." sahut Julia yang sudah kembali tersenyum.
"Baik, Nek. Doakan kami ya." kata Davina.
Marvin menatap Davina bingung namun justru mendapatkan senyum manis dari istrinya.
"Yasudah kalian cepat habiskan sarapan kalian." ucap Julia yang diangguki Marvin dan Davina.
Setelah sarapan, Marvin dan Davina sudah siap berangkat ke perusahaan yang sudah pasti Johan sebagai sopirnya.
"Kenapa kau berkata seperti itu kepada Nenek?" tanya Marvin heran.
"Memang yang aku katakan salah?" Davina balik bertanya.
"Bukan begitu. Tapi apakah itu tidak akan membuat Nenek kecewa jika kau memberikannya harapan palsu?" tanya Marvin hati-hati.
"Siapa yang memberikan harapan palsu?" sahut Davina.
"Jadi kau serius dengan perkataanmu? Kau mau memiliki anak denganku?" tanya Marvin bersemangat seketika membuat Davina terdiam.
Melihat Davina yang tak menyahuti perkataannya lagi membuat Marvin tersadar bahwa dirinyalah yang terlalu berharap.
"Maaf, aku tahu kau pasti hanya ingin menenangkan Nenek. Maaf." kata Marvin lirih.
Davina menatap Marvin yang tertunduk lesu kemudian menghela nafas.
"Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Lagipula cinta itu juga butuh waktu bukan? Memangnya kau tidak ingin memiliki keturunan? Aku yakin kau pasti juga sudah memikirkannya." ucap Davina.
"Maaf kalau aku belum bisa menerimamu sepenuhnya. Tapi kaupun tahu bahwa aku sudah membuka hatiku padamu. Aku ingin suatu hari nanti hubungan kita akan didasari dengan cinta bukan hanya untuk keuntungan belaka. Jadi wajar kan kalau aku bilang seperti itu kepada Nenek? Lagipula mungkin hanya itu permintaan Nenek yang belum kau penuhi." tambah Davina membuat Marvin tertegun.
"Kau serius?" tanya Marvin memastikan.
"Jika kau terus meragukan perkataanku maka hubungan kita tidak akan ada kemajuan." jawab Davina.
"Maaf aku hanya ingin kembali memastikan." ucap Marvin bersalah.
"Lebih baik kita sama-sama berusaha untuk menumbuhkan perasaan dalam hati kita, bagaimana? Tapi kau harus percaya padaku dan aku pun percaya kepadamu." kata Davina memperingatkan.
"Oke aku setuju." sahut Marvin antusias.
"Syukurlah ada kemajuan hubungan mereka. Semangat Tuan dan Nona." batin Johan yang sedari tadi menyimak obrolan kedua insan yang duduk dijok belakangnya.
-BERSAMBUNG