
"Kebetulan kalian kesini, Papa mendapat undangan dari Tuan Carlos. Kalian datanglah mewakili, aku rasa Papamu pasti juga akan meminta kau mewakili." kata Arka kepada Nathan sembari menyerahkan sebuah undangan kepada menantunya.
"Tuan Carlos? Bukankah orang itu sangat misterius dan jarang sekali mengadakan acara-acara seperti itu Pa?" tanya Nathan memastikan.
"Kau benar. Ada rumor yang mengatakan kalau pesta besok adalah untuk mengumumkan ahli waris Carlos. Tapi Papa sendiri belum bisa memastikan." jawab Arka.
"Apakah tidak apa-apa jika aku dan Amel datang?" tanya Nathan khawatir.
Arka tersenyum lalu menepuk punda menantunya.
"Kau tenang saja, tidak ada yang perlu kau khawatirkan. Lagipula acara itu pasti mengundang banyak petinggi dan pebisnis dinegara ini yang bisa menjadi salah satu kesempatan untuk kalian anak muda mencari relasi." jawab Arka menjelaskan.
Amel dan Nathan saling menatap kemudian menganggukkan kepalanya paham dengan maksud dan tujuan Arka.
"Baiklah, besok kami akan hadir dipesta itu." sahut Amel dan Nathan kompak.
"Baguslah. Semoga kalian sukses." ucap Arka penuh harap.
Setelah cukup berbincang-bincang dan melepas rindu, Amel dan Nathan memutuskan kembali ke kediaman Johnson. Namun ditengah perjalanan keduanya memutuskan mampir kesebuah butik untuk membeli pakaian yang akan digunakan acara besok.
"Jangan menggunakan hak tinggi. Kau sedang hamil sekarang." ucap Nathan memperingatkan.
"Baik suamiku." sahut Amel.
Keduanya kembali sibuk memilih pakaian yang akan mereka gunakan besok. Amel memilih gaun panjang berwarna silver yang tidak terlalu terbuka dan Nathan memilih setelan jas warna senada. Setelah keduanya merasa cocok barulah mereka kembali ke kediaman Johnson.
...****************...
Malam pesta diadakan di aula besar yang ada didalam mansion Carlos. Semua tamu yang datang takjub dengan luasnya dan kemewahan kediaman orang paling misterius itu. Tak banyak juga yang merasa ketakutan karena para pengawal berpakaian hitam menjaga setiap sudut kediaman.
"Apakah kalian sudah mendengar kalau Tuan Carlos ternyata mempunyai anak?" tanya salah satu pria paruh baya.
"Ya aku juga mendengarnya. Namun aku dengar seorang putri. Apakah Tuan Carlos benar-benar ingin menyerahkan kekuasaannya kepada wanita?" sahut yang lain.
"Wah, kalau begitu aku akan meminta putraku mendekati anak Tuan Carlos. Pasti sangat menguntungkan jika aku bisa bergabung dengan Carlos." kata pria yang lain kemudian mereka terkekeh.
"Sebenarnya siapa orang ini? Sepertinya sangat berpengaruh sekali?" bisik Amel bertanya pada suaminya.
"Apakah kau tidak pernah mendengar tentang Tuan Carlos?" tanya Nathan.
"Aku mana ada waktu memikirkan hal-hal begitu." jawab Amel jujur.
"Tuan Carlos adalah pemimpin mafia terkejam di negara ini." kata Nathan membuat Amel membulatkan matanya.
"Lalu kenapa orangtua kita meminta kita menghadiri acara ini? Bukankah ini sama saja kita datang mengantarkan nyawa?" tanya Amel ketakutan.
Nathan tersenyum kemudian membelai lembut kepala istrinya.
"Kau tenang saja. Acara ini bukanlah perang melainkan untuk mengumumkan ahli waris dan keturunan Tuan Carlos yang selama ini disembunyikan." jawab Nathan membuat Amel bernafas lega.
"Tapi kita tetap harus waspada, orang kuat begini pasti juga diintai banyak musuh. Aku tidak ingin calon anak kita dalam bahaya." ucap Amel waspada.
"Tenang saja, Sayang. Aku pasti akan menjaga kalian." sahut Nathan.
Dibelakang panggung, keluarga Carlos dan Harris sedang bersiap.
"Kau sudah siap, Nak?" tanya Adam.
Davina menatap Adam lekat kemudian tersenyum.
"Aku sedikit gugup, Yah." jawab Davina.
Adam dan Sera tersenyum kemudian menggengam tangan putrinya.
"Rileks, Sayang. Sudah waktunya dunia tahu siapa dirimu." ucap Sera lembut.
"Ya, Bu. Tapi Ayah sudah memastikan semua akan baik-baik saja bukan?" tanya Davina menatap khawatir kedua orangtuanya.
"Apa yang kau pikirkan, Nak? Tentu Ayah sudah menyiapkan rencana dengan matang." jawab Adam percaya diri.
"Ada Ayah, suamimu dan para pengawal yang akan melindungimu." kata Adam namun tetap saja tidak bisa menghilangkan kegelisahan Davina.
Entah kenapa firasatnya malam ini mengatakan akan terjadi sesuatu yang buruk.
Disisi lain dalam kegelapan, beberapa pria sudah siap melancarkan aksinya.
"Posisi semuanya sudah siap?" tanya seseorang kepada beberapa rekannya menggunakan earpiece.
"Sudah, Bos." sahut mereka.
"Kita tunggu perintah dan lakukan sesuai rencana." ucap pria yang mengawasi layar monitor.
Tamu-tamu sudah berdatangan dan memenuhi aula Carlos. Suasana menjadi hening saat pembawa acara mulai berbicara.
"Selamat malam para hadirin sekalian. Sebuah kehormatan kita semua bisa menghadiri acara megah ini."
"Sebuah kabar mengejutkan tentu sudah kalian dengar bukan? Untuk memastikannya mari kita sambut Tuan Adam Carlos sang pemilik acara untuk menyampaikan sepatah dua patah kata."
Suara riuh tepuk tangan memenuhi ruangan itu.
Semua mata fokus menatap sosok misterius yang selama ini jarang sekali muncul dihadapan publik. Mereka hanya mendengar nama dan kekuasaan seorang Carlos.
"Pantas saja beliau sangat ditakuti." ucap salah satu tamu undangan.
"Menatapnya saja sudah membuatku merinding." ucap yang lain.
"Terimakasih atas waktunya. Mungkin banyak orang disini yang baru melihat sosok dari Adam Carlos. Namun itu bukanlah tujuan acara ini." ucap Adam.
"Tujuanku mengadakan pesta malam ini adalah untuk mengumumkan keturunanku. Meski harus disembunyikan cukup lama, namun hari ini aku Adam Carlos, ingin menunjukkan kepada dunia bahwa putriku tidak bisa diganggu oleh siapapun. Jika ada yang berani mengusiknya maka aku tidak akan memberi ampun." kata Adam tegas seketika membuat nyali semua orang yang berada diruangan itu menciut.
"Nak, kemarilah." panggil Adam lembut.
Sosok gadis muda keluar dari belakang panggung dengan gaun hitam yang membalut tubuhnya. Seluruh hadirin bisa merasakan aura dingin yang dimiliki Davina sama persis dengan Adam.
"Dia adalah putri tunggalku, Davina Almira."
TRANG!
Garpu yang dipegang Amel seketika terjatuh. Beruntung suaranya bersamaan dengan tepuk tangan orang-orang sehingga tidak menarik perhatian.
"A-APA? Davina anak Tuan Carlos?" tanya Amel tak percaya.
Matanya membulat dan mulutnya terbuka karena terkejut dengan kenyataan yang baru saja ia lihat.
"Apakah dia benar-benar Davina? Tidak mungkin!" gumam Amel mengingkari.
"Jadi Davina adalah putri Tuan Carlos? Sial! Sepertinya aku dalam masalah." gumam Nathan ketakutan.
"Wah, putri Tuan Carlos cantik sekali." puji salah satu pria.
"Pasti akan sangat beruntung kalau bisa menjodohkan putraku dengan putri Tuan Carlos." harap yang lain.
"Selain itu, aku juga akan memperkenalkan menantuku, Marvin Harris." ucap Adam seketika membuat seluruh hadirin semakin terkejut.
Para pria muda dan orangtua yang awalnya berniat mendekati Davina seketika mengurungkan niatnya.
Mendengar hal itu semakin membuat tubuh Amel gemetaran.
"Ternyata selama ini aku sudah menyinggung orang yang salah. Gawat!" gumam Amel ketakutan.
Suara riuh tepuk tangan kembali menggema di aula itu. Sosok Marvin Harris juga menjadi fokus para hadirin. Benar-benar pasangan yang serasi.
"Kelak siapapun yang berani menyinggung Harris maka sudah dipastikan mereka juga menyinggung Carlos." tutup Adam memperingatkan.
-BERSAMBUNG