
"Kamu siapa?"
Pertanyaan yang Davina lontarkan seketika membuat Marvin tercekat. Hal yang ia takutkan apakah benar-benar terjadi?
"Kau tidak mengingatku?" tanya Marvin mencoba memastikan.
Davina menggelengkan kepalanya dengan tatapan bingung.
"Kau siapa?" tanya Davina lagi seolah-olah meyakinkan kalau apa yang ditakutkan Marvin benar-benar terjadi.
"Aku suamimu." jawab Marvin tegas namun dengan tatapan sendu.
"Benarkah?" tanya Davina seolah tak percaya.
"Kau bisa melihat cincin yang melingkar dijari manismu. Itu sama dengan milikku." jawab Marvin seraya menunjukkan tangannya.
"Kalau kau masih tidak percaya, kau bisa melepaskan cincin itu dan melihat inisial nama kita yang terukir didalamnya." ucap Marvin lagi.
Davina masih memberikan tatapan aneh pada pria yang duduk dihadapannya itu.
"Kau mau apa?" tanya Marvin saat melihat pergerakan Davina.
"Duduk." jawab Davina singkat.
Lagi-lagi Marvin mendengar Davina yang kembali berbicara dengan singkat kepadanya. Padahal beberapa hari yang lalu, Davina baru saja mulai berbicara lembut dan manja kepadanya.
"Ah jika kau benar-benar lupa ingatan apakah aku harus kembali mengejarmu seperti dulu lagi?" tanya Marvin dalam hati.
Marvin segera membantu dan membetulkan posisi duduk Davina.
"Benarkah kita sudah menikah?" tanya Davina lagi yang dijawab anggukan Marvin.
"Sepertinya itu tidak mungkin." sanggah Davina.
"Maksudmu?" tanya Marvin bingung.
"Kau terlihat jauh lebih tua dariku. Mana mungkin gadis muda sepertiku mau menikah denganmu?" ucapan Davina membuat Marvin terdiam.
"Kau benar. Aku memang yang memaksamu untuk menikah denganku." jawab Marvin jujur.
"Apakah kita dijodohkan?" tanya Davina polos yang dijawab gelengan kepala Marvin.
"Aku yang berinisiatif untuk menjadikanmu sebagai istriku. Ya meskipun perjuangannya tidak mudah tapi akhirnya aku bisa menaklukanmu." jawab Marvin percaya diri.
"Oh benarkah?" tanya Davina tak percaya.
"Tidak masalah jika saat ini kau tidak mengingatku dan masih meragukanku. Aku tidak akan menyerah. Aku akan melakukan hal yang sama saat dulu mengejarmu dan membuktikan bahwa kita memang benar-benar suami istri." jawab Marvin seketika membuat Davina tidak bisa lagi menahan tawanya.
Marvin menatap aneh kearah Davina.
"Apa yang kau tertawakan?" tanya Marvin heran.
"Ekspresimu itu. Kau lucu sekali, Mas." jawab Davina terkekeh.
Marvin terdiam sejenak lalu tersadar.
"Kau panggil aku apa?" tanya Marvin kaget.
Davina menghentikan tawanya kemudian menatap wajah Marvin sejenak.
"Mas..." jawab Davina seketika membuat Marvin membulatkan matanya.
"Kau mengerjaiku? Jadi kau tidak benar-benar lupa ingatan?" tanya Marvin memastikan.
Davina menganggukkan kepalanya dengan senyuman kikuk dan rasa bersalah.
GREP!
Tiba-tiba Marvin menarik tubuh Davina dalam dekapan erat-erat. Davina bisa merasakan pelukan yang begitu kuat namun tidak membuatnya sesak.
"Syukurlah kau masih mengingatku. Aku sungguh tidak tahu harus bagaimana kalau kau benar-benar melupakanku." ucap Marvin.
Davina bisa merasakan tubuh Marvin bergetar dan suaranya yang sedikit serak. Davina melepaskan pelukannya kemudian memandang wajah tampan yang hanya berjarak beberapa senti dengannya.
"Kau menangis?" tanya Davina terkejut.
"Aku benar-benar takut kau tidak akan mengingatku lagi." jawab Marvin lirih.
Davina merasa sangat bersalah. Awalnya ia hanya berniat menggoda Marvin namun siapa sangka kalau respon suaminya akan sepanik itu. Apalagi seorang Marvin Harris sampai menangis karena ulahnya, Davina tidak menyangka kalau dirinya begitu penting dalam kehidupan Marvin.
Marvin kembali menarik Davina dalam pelukannya yang kali ini terasa lebih hangat dan nyaman.
"Aku sangat merindukanmu, Sayang. Aku sangat senang kau sudah sadar sekarang. Hatiku benar-benar tidak tenang saat melihatmu terbaring diranjang ini. Aku merasa sangat takut dan tidak siap jika harus kehilanganmu." ucap Marvin jujur membuat Davina mengulum senyum diwajahnya.
"Terimakasih kau sudah mengkhawatirkan aku sampai seperti ini, Mas. Aku tidak menyangka kalau ternyata aku sangat berharga dimata Tuan Muda Harris ya?" goda Davina tidak ingin berlarut dalam suasana sedih.
"Kau sangat-sangat berharga bagiku, Sayang. Bahkan nyawaku akan aku pertaruhkan untukmu. Jadi jangan lakukan hal membahayakan seperti tadi lagi, oke? Untung saja kali ini kau selamat." ucap Marvin seketika wajahnya berubah sendu.
Davina tahu bagaimana perasaan suaminya itu. Namun Davina sama sekali tidak menyesal dengan tindakannya tadi. Bagi Davina, suaminya juga berhak untuk ia lindungi sekalipun nyawa sebagai taruhannya.
Davina mengecup kedua pipi Marvin secara bergantian.
"Aku akan tetap melakukannya jika itu terjadi lagi lain kali." kata Davina mantap.
"Tidak ada lain kali." bantah Marvin.
"Jangan pernah berpikir untuk mengorbankan dirimu lagi demi menyelamatkan aku. Asal kau tahu itu benar-benar menyiksaku, Davina. Aku akan menyalahkan diriku seumur hidup jika terjadi sesuatu padamu." ucap Marvin lagi yang saat ini bisa Davina lihat kekhawatiran dan juga penyesalan tersirat dimata pria itu.
Davina kembali mengecup Marvin kali ini tepat dibibir pria itu.
"Kau berani sekali menggodaku. Jangan sampai aku melakukannya dirumah sakit." kata Marvin memperingatkan sontak memancing gelak tawa Davina.
Marvin tersenyum saat melihat wajah Davina yang kembali ceria.
"Akan aku pastikan, tawa itu akan selalu menghiasi wajahmu." gumam Marvin bertekad dalam hati.
"Kemarilah, duduklah disampingku." pinta Davina.
Marvin mengikuti permintaan Davina dan menaiki ranjang rumah sakit itu dengan perlahan. Beruntung ukuran ranjang di kamar VIP itu muat untuk mereka berdua meskipun harus sedikit berdesakan.
Kali ini Davina yang menarik tubuh Marvin kedalam pelukannya.
"Terimakasih, Mas." ucap Davina lembut.
"Aku yang harusnya berterimakasih kepadamu." sahut Marvin sembari membelai lembut punggung istrinya.
"Mas...Aku, tidak akan menyesal dengan apa yang telah aku lakukan,. Aku juga sama sepertimu, aku ingin melindungimu." ucap Davina.
"Kau keras kepala sekali." sahut Marvin.
"Bukankah kita sama?" kata Davina membuat keduanya menguraikan pelukan dan terkekeh bersamaan.
"Baiklah aku tidak akan pernah menang denganmu. Tapi kedepannya akan aku pastikan tidak akan terjadi kecelakaan seperti ini lagi. Maafkan aku, Sayang. Aku lengah." ucap Marvin masih dengan perasaan bersalah.
"Jangan menyalahkan dirimu lagi, Sayang. Sekarang lihat istrimu ini baik-baik saja kan?" kata Davina menampakkan senyum manisnya.
"Baiklah, istriku ini memang wanita tangguh." sahut Marvin mengakui disambut kekehan dari mulut Davina.
Selain sifatnya yang brutal, Davina juga memiliki sifat kompleks lainnya. Kepribadiannya juga tidak usah diragukan lagi. Hal itu justru membuat Marvin semakin tergila-gila dengan gadis yang sudah menjadi istri sahnya itu.
"Kau sudah menemukan orangnya?" tanya Davina serius.
"Iya tapi Ayahmu sudah lebih dulu bertindak." jawab Marvin.
"A-ayah? Ayah tahu kejadian ini?" tanya Davina memicingkan matanya.
"Tanpa kita memberitahu Ayahmu pasti sudah ada orang yang melapor padanya." jawab Marvin seketika disetujui oleh Davina.
"Jadi siapa pelakunya?" tanya Davina penasaran.
"Anton." jawab Marvin.
"Pria tua itu!" geram Davina mengepalkan kedua tangannya.
"Sstt.. Sudah jangan memikirkannya. Ayahmu pasti sudah memberi pelajaran padanya. Lebih baik kita beristirahat." ucap Marvin lembut mencoba memadamkan emosi istrinya.
Davina mendengus kesal.
"Ayo tidurlah." ajak Marvin membantu Davina kembali keposisi berbaring.
"Selamat malam istriku, aku mencintaimu." ucap Marvin lembut dan tidak lupa mencium kening Davina cukup lama.
Davina tersenyum lalu memiringkan tubuhnya untuk memeluk tubuh atletis Marvin dan kedua sejoli itu pun mulai terlelap dengan posisi saling berpelukan.
-BERSAMBUNG