
Setelah bersiap, Adam bersama istri dan putrinya segera menuju restoran yang sudah dipesan Orkan. Adam menaiki mobil yang telahh disewa sejak dari bandara. Adam memilih untuk mengemudikannya sendiri.
Adam menyetir selama 15 menit untuk sampai di resto tujuannya. Adam turun dari mobil kemudian membukakan pintu dan membantu Sera untuk turun dari mobil.
"Lagi-lagi pemandangan yang membosankan." cibir Davina membuat Adam dan Sera terkekeh.
"Sebentar lagi kau juga akan seperti ini, Nak." ucap Sera sembari merangkul lengan Adam membuat Davina memutar bola matanya malas.
"Sepertinya aku sudah kenyang melihat kemesraan Ayah dan Ibu disini." sindir Davina lagi lalu berjalan mendahului masuk ke dalam restoran.
Adam dan Sera tertawa bersamaan kemudian menyusul putrinya yang bertingkah lucu saat sedang kesal.
"Menyenangkan sekali menggoda putri kita itu." ucap Adam terkekeh.
"Sudah sudah nanti kalau Vina ngambek kita juga yang repot." sahut Sera.
Terlihat restoran itu menyediakan beberapa ruang privat untuk tamu kehormatannya. Davina sudah menunggu kedua orangtuanya dengan wajah cemberut. Adam langsung menunjukkan nomor reservasi kepada pelayan dan pelayan itu mengantarkan keruangan privat.
"Wajahmu jelek sekali, Nak." goda Adam membuat Davina semakin kesal.
"Ayah benar-benar tidak tahu cara membujuk seorang wanita. Aku jadi heran kenapa Ibu bisa menerima Ayah." ucap Davina hampir saja membuat Adam tersedak air liurnya.
"Hei! Kau benar-benar meremehkan Ayah. Tentu saja ibumu ini tergila-gila dengan Ayah karena kemampuan Ayah." kata Adam tidak terima.
Sera yang paham arah pembicaraan Adam seketika tersipu malu.
"Aku jadi penasaran apa kemampuan Ayah itu?" tanya Davina tak percaya.
UHUK!
Sera terbatuk membuat Davina panik dan segera mengambil air mineral yang sudah tersedia diatas meja.
"Ibu sakit?" tanya Davina khawatir.
"Tidak, Ibu baik-baik saja Nak. Ibu mau ke toilet sebentar." jawab Sera mencoba melarikan diri.
"Kenapa wajah Ibu tiba-tiba merah, Yah?" tanya Davina kepada Adam.
"Mungkin Ibumu menahan buang air daritadi." jawab Adam asal membuat Davina kebingungan.
"Ternyata istriku tetap saja gadis yang pemalu." batin Adam terkekeh melihat wajah imut Sera yang tersipu.
Davina mengerutkan keningnya mendapati ayahnya yang senyum-senyum sendiri.
"Ayah dan Ibu aneh sekali." ucap Davina menggeleng-gelengkan kepalanya.
......................
Drt Drt
Sebuah pesan bergambar masuk ke ponsel Marvin. Kedua alis Marvin mengernyit saat melihat sebuah foto yang menampakkan gadis yang tidak asing baginya.
"Vina dengan siapa ini?" tanya Marvin penasaran.
"Kirimkan aku lokasi dimana gadis itu sekarang!" titah Marvin kepada bawahannya yang tak lain adalah Thomas.
Marvin bergegas berganti pakaian kemudian segera menyusul ke lokasi yang sudah dikirimkan Thomas.
"Kenapa Vina bisa berada di restoran mewah ini? Lalu siapa dua orang yang bersamanya itu?" tanya Marvin dalam hati.
Didalam foto itu Marvin hanya bisa melihat wajah Davina sedangkan kedua orang yang bersamanya hanya tampak bagian belakangnya.
Marvin memilih menunggu diloby restoran karena dirinya tidak bisa menemukan ruangan Davina. Setelah menunggu sekitar 45 menit, Marvin melihat gadis ia yang cari keluar dari sebuah ruangan.
"Vina!" panggil Marvin seketika membuat Davina menoleh dengan terkejut.
Davina menoleh ke arah Adam dan juga Sera dengan panik.
"Apa kau membutuhkan bantuan Ayah?" tanya Adam melihat kepanikan diwajah putrinya.
"Sepertinya pria itu benar-benar pantang menyerah." ucap Sera dengan senyum tipis.
"Ayah dan Ibu kembali ke hotel saja dulu. Vina bisa mengatasinya sendiri." kata Davina yang membuat Adam dan Sera menganggukkan kepalanya.
Adam dan Sera meninggalkan Davina, tak lupa Adam memberikan tatapan tajam kepada Marvin membuat pria itu kebingungan.
"Siapa pria itu? Apa hubungannya dengan kelinci kecilku? Tatapannya seperti ingin memakanku." batin Marvin.
"Bagaimana kau bisa tahu aku disini? Jangan bilang sebuah kebetulan. Kau pasti meminta bawahanmu untuk menguntitku kan?" tebak Davina dengan wajah dingin.
Davina menghela nafas kemudian berjalan keluar resto.
"Vina tunggu aku!" teriak Marvin segera menyusul Davina.
"Aku minta maaf padamu atas kesalahanku tadi siang. Tolong beri aku kesempatan sekali lagi." ucap Marvin menarik tangan Davina.
Davina memutar badannya kemudian melepaskan genggaman tangan Marvin dan menyentil kening pria itu.
"Dimana mobilmu? Tidak mungkin kita bicara diluar seperti ini. Akan ada orang yang mengawasi kita." ucap Davina membuat Marvin tersadar kemudian tersenyum senang.
"Ayo ikuti aku." ajak Marvin menuju tempat parkir mobilnya.
Marvin membukakan pintu mobil untuk Davina dan membiarkan gadis itu masuk lebih dulu barulah Marvin menyusulnya.
Marvin mengatur nafasnya, dia bingung harus bagaimana memulai percakapannya. Baru kali ini Marvin gugup saat berhadapan dengan wanita.
"Sampai kapan mau diam saja?" tanya Davina memulai obrolan.
"Aku minta maaf atas kesalahanku tadi siang. Maaf atas perkataanku yang telah menyakitimu. Aku tidak seharusnya menuduhmu seperti itu." ucap Marvin bersalah.
Davina menoleh dan menatap Marvin dengan lekat. Marvin bisa merasakan tatapan Davina yang membuat jantungnya berdetak semakin tidak beraturan.
"Lupakan saja. Lagipula itu bukan kesalahanmu." ucap Davina datar.
Marvin menatapa gadis dihadapannya dengan bingung.
"Jadi kata-katamu tadi, kau bisa menariknya kembali kan? Aku menyesal, tolong beri aku kesempatan sekali lagi." kata Marvin memelas.
Davina tersenyum, ia bisa melihat wajah Marvin yang sangat tulus.
Davina menganggukkan kepalanya membuat Marvin hampir saja berteriak kegirangan. Davina terkekeh melihat sisi lain Marvin yang sangat berbeda dengan image pria itu.
"Maaf." ucap Marvin malu-malu.
"Kau tidak ingin bertanya kenapa aku disini? Kau tidak penasaran siapa orang yang bersamaku tadi?" tanya Davina memancing Marvin.
Marvin terdiam sejenak kemudian memberikan senyuman kepada Davina.
"Jujur aku memang penasaran. Tapi aku tahu kau pasti punya sebuah rahasia yang belum ingin kau ungkapkan kepadaku. Aku tidak akan memaksamu." jawab Marvin.
"Perkataanmu ini seperti seorang pria yang mempercayai kekasihnya saja." cibir Davina.
"Bukankah kita akan seperti itu?" sahut Marvin membuat Davina terdiam.
"Jadi bagaimana dengan tawaranku? Bukannya tadi siang berkata akan menyetujuinya?" tanya Marvin mengingatkan yang seketika membuat Davina tersipu.
Marvin bisa melihat rona merah dikedua pipi Davina yang menyebabkan wajah gadis itu semakin menggemaskan.
"Itu tergantung kemampuanmu." jawab Davina asal.
"Kemampuanku? Jadi kau ingin aku menunjukkan kemampuanku yang bagaimana?" tanya Marvin tersenyum nakal.
"Jangan menggodaku. Ada hal penting yang ingin kukatakan kepadamu." ucap Davina serius.
"Katakan." sahut Marvin tak kalah serius.
"Kau pasti sudah menyelidiki identitasku bukan? Pasti kau curiga karena tidak menemukan apapun tentang keluargaku. Aku memang memiliki identitas yang tidak biasa maka dari itu orangtuaku menyembunyikanku. Aku ingin bertanya apakah kau tidak penasaran dan bisa menerima identitasku ini?" tanya Davina menatap lekat pria dihadapannya itu.
"Aku menerima apapun tentangmu. Orangtuamu pasti sangat ingin melindungimu. Aku juga akan melakukan hal yang sama, aku akan melindungi dan tidak mengungkap identitasmu." jawab Marvin membuat Davina tertegun.
"Jadi bisakah kau memberiku alasan kenapa kau mau menikah denganku? Mengingat kita tidak pernah bertemu sebelumnya. Apa yang membuatmu yakin tiba-tiba mengajakku menikah?" tanya Davina penasaran.
"Bukankah aku sudah pernah memberikan jawabannya kepadamu? Jawabanku tetap sama aku tidak butuh alasan untuk menikah denganmu. Sejak pertama kali melihatmu ada keyakinan dalam hatiku, bahwa kau yang akan menjadi istriku." jawab Marvin membuat Davina tidak bisa berkata-kata.
"Jawabanmu ini benar-benar tidak bisa menghilangkan rasa penasaranku." gerutu Davina merasa tidak puas.
Marvin terkekeh melihat gadis kecilnya yang cemberut.
"Biarkan waktu yang membuktikan kesungguhan hatiku padamu. Jadi apakah kau mau menikah denganku?" tanya Marvin sekali lagi.
"Aku....."
-BERSAMBUNG
Kira-kira apa ya jawaban Davina? Mungkinkah Davina menerima Marvin atau masih menolaknya?