
Seperti yang sudah disepakati sebelumnya, hari ini Marvin sudah bersiap pergi ke tempat pelatihan bersama Adam dan Darwin. Ketiga pria itu berangkat pagi-pagi sekali. Tentunya tidak hanya bertiga, tapi juga bersama 6 orang pengawal lainnya. Sedangkan Julia memilih untuk kembali ke kota A bersama Melly dan juga Orkan.
"Ibu yakin mau pulang? Bagaimana kalau disini saja? Sera masih ingin mengajak Ibu berlibur disini." tanya Sera khawatir.
"Ibu harus pulang, Nak. Karena Marvin harus menjalani pelatihan selama satu bulan, maka sementara ini Ibu juga yang harus menghandle urusan perusahaan." jawab Julia santai.
Sera menghela nafas kemudian memeluk wanita paruh baya yang sudah ia anggap seperti ibunya sendiri.
"Baiklah. Melly tolong jaga dan temani Nyonya Harris dengan baik." titah Sera.
"Baik, Nyonya." sahut Melly patuh.
Julia tersenyum kemudian berpamitan.
"Kau disini bersama ibumu dulu. Kalau Marvin sudah selesai barulah kalian pulang. Aku harap kalian kembali membawa kabar baik buat Nenek." ucap Julia kepada Davina.
"Baik, Nek." sahut Davina tersenyum kikuk.
Julia berpamitan kemudian memeluk Sera dan Davina bergantian.
"Titip Nenek ya, Mel." ucap Davina.
"Baik, Nyonya Muda." sahut Melly.
Ketiga orang itu menaiki mobil dan segera menuju ke bandara. Julia menolak diantar oleh Sera dan Davina karena tidak ingin membuat keduanya lelah. Terlebih lagi Julia juga tidak mau terjadi drama yang membuat ia berat meninggalkan kota K.
"Setelah ini apa rencana Ibu?" tanya Davina.
"Bagaimana kalau kita ke salon? Sudah lama kan kita tidak memanjakan diri bersama?" ajak Sera.
"Baiklah. Ayo bersiap." sahut Davina bersemangat.
...****************...
Setelah malam pesta Carlos, berita tentang Davina sang putri tunggal Carlos menjadi trending topik di negaranya, terutama di kota K ini. Kabar itu juga tak luput dari Andreas Johnson, ayah Nathan.
"Kau baru tahu tentangnya atau kau sudah mengetahui sebelumnya?" tanya Andreas penuh selidik.
"Siapa yang Papa maksud?" tanya Nathan tak mengerti.
"Siapa lagi kalau bukan Davina, mantan kekasihmu dulu." jawab Andreas membuat Nathan mengernyit.
"Kenapa Papa tanya begitu?" tanya Nathan heran.
"Jawab saja." kata Andreas dingin.
"Aku baru tahu di malam pesta Tuan Carlos." jawab Nathan datar.
Andreas memicingkan matanya, mencoba memastikan putranya tidak sedang berbohong.
"Kurasa ucapanmu kali ini jujur. Aku tidak menyangka kalau gadis itu adalah anak Tuan Carlos." ucap Andreas yang masih percaya tak percaya.
Nathan hanya memandang Andreas tak mengerti.
"Kalau saja kau tidak memilih perempuan dari keluarga Wijaya, pasti posisi kita kali ini bisa sangat kuat karena dukungan Carlos." ucap Andreas.
Nathan membulatkan matanya mendengar perkataan ayahnya.
"Apakah Papa terlalu memandang tinggi diri sendiri atau meremehkan Tuan Carlos?" tanya Nathan membuat Andreas menatap tajam putranya.
"Apa maksudmu?" tanya Andreas emosi.
"Papa berpikir kalau aku tidak menikah dengan Amel aku pasti akan menikah dengan Davina?" tanya Nathan.
"Tentu saja." sahut Andreas percaya diri.
Nathan menggelengkan kepalanya lalu tersenyum tipis.
"Itu semua salahmu. Tergoda dengan wanita tidak jelas." ejek Andreas.
"Papa hentikan! Jangan merendahkan istriku." sahut Nathan memperingatkan.
"Heh.. Kau memang bodoh!" cela Andreas lagi.
"Tidak masalah jika Papa mencemoohku. Tapi satu hal yang harus Papa tahu, aku tidak ingin menghabiskan hidupku bersama wanita yang tidak aku cintai. Dan aku takkan mengorbankan perasaanku demi keuntungan keluarga ini." ucap Nathan membuat Andreas semakin kesal.
"Ah sepertinya aku sial sekali bisa mempunyai anak yang dibutakan oleh cinta sepertimu! Sia-sia aku membesarkanmu dan berharap kau bisa membuat keluarga Johnson memiliki posisi yang tak tergoyahkan suatu hari nanti." kata Andreas kecewa.
"Aku pasti melakukannya, Pa." ucap Nathan percaya diri.
"Melakukan apa? Sepertinya kau memang sudah gila karena wanita itu. Jangan pikir aku tidak tahu siapa yang membuat keluarga Johnson dan Wijaya diserang oleh Harris." perkataan Andreas membuat Nathan tercekat.
Selama ini dirinya merasa telah menyembunyikan kesalahan Amel dengan baik. Siapa sangka jika Andreas bisa mengetahuinya. Melihat gerak gerik Nathan, Andreas menyeringai tipis.
"Aku takkan menghalangi hubungan kalian, didiklah istrimu dengan baik. Tapi kalau sampai ia berbuat ulah lagi dan merugikan Johsnon maka jangan salahkan aku untuk memberinya pelajaran." ucap Andreas memperingatkan.
"Ba-baik, Pah. Nathan akan mendidik istriku dengan baik." sahut Nathan gugup.
Andreas menyeringai kemudian mengibaskan tangannya meminta Nathan keluar dari ruang kerjanya.
"Haah... Semoga saja Carlos tidak perhitungan dengan kebodohan putraku." gumam Andreas menghela nafas.
...****************...
Suasana diperjalanan sangat dingin. Baik Adam maupun Marvin tidak ada yang memulai pembicaraan. Suasana aneh itu membuat Darwin hanya menghela nafas.
"Tuan Muda Harris persis Tuan Adam saat masih muda dulu." batin Darwin.
Marvin memandang jendela mobil yang menunjukkan bahwa mereka saat ini sudah memasuki kawasan hutan. Pepohonan rindang dan besar menemani perjalanan mereka.
Setelah 30 menit menyusuri hutan, mobil mereka berhenti tepat disebuah bangunan yang dikelilingi tembok tinggi. Pintu gerbang terbuka, Marvin bisa melihat beberapa pemuda-pemuda kekar sedang berlatih bela diri.
Adam turun lebih dulu diikuti Marvin.
"Antar dia ke kamarnya. 10 menit kemudian segera bergabung dengan mereka." titah Adam kepada salah satu bawahannya.
"Baik Tuan." sahut pemuda itu.
Adam dan Darwin berlalu begitu saja meninggalkan Marvin.
"Permisi Tuan, mari ikut saya." ajak pemuda itu yang dijawab anggukan kepala Marvin.
"Perkenalkan, Tuan bisa memanggil saya Rey." ucap pemuda yang terlihat lebih muda dari Marvin.
"Aku Marvin." kata Marvin.
"Baik, Tuan Marvin." sahut Rey antusias.
Rey membawa Marvin ke sebuah bangunan yang terdapat banyak pintu. Keduanya berhenti tepat didepan pintu paling ujung sebelah kanan.
"Ini kunci kamar, Tuan. Sesuai perintah Tuan Besar, Tuan Marvin bisa segera berganti pakaian yang sudah tersedia dilemari. Setelah itu mulai ikut pelatihan bersama yang lainnya." kata Rey menjelaskan.
"Baik, terimakasih. Kau tidak perlu menungguku, aku akan segera kesana." ucap Marvin.
"Baik Tuan." sahut Rey antusias.
Marvin membuka pintu kamar, matanya menyipit saat melihat kamar itu. Berbeda sekali dengan kamar mewah dikediaman Harris maupun Carlos. Benar-benar sebuah kamar seperti untuk seorang prajurit. Tidak ada furniture apapun. Hanya sebuah ranjang single size dan lemari pakaian mungil. Pastinya juga tidak ada kamar mandi dalam.
Marvin bergegas membuka lemari mengingat waktu terus berlalu dan ia hanya memilki waktu 10 menit. Marvin segera mengenakan setelan berwarna hitam seperti yang dipakai oleh para pemuda yang ia lihat tadi.
"Ayo Marvin kau pasti bisa melaluinya." gumam Marvin menyemangati dirinya sendiri.
...-BERSAMBUNG...