Istri Brutal Mr. Arogan

Istri Brutal Mr. Arogan
Episode 61 Kemarahan Marvin


Mansion Harris.


"Jadi apa yang kau sembunyikan dariku?" tanya Marvin.


"Kau masih mengingatnya? Aku pikir kau sudah tidak ingin tahu." kata Davina.


"Jangan bermain-main denganku. Atau kau ingin malam ini aku benar-benar menghukummu?" ancam Marvin.


"Kau mengancamku?" tantang Davina.


"Heh.. Rupanya kau benar-benar ya.. Baiklah kuturuti keinginanmu." kata Marvin dengan cepat menarik tubuh Davina.


"Aaa... Apa yang kau lakukan?" pekik Davina panik.


"Bukannya tadi kau menantangku?" ucap Marvin sembari mendekatkan wajahnya.


"STOP!" teriak Davina sembari menahan wajah Marvin yang sudah berjarak beberapa inci dengan tangannya.


"Heh! Ini kan yang kau inginkan?" goda Marvin mengeratkan pelukannya sehingga tubuh keduanya saling menempel.


"Tidak. Hen-hentikan!" berontak Davina.


"Jadi kau masih mau merahasiakan sesuatu dariku?" tanya Marvin menatap tajam istrinya.


"Tidak, aku tidak berani lagi. Sekarang lepaskan aku dulu. Aku akan jujur padamu." pinta Davina dengan wajah memelas.


Perlahan Marvin melepaskan tangannya lalu keduanya duduk di tepi ranjang.


"Emm.. Tadi anak buah Anton membawaku ke mansionnya." ucap Davina mengawali ceritanya.


"APA?? Kenapa kau baru memberitahuku sekarang? Apakah dia melakukan sesuatu padamu? Kau terluka?" tanya Marvin khawatir.


"Hei...tenanglah. Aku tidak apa-apa, Mas." jawab Davina lembut.


"Berani sekali dia melibatkan dirimu. Aku akan membuatnya membayar harganya karena sudah berani mengganggu istriku." ucap Marvin marah.


"Jangan gegabah. Dia hanya ingin aku membujukmu untuk bekerjasama dengannya." cegah Davina.


"Dasar pengecut!" umpat Marvin.


"Lalu tadi dimana para pengawalmu itu? Kenapa sampai bisa kecolongan seperti ini? Kau juga tidak memberi kabar padaku. Bagaimana kalau Anton mencelakaimu?" tanya Marvin emosi.


"Mas, tenanglah. Biar aku bercerita dulu, oke? Tahan dulu amarahmu." ucap Davina lembut.


Marvin menghela nafas sejenak lalu membelai lembut pucuk kepala Davina.


"Jadi sebenarnya aku sudah tahu pergerakkan mereka tapi aku sengaja meminta Orkan untuk tidak bertindak agar aku mengetahui rencana mereka." kata Davina hati-hati.


"Kau benar-benar ceroboh. Bagaimana bisa kau membahayakan dirimu sendiri!" sahut Marvin dengan suara meninggi.


Davina sudah bisa menebak reaksi Marvin pasti pria itu akan sangat marah. Davina menggenggam tangan Marvin membuat pria itu menoleh dan menatapnya lekat.


"Maaf." hanya itu yang bisa Davina katakan.


"Apa sebenarnya yang ingin kau cari? Aku sudah pernah mengatakan padamu jangan ikut campur dengan urusanku. Kau sadar tidak kalau tindakanmu itu berbahaya? Anton bukanlah orang sembarangan. Kenapa dengan sengaja kau mengancam nyawamu sendiri? Kau tidak peduli padaku?" kata Marvin emosi membuat Davina tersentak.


"Justru karena aku peduli padamu maka aku melakukan itu! Aku ingin tahu apa yang direncanakan musuhmu!" sahut Davina yang juga tersulut emosi.


"Aku tidak butuh perlindunganmu. Kau itu seorang wanita, harusnya aku yang melindungimu." kata Marvin membuat Davina tersinggung.


"Jadi memangnya kenapa kalau aku wanita? Apakah aku tidak boleh melindungi suamiku sendiri? Apa kau menganggapku remeh? Apa aku harus selalu mengandalkanmu?" tanya Davina marah.


Marvin terdiam. Marvin sadar jika dirinya sudah salah bicara dan menyinggung hati istrinya. Namun semua perkataannya itu keluar karena dirinya sangat khawatir dengan Davina.


"Bukan begitu maksudku. Aku hanya tidak ingin kau terlibat dalam masalahku. Aku tidak mau kau terluka. Kau istriku, aku harus menjaga dan melindungimu." ucap Marvin.


"Aku tahu kau juga khawatir padaku. Tapi lain kali jangan melakukan ini lagi bisa kan? Beruntung kali ini Anton melepaskanmu, bagaimana dengan besok? Aku tidak bisa menjaminnya." tambah Marvin lagi.


"Maaf sudah membuatmu khawatir. Aku akui kalau tadi aku gegabah. Tapi jangan larang aku untuk tidak ikut campur dengan masalahmu. Aku juga berhak melindungimu karena kau adalah suamiku." ucap Davina.


Marvin tertegun dengan ucapan Davina. Meskipun Marvin belum tahu seperti apa isi hati Davina, tapi dari perkataan gadis itu Marvin bisa merasakan kalau istrinya sudah memiliki perasaan kepadanya.


"Terimakasih istriku." kata Marvin lembut.


"Maaf jika perkataanku tadi ada yang menyinggungmu." kata Marvin lagi merasa bersalah.


"Hem.. Tidak masalah." sahut Davina.


Keduanya saling menatap dengan senyuman.


Meskipun Davina belum yakin dengan perasaanya namun ia sudah bertekad membuka hati untuk Marvin. Davina juga akan melindungi pria itu terlebih saat mengetahui Anton ingin melawan keluarga Carlos.


Untuk itu Davina harus mengetahui masalah apa yang terjadi antara Anton dan ayahnya. Dan memastikan bahwa Marvin tidak akan menerima tawaran Anton. Karena kalau sampai Marvin mau bekerjasama dengan Anton maka sudah dipastikan Davina tidak akan tinggal diam. Bisa terjadi perang dunia antar suami istri.


"Aku akan membuat perhitungan dengannya." kata Marvin kesal.


"Jangan, Dev. Maksudku tidak sekarang." ralat Davina.


"Kenapa?" tanya Marvin heran.


"Emm.. Aku ingin menyelidiki lebih dulu apa tujuannya menawarkan kerjasama kepadamu untuk melawan Carlos." jawab Davina.


"Sudah pasti memperebutkan kekuasaan. Kekuatan Carlos tidak bisa diragukan lagi. Banyak komplotan yang mengincar kekuasaannya tapi sampai saat ini tidak ada yang berhasil." kata Marvin.


"Benarkah? Apa yang membuat orang ingin memperebutkannya? Kenapa mereka tidak mengajukan kerjasama secara baik-baik? Bukankah itu lebih baik untuk menyatukan kekuatan?" tanya Davina heran.


"Dalam dunia mafia mana ada tawar menawar dengan baik. Yang ada saling merebut dan melawan. Dalam dunia hitam tidak mengenal kerjasama demi kebaikan, istriku." jawab Marvin menjelaskan.


"Aku rasa Carlos akan dengan senang hati bekerjasama jadi tidak perlu ada peperangan." ucap Davina mengingat ayahnya adalah sosok yang baik hati.


"Kau tidak tahu kejamnya dunia hitam, Sayang. Saling menikam itu hal yang lumrah. Terlebih orang-orang tahu kekuasaan Carlos di negara ini, pasti banyak manusia yang haus kekuasaan akan menyerangnya." kata Marvin.


"Benarkah?" tanya Davina.


"Tentu saja." jawab Marvin yakin.


"Lalu apakah kau tidak tertarik dengan keluarga Carlos?" tanya Davina.


"Aku sangat tertarik." jawab Marvin.


"Apa kau juga berniat untuk melawannya?" tanya Davina memancing tawa Marvin.


"Tidak sama sekali. Aku sudah puas dengan keluarga Harris. Kekuatan dan kekuasaan yang susah payah dibangun sendiri itu lebih membanggakan. Untuk apa aku menginginkan milik orang lain? Tapi keluarga Carlos cukup menjadi inspirasiku." jawab Marvin.


"Oh begitu." sahut Davina mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Daritadi kau sangat tertarik membahas tentang Carlos. Apa alasanmu?" tanya Marvin membuat Davina terdiam.


"Ah aku hanya ingin tahu saja seberapa hebat kekuatan Carlos itu." jawab Davina asal.


"Kau yakin? Aku rasa ada hal lain yang kau pikirkan." tanya Marvin menyelidik.


"Me-memangnya apa yang kupikirkan? Aku tidak memikirkan apapun." jawab Davina gugup.


"Sampai saat ini aku tidak bisa mengetahui latar belakangmu. Apakah keluarga Carlos ada kaitannya dengan tersembunyinya identitasmu, istriku?" tanya Marvin dengan senyum menyeringai.


DEG!


"Gawat! Apakah Marvin sudah menyadarinya? Jawaban apa yang harus aku berikan?"


-BERSAMBUNG