Istri Brutal Mr. Arogan

Istri Brutal Mr. Arogan
Episode 84 Malam Pertama


"Kau bilang apa? Coba ulangi." pinta Marvin memastikan.


"A-aku sudah siap, Mas." ucap Davina malu-malu.


"Kau yakin? Kau tahu akibat dari ucapanmu ini?" tanya Marvin kembali memastikan.


Davina menganggukkan kepalanya kemudian mengecup lembut pipi suaminya.


"Aku harap kau tidak menyesalinya. Setelah ini jangan memohon kepadaku untuk melepaskanmu." ucap Marvin memberi peringatan.


Davina memberikan senyuman manis seketika membuat Marvin bersemangat.


"Jangan salahkan aku ya. Kau yang memancingku." kata Marvin lagi.


Marvin mengeratkan dekapannya setelah itu mengangkat wajah Davina dan memagut bibir merah istri cantiknya itu. Pagutan Marvin semakin ganas saat Davina membuka mulutnya.


"Istriku sudah mulai pintar ya." gumam Marvin semakin bersemangat.


Tangan Marvin mulai menjelajahi tubuh Davina dan ciumannya mulai turun ke leher. Terdengar suara lenguhan dari mulut Davina.


"Sayang, kau benar-benar menggodaku. Apakah kau sudah benar-benar siap?" tanya Marvin kembali memastikan.


"Kau pejamkan mata dulu." pinta Davina.


"Pejamkan mata? Apa yang ingin kau lakukan?" tanya Marvin heran.


"Patuhlah." ucap Davina lembut sembari mengecup kening suaminya.


"Baiklah." sahut Marvin mengikuti permintaan istrinya.


Davina bangkit dari duduknya, dan membuka bathropenya.


"Bukalah matamu." ucap Davina yang dipatuhi oleh Marvin.


Perlahan Marvin membuka matanya. Marvin menelan salivanya saat melihat pemandangan indah dihadapannya.


"Sa-sayang, kau?" kata Marvin tak percaya.


"Maaf sudah membuatmu menahannya begitu lama. Pasti sangat menderita kan?" ucap Davina bersalah.


"Apa yang kau katakan? Aku mencintaimu. Tidak masalah harus menunggumu berapa lama. Tapi sekali lagi aku ingin memastikan, kau benar-benar sudah siap?" tanya Marvin lagi.


"Iya aku siap, Mas." jawab Davina tak ragu membuat Marvin berbinar dan tersenyum senang.


Marvin menarik tubuh Davina sehingga gadis itu berada dibawah kungkungannya. Akhirnya Marvin bisa melihat tubuh indah istrinya yang ia nantikan selama ini.


"Kita melakukannya perlahan ya." bisik Marvin yang diangguki kepala Davina.


Marvin kembali memagut bibir merah istrinya. Kali ini ciumannya terasa berbeda, penuh semangat dan sangat panas.


"Tubuhmu indah sekali, Sayang." puji Marvin membuat tubuh Davina meremang.


"Jangan menggodaku. Lakukan saja." ucap Davina lirih.


"Rupanya kau menantangku, Sayang." sahut Marvin segera melanjutkan aksinya.


Perlahan ciuman Marvin mulai menuruni tubuh Davina dan berhenti disela-sela bongkahan yang terlihat menyembul keluar.


"Benar-benar indah." gumam Marvin.


Tangan Marvin mulai meremas bagian yang satu diikuti dengan bibirnya yang bermain dibagian lainnya. Tubuh Davina mulai bergejolak saat merasakan sentuhan Marvin. Suara lenguhan pun lolos dari mulut Davina semakin memancing hasrat terpendam Marvin.


Marvin membalikan tubuh Davina dan membuka gaun seksi yang masih membungkusnya.


"Sayang, kau menakjubkan." puji Marvin setelah melihat tubuh polos istrinya.


Davina hanya tersipu malu. Kali ini tanpa ragu Marvin memberikan serangan kepada Davina.


"Sayang, aku milikmu." bisik Marvin saat mulai melakukan penyatuan dengan tubuh istrinya.


Terdengar suara lenguhan didalam kamar itu saat keduanya berhasil melakukan penyatuan.


"Sayang, terimakasih." ucap Marvin sembari mengecup lembut kening istrinya.


Davina hanya tersenyum, lemah tak bertenaga.


"Apakah sakit?" tanya Marvin khawatir yang dijawab gelengan kepala Davina.


"Aku merasa sangat lelah. Aku mengantuk." jawab Davina membuat Marvin terkekeh.


"Sepertinya tadi aku terlalu bersemangat. Baiklah, kau istirahatlah, Sayang. Terimakasih untuk malam ini." ucap Marvin kembali mengecupi wajah istrinya.


Tak berselang lama, Davina pun seketika terlelap.


"Istriku benar-benar kelelahan. Akhirnya aku bisa memilkimu." gumam Marvin puas.


"Rupanya kau ingin memberikanku kejutan. Pantas saja sikapmu aneh." ucap Marvin lagi mengingat keanehan sikap Davina tadi.


"Malam yang indah." gumam Marvin.


Setelah mematikan lampu, ia pun ikut terlelap dengan mendekap Davina erat.


...****************...


Nathan dan Amel sudah berada dibandara pagi-pagi sekali karena Amel sengaja memesan tiket pesawat yang keberangakatannya ke kota A jam 7 pagi.


"Iya, kau tak perlu mengkhawatirkanku." jawab Amel yakin.


"Baiklah. Kalau ada masalah, kau harus segera menghubungiku." ucap Nathan mengingatkan.


"Kau tenang saja, istrimu ini bukan anak kecil lagi." sahut Amel membuat keduanya terkekeh.


"Baiklah. Aku sudah bilang Papa dan Mama kalau kau ada ujian kuliah agar mereka tak curiga." ucap Nathan memberitahu.


"Terimakasih, suamiku." sahut Amel memeluk suaminya erat.


"Kau jaga diri baik-baik. Berhati-hatilah." pesan Nathan mengecup kening istrinya.


"Oke. Sampai jumpa, suamiku." pamit Amel.


"Kau memang ceroboh. Semoga kau bisa mengatasi masalah ini, Sayang." batin Nathan penuh harap.


Setelah dua jam penerbangan, Amel akhirnya tiba di kota A. Amel sudah mengantongi alamat keluarga Harris dan memutuskan untuk langsung menuju kesana.


"Semoga aku berhasil." harap Amel dalam hati.


Setelah 30 menit perjalanan menggunakan taxi, Amel pun sampai didepan sebuah bangunan mewah.


"Megah sekali." gumam Amel takjub.


"Rumahku dan Nathan jika digabungkan juga tidak akan bisa menandingi rumah ini." batin Amel sadar diri.


"Sial! Kenapa aku bodoh sekali berani menyinggung mereka." gumam Amel merutuki dirinya sendiri.


"Permisi, bisakah saya bertemu dengan Nyonya Harris?" tanya Amel kepada penjaga dengan ramah.


"Maaf, Nona siapa? Apakah sudah mengadakan janji sebelumnya?" tanya penjaga itu dingin.


"I-itu belum. Tapi bisakah saya menemuinya?" tanya Amel lagi.


"Maaf, Nyonya kami tidak pernah bertemu dengan orang yang tidak berkepentingan." jawab pria penjaga itu.


"Sombong sekali! Kau tidak tahu siapa aku? Tolong beritahukan Nyonya Harris kalau aku Amelia Wijaya ingin bertemu dengannya." kata Amel marah.


"Ada apa ini? Pagi-pagi sudah ada keributan." tanya Thomas yang kebetulan lewat.


"Ini Tuan, ada wanita yang ingin bertemu dengan Nyonya Besar tapi belum ada janji sebelumnya." jawab penjaga itu jujur.


"Siapa dia?" tanya Thomas.


"Aku Amelia Wijaya, dan suamiku adalah putra dari Andreas Johnson." sahut Amel.


"Baiklah. Aku akan memberitahu Nyonya." ucap Thomas.


"Hei, apakah kalian tidak mengizinkanku masuk?" tanya Amel.


"Maaf Nona. Mansion kami bukanlah tempat keluar masuk orang sembarangan." jawab Thomas lalu pergi begitu saja.


"Cih! Apakah begini cara keluarga Harris menyambut tamu?" protes Amel.


"Jika Nona masih berisik, saya tidak segan-segan melempar Anda kejalanan." kata pria penjaga itu dingin seketika membuat Amel tak berkutik.


"Menakutkan sekali. Lebih baik aku menurut saja daripada membahayakan nyawaku." batin Amel.


"Permisi Nyonya, ada seorang gadis yang ingin menemui Nyonya." ucap Thomas sopan.


"Siapa? Apakah aku mengenalnya?" tanya Julia.


"Gadis itu menyebut dirinya Amelia Wijaya dan istri dari putra Andreas Johnson." jawab Thomas.


"Heh.. Rupanya lalat busuk itu bergerak cepat juga. Aku ingin lihat apa yang ingin dia lakukan setelah berani sombong dihadapanku dan cucu menantuku." kata Julia menyeringai.


"Kau katakan saja, aku masih ada urusan dan akan menemuinya sore nanti." titah Julia.


"Baik Nyonya." sahut Thomas setelah itu kembali kehalaman depan.


"Katakan padanya, Nyonya akan menemuinya sore nanti." kata Thomas.


"Baik Tuan." sahut penjaga itu.


"Bagaimana? Apakah sekarang aku bisa menemui Nyonya Harris?" tanya Amel saat mengetahui penjaga berjalan kepintu gerbang.


"Nyonya bilang akan menemui Nona nanti sore." jawab pria itu.


"Nanti sore? Tapi ini kan masih pagi? Apakah tidak bisa sekarang saja?" tanya Amel melakukan penawaran.


"Maaf Nona, itu yang Nyonya Besar katakan. Terserah Anda mau menunggunya atau tidak." jawab penjaga itu dengan nada dingin meninggalkan Amel begitu saja.


"Hah.. Baiklah." sahut Amel kesal.


"Benar-benar menyebalkan. Kalau begitu aku jalan-jalan saja dulu setelah itu baru kembali kesini lagi." gumam Amel.


-BERSAMBUNG